FIAI UII

Lingkungan hidup adalah karunia luar biasa dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia sebagai amanah. Alam dengan segala keindahannya, langit yang biru, air yang mengalir, dan pepohonan yang rimbun, bukan sekadar pemandangan, melainkan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta yang patut kita renungkan dan syukuri. Namun, sering kali kita lupa bahwa status kita di bumi ini adalah sebagai khalifah atau pengelola, bukan pemilik yang bebas merusak sesuka hati.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah memperingatkan bahwa berbagai kerusakan di darat dan di laut adalah hasil dari ulah tangan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41) :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Artinya: ” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang kita alami saat ini merupakan pengingat agar kita kembali ke jalan yang benar dalam memperlakukan alam. Islam dengan tegas melarang kita berbuat kerusakan (fasad) setelah Allah mengaturnya dengan sangat seimbang (mizan).

Menjaga lingkungan sebenarnya adalah bagian dari ibadah dan manifestasi iman. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan untuk bumi akan dihitung sebagai amal kebaikan. Misalnya, Rasulullah SAW pernah mengingatkan betapa besarnya dosa orang yang merusak pohon yang menjadi sumber perlindungan makhluk lain, serta melarang keras mencemari tempat-tempat publik atau sumber air masyarakat.

Sebagai umat Islam, kita bisa memulai syiar kebaikan ini melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar:

Menanam Pohon:Bayangkan, setiap oksigen yang dihasilkan dan setiap makhluk yang berteduh di bawahnya akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir bagi penanamnya.
Mengelola Sampah:Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan tidak membuang sampah sembarangan adalah bentuk ketaatan kita untuk tidak menzalimi lingkungan dan sesama.
Hemat Energi dan Air:Menggunakan sumber daya secara bijak dan tidak berlebihan (israf) adalah prinsip moderasi dalam Islam.

Prinsip Hifdz al-Bi’ah (menjaga lingkungan) adalah bagian penting dari tujuan syariat untuk melindungi kehidupan dan kemaslahatan publik (maslahah). Dengan menjaga keseimbangan alam, kita tidak hanya memenuhi tugas sebagai hamba Allah, tetapi juga memberikan warisan bumi yang layak bagi generasi mendatang.

Mari kita jadikan setiap langkah kita dalam melestarikan alam sebagai niat ibadah. Bumi ini adalah titipan, dan tugas kita adalah mengembalikannya dalam keadaan baik. Semoga kepedulian kita terhadap lingkungan menjadi pemberat timbangan amal kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka;

Islam dan Lingkungan: Menjaga Amanah Allah di Bumi,January 28, 2025 / in AIK/ by Djoko Imam
9 Peringatan Al-Qur’an dan Hadits terhadap Perusakan Lingkungan,Muhammad Faizin| ID
nusantaraglobal.ac.id/index.php/jige
JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION Environmental Crisis: Islamic Ecoteology, Green Science, and Sustainability

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Taifiq Hidayanto (161002208)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup serta petunjuk menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas ibadah yang dianjurkan, tetapi merupakan sumber ketenangan jiwa dan sarana komunikasi ruhani antara seorang hamba dengan Penciptanya. Di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan modern, berinteraksi dengan Al-Qur’an menjadi kebutuhan krusial untuk memperkuat hubungan spiritual dan memperbaiki akhlak.

Pahala yang Berlipat Ganda dan Investasi Akhirat

Salah satu keutamaan utama yang dijanjikan adalah besarnya pahala dari setiap huruf yang dibaca. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap satu huruf dari Kitabullah akan mendatangkan satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Menariknya, keistimewaan ini tidak hanya terbatas bagi mereka yang sudah mahir. Seseorang yang masih terbata-bata atau mengalami kesulitan dalam membaca tetap mendapatkan pahala, bahkan lebih, karena kesabaran dan usahanya dalam mempelajari ayat-ayat suci tersebut. Menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai rutinitas harian adalah bentuk investasi amal jariyah yang nilainya sangat tinggi di akhirat kelak.

Ketenangan Hati dan Kesehatan Mental

Secara spiritual, Al-Qur’an adalah bentuk dzikir tertinggi yang mampu menghadirkan ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman bahwa hanya dengan mengingat Allah—salah satunya melalui Al-Qur’an—hati akan menjadi tenteram. Dampak ini bahkan telah dibuktikan secara ilmiah, di mana mendengarkan atau membaca Al-Qur’an dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan ketenangan otak. Ayat-ayat Allah mengandung energi spiritual yang meredakan kegelisahan, menumbuhkan rasa syukur, serta membantu seseorang menerima takdir dengan lapang dada.

Pembersih Hati dan Peningkat Keimanan

Hati manusia seringkali terkotori oleh noda maksiat dan kelalaian. Rasulullah SAW mengibaratkan hati yang berkarat seperti besi, dan cara membersihkannya adalah dengan membaca Al-Qur’an. Rutinitas ini melembutkan hati, meningkatkan kepekaan terhadap dosa, serta menjaga keseimbangan spiritual antara rasa takut (khauf) dan cinta (raja’) kepada Allah. Selain menyinari hati, Al-Qur’an juga dipercaya akan memancarkan cahaya pada wajah orang yang konsisten membacanya.

Penolong dan Kemuliaan di Hari Kiamat

Keutamaan Al-Qur’an melampaui kehidupan dunia. Di hari kiamat, Al-Qur’an akan datang sebagai pemberi syafaat atau penolong bagi para pembacanya. Allah juga akan mengangkat derajat suatu kaum melalui kitab ini. Lebih istimewa lagi, bagi mereka yang membaca, mempelajari, dan mengamalkannya, Allah menjanjikan mahkota dari cahaya bagi kedua orang tua mereka di akhirat, yang sinarnya lebih indah dari sinar matahari. Di surga kelak, kedudukan seseorang akan terus naik seiring dengan banyaknya ayat yang ia baca dengan tartil selama di dunia.

Strategi Menuju Istiqomah

Meskipun berat bagi sebagian orang, memulai kebiasaan ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya mulai dari satu ayat atau satu halaman setiap hari hingga menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Para sahabat Nabi sendiri memberikan teladan dengan target yang luar biasa; ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali, namun secara umum umat Islam dianjurkan untuk setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga petunjuk hidup yang nyata dalam menghadapi segala ujian dunia.

Daftar Pustaka

  1. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional).(2025). 5 Hikmah Membaca Al-Qur’an Setiap Hari. Diakses dari: https://baznas.go.id/artikel-show/5-Hikmah-Membaca-Al-Qur%E2%80%99an-Setiap-Hari/1944
  2. Daarut Tauhiid.(n.d.). Keutamaan Membaca Al-Quran dalam Kehidupan Sehari-hari. Diakses dari: https://daaruttauhiid.sch.id/keutamaan-membaca-al-quran-dalam-kehidupan-sehari-hari/
  3. Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah.(2026). Keutamaan Membaca Al-Qur’an. Diakses dari: https://sulteng.kemenag.go.id/artikel/p7z6/07-04-2026-keutamaan-membaca-alquran
  4. Universitas Muhammadiyah Surabaya.(n.d.). Keutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari Menurut Rasulullah. Diakses dari: https://www.um-surabaya.ac.id/article/keutamaan-membaca-al-qur-an-setiap-hari-menurut-rasulullah

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Kardiyono (972002102)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat familiar di kalangan umat Islam, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar memberi uang. Kata sedekah diambil dari bahasa Arab, yakni shadaqah, yang berakar dari kata sidq (sidiq) yang berarti “kebenaran”. Dalam konteks syariat, sedekah mencakup pemberian harta maupun non-harta di luar kewajiban zakat demi kemaslahatan umum. Yang luar biasa dari sedekah adalah cakupannya yang sangat luas; Islam memandang tindakan seperti memberi nafkah keluarga, menolong orang dengan tenaga atau pikiran, hingga menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bentuk sedekah. Bahkan, hal sesederhana tersenyum kepada sesama atau bekerja keras agar bisa memberi manfaat bagi orang lain juga dihitung sebagai sedekah.

Salah satu keutamaan yang paling ditekankan dalam sumber-sumber Islam adalah bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Secara matematis, angka di rekening mungkin berkurang, namun Allah SWT berjanji akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik dan menutup kekurangan tersebut dengan keberkahan. Allah menggambarkan perumpamaan orang yang berinfak seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana setiap bulirnya mengandung seratus biji. Janji pelipatgandaan pahala ini berlaku bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, yang memberikan “pinjaman yang baik” kepada Allah.

Selain manfaat materi, sedekah berfungsi sebagai penghapus dosa dan pelindung dari api neraka. Rasulullah SAW mengibaratkan sedekah seperti air yang memadamkan api saat menghapus dosa-dosa manusia. Amalan ini juga menjadi tameng yang menjauhkan seseorang dari azab neraka, sekalipun hanya dengan memberikan sebutir kurma. Lebih dari itu, sedekah akan memberikan perlindungan di akhirat. Pada hari kiamat, ketika matahari berada sangat dekat dengan kepala manusia di Padang Mahsyar, setiap mukmin akan berada di bawah naungan sedekahnya sampai urusan mereka diputuskan.

Di dunia, sedekah memiliki dimensi sosial dan medis yang unik. Sedekah dipercaya dapat menjadi obat bagi orang yang sakit, sebagaimana anjuran untuk mengobati penyakit dengan bersedekah. Meskipun sakit adalah takdir Ilahi, sedekah membawa keberkahan yang mendukung penyembuhan. Selain itu, sedekah dapat memanjangkan usia dalam arti bahwa amal kebaikan pelakunya akan terus dikenang melampaui umur hidupnya, serta mampu mencegah kematian yang buruk, menghilangkan sifat sombong, dan menjauhkan kefakiran. Sedekah bahkan disebut mampu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.

Keutamaan sedekah juga terletak pada kemudahannya untuk dijadikan kebiasaan sehari-hari. Salah satu waktu yang sangat dianjurkan adalah sedekah subuh, karena setiap pagi dua malaikat turun mendoakan agar orang yang bersedekah diberikan ganti yang lebih baik. Selain itu, sedekah di hari Jumat memiliki keistimewaan tersendiri karena Jumat adalah sayyidul ayyam atau pemimpin hari-hari dengan pahala yang berlipat ganda. Bagi mereka yang ingin terus mendapatkan aliran pahala bahkan setelah wafat, sedekah jariyah adalah solusinya, karena pahalanya tidak akan terputus selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.

Sebagai penutup, bersedekah tidak memerlukan usaha besar atau nominal yang fantastis untuk dimulai. Yang terpenting adalah niat yang tulus karena Allah SWT tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari manusia. Baik dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, sedekah akan mendatangkan ketenangan hati dan menjauhkan kekhawatiran serta kesedihan. Dengan membiasakan diri berbagi, seseorang tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga sedang membangun benteng perlindungan untuk dirinya sendiri baik di dunia maupun di akhirat.

 Daftar Pustaka

  • BAZNAS RI. (2026). Sedekah dan Keutamaan Orang yang Bersedekah.
  • Dompet Dhuafa. (2021). 5 Keutamaan Sedekah Menurut Al-Quran dan Hadits.
  • id. (2024). 10 Ayat Tentang Sedekah & 10 Hadist Sedekah.

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Ali Murtono (971002133)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk menimba ilmu dan mengembangkan potensi diri. Namun, realita menunjukkan bahwa fenomena perundungan atau bullying masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Dalam kacamata Islam, bullying bukan sekadar masalah sosial, melainkan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan keimanan yang telah diatur secara tegas dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Memahami Esensi dan Bentuk Bullying

Bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh individu atau kelompok yang memiliki kekuatan lebih terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan ini bertujuan untuk menyakiti, mengintimidasi, atau membuat korban merasa tidak berdaya. Berdasarkan bentuknya, bullying dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis:

  • Bullying Fisik: Melibatkan kontak fisik langsung seperti memukul, menendang, menjegal, atau merusak barang milik korban.
  • Bullying Verbal: Penggunaan kata-kata untuk menyakiti, seperti mengejek, memaki, menyebar fitnah, atau memberikan julukan yang merendahkan.
  • Bullying Psikologis/Relasional: Tindakan halus namun berbahaya seperti pengucilan, penyebaran rumor, atau manipulasi persahabatan untuk merusak reputasi sosial seseorang.
  • Cyberbullying: Perundungan melalui media digital, seperti mengirim pesan teror, menyebarkan foto pribadi, atau menulis komentar jahat di media sosial.
  • Bullying Seksual dan Bias: Tindakan yang menargetkan seksualitas, identitas gender, atau latar belakang suku, agama, dan ras tertentu.

Sementara Islam memandang perilaku bullying sebagai tindakan yang dilarang keras. Dalam Al-Qur’an, setidaknya terdapat tiga istilah yang merepresentasikan perilaku perundungan:

Istihza (Mengolok-olok): Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 14, tindakan mengolok-olok orang lain bukanlah cerminan sifat orang yang beriman.

Apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya pengolok-olok.” (QS: Al-Baqarah: 14)

Sakhr (Merendahkan): Allah SWT melarang kaum mukmin untuk merendahkan kaum lainnya. Dalam Surah Hud ayat 38, dikisahkan bagaimana kaum Nabi Nuh mengejek beliau saat membangun bahtera, sebuah tindakan yang dikecam.

“Mulailah dia (Nuh) membuat bahtera itu. Setiap kali para pemuka kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, sesungguhnya kami pun akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami).” (QS. Hud: 38)

Surah Al-Hujurat ayat 11 juga menegaskan larangan merendahkan orang lain karena boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik di mata Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk …” (QS. Al-Hujarat: 11)

Islam juga mengajarkan untuk menjaga kehormatan orang lain. Dalam sebuah hadis (HR. Tirmidzi), disebutkan:

“Janganlah kalian menyakiti sesama Muslim, janganlah kalian menghina mereka, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan mereka.”

Talmiz (Saling Mencela): Masih dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah melarang umat Islam untuk saling mencela dan memanggil dengan gelaran atau julukan yang buruk. Julukan yang merendahkan martabat adalah seburuk-buruk panggilan sesudah iman.

Tindakan-tindakan di atas sangat dilarang karena merusak izzah (kehormatan) sesama Muslim. Rasulullah SAW menegaskan definisi Muslim sejati melalui lisannya: “Seorang Muslim adalah manakala orang-orang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari).

Akar Masalah dan Dampak yang Menghancurkan

Perilaku bullying sering kali dipicu oleh kurangnya empati, rasa ingin berkuasa, hingga pengaruh lingkungan keluarga yang keras. Terkadang, pelaku melakukan perundungan untuk menutupi kekurangan atau rasa tidak percaya diri mereka sendiri dengan cara menindas teman yang memiliki kelebihan.

Dampaknya sangat luas dan berbahaya. Secara fisik, korban dapat mengalami cedera, sakit kepala kronis akibat stres, gangguan pencernaan, hingga penurunan fungsi kekebalan tubuh. Secara psikis, bullying menyebabkan trauma mendalam, depresi, kecemasan, hingga keinginan untuk bunuh diri. Islam memandang hal ini sebagai mudharat (bahaya) yang harus dihilangkan karena dapat merusak masa depan dan kesejahteraan manusia.

Menghindari perilaku bullying memerlukan pemahaman mendalam tentang akar penyebabnya. Faktor penyebab bisa berasal dari lingkungan keluarga, seperti pola asuh yang keras, kurangnya kehangatan, atau anak sering menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, lingkungan teman sebaya berperan besar; remaja seringkali melakukan bullying demi mendapatkan pengakuan, popularitas, atau merasa berkuasa dalam kelompoknya. Faktor lain termasuk penyalahgunaan teknologi, di mana paparan konten kekerasan tanpa pengawasan orang tua dapat membentuk karakter anak yang agresif.

Efek dari perundungan tidak boleh disepelekan karena cakupannya sangat luas. Secara fisik, korban dapat mengalami luka, sakit kepala kronis akibat stres, gangguan pencernaan, hingga penurunan daya tahan tubuh. Secara mental, dampaknya jauh lebih dalam, meliputi gangguan kecemasan, depresi, trauma (PTSD), penurunan kepercayaan diri, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Di sisi akademik, korban cenderung malas pergi ke sekolah, kehilangan konsentrasi belajar, dan berisiko tinggi untuk putus sekolah. Bahkan, korban bullying di masa kecil berisiko mengalami masalah kesehatan mental dan kesulitan ekonomi hingga usia dewasa.

Strategi Menghindari dan Mencegah Bullying di Sekolah

Pencegahan bullying adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri. Berikut adalah beberapa strategi efektif. Untuk menciptakan sekolah yang bebas dari bullying, diperlukan integrasi antara nilai-nilai Islam dan strategi praktis:

  1. Menanamkan Nilai Kasih Sayang (Rahmah)Pencegahan utama dimulai dengan menanamkan nilai kasih sayang antar sesama sejak dini. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan”(HR. Tirmidzi). Jika budaya saling menyayangi ini menjadi landasan interaksi di sekolah, maka dorongan untuk menyakiti teman akan terkikis.
  2. Penguatan Pendidikan Akhlak dan EmpatiSekolah dan orang tua harus bekerja sama memberikan pendidikan moral dan empati kepada anak. Individu yang memiliki empati tinggi—yaitu mereka yang peduli dan memahami perasaan orang lain—cenderung akan menghindari tindakan kekerasan karena mereka merasakan penderitaan korban.
  3. Membangun Budaya Sekolah yang InklusifSekolah harus menghindari sikap diskriminatif berdasarkan status sosial, ekonomi, maupun fisik. Islam mengajarkan bahwa setiap individu memiliki nilai dan martabat yang sama. Guru berperan penting dalam menciptakan iklim sekolah yang ramah, bersahabat, dan menekankan empati sebagai norma.
  4. Pengawasan dan Regulasi yang TegasSesuai dengan prinsip keadilan, sekolah harus bertindak tegas terhadap perilaku bullying. Adanya peraturan resmi seperti Permendikbudristek PPKSP memberikan landasan hukum untuk menangani kekerasan dan diskriminasi. Pengawasan rutin di tempat-tempat rawan seperti kantin dan toilet sangat diperlukan untuk mempersempit ruang gerak pelaku.
  5. Peran Orang Tua sebagai TeladanOrang tua adalah pendidik pertama dan utama. Mereka harus menghindari pola asuh yang kasar dan memberikan contoh komunikasi positif di rumah. Jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan ketaatan beragama, mereka akan membawa karakter positif tersebut ke sekolah.

Penanganan terhadap Pelaku dan Perlindungan Korban

Jika bullying sudah terjadi, solusi yang diambil harus bersifat edukatif dan protektif. Korban harus segera mendapatkan perlindungan dan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma mereka. Di sisi lain, pelaku bullying juga memerlukan konseling untuk memahami kesalahan mereka, menumbuhkan empati, dan mengubah pola pikir negatif tanpa langsung disalahkan secara kasar yang justru bisa membuat mereka semakin agresif.

Kesimpulan

Menghindari perilaku bullying adalah tanggung jawab kolektif sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dengan menghidupkan kembali semangat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) di lingkungan sekolah, kita dapat menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan penuh keberkahan. Sekolah yang bebas dari bullying bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki akhlakul karimah (akhlak mulia) dan saling menghormati martabat kemanusiaan.

 

Daftar Pustaka

Alodokter. (2025). Bullying – Penyebab, Dampak, dan Penanganan.,.

Darmayanti, K. K. H., Kurniawati, F., & Situmorang, D. D. B. (2019). Bullying di Sekolah: Pengertian, Dampak, Pembagian dan Cara Menanggulanginya. Pedagogia Jurnal Ilmu Pendidikan, 17(1), 55-66..

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Pontianak. (2025). Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis.,.

Hafiqly, M. R., Ashrof, M. R., Putra, R. R., & Jenita, Y. L. (2025). Analisis bullying Yang Terjadi di Sekolah. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara, 1(8), 8–12..

Nurhakim, A. (2024). 3 Istilah Bullying atau Perundungan dalam Al-Qur’an, Islam Melarang. Warta Metropolis/NU Online.,.

Pradana, C. D. E. (2024). Pengertian Tindakan Bullying, Penyebab, Efek, Pencegahan dan Solusi. Jurnal Syntax Admiration, 5(3)..

Primaya Hospital. (2023). Dampak Bullying pada Kesehatan Fisik dan Mental.,.

SMP Negeri 2 Kelapa Dua. (2025). Bullying di Lingkungan Sekolah: Strategi dalam Mencegah Bullying.,.

Sulastri. (2023). Bahaya Bullying di Lingkungan Sekolah yang Berdampak Terhadap Kesehatan Mental. Kompasiana.com.,.

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:

Mabdaul Basar (971002131)

Melalui aplikasi NotebookLM

 

 

FIAI UII

Kebersihan sebagai Fondasi Iman

Dalam ajaran Islam, kebersihan bukanlah sekadar masalah estetika atau kesehatan fisik, melainkan bagian integral dari identitas seorang Muslim. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Islam dibangun di atas dasar kebersihan, dan ditegaskan pula bahwa tidak akan masuk surga kecuali mereka yang bersih. Bahkan, salah satu hadits yang sangat populer menyebutkan bahwa kesucian atau kebersihan adalah setengah dari iman. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT, yang Maha Suci dan menyukai segala hal yang bersih dan indah.

Memotong Kuku sebagai Fitrah Manusia

Salah satu praktik kebersihan pribadi yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah memotong kuku. Kegiatan ini dikategorikan sebagai “fitrah amaliah” atau sunnah-sunnah fitrah, bersamaan dengan mencukur bulu kemaluan dan kumis. Secara medis dan syariat, memotong kuku bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang sering terselip di celah-celah kuku. Keberadaan kotoran di bawah kuku yang panjang berisiko menghalangi air sampai ke kulit saat bersuci (wudhu atau mandi wajib), sehingga kebersihan kuku menjadi kunci kesempurnaan ibadah seorang hamba.

Islam juga memberikan batasan waktu agar kuku tidak dibiarkan terlalu panjang. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, umat Islam dianjurkan untuk tidak membiarkan kuku, kumis, serta rambut ketiak dan kemaluan tidak terurus lebih dari 40 malam. Hal ini bertujuan untuk menjaga kerapian dan kesucian diri secara rutin.

Waktu Terbaik dan Tata Cara Memotong Kuku

Meskipun secara umum Islam tidak menetapkan hari tertentu yang mewajibkan potong kuku, para ulama memberikan anjuran berdasarkan keberkahan waktu. Hari Jumat merupakan waktu yang paling disarankan oleh para ulama salaf karena merupakan hari raya mingguan umat Islam. Selain itu, dalam mazhab Imam Syafi’i, hari Senin dan Kamis juga dianggap sebagai waktu yang baik dan membawa keberkahan untuk menjalankan amalan sunnah ini.

Mengenai teknis pelaksanaannya, para ulama menyarankan urutan tertentu untuk memotong kuku tangan guna mengikuti kebiasaan Nabi SAW yang selalu mendahulukan bagian kanan. Berikut adalah urutan yang dianggap baik:

  1. Dimulai dari jari telunjuk tangan kanan, lalu berturut-turut ke jari tengah, jari manis, dan kelingking kanan.
  2. Berpindah ke tangan kiri, dimulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, hingga ibu jari kiri.
  3. Diakhiri dengan memotong ibu jari tangan kanan.

Kebersihan Diri dan Kepedulian Lingkungan

Menjaga kebersihan kuku dan tubuh merupakan langkah awal sebelum menjaga kebersihan yang lebih luas, seperti tempat ibadah. Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid selalu dibersihkan dan diberi wewangian agar umat dapat beribadah dengan nyaman. Semangat ini juga tercermin dalam aksi sosial, seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah multi-religi yang berpartisipasi membersihkan masjid dan mushola. Kegiatan seperti menyapu, mengepel, dan membersihkan tempat wudhu dilakukan agar masyarakat dapat beribadah dengan lebih khusyuk.

Kesimpulan

Kebersihan dalam Islam mencakup dimensi yang luas, mulai dari memotong kuku sebagai bentuk menjaga fitrah hingga menjaga kebersihan tempat suci. Dengan menjaga kuku tetap pendek sesuai adab yang diajarkan, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga memastikan syarat sah ibadahnya terpenuhi.

Daftar Pustaka

  1. Kabar Harian.(2024, 22 Februari). 13 Hadits tentang Kebersihan, Anjuran Menjaga Kebersihan bagi Umat Islam. Kumparan.com..
  2. (2025, 7 Februari). Lakukan Aksi Bersih-Bersih Tempat Ibadah. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi..
  3. Gibran, Dany.(2024, 18 April). Tata Cara dan Hari Terbaik Potong Kuku Menurut Islam. CNBC Indonesia..

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Siti Komariyah (931002137)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan signifikan yang cenderung mengarah pada pola konsumtif. Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial telah menjadi tren baru demi mengejar pengakuan sosial dan eksistensi diri. Namun, dalam pandangan Islam, perilaku ini merupakan bentuk penyimpangan karena mengutamakan kesenangan duniawi yang bersifat sementara dan sering kali mengabaikan prinsip moderasi.

 

Esensi Kesederhanaan dalam Islam

Kesederhanaan atau bersahaja dimaknai sebagai sikap hidup yang tidak melampaui batas atau berlebihan. Sikap ini bukan berarti melarang umat Islam untuk mengejar kekayaan atau hidup dalam kemiskinan, melainkan sebuah pola hidup yang menghindari sikap mubazir. Prinsip utamanya adalah kemampuan seseorang dalam membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Dengan menerapkan pola hidup sederhana, seseorang akan lebih mendahulukan kebutuhan pokok yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidupnya daripada sekadar memuaskan hasrat nafsu yang tiada batasnya.

 

Keteladanan Rasulullah SAW

Pola hidup sederhana merupakan ajaran yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun beliau adalah pemimpin umat yang memiliki pengaruh besar, kehidupan keseharian beliau jauh dari kemewahan. Rasulullah SAW memberikan teladan melalui hal-hal mendasar, seperti cara berpakaian yang pantas namun tidak mencolok, serta pola makan yang secukupnya tanpa ada yang terbuang percuma. Beliau bahkan bersabda bahwa kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari iman. Prinsip yang ditekankan oleh beliau adalah bahwa orang kaya sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak harta, melainkan mereka yang sedikit kebutuhannya.

 

Larangan Israf dan Tabdzir

Islam secara tegas melarang perilaku israf (melampaui batas wajar) dan tabdzir (pemborosan harta untuk hal yang tidak bermanfaat). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 31 agar manusia makan dan minum secukupnya namun tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Perilaku konsumtif yang berlebihan, seperti hedonisme, tidak hanya berdampak buruk pada kondisi finansial pribadi melalui jebakan utang, tetapi juga merusak kohesi sosial dan spiritual. Secara spiritual, fokus yang berlebihan pada materi dapat mengalihkan perhatian dari ibadah dan pengembangan diri, sehingga mengakibatkan kekeringan jiwa.

 

Manfaat dan Implementasi Maqashid Syariah

Menerapkan kesederhanaan membawa banyak manfaat, di antaranya adalah perasaan tenang, jauh dari rasa putus asa, serta senantiasa merasa cukup atas apa yang dimiliki (qana’ah). Dalam kerangka Maqashid Syariah, pola hidup sederhana berfungsi untuk menjaga lima aspek dasar: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Perlindungan terhadap harta (Hifz al-Mal) dicapai dengan mengelola kekayaan secara bijaksana, menghindari pemborosan, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan sosial seperti zakat dan sedekah.

Sebagai penutup, hidup sederhana adalah kunci kebahagiaan di zaman yang serba berlebih ini. Dengan mengendalikan hawa nafsu dan bersikap syukur, kita dapat mencapai keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan persiapan bekal untuk akhirat. Mari kita jadikan kesederhanaan sebagai identitas diri agar terhindar dari tipu daya materialisme yang menyesatkan.

Daftar Pustaka

  • Amini, N., & Sari, Y. M. (2022). Penanaman Nilai Kesederhanaan Sejak Dini dalam Perspektif Hadits. Jurnal Amal Pendidikan, 3(2), 134-145.
  • Amelia, M., et al. (2024). Pola Hidup Sederhana dalam Perspektif Hadis di Era Konsumtif. Madinah: Jurnal Studi Islam, 11(1).
  • Mutmainnah, M., et al. (2023). Fenomena Flexing dalam Ekonomi Islam. Econetica, 5(1), 30-41.
  • Nadhifah, S. N., & Syakur, A. (2025). Etika Konsumsi dan Tantangan Hedonisme Perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Jesya (Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah), 8(1).

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Desi Rahmawati (184202607)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Di era digital yang serba cepat ini, kehidupan seorang pelajar tidak pernah lepas dari genggaman ponsel pintar. Bangun tidur membuka WhatsApp, belajar sambil melihat TikTok, mengerjakan tugas ditemani Instagram, hingga menjelang tidur masih menggulir media sosial. Beragam jenis game hingga media sosial yang nyaman di-scroll tanpa henti kerap membuat pelajar lupa waktu. Bahkan bunyi ping dari notifikasi media sosial sering kali lebih memikat perhatian dan direspons jauh lebih cepat daripada suara agung dari menara masjid. Sering kali muncul kalimat, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Padahal, azan bukan sekadar suara penanda waktu. Azan adalah panggilan langsung dari Allah SWT untuk menghadap-Nya. Jika notifikasi berasal dari manusia, maka azan berasal dari Rabb semesta alam. Oleh sebab itu, sudah seharusnya azan lebih penting daripada notifikasi.

Fenomena pelajar yang lalai terhadap salat karena buaian media sosial memang menjadi persoalan nyata hari ini. Penelitian Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan media sosial setiap hari, bahkan setiap jam, hingga melalaikan panggilan salat. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesadaran salat tepat waktu sebesar 39% (Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir, 2024). Kondisi ini menjadi pengingat bahwa teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jika tidak dikendalikan dapat membuat seseorang lupa terhadap kewajiban kepada Allah SWT.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 103, “… Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. An-Nisa [4]:103). Melalui ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa salat harus dikerjakan pada waktunya. Oleh sebab itu, menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan tidak sejalan dengan perintah yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Saat ini tantangan terbesar pelajar bukan hanya malas belajar, tetapi juga distraksi digital yang tidak ada habisnya. Notifikasi media sosial datang setiap menit. Video pendek membuat seseorang lupa waktu. Karena itu, pelajar muslim harus mulai belajar membedakan mana panggilan yang sekadar hiburan dan mana panggilan yang membawa keberkahan. Ketika azan berkumandang, berhentilah sejenak dari dunia digital. Letakkan ponsel, tinggalkan media sosial, lalu penuhi panggilan Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan jumlah pengikut di media sosial, bukan banyaknya likes, bukan banyaknya rank yang berhasil ditaklukkan, dan bukan viralnya konten yang kita miliki. Namun yang akan menjadi penolong dihadapan Allah adalah amal ibadah, termasuk salat yang dijaga tepat pada waktunya. Di sinilah salat fardu berperan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebagai media efektif untuk melatih self-management atau pengelolaan diri (Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5, 2025). Ketika seorang pelajar mampu menunda keinginan bermain game atau menatap layar ponsel demi memenuhi panggilan azan, ia sebenarnya sedang mempraktikkan self-management.

Kewajiban melaksanakan salat pada waktu yang telah ditetapkan mengajarkan pelajar pentingnya manajemen waktu dengan menempatkan ibadah sebagai pusat pengaturan aktivitas (time marker) sehari-hari. Salat tepat waktu melatih pelajar untuk menghargai waktu. Ketika terbiasa bangun untuk salat Subuh maka akan lebih mudah memulai hari dengan teratur. Saat menjaga salat Zuhur dan Ashar akan belajar membagi waktu antara belajar, bermain, dan beribadah. Sedangkan menjaga salat Isya’ mengajarkan pentingnya mengakhiri hari dengan mendekat kepada Allah SWT.

Kedisiplinan dalam beribadah berkorelasi positif dan signifikan dengan perilaku disiplin di kehidupan sehari-hari. Pelajar yang terbiasa salat tepat waktu cenderung lebih sadar akan tanggung jawab akademisnya, seperti mengerjakan tugas tepat waktu dan menghindari perilaku menyontek. Hal ini dikarenakan salat melatih konsistensi dan rasa tanggung jawab yang kemudian terbawa ke dalam ruang kelas dan aktivitas belajar lainnya.

Selain kedisiplinan, kualitas salat yang baik yang ditandai dengan kekhusyukan dan pemahaman maknanya memberikan ketenangan mental bagi pelajar. Di tengah tekanan ujian dan tugas yang menumpuk, salat menjadi momen “istirahat” spiritual yang menyucikan jiwa dan mengurangi tingkat stres serta kecemasan. Pelajar yang memiliki kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta akan merasa lebih tenang dan tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Penghayatan dalam salat membantu pembentukan pengendalian diri dan mengingatkan manusia bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT (Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama, 2025).

Lebih jauh lagi, salat yang dilakukan secara benar berfungsi sebagai perisai yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal ini sangat relevan mengingat tantangan bullying, pergaulan bebas, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya yang mengintai remaja saat ini. Pembiasaaan salat tepat waktu dapat membangun kontrol diri internal yang kuat dan mengingatkan bahwa setiap tindakan selalu diawasi oleh Allah SWT. (Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman, 2023). Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-‘Ankabut ayat 45, “… Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]:45).

Menjadikan azan lebih penting daripada notifikasi adalah langkah awal bagi seorang pelajar untuk meraih keberkahan dalam ilmunya. Jadilah pelajar yang hebat bukan hanya dalam nilai akademik, tetapi juga hebat dalam menjaga salat dan jadilah generasi yang ketika mendengar azan berkata, “Aku harus segera memenuhi panggilan Allah,” bukan justru berkata, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Seorang pelajar muslim sejati tahu bahwa ketika azan berkumandang, panggilan Allah SWT selalu lebih penting daripada notifikasi apa pun.

Daftar Pustaka

Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman. (2023). Harmoni Spiritual dalam Kehidupan Sehari-Hari: Mengajarkan Keutamaan. Menara Pengabdian Journal published by the Institute for Research and Community Service, Muhammadiyah University, West Sumatra.

Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir. (2024). Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu. Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI).

Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5. (2025). Belajar Self-Management dari Sholat Fardhu: Membentuk Disiplin pada Anak. NuCSJo: Nusantara Community Service Journal.

Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama. (2025). The Relationship between The Quality of Performing Obligatory Prayers and Student Behavior in Daily Life. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya.

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Seiga Khuzaema Cahyati (184202604)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Untuk memahami makna syukur secara lebih mendalam, kita perlu meninjau akar katanya dalam bahasa Arab. M. Quraish Shihab, merujuk pada pendapat ahli bahasa Ahmad Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah, menjelaskan bahwa kata syukur memiliki makna dasar yang berkaitan dengan pujian atas kebaikan, kepenuhan, pertumbuhan, dan keberkahan yang terus berkembang.

Makna-makna tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa seseorang yang mampu menghargai nikmat yang sedikit akan memperoleh keberkahan yang lebih besar. Sebaliknya, syukur merupakan lawan dari kufur. Secara bahasa, kufur berarti menutup atau menyembunyikan nikmat. Orang yang kufur terhadap nikmat Allah cenderung hanya melihat kekurangan dalam hidupnya sehingga merasa miskin secara batin meskipun memiliki kelimpahan harta dan fasilitas.

Sebagaimana dijelaskan oleh M. Quraish Shihab:

“Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat berarti menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh Pemberinya serta mengakui dan menyebutkannya dengan penuh kesadaran.”

Karena itu, syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap dan tindakan yang mencerminkan pengakuan atas nikmat Allah. Semakin seseorang mampu mensyukuri nikmat yang dimiliki, semakin luas pula ruang kebahagiaan dalam hatinya. Sebaliknya, semakin ia fokus pada apa yang belum dimiliki, semakin sulit ia merasakan ketenangan dan kepuasan dalam hidup.

Strategi Iblis dan Pentingnya Menjaga Rasa Syukur

Dalam perspektif Islam, hilangnya rasa syukur tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis seseorang, tetapi juga dapat menjauhkan manusia dari kedekatannya dengan Allah Swt. Al-Qur’an menggambarkan bahwa salah satu tujuan utama Iblis adalah membuat manusia lalai terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16–17)

Para ulama menjelaskan bahwa serangan-serangan tersebut dapat dipahami sebagai berbagai bentuk godaan yang melemahkan keimanan dan rasa syukur manusia. Dari depan berupa kekhawatiran terhadap masa depan, dari belakang berupa penyesalan terhadap masa lalu, dari kanan melalui keraguan dalam menjalankan kebenaran, dan dari kiri melalui godaan untuk melakukan kemaksiatan.

Namun demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa terdapat dua arah yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu arah atas dan bawah. Hal ini mengandung pelajaran yang mendalam bagi kehidupan seorang mukmin.

  • Arah atasmelambangkan hubungan manusia dengan Allah melalui doa, harapan, dan tawakal. Selama seseorang masih menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah, ia memiliki sumber kekuatan yang tidak akan pernah habis.
  • Arah bawahmelambangkan sujud, yaitu posisi paling mulia seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Dalam sujud, manusia menyadari asal-usulnya yang berasal dari tanah sekaligus mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati, mengikis kesombongan, dan menghadirkan ketenangan jiwa.

Oleh karena itu, menjaga kebiasaan berdoa, bersujud, dan bersyukur merupakan benteng spiritual yang dapat melindungi manusia dari berbagai bentuk kecemasan, keputusasaan, serta bisikan-bisikan negatif yang mengganggu ketenangan hati.

“Hasbunallah”: Rahasia Mengapa Allah Saja Sudah Cukup

Puncak kekuatan syukur adalah ketika seseorang sampai pada kesadaran hasbunallah bahwa Allah saja sudah lebih dari cukup. Gambaran ini terlihat indah dalam kisah Kaum Ansar setelah Perang Hunain. Saat itu, para mualaf seperti Abu Sufyan mendapat hadiah ratusan ekor unta untuk melunakkan hati mereka. Sementara Kaum Ansar, yang telah berkorban besar, justru tidak mendapatkan bagian dari “dunia” tersebut.

Namun Rasulullah mengubah cara pandang mereka dengan pertanyaan yang menyentuh hati:
“Tidakkah kalian rela orang lain pulang membawa unta dan domba, sementara kalian pulang membawa Allah dan Rasul-Nya?”

Bagi hati yang dalam, membawa kedekatan dengan Sang Pencipta jauh lebih berharga daripada harta apa pun. Prinsip inilah yang membuat tokoh seperti Ibnu Taimiyah tetap merasakan “surga” meski di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kesempatan untuk menyendiri dengan Tuhan, pengasingan adalah perjalanan, dan kematian adalah syahid. Ia tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal duniawi yang mudah berubah.

Tiga Level Syukur: Dari Hati hingga Perbuatan

Agar syukur benar-benar berdampak pada kesehatan mental, ia perlu diwujudkan dalam tiga tingkatan:

  • Syukur Hati
    Merasakan cukup (qana’ah) dan menyadari bahwa setiap napas yang kita hirup adalah anugerah.
  • Syukur Lisan
    Mengganti keluhan dengan kata-kata positif. Lidah yang terbiasa bersyukur akan membentuk pikiran yang lebih optimis.
  • Syukur Perbuatan
    Menggunakan seluruh anggota tubuh sesuai tujuan kebaikan:
  • Mata untuk melihat keindahan dan kebenaran, bukan membandingkan diri dengan standar semu.
  • Telinga untuk mendengar hal yang membangun, bukan gosip yang melelahkan jiwa.
  • Tangan dan kaki untuk membantu sesama, karena memberi adalah bentuk syukur yang paling nyata.

Penutup: Syukur sebagai Proses Tanpa Akhir

Syukur bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan. Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh cara kita menyikapi apa yang ada. Dengan melatih syukur setiap hari, kita sedang membangun ketahanan mental yang kuat yang tidak mudah goyah oleh perubahan hidup.

Coba renungkan: Jika hari ini Allah hanya menyisakan nikmat yang kita syukuri kemarin, masihkah ada yang tersisa dalam hidup kita?

Daftar Pustaka

  1. Rahmadiah, N. (2025). Manfaat dari berdoa dan bersyukur dalam kesehatan mental. ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling, 4(1), 41–47. https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/istisyfa/
  2. Mahfud, C. (2014). The power of syukur: Tafsir kontekstual konsep syukur dalam Al-Qur’an. Jurnal Episteme, 9(2).
  3. Video YouTube. (n.d.). Selalu Merasa Cukup Dan Bersyukur – Ust. Hanan Attaki, Lc. https://youtu.be/k8bSLSuDXD0

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Mufti Dedy Wirawan (151002230)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Di era disrupsi digital saat ini, manusia tidak lagi hanya hidup di ruang fisik, tetapi juga menghuni ruang siber yang nyaris tanpa batas. Kehadiran media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, memperoleh informasi, bahkan membentuk pola pikir masyarakat. Setiap orang kini memiliki kemampuan untuk memproduksi dan menyebarkan informasi hanya melalui satu genggaman tangan. Namun, kemudahan tersebut ibarat pedang bermata dua; teknologi dapat menjadi sarana penguat iman dan penyebar manfaat, tetapi juga dapat berubah menjadi alat penyebar keburukan yang sistematis.

Secara sosiologis, masyarakat dengan tingkat literasi digital yang rendah sangat rentan terjebak dalam arus hoaks, provokasi SARA, ujaran kebencian, hingga fitnah yang beredar tanpa kendali. Dalam Islam, setiap informasi yang kita konsumsi maupun bagikan bukanlah sekadar lalu lintas data biasa, melainkan bagian dari perilaku yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah SWT telah mengingatkan manusia melalui Surah Al-Asr bahwa waktu adalah amanah yang sangat berharga. Waktu yang dihabiskan hanya untuk scrolling tanpa arah dan tanpa makna merupakan bagian dari kerugian, kecuali jika digunakan untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Oleh karena itu, aktivitas digital seorang muslim seharusnya tidak terlepas dari nilai ibadah dan tanggung jawab moral.

Menggunakan media sosial memerlukan kecerdasan spiritual agar smartphone yang kita miliki juga diiringi dengan sikap sebagai smart user. Habib Muhammad Al-Habsyi menekankan dua pertanyaan penting sebelum seseorang membagikan suatu informasi: apakah berita tersebut benar dan apakah berita tersebut bermanfaat? Sebab, tidak semua hal yang benar layak disebarluaskan. Ada kalanya suatu informasi justru menimbulkan kemudaratan atau memicu permusuhan jika dipublikasikan tanpa kebijaksanaan.

Dalam konteks ini, Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 memberikan pedoman bahwa aktivitas bermuamalah di media sosial wajib dilandasi prinsip keimanan, menjaga ukhuwah, serta memperkuat kerukunan sosial. Sebaliknya, memproduksi maupun menyebarkan hoaks, ghibah, fitnah, dan namimah hukumnya haram. Hal ini perlu menjadi perhatian serius karena jejak digital yang kita tinggalkan dapat menjadi “dosa jariyah” yang terus mengalir, bahkan ketika seseorang telah meninggal dunia.

Salah satu konsep paling penting dalam menghadapi derasnya arus informasi adalah tabayyun. Dalam Tafsir Al-Azhar ketika menjelaskan Surah Al-Hujurat ayat 6, Buya Hamka mengingatkan agar manusia tidak mudah percaya terhadap berita tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Selain itu, Surah An-Nisa ayat 94 juga mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa dalam berprasangka. Di media sosial, seseorang sering kali dihakimi hanya berdasarkan potongan video atau narasi yang belum tentu utuh. Di sinilah tabayyun berfungsi sebagai rem spiritual agar manusia tidak dikuasai hawa nafsu untuk cepat bereaksi tanpa data yang valid.

Dakwah digital pada hakikatnya tidak harus selalu hadir dalam bentuk ceramah formal. Keindahan dakwah di era modern justru terletak pada kemampuan menghadirkan nilai ketuhanan dalam berbagai bentuk konten yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Aktivitas digital yang tampak sederhana pun dapat berubah menjadi ladang pahala apabila disertai niat yang benar.

Sebagai penutup, marilah kita menyadari bahwa setiap aktivitas digital manusia tercatat dengan rapi di hadapan Allah SWT. Jangan biarkan jempol kita menjadi saksi atas keburukan yang pernah kita sebarkan. Pada akhirnya, media sosial seharusnya tidak hanya menjadi ruang hiburan semata, tetapi juga menjadi kebun amal tempat kita menanam benih-benih kebaikan yang kelak akan dipanen di kehidupan yang abadi.

Daftar Pustaka:

  1. Amrullah, Abdul Malik Karim (Buya Hamka). Tafsir Al-Azhar..
  2. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial..
  3. Indah Siti Saidah. Konsep Tabayyun dalam menyikapi Berita Hoax di Media Sosial Perspektif Tafsir al-Azhar Karya Buya Hamka..
  4. Transkrip Dakwah: KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Buya Yahya, dan Habib Muhammad Al-Habsyi..
  5. Al-Qur’an: Surah Al-Asr: 1-3, Surah Al-Hujurat: 6, Surah An-Nisa: 94

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Tutias Ekawati – 161002228
Melalui aplikasi NotebookLM

 

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah lepas dari berbagai liku-liku. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang, profesi, atau usia, pasti akan melewati fase-fase sulit yang menguji keteguhan hatinya. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa pada dasarnya hidup itu sendiri merupakan serangkaian masalah, perjalanan dari satu ujian ke ujian lainnya yang baru akan benar-benar terputus ketika seseorang telah meninggal dunia. Dalam pandangan Islam, ujian-ujian ini bukanlah bentuk hukuman, melainkan sarana bagi Allah SWT untuk berdialog dengan hamba-Nya, meningkatkan derajat keimanan, serta menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Menghadapi kenyataan hidup yang dinamis tersebut, Islam menawarkan satu strategi utama yang luar biasa, yaitu sabar. Sabar sering kali disalahartikan sebagai sikap pasif atau menyerah pada keadaan. Namun, merujuk pada nilai-nilai Al-Qur’an, sabar adalah sebuah strategi aktif. Ia melibatkan kemampuan mental dan spiritual yang terlatih untuk tetap teguh, istiqamah, serta menjaga lisan dan hati agar tidak terjebak dalam keluh kesah yang berlebihan. Secara bathiniah, sabar tercermin dalam sikap penahanan emosi dan pengendalian hawa nafsu di tengah situasi yang menghimpit.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٣

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Ayat ini menegaskan bahwa sabar dan shalat adalah dua kunci utama untuk meraih pertolongan Ilahi. Orang yang mampu memadukan keduanya akan memiliki tingkat pengendalian emosi yang tinggi serta terlindung dari perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Mengapa Kita Harus Diuji

Setiap kesulitan yang kita terima dengan ikhlas sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis: “Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, sakit, kesusahan, atau bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melalui ujian, Allah ingin melihat kejujuran iman seorang hamba. Ujian juga berfungsi membentuk karakter manusia agar menjadi pribadi yang lebih bijaksana, tangguh, dan memiliki empati yang lebih dalam terhadap sesama.

Penerapan Sabar dalam Kehidupan

Sikap sabar memiliki dimensi yang sangat luas, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian utama:

  1. Sabar dalam Ketaatan: Ketabahan dalam menjalankan perintah Allah secara sempurna dan konsisten, meskipun banyak rintangan yang menghadang.
  2. Sabar Menjauhi Maksiat: Kemampuan untuk menahan diri dari godaan hawa nafsu dan menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama demi menjaga kesucian jiwa.
  3. Sabar Menghadapi Musibah: Ketabahan saat tertimpa kehilangan, sakit, atau kegagalan, dengan keyakinan penuh bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah dan mengandung hikmah yang besar.

Di era kontemporer yang penuh dengan tekanan stres dan perubahan yang sangat cepat, nilai sabar menjadi sangat relevan sebagai alat untuk menjaga kesehatan mental. Sabar melatih kita untuk tidak bertindak impulsif atau terburu-buru dalam mengambil keputusan, sehingga hati tetap damai dan pikiran tetap jernih dalam mencari solusi terbaik.

Allah menjanjikan balasan yang tiada tanding bagi mereka yang bersabar:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝١٠

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Dengan menjadikan sabar sebagai bagian dari gaya hidup, kita tidak hanya akan meraih kebahagiaan sejati di dunia, tetapi juga kemuliaan yang abadi di akhirat kelak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. “9 Hikmah Sabar yang Mengubah Cobaan Jadi Pahala.”
  2. Ustadzah Fathiyah.“Bagaimana Menghadapi Ujian dari Allah | Tanya Jawab Ustadzah Fathiyah Terbaru.”
  3. Jaya, A., dkk. (2021).“Manajemen Sabar Menghadapi Musibah dalam Perspektif Al Qur’an.” Jurnal Mirai Manajemen, 6(3).
  4. Nurhidayah Br, A., dkk. (2025).“Sabar dan Hikmah di Balik Ujian: Tafsir Al-Qur’an sebagai Solusi Kehidupan.” Jurnal el-Huda, 16(1).

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Erma Widiyanti (161002227)
Melalui aplikasi NotebookLM