FIAI UII

Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan signifikan yang cenderung mengarah pada pola konsumtif. Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial telah menjadi tren baru demi mengejar pengakuan sosial dan eksistensi diri. Namun, dalam pandangan Islam, perilaku ini merupakan bentuk penyimpangan karena mengutamakan kesenangan duniawi yang bersifat sementara dan sering kali mengabaikan prinsip moderasi.

 

Esensi Kesederhanaan dalam Islam

Kesederhanaan atau bersahaja dimaknai sebagai sikap hidup yang tidak melampaui batas atau berlebihan. Sikap ini bukan berarti melarang umat Islam untuk mengejar kekayaan atau hidup dalam kemiskinan, melainkan sebuah pola hidup yang menghindari sikap mubazir. Prinsip utamanya adalah kemampuan seseorang dalam membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Dengan menerapkan pola hidup sederhana, seseorang akan lebih mendahulukan kebutuhan pokok yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidupnya daripada sekadar memuaskan hasrat nafsu yang tiada batasnya.

 

Keteladanan Rasulullah SAW

Pola hidup sederhana merupakan ajaran yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun beliau adalah pemimpin umat yang memiliki pengaruh besar, kehidupan keseharian beliau jauh dari kemewahan. Rasulullah SAW memberikan teladan melalui hal-hal mendasar, seperti cara berpakaian yang pantas namun tidak mencolok, serta pola makan yang secukupnya tanpa ada yang terbuang percuma. Beliau bahkan bersabda bahwa kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari iman. Prinsip yang ditekankan oleh beliau adalah bahwa orang kaya sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak harta, melainkan mereka yang sedikit kebutuhannya.

 

Larangan Israf dan Tabdzir

Islam secara tegas melarang perilaku israf (melampaui batas wajar) dan tabdzir (pemborosan harta untuk hal yang tidak bermanfaat). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 31 agar manusia makan dan minum secukupnya namun tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Perilaku konsumtif yang berlebihan, seperti hedonisme, tidak hanya berdampak buruk pada kondisi finansial pribadi melalui jebakan utang, tetapi juga merusak kohesi sosial dan spiritual. Secara spiritual, fokus yang berlebihan pada materi dapat mengalihkan perhatian dari ibadah dan pengembangan diri, sehingga mengakibatkan kekeringan jiwa.

 

Manfaat dan Implementasi Maqashid Syariah

Menerapkan kesederhanaan membawa banyak manfaat, di antaranya adalah perasaan tenang, jauh dari rasa putus asa, serta senantiasa merasa cukup atas apa yang dimiliki (qana’ah). Dalam kerangka Maqashid Syariah, pola hidup sederhana berfungsi untuk menjaga lima aspek dasar: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Perlindungan terhadap harta (Hifz al-Mal) dicapai dengan mengelola kekayaan secara bijaksana, menghindari pemborosan, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan sosial seperti zakat dan sedekah.

Sebagai penutup, hidup sederhana adalah kunci kebahagiaan di zaman yang serba berlebih ini. Dengan mengendalikan hawa nafsu dan bersikap syukur, kita dapat mencapai keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan persiapan bekal untuk akhirat. Mari kita jadikan kesederhanaan sebagai identitas diri agar terhindar dari tipu daya materialisme yang menyesatkan.

Daftar Pustaka

  • Amini, N., & Sari, Y. M. (2022). Penanaman Nilai Kesederhanaan Sejak Dini dalam Perspektif Hadits. Jurnal Amal Pendidikan, 3(2), 134-145.
  • Amelia, M., et al. (2024). Pola Hidup Sederhana dalam Perspektif Hadis di Era Konsumtif. Madinah: Jurnal Studi Islam, 11(1).
  • Mutmainnah, M., et al. (2023). Fenomena Flexing dalam Ekonomi Islam. Econetica, 5(1), 30-41.
  • Nadhifah, S. N., & Syakur, A. (2025). Etika Konsumsi dan Tantangan Hedonisme Perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Jesya (Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah), 8(1).

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Desi Rahmawati (184202607)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Kebersihan sebagai Fondasi Iman

Dalam ajaran Islam, kebersihan bukanlah sekadar masalah estetika atau kesehatan fisik, melainkan bagian integral dari identitas seorang Muslim. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Islam dibangun di atas dasar kebersihan, dan ditegaskan pula bahwa tidak akan masuk surga kecuali mereka yang bersih. Bahkan, salah satu hadits yang sangat populer menyebutkan bahwa kesucian atau kebersihan adalah setengah dari iman. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT, yang Maha Suci dan menyukai segala hal yang bersih dan indah.

Memotong Kuku sebagai Fitrah Manusia

Salah satu praktik kebersihan pribadi yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah memotong kuku. Kegiatan ini dikategorikan sebagai “fitrah amaliah” atau sunnah-sunnah fitrah, bersamaan dengan mencukur bulu kemaluan dan kumis. Secara medis dan syariat, memotong kuku bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang sering terselip di celah-celah kuku. Keberadaan kotoran di bawah kuku yang panjang berisiko menghalangi air sampai ke kulit saat bersuci (wudhu atau mandi wajib), sehingga kebersihan kuku menjadi kunci kesempurnaan ibadah seorang hamba.

Islam juga memberikan batasan waktu agar kuku tidak dibiarkan terlalu panjang. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, umat Islam dianjurkan untuk tidak membiarkan kuku, kumis, serta rambut ketiak dan kemaluan tidak terurus lebih dari 40 malam. Hal ini bertujuan untuk menjaga kerapian dan kesucian diri secara rutin.

Waktu Terbaik dan Tata Cara Memotong Kuku

Meskipun secara umum Islam tidak menetapkan hari tertentu yang mewajibkan potong kuku, para ulama memberikan anjuran berdasarkan keberkahan waktu. Hari Jumat merupakan waktu yang paling disarankan oleh para ulama salaf karena merupakan hari raya mingguan umat Islam. Selain itu, dalam mazhab Imam Syafi’i, hari Senin dan Kamis juga dianggap sebagai waktu yang baik dan membawa keberkahan untuk menjalankan amalan sunnah ini.

Mengenai teknis pelaksanaannya, para ulama menyarankan urutan tertentu untuk memotong kuku tangan guna mengikuti kebiasaan Nabi SAW yang selalu mendahulukan bagian kanan. Berikut adalah urutan yang dianggap baik:

  1. Dimulai dari jari telunjuk tangan kanan, lalu berturut-turut ke jari tengah, jari manis, dan kelingking kanan.
  2. Berpindah ke tangan kiri, dimulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, hingga ibu jari kiri.
  3. Diakhiri dengan memotong ibu jari tangan kanan.

Kebersihan Diri dan Kepedulian Lingkungan

Menjaga kebersihan kuku dan tubuh merupakan langkah awal sebelum menjaga kebersihan yang lebih luas, seperti tempat ibadah. Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid selalu dibersihkan dan diberi wewangian agar umat dapat beribadah dengan nyaman. Semangat ini juga tercermin dalam aksi sosial, seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah multi-religi yang berpartisipasi membersihkan masjid dan mushola. Kegiatan seperti menyapu, mengepel, dan membersihkan tempat wudhu dilakukan agar masyarakat dapat beribadah dengan lebih khusyuk.

Kesimpulan

Kebersihan dalam Islam mencakup dimensi yang luas, mulai dari memotong kuku sebagai bentuk menjaga fitrah hingga menjaga kebersihan tempat suci. Dengan menjaga kuku tetap pendek sesuai adab yang diajarkan, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga memastikan syarat sah ibadahnya terpenuhi.

Daftar Pustaka

  1. Kabar Harian.(2024, 22 Februari). 13 Hadits tentang Kebersihan, Anjuran Menjaga Kebersihan bagi Umat Islam. Kumparan.com..
  2. (2025, 7 Februari). Lakukan Aksi Bersih-Bersih Tempat Ibadah. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi..
  3. Gibran, Dany.(2024, 18 April). Tata Cara dan Hari Terbaik Potong Kuku Menurut Islam. CNBC Indonesia..

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Siti Komariyah (931002137)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk menimba ilmu dan mengembangkan potensi diri. Namun, realita menunjukkan bahwa fenomena perundungan atau bullying masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Dalam kacamata Islam, bullying bukan sekadar masalah sosial, melainkan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan keimanan yang telah diatur secara tegas dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Memahami Esensi dan Bentuk Bullying

Bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh individu atau kelompok yang memiliki kekuatan lebih terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan ini bertujuan untuk menyakiti, mengintimidasi, atau membuat korban merasa tidak berdaya. Berdasarkan bentuknya, bullying dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis:

  • Bullying Fisik: Melibatkan kontak fisik langsung seperti memukul, menendang, menjegal, atau merusak barang milik korban.
  • Bullying Verbal: Penggunaan kata-kata untuk menyakiti, seperti mengejek, memaki, menyebar fitnah, atau memberikan julukan yang merendahkan.
  • Bullying Psikologis/Relasional: Tindakan halus namun berbahaya seperti pengucilan, penyebaran rumor, atau manipulasi persahabatan untuk merusak reputasi sosial seseorang.
  • Cyberbullying: Perundungan melalui media digital, seperti mengirim pesan teror, menyebarkan foto pribadi, atau menulis komentar jahat di media sosial.
  • Bullying Seksual dan Bias: Tindakan yang menargetkan seksualitas, identitas gender, atau latar belakang suku, agama, dan ras tertentu.

Sementara Islam memandang perilaku bullying sebagai tindakan yang dilarang keras. Dalam Al-Qur’an, setidaknya terdapat tiga istilah yang merepresentasikan perilaku perundungan:

Istihza (Mengolok-olok): Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 14, tindakan mengolok-olok orang lain bukanlah cerminan sifat orang yang beriman.

Apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya pengolok-olok.” (QS: Al-Baqarah: 14)

Sakhr (Merendahkan): Allah SWT melarang kaum mukmin untuk merendahkan kaum lainnya. Dalam Surah Hud ayat 38, dikisahkan bagaimana kaum Nabi Nuh mengejek beliau saat membangun bahtera, sebuah tindakan yang dikecam.

“Mulailah dia (Nuh) membuat bahtera itu. Setiap kali para pemuka kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, sesungguhnya kami pun akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami).” (QS. Hud: 38)

Surah Al-Hujurat ayat 11 juga menegaskan larangan merendahkan orang lain karena boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik di mata Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk …” (QS. Al-Hujarat: 11)

Islam juga mengajarkan untuk menjaga kehormatan orang lain. Dalam sebuah hadis (HR. Tirmidzi), disebutkan:

“Janganlah kalian menyakiti sesama Muslim, janganlah kalian menghina mereka, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan mereka.”

Talmiz (Saling Mencela): Masih dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah melarang umat Islam untuk saling mencela dan memanggil dengan gelaran atau julukan yang buruk. Julukan yang merendahkan martabat adalah seburuk-buruk panggilan sesudah iman.

Tindakan-tindakan di atas sangat dilarang karena merusak izzah (kehormatan) sesama Muslim. Rasulullah SAW menegaskan definisi Muslim sejati melalui lisannya: “Seorang Muslim adalah manakala orang-orang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari).

Akar Masalah dan Dampak yang Menghancurkan

Perilaku bullying sering kali dipicu oleh kurangnya empati, rasa ingin berkuasa, hingga pengaruh lingkungan keluarga yang keras. Terkadang, pelaku melakukan perundungan untuk menutupi kekurangan atau rasa tidak percaya diri mereka sendiri dengan cara menindas teman yang memiliki kelebihan.

Dampaknya sangat luas dan berbahaya. Secara fisik, korban dapat mengalami cedera, sakit kepala kronis akibat stres, gangguan pencernaan, hingga penurunan fungsi kekebalan tubuh. Secara psikis, bullying menyebabkan trauma mendalam, depresi, kecemasan, hingga keinginan untuk bunuh diri. Islam memandang hal ini sebagai mudharat (bahaya) yang harus dihilangkan karena dapat merusak masa depan dan kesejahteraan manusia.

Menghindari perilaku bullying memerlukan pemahaman mendalam tentang akar penyebabnya. Faktor penyebab bisa berasal dari lingkungan keluarga, seperti pola asuh yang keras, kurangnya kehangatan, atau anak sering menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, lingkungan teman sebaya berperan besar; remaja seringkali melakukan bullying demi mendapatkan pengakuan, popularitas, atau merasa berkuasa dalam kelompoknya. Faktor lain termasuk penyalahgunaan teknologi, di mana paparan konten kekerasan tanpa pengawasan orang tua dapat membentuk karakter anak yang agresif.

Efek dari perundungan tidak boleh disepelekan karena cakupannya sangat luas. Secara fisik, korban dapat mengalami luka, sakit kepala kronis akibat stres, gangguan pencernaan, hingga penurunan daya tahan tubuh. Secara mental, dampaknya jauh lebih dalam, meliputi gangguan kecemasan, depresi, trauma (PTSD), penurunan kepercayaan diri, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Di sisi akademik, korban cenderung malas pergi ke sekolah, kehilangan konsentrasi belajar, dan berisiko tinggi untuk putus sekolah. Bahkan, korban bullying di masa kecil berisiko mengalami masalah kesehatan mental dan kesulitan ekonomi hingga usia dewasa.

Strategi Menghindari dan Mencegah Bullying di Sekolah

Pencegahan bullying adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri. Berikut adalah beberapa strategi efektif. Untuk menciptakan sekolah yang bebas dari bullying, diperlukan integrasi antara nilai-nilai Islam dan strategi praktis:

  1. Menanamkan Nilai Kasih Sayang (Rahmah)Pencegahan utama dimulai dengan menanamkan nilai kasih sayang antar sesama sejak dini. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan”(HR. Tirmidzi). Jika budaya saling menyayangi ini menjadi landasan interaksi di sekolah, maka dorongan untuk menyakiti teman akan terkikis.
  2. Penguatan Pendidikan Akhlak dan EmpatiSekolah dan orang tua harus bekerja sama memberikan pendidikan moral dan empati kepada anak. Individu yang memiliki empati tinggi—yaitu mereka yang peduli dan memahami perasaan orang lain—cenderung akan menghindari tindakan kekerasan karena mereka merasakan penderitaan korban.
  3. Membangun Budaya Sekolah yang InklusifSekolah harus menghindari sikap diskriminatif berdasarkan status sosial, ekonomi, maupun fisik. Islam mengajarkan bahwa setiap individu memiliki nilai dan martabat yang sama. Guru berperan penting dalam menciptakan iklim sekolah yang ramah, bersahabat, dan menekankan empati sebagai norma.
  4. Pengawasan dan Regulasi yang TegasSesuai dengan prinsip keadilan, sekolah harus bertindak tegas terhadap perilaku bullying. Adanya peraturan resmi seperti Permendikbudristek PPKSP memberikan landasan hukum untuk menangani kekerasan dan diskriminasi. Pengawasan rutin di tempat-tempat rawan seperti kantin dan toilet sangat diperlukan untuk mempersempit ruang gerak pelaku.
  5. Peran Orang Tua sebagai TeladanOrang tua adalah pendidik pertama dan utama. Mereka harus menghindari pola asuh yang kasar dan memberikan contoh komunikasi positif di rumah. Jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan ketaatan beragama, mereka akan membawa karakter positif tersebut ke sekolah.

Penanganan terhadap Pelaku dan Perlindungan Korban

Jika bullying sudah terjadi, solusi yang diambil harus bersifat edukatif dan protektif. Korban harus segera mendapatkan perlindungan dan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma mereka. Di sisi lain, pelaku bullying juga memerlukan konseling untuk memahami kesalahan mereka, menumbuhkan empati, dan mengubah pola pikir negatif tanpa langsung disalahkan secara kasar yang justru bisa membuat mereka semakin agresif.

Kesimpulan

Menghindari perilaku bullying adalah tanggung jawab kolektif sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dengan menghidupkan kembali semangat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) di lingkungan sekolah, kita dapat menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan penuh keberkahan. Sekolah yang bebas dari bullying bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki akhlakul karimah (akhlak mulia) dan saling menghormati martabat kemanusiaan.

 

Daftar Pustaka

Alodokter. (2025). Bullying – Penyebab, Dampak, dan Penanganan.,.

Darmayanti, K. K. H., Kurniawati, F., & Situmorang, D. D. B. (2019). Bullying di Sekolah: Pengertian, Dampak, Pembagian dan Cara Menanggulanginya. Pedagogia Jurnal Ilmu Pendidikan, 17(1), 55-66..

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Pontianak. (2025). Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis.,.

Hafiqly, M. R., Ashrof, M. R., Putra, R. R., & Jenita, Y. L. (2025). Analisis bullying Yang Terjadi di Sekolah. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara, 1(8), 8–12..

Nurhakim, A. (2024). 3 Istilah Bullying atau Perundungan dalam Al-Qur’an, Islam Melarang. Warta Metropolis/NU Online.,.

Pradana, C. D. E. (2024). Pengertian Tindakan Bullying, Penyebab, Efek, Pencegahan dan Solusi. Jurnal Syntax Admiration, 5(3)..

Primaya Hospital. (2023). Dampak Bullying pada Kesehatan Fisik dan Mental.,.

SMP Negeri 2 Kelapa Dua. (2025). Bullying di Lingkungan Sekolah: Strategi dalam Mencegah Bullying.,.

Sulastri. (2023). Bahaya Bullying di Lingkungan Sekolah yang Berdampak Terhadap Kesehatan Mental. Kompasiana.com.,.

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:

Mabdaul Basar (971002131)

Melalui aplikasi NotebookLM

 

 

FIAI UII

Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup serta petunjuk menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas ibadah yang dianjurkan, tetapi merupakan sumber ketenangan jiwa dan sarana komunikasi ruhani antara seorang hamba dengan Penciptanya. Di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan modern, berinteraksi dengan Al-Qur’an menjadi kebutuhan krusial untuk memperkuat hubungan spiritual dan memperbaiki akhlak.

Pahala yang Berlipat Ganda dan Investasi Akhirat

Salah satu keutamaan utama yang dijanjikan adalah besarnya pahala dari setiap huruf yang dibaca. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap satu huruf dari Kitabullah akan mendatangkan satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Menariknya, keistimewaan ini tidak hanya terbatas bagi mereka yang sudah mahir. Seseorang yang masih terbata-bata atau mengalami kesulitan dalam membaca tetap mendapatkan pahala, bahkan lebih, karena kesabaran dan usahanya dalam mempelajari ayat-ayat suci tersebut. Menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai rutinitas harian adalah bentuk investasi amal jariyah yang nilainya sangat tinggi di akhirat kelak.

Ketenangan Hati dan Kesehatan Mental

Secara spiritual, Al-Qur’an adalah bentuk dzikir tertinggi yang mampu menghadirkan ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman bahwa hanya dengan mengingat Allah—salah satunya melalui Al-Qur’an—hati akan menjadi tenteram. Dampak ini bahkan telah dibuktikan secara ilmiah, di mana mendengarkan atau membaca Al-Qur’an dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan ketenangan otak. Ayat-ayat Allah mengandung energi spiritual yang meredakan kegelisahan, menumbuhkan rasa syukur, serta membantu seseorang menerima takdir dengan lapang dada.

Pembersih Hati dan Peningkat Keimanan

Hati manusia seringkali terkotori oleh noda maksiat dan kelalaian. Rasulullah SAW mengibaratkan hati yang berkarat seperti besi, dan cara membersihkannya adalah dengan membaca Al-Qur’an. Rutinitas ini melembutkan hati, meningkatkan kepekaan terhadap dosa, serta menjaga keseimbangan spiritual antara rasa takut (khauf) dan cinta (raja’) kepada Allah. Selain menyinari hati, Al-Qur’an juga dipercaya akan memancarkan cahaya pada wajah orang yang konsisten membacanya.

Penolong dan Kemuliaan di Hari Kiamat

Keutamaan Al-Qur’an melampaui kehidupan dunia. Di hari kiamat, Al-Qur’an akan datang sebagai pemberi syafaat atau penolong bagi para pembacanya. Allah juga akan mengangkat derajat suatu kaum melalui kitab ini. Lebih istimewa lagi, bagi mereka yang membaca, mempelajari, dan mengamalkannya, Allah menjanjikan mahkota dari cahaya bagi kedua orang tua mereka di akhirat, yang sinarnya lebih indah dari sinar matahari. Di surga kelak, kedudukan seseorang akan terus naik seiring dengan banyaknya ayat yang ia baca dengan tartil selama di dunia.

Strategi Menuju Istiqomah

Meskipun berat bagi sebagian orang, memulai kebiasaan ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya mulai dari satu ayat atau satu halaman setiap hari hingga menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Para sahabat Nabi sendiri memberikan teladan dengan target yang luar biasa; ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali, namun secara umum umat Islam dianjurkan untuk setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga petunjuk hidup yang nyata dalam menghadapi segala ujian dunia.

Daftar Pustaka

  1. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional).(2025). 5 Hikmah Membaca Al-Qur’an Setiap Hari. Diakses dari: https://baznas.go.id/artikel-show/5-Hikmah-Membaca-Al-Qur%E2%80%99an-Setiap-Hari/1944
  2. Daarut Tauhiid.(n.d.). Keutamaan Membaca Al-Quran dalam Kehidupan Sehari-hari. Diakses dari: https://daaruttauhiid.sch.id/keutamaan-membaca-al-quran-dalam-kehidupan-sehari-hari/
  3. Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah.(2026). Keutamaan Membaca Al-Qur’an. Diakses dari: https://sulteng.kemenag.go.id/artikel/p7z6/07-04-2026-keutamaan-membaca-alquran
  4. Universitas Muhammadiyah Surabaya.(n.d.). Keutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari Menurut Rasulullah. Diakses dari: https://www.um-surabaya.ac.id/article/keutamaan-membaca-al-qur-an-setiap-hari-menurut-rasulullah

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Kardiyono (972002102)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di tengah kesibukan kita mengurus administrasi kampus, melayani mahasiswa, hingga memastikan roda institusi ini berjalan dengan baik, seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, tahukah Bapak dan Ibu sekalian bahwa ada satu kunci “langit” yang dapat melapangkan segala kesulitan kerja dan memberikan keberkahan pada setiap rupiah rezeki yang kita bawa pulang? Kunci itu adalah Birrul Walidain atau berbakti kepada kedua orang tua.

Secara istilah, birrul walidain berarti berbuat baik, taat serta berbakti kepada ayah dan ibu. Kewajiban ini bukan sekadar urusan moral atau etika sosial, melainkan perintah religius yang sangat tinggi kedudukannya.Bahkan, dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 23, Allah SWT menyejajarkan perintah untuk tidak menyembah selain-Nya dengan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua.

 Mengapa ini penting bagi kita sebagai pegawai?

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menyebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah setelah shalat tepat waktu adalah berbakti kepada orang tua, bahkan tingkatannya berada di atas jihad di medan perang.

Bagi kita yang bekerja di universitas, melayani orang tua adalah “jihad” harian kita.

Ridha Allah sangat tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah pun tergantung pada murka mereka. Jika kita ingin pekerjaan kita lancar dan karir kita berkah, pastikan orang tua kita tidak tersakiti hatinya oleh sikap kita.

 

Implementasi Nyata di Masa Sibuk

Bapak dan Ibu yang berbahagia, seringkali kesibukan di kampus membuat kita jarang menyapa orang tua. Padahal, menghormati orang tua bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana:

  1. Tutur Kata yang Lembut:

Jangan pernah mengucapkan kata “ah” atau membentak mereka, terutama saat mereka mulai memasuki usia senja yang sensitif. Gunakan bahasa yang sopan dan jangan meninggikan nada bicara.

  1. Meluangkan Waktu:

Sesibuk apa pun laporan akhir tahun atau agenda rapat, sempatkanlah menelepon atau mengunjungi mereka. Bagi orang tua, kehadiran dan perhatian kita jauh lebih berharga daripada kiriman materi semata.

  1. Meminta Izin dan Doa:

Sebelum memulai perjalanan dinas atau mengambil keputusan besar dalam pekerjaan, mintalah restu mereka. Doa orang tua adalah salah satu dari tiga doa yang paling mustajab di dunia ini.

Memuliakan Ibu dan Ayah

Islam memberikan porsi penghormatan yang luar biasa kepada ibu – tiga kali lebih besar karena pengorbanan Ibu yang  luar biasa saat mengandung, melahirkan, dan menyusui. Namun, peran ayah sebagai pendidik dan pencari nafkah pun tidak boleh kita abaikan.

Ingatlah, orang tua adalah “pintu surga yang paling tengah”. Kita bisa memilih untuk menjaganya dengan baik atau menyia-nyiakannya.

Keberkahan yang Dijanjikan

Bagi rekan-rekan yang merindukan umur yang berkah dan rezeki yang luas, birrul walidain adalah obatnya. Anak yang berbakti akan mendapatkan perlindungan saat sakaratul maut dan jaminan kebahagiaan dunia-akhirat.

Selain itu, sikap kita kepada orang tua hari ini adalah cermin bagi anak-anak kita kelak. Jika kita menghormati orang tua kita sekarang, maka anak-anak kita pun akan memperlakukan kita dengan cara yang sama di masa depan.

Penutup

Sebagai penutup, mari kita renungkan: jangan tunggu sampai mereka tiada baru kita menyesal. Jika mereka sudah wafat, teruskan bakti dengan mendoakan ampunan, bersedekah atas nama mereka, dan menjaga silaturahmi dengan kerabat-kerabat mereka. Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang senantiasa menempatkan kehormatan orang tua di atas ego pribadi, sehingga kehidupan kerja dan keluarga kita senantiasa dalam naungan ridha-Nya. Amin.

 Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

——————————————————————————–

Daftar Pustaka

  1. net. (2023, Oktober 2). 40 Contoh Sikap Menghormati dan Berbakti Kepada Orang Tua. Diakses dari https://kitapunya.net/contoh-sikap-menghormati-dan-berbakti-kepada-orang-tua/
  2. Ratnawati, N. (2026, Januari 6). Kumpulan Hadits tentang Birrul Walidain, Pahami Makna dan Penjelasan Ulama. Liputan6.com. Diakses dari https://www.liputan6.com/islami/read/6251136/kumpulan-hadits-tentang-birrul-walidain-pahami-makna-dan-penjelasan-ulama
  3. Rohman, N. (2024, November 19). Menghormati Orang Tua dan Mengembalikan Kasih Sayang Mereka. Universitas Wira Buana. Diakses dari https://wirabuana.ac.id/ragam/menghormati-orang-tua-dan-mengembalikan-kasih-sayang-mereka/

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Aniek Sulistiyo Suparlan (091002101)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang sangat besar sekaligus menakjubkan bagi manusia karena melalui lisanlah ilmu tersebar di seluruh muka bumi. Namun, lisan juga memiliki kekuatan ganda; ia bisa membangun hubungan yang harmonis atau justru menghancurkannya dengan seketika. Dalam ajaran Islam, menjaga lisan bukan sekadar menahan ucapan, melainkan merupakan salah satu aspek terpenting dalam akhlak mulia dan menjadi tanda nyata keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir.

Landasan Syariat dalam Berkata Baik

Allah SWT telah memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya menjaga ucapan. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70-71, Allah memerintahkan orang beriman untuk bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar agar amalannya diperbaiki dan dosa-dosanya diampuni. Selain itu, kita diingatkan bahwa tidak ada satu ucapan pun yang luput dari pengawasan, karena ada malaikat pengawas (Raqib dan Atid) yang selalu hadir mencatat setiap kata yang terlontar.

Rasulullah SAW juga memberikan pedoman praktis melalui haditsnya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Hal ini dipertegas dengan jaminan surga bagi siapa saja yang mampu memberikan jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan). Keselamatan seorang Muslim bahkan didefinisikan sebagai kondisi di mana orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Meneladani Kehati-hatian Para Sahabat

Para sahabat Nabi Muhammad SAW memberikan teladan luar biasa dalam mempraktikkan ajaran ini. Abu Hurairah, misalnya, dikenal sangat menjaga kualitas pembicaraannya dan lebih suka diam daripada mengatakan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula dengan Umar bin Khattab yang menyadari dampak besar dari setiap kata, sehingga beliau merasa lebih tenang ketika diam dan menyesal jika berbicara hal yang tidak perlu. Ketajaman lisan juga dijaga oleh Aisyah RA, yang hanya akan berbicara jika apa yang disampaikan benar, bermanfaat, dan membawa kedamaian.

Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga

Kelalaian dalam menjaga lisan dapat berujung pada perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), fitnah, dan mencaci maki. Ghibah sendiri diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Lebih mengerikan lagi, Rasulullah SAW memperingatkan tentang “orang yang bangkrut” (muflis) di hari kiamat; yaitu mereka yang datang dengan pahala shalat dan puasa yang banyak, namun pahala tersebut habis diberikan kepada orang lain karena semasa hidupnya ia suka mencela, menuduh, dan menyakiti sesama dengan lisannya.

Relevansi di Era Digital

Di zaman modern, menjaga lisan tidak lagi terbatas pada ucapan verbal, tetapi juga mencakup aktivitas di media sosial. Dampak tulisan atau “ketikan jari” di platform digital tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan. Setiap komentar, status, atau pesan yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, berpikir sebelum berucap atau menulis adalah bentuk kebijaksanaan agar kita tidak terjerumus ke dalam neraka akibat “buah lisan” yang buruk.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa menjaga hati agar tetap bersih, karena lisan yang terjaga adalah hasil dari hati yang sehat. Dengan senantiasa ber-tabayyun (klarifikasi) dan memilih kata-kata yang mendatangkan ridha Allah, kita dapat menyelamatkan diri sendiri dan orang lain dari fitnah dunia maupun siksa akhirat.

Daftar Pustaka

  1. Prayoga, Yudi.(2026). Khutbah Jumat: Menjaga Lisan Dari Perkataan Buruk Salah Satu Tanda Selamat. WartaKeislaman / NU Online Lampung.
  2. Humas BAZNAS.(2024). Kisah Sahabat tentang Menjaga Lisan: Kekuatan Kata dalam Kehidupan. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
  3. Al-Badr, Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad.(2012). Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik. Almanhaj – Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah.

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Bambang kintoko (141002221)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Rasulullah SAW, yang akhlaknya adalah pengejawantahan nyata dari nilai-nilai Alquran.

Sidang jamaah yang dirahmati Allah, akhlak merupakan pilar fundamental dalam ajaran Islam yang menentukan kualitas kepribadian seorang Muslim. Secara terminologi, para ulama seperti Imam al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai kondisi jiwa yang tertanam kuat, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan panjang. Akhlak bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian integral dari iman yang menjadi fondasi pembentukan karakter. Rasulullah SAW sendiri menegaskan misi kenabiannya dalam sebuah hadis: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah SAW memberikan teladan tentang akhlak mahmudah (terpuji) yang mencakup dimensi vertikal kepada Allah dan horizontal kepada sesama makhluk. Salah satu nilai utama yang beliau ajarkan adalah kejujuran (shidq). Kejujuran adalah fondasi moral yang membawa seseorang pada kebaikan dan surga. Di era informasi saat ini, di mana hoaks dan manipulasi data marak terjadi, integritas kejujuran Rasulullah harus menjadi benteng bagi setiap Muslim dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun digital.

Selain kejujuran, Rasulullah adalah sosok yang sangat penyabar. Sabar (shabr) dalam perspektif Nabawi adalah cahaya yang memberikan kekuatan dalam menghadapi situasi sulit tanpa mengeluh. Kesabaran beliau bukan berarti lemah, melainkan kemampuan mengendalikan diri dan emosi di tengah tekanan kehidupan modern yang sering kali memicu stres dan perilaku impulsif. Beliau juga mengajarkan kasih sayang (rahmah) yang universal. Rasulullah bersabda, “Cintailah siapa yang ada di bumi, maka yang di langit akan mencintaimu” (HR. Abu Dawud). Akhlak ini tidak hanya berlaku kepada sesama manusia, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap lingkungan dan hewan.

Sidang jamaah, relevansi akhlak Rasulullah di zaman modern ini sangatlah krusial. Saat ini kita menghadapi tantangan besar berupa degradasi moral, individualisme, dan krisis integritas. Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan kekuatan akhlak dapat memicu penyalahgunaan informasi, korupsi, dan konflik sosial. Oleh karena itu, konsep akhlak dalam Alquran dan Hadis harus berfungsi sebagai filter dan kompas moral. Meneladani Rasulullah berarti mengimplementasikan nilai amanah (dapat dipercaya) dalam pekerjaan, tawadhu’ (rendah hati) dalam pergaulan sosial, dan keadilan (‘adl) dalam mengambil keputusan.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan berusaha membersihkan hati dari akhlak mazmumah (tercela) seperti kesombongan, hasad, dan dusta yang dapat merusak tatanan sosial dan spiritual kita. Akhlak mulia adalah kunci kebahagiaan sejati di dunia dan keselamatan di akhirat. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu meneladani budi pekerti agung Rasulullah SAW dalam setiap tarikan napas dan langkah kehidupan kita.

 

Daftar Pustaka

Basri, M., dkk. (2026). Studi Konsep Akhlak Dalam Al-Qur’an dan Hadis. Lokakarya: Journal Research and Education Studies, 5(1), 24-37.

Hidayat, N., & Padilah, Y. M. (2025). Noble Moral Values in Hadith: The Foundation for the Formation of Superior Character. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 15(1), 51-62.

Kamil, S. (2003). Akhlak dalam Perspektif Hadis: Sebuah Upaya Pencarian Relevansi Bagi Konteks Modern. Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat, 5(1), 61-76.

Qodariyah, S. L. (2017). Akhlak dalam Perspektif Alquran (Kajian Terhadap Tafsir al-Maraghi Karya Ahmad Mustafa al-Maraghi). Jurnal al-Fath, 11(2), 145-164

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Edi Nur Fanan (141002223)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

 

FIAI UII

Amanah merupakan salah satu nilai inti dalam ajaran Islam yang mencerminkan integritas dan kedalaman iman seseorang. Secara etimologis, kata amanah berasal dari bahasa Arab al-amaanah yang berakar dari kata al-amnu, yang berarti ketenangan jiwa dan terbebas dari rasa takut. Dalam pemahaman yang lebih luas, amanah merujuk pada segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik itu berupa kewajiban agama, titipan harta, rahasia, maupun tanggung jawab kepemimpinan.

Kedudukan Amanah dalam Islam

Menjaga amanah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan perintah langsung dari Allah SWT dan bagian integral dari kesempurnaan iman.

  • Landasan Al-Qur’an:Allah SWT menegaskan kewajiban ini dalam Surah An-Nisa ayat 58, yang memerintahkan hamba-Nya untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
  • Landasan Hadis:Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sifat amanah. Beliau sendiri merupakan teladan utama dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya) bahkan sebelum masa kenabiannya.
  • Tanggung Jawab Khalifah:Manusia diutus ke bumi sebagai khalifah untuk memikul amanah yang sebelumnya ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung namun mereka menolaknya karena beratnya beban tersebut.

Klasifikasi Amanah bagi seorang insan

Berdasarkan sumber-sumber yang ada, amanah yang dipikul oleh manusia terbagi menjadi tiga dimensi utama:

  1. Amanah terhadap Allah SWT:Meliputi ketaatan dalam menjalankan seluruh perintah-Nya (seperti shalat, puasa, dan zakat) serta menjauhi segala larangan-Nya. Ini juga mencakup perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya sejak dalam rahim.
  2. Amanah terhadap Sesama Manusia:Mencakup tanggung jawab terhadap tugas, jabatan, menjaga titipan harta, menepati janji, serta menjaga rahasia orang lain.
  3. Amanah terhadap Diri Sendiri:Tanggung jawab untuk memelihara potensi diri dan anggota tubuh, termasuk kesehatan fisik dan kejujuran nurani. Setiap organ seperti hati, mata, dan telinga adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Implementasi Amanah dalam Kehidupan Sehari-Hari

Insan yang menjaga amanah akan menunjukkan karakteristik tersebut dalam berbagai bidang, termasuk dalam kehidupannya sehari-hari:

  • Pekerjaan:Menjalankan tugas dengan jujur, disiplin, dan profesional tanpa menyalahgunakan jabatan atau melakukan korupsi.
  • Harta:Mencari rezeki yang halal dan menyadari bahwa di dalam harta tersebut terdapat hak orang lain melalui zakat, infak, dan sedekah.
  • Keluarga:Orang tua memiliki amanah untuk mendidik anak, sementara anak memiliki amanah untuk berbakti kepada orang tua.
  • Ilmu:Seseorang yang memiliki pengetahuan berkewajiban mengamalkannya dan menyampaikannya demi kebaikan masyarakat.
  1. Dampak Pengkhianatan Amanah

Mengkhianati amanah merupakan perbuatan tercela yang membawa konsekuensi berat:

  • Ciri Munafik:Rasulullah SAW menyebutkan bahwa berkhianat saat diberi amanah adalah salah satu dari tiga tanda orang munafik.
  • Kerusakan Sosial:Pengkhianatan merusak tatanan masyarakat, menghilangkan kepercayaan antar sesama, dan meruntuhkan martabat diri.
  • Konsekuensi Akhirat:Pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban secara langsung di hadapan Allah SWT dan tergolong sebagai orang yang melakukan dosa besar.

Jalan Tobat dan Pemulihan Amanah

Islam memberikan peluang bagi mereka yang pernah lalai untuk kembali kepada kebenaran melalui tobat yang sungguh-sungguh. Proses ini meliputi:

  • Mengembalikan hak atau harta kepada pihak yang dirugikan.
  • Memohon maaf secara langsung.
  • Melakukan perbaikan diri dan amal saleh sebagai penebus dosa masa lalu.

Kesimpulan

Menjaga amanah adalah bukti nyata ketakwaan seorang Muslim yang mencakup hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Insan yang amanah akan mendapatkan kepercayaan di dunia, ketenangan hati, serta pahala yang besar di akhirat kelak.

DAFTAR PUSTAKA

BAZNAS Kota Sukabumi. (2026). Menjaga Amanah sebagai Bentuk Keimanan. Diakses dari kotasukabumi.baznas.go.id.

Fatimah. (2019). Nilai-Nilai Amanah dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian dengan Pendekatan Tafsir Maudhu’iy). AL-RIWAYAH: Jurnal Kependidikan, 11(1), 123-146. ISSN: 2461-0461.

Majelis Ulama Indonesia (MUI). (2025). Khutbah Jumat: Mengapa Islam Sangat Tekankan Bersikap Amanah dalam Kehidupan?. Diakses dari mui.or.id.

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Rani Dwi Alfita Sari (091002117)
Melalui aplikasi NotebookLM

FIAI UII

 Ukhuwah sebagai Fitrah dan Kebutuhan Eksistensial

Dalam dinamika zaman saat ini, kita sering menyaksikan fenomena memilukan: masyarakat yang “cakar-cakaran” hanya karena perbedaan kecil. Mengapa ini terjadi? Karena kita mulai kehilangan ruh ukhuwah. Padahal, persaudaraan bukanlah sekadar kontrak sosial, melainkan fitrah manusia dan perintah Ilahi. Secara etimologis, kata “saudara” berakar dari konsep “se-udara” atau “se-perut” (se-rahim). Kita semua berasal dari rahim yang satu—rahim Ibunda Hawa—dan menghirup udara yang sama di bawah langit Allah.

Sintesis dari pemikiran para ulama dan literatur Muslim.or.id menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan kebutuhan naluriah akan sahabat. Allah SWT menggambarkan betapa dekatnya kedudukan kawan sejati, dalam QS. An-Nur: 61, di mana mereka disejajarkan dengan keluarga inti dalam interaksi harian, hingga diperbolehkan makan di rumah mereka tanpa rasa canggung. Pengabaian terhadap nilai ukhuwah ini berujung pada krisis disintegrasi; saat individu merasa sendirian, stabilitas sosial pun runtuh. Tanpa ukhuwah, kita akan menjadi masyarakat yang rapuh, mudah tersinggung, dan kering secara spiritual.

Trilogi Ukhuwah: Spektrum Persaudaraan dalam Islam

Agar kita tidak terjebak dalam eksklusivisme sempit, Islam membentangkan tiga lapis persaudaraan yang inklusif, yaitu:

  • Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Seiman):Ini adalah ikatan akidah yang melampaui batas suku dan marga. Mau dia Panjaitan, Nasution, Batubara, atau orang Jawa yang “pripun kabare,” selama bersyahadat, mereka adalah saudara kita. Ali Imran: 103 memerintahkan kita berpegang teguh pada tali Allah dan dilarang bercerai-berai, sementara QS. Al-Hujurat: 10 mewajibkan ishlah (pendamaian) saat terjadi konflik.
  • Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Sebangsa):Dalam bingkai NKRI, kita diikat oleh tanah air yang sama. Islam mengajarkan kita menghargai keragaman sebagai ladang amal. Sebagaimana Al-Maidah: 48 mengajak kita “berlomba dalam kebaikan,” manifestasi nyata di Indonesia adalah indahnya toleransi saat pihak gereja membuka lahan parkirnya untuk jamaah shalat Jumat, dan sebaliknya.
  • Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah (Persaudaraan Sesama Manusia):Lapis terluas yang memandang setiap jiwa sebagai keturunan Nabi Adam AS. Jika kita berkelahi dan saling menghancurkan, maka “menang jadi arang, kalah jadi abu.” Semuanya rugi, tak ada yang bermakna.

Hikmah dan Kekuatan Sosial Persaudaraan

Ukhuwah bukan sekadar etika bertetangga, ia adalah instrumen meraih ridha Allah. Merujuk pada analisis BAZNAS, ada hikmah mendalam ketika ukhuwah terjaga. Ukhuwah menumbuhkan cinta murni karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari & Muslim).

Namun, ukhuwah juga memiliki dampak sosiologis-ekonomi yang nyata. Ketika rasa percaya (trust) antarmanusia kuat, stabilitas ekonomi akan tumbuh. Penyakit hati seperti dengki (hasad) yang sering menghancurkan persaingan bisnis akan sirna. Ukhuwah yang kokoh akan menghilangkan rasa iri yang membuat “otak menjadi kotor” dan digantikan dengan semangat gotong royong. Jika satu bagian masyarakat sakit, seluruh bangsa harus merasa pedih, layaknya analogi “Satu Tubuh” dalam HR. Muslim. Dengan ukhuwah, keberkahan rezeki akan melimpah karena Allah mencintai hamba-Nya yang saling memudahkan urusan saudaranya.

Pilar Operasional: Menjadi Cermin yang Menjaga, Bukan Menghakimi

Secara operasional, ukhuwah menuntut kita untuk saling menjaga tanpa sikap menggurui. Seorang muslim adalah cermin bagi muslim lainnya. Saat melihat saudara kita belum menutup aurat atau meninggalkan shalat, cara mengingatkannya haruslah dengan cinta (tausiyah), bukan caci maki. Sebagaimana pesan Ustadz Abdul Somad, jangan katakan “Urus saja surgamu!” saat dinasihati. Namun, bagi yang menasihati, gunakanlah cara yang santun; berikan hadiah jilbab dengan ucapan manis, bukan malah menghujat dengan kalimat yang menyakitkan.

Perilaku yang merusak ukhuwah seperti perundungan (bullying)—baik mengejek fisik seperti “hitam,” “pesek,” maupun gelar buruk seperti “anak kardus”—harus dihentikan. QS. Al-Hujurat: 11 secara tegas melarang kita mengolok-olok kaum lain karena boleh jadi mereka lebih baik di mata Allah.

Penutup: Komitmen Menuju Masyarakat Rahmatan Lil ‘Alamin

Ukhuwah adalah kunci utama kejayaan peradaban. Tanpanya, umat Islam hanya akan menjadi “buih di lautan”—banyak namun tak bertenaga. Marilah kita berkomitmen untuk mencari titik persamaan di atas perbedaan-perbedaan kecil. Ingatlah janji Rasulullah SAW bahwa dua orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan naungan-Nya pada hari kiamat, di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya (HR. Muslim).

Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita untuk terus merajut silaturahmi, saling menguatkan dalam iman, dan menjadikan kita bagian dari masyarakat yang harmonis, penuh kasih, dan benar-benar rahmatan lil ‘alamin. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Daftar Pustaka

  1. (2025). 9 Hikmah Ukhuwah Islamiyah dalam Persaudaraan.
  2. Official, Ustadz Abdul Somad. Pentingnya Menjaga Persaudaraan Antara Kita. (Transkrip Video).
  3. NU Online / Abdullah Faqih. (2023). Pentingnya Menjaga Persaudaraan.
  4. or.id / Muhammad Idris. (2022). Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?.
  5. NotebookLM

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Joko Wahyudi (149132506)
Melalui aplikasi NotebookLM

 

FIAI UII

Di era digital yang serba cepat ini, kehidupan seorang pelajar tidak pernah lepas dari genggaman ponsel pintar. Bangun tidur membuka WhatsApp, belajar sambil melihat TikTok, mengerjakan tugas ditemani Instagram, hingga menjelang tidur masih menggulir media sosial. Beragam jenis game hingga media sosial yang nyaman di-scroll tanpa henti kerap membuat pelajar lupa waktu. Bahkan bunyi ping dari notifikasi media sosial sering kali lebih memikat perhatian dan direspons jauh lebih cepat daripada suara agung dari menara masjid. Sering kali muncul kalimat, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Padahal, azan bukan sekadar suara penanda waktu. Azan adalah panggilan langsung dari Allah SWT untuk menghadap-Nya. Jika notifikasi berasal dari manusia, maka azan berasal dari Rabb semesta alam. Oleh sebab itu, sudah seharusnya azan lebih penting daripada notifikasi.

Fenomena pelajar yang lalai terhadap salat karena buaian media sosial memang menjadi persoalan nyata hari ini. Penelitian Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan media sosial setiap hari, bahkan setiap jam, hingga melalaikan panggilan salat. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesadaran salat tepat waktu sebesar 39% (Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir, 2024). Kondisi ini menjadi pengingat bahwa teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jika tidak dikendalikan dapat membuat seseorang lupa terhadap kewajiban kepada Allah SWT.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 103, “… Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. An-Nisa [4]:103). Melalui ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa salat harus dikerjakan pada waktunya. Oleh sebab itu, menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan tidak sejalan dengan perintah yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Saat ini tantangan terbesar pelajar bukan hanya malas belajar, tetapi juga distraksi digital yang tidak ada habisnya. Notifikasi media sosial datang setiap menit. Video pendek membuat seseorang lupa waktu. Karena itu, pelajar muslim harus mulai belajar membedakan mana panggilan yang sekadar hiburan dan mana panggilan yang membawa keberkahan. Ketika azan berkumandang, berhentilah sejenak dari dunia digital. Letakkan ponsel, tinggalkan media sosial, lalu penuhi panggilan Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan jumlah pengikut di media sosial, bukan banyaknya likes, bukan banyaknya rank yang berhasil ditaklukkan, dan bukan viralnya konten yang kita miliki. Namun yang akan menjadi penolong dihadapan Allah adalah amal ibadah, termasuk salat yang dijaga tepat pada waktunya. Di sinilah salat fardu berperan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebagai media efektif untuk melatih self-management atau pengelolaan diri (Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5, 2025). Ketika seorang pelajar mampu menunda keinginan bermain game atau menatap layar ponsel demi memenuhi panggilan azan, ia sebenarnya sedang mempraktikkan self-management.

Kewajiban melaksanakan salat pada waktu yang telah ditetapkan mengajarkan pelajar pentingnya manajemen waktu dengan menempatkan ibadah sebagai pusat pengaturan aktivitas (time marker) sehari-hari. Salat tepat waktu melatih pelajar untuk menghargai waktu. Ketika terbiasa bangun untuk salat Subuh maka akan lebih mudah memulai hari dengan teratur. Saat menjaga salat Zuhur dan Ashar akan belajar membagi waktu antara belajar, bermain, dan beribadah. Sedangkan menjaga salat Isya’ mengajarkan pentingnya mengakhiri hari dengan mendekat kepada Allah SWT.

Kedisiplinan dalam beribadah berkorelasi positif dan signifikan dengan perilaku disiplin di kehidupan sehari-hari. Pelajar yang terbiasa salat tepat waktu cenderung lebih sadar akan tanggung jawab akademisnya, seperti mengerjakan tugas tepat waktu dan menghindari perilaku menyontek. Hal ini dikarenakan salat melatih konsistensi dan rasa tanggung jawab yang kemudian terbawa ke dalam ruang kelas dan aktivitas belajar lainnya.

Selain kedisiplinan, kualitas salat yang baik yang ditandai dengan kekhusyukan dan pemahaman maknanya memberikan ketenangan mental bagi pelajar. Di tengah tekanan ujian dan tugas yang menumpuk, salat menjadi momen “istirahat” spiritual yang menyucikan jiwa dan mengurangi tingkat stres serta kecemasan. Pelajar yang memiliki kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta akan merasa lebih tenang dan tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Penghayatan dalam salat membantu pembentukan pengendalian diri dan mengingatkan manusia bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT (Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama, 2025).

Lebih jauh lagi, salat yang dilakukan secara benar berfungsi sebagai perisai yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal ini sangat relevan mengingat tantangan bullying, pergaulan bebas, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya yang mengintai remaja saat ini. Pembiasaaan salat tepat waktu dapat membangun kontrol diri internal yang kuat dan mengingatkan bahwa setiap tindakan selalu diawasi oleh Allah SWT. (Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman, 2023). Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-‘Ankabut ayat 45, “… Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]:45).

Menjadikan azan lebih penting daripada notifikasi adalah langkah awal bagi seorang pelajar untuk meraih keberkahan dalam ilmunya. Jadilah pelajar yang hebat bukan hanya dalam nilai akademik, tetapi juga hebat dalam menjaga salat dan jadilah generasi yang ketika mendengar azan berkata, “Aku harus segera memenuhi panggilan Allah,” bukan justru berkata, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Seorang pelajar muslim sejati tahu bahwa ketika azan berkumandang, panggilan Allah SWT selalu lebih penting daripada notifikasi apa pun.

Daftar Pustaka

Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman. (2023). Harmoni Spiritual dalam Kehidupan Sehari-Hari: Mengajarkan Keutamaan. Menara Pengabdian Journal published by the Institute for Research and Community Service, Muhammadiyah University, West Sumatra.

Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir. (2024). Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu. Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI).

Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5. (2025). Belajar Self-Management dari Sholat Fardhu: Membentuk Disiplin pada Anak. NuCSJo: Nusantara Community Service Journal.

Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama. (2025). The Relationship between The Quality of Performing Obligatory Prayers and Student Behavior in Daily Life. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya.

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Seiga Khuzaema Cahyati (184202604)
Melalui aplikasi NotebookLM