Saat Azan Lebih Penting dari Notifikasi

FIAI UII

Di era digital yang serba cepat ini, kehidupan seorang pelajar tidak pernah lepas dari genggaman ponsel pintar. Bangun tidur membuka WhatsApp, belajar sambil melihat TikTok, mengerjakan tugas ditemani Instagram, hingga menjelang tidur masih menggulir media sosial. Beragam jenis game hingga media sosial yang nyaman di-scroll tanpa henti kerap membuat pelajar lupa waktu. Bahkan bunyi ping dari notifikasi media sosial sering kali lebih memikat perhatian dan direspons jauh lebih cepat daripada suara agung dari menara masjid. Sering kali muncul kalimat, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Padahal, azan bukan sekadar suara penanda waktu. Azan adalah panggilan langsung dari Allah SWT untuk menghadap-Nya. Jika notifikasi berasal dari manusia, maka azan berasal dari Rabb semesta alam. Oleh sebab itu, sudah seharusnya azan lebih penting daripada notifikasi.

Fenomena pelajar yang lalai terhadap salat karena buaian media sosial memang menjadi persoalan nyata hari ini. Penelitian Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan media sosial setiap hari, bahkan setiap jam, hingga melalaikan panggilan salat. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesadaran salat tepat waktu sebesar 39% (Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir, 2024). Kondisi ini menjadi pengingat bahwa teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jika tidak dikendalikan dapat membuat seseorang lupa terhadap kewajiban kepada Allah SWT.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 103, “… Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. An-Nisa [4]:103). Melalui ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa salat harus dikerjakan pada waktunya. Oleh sebab itu, menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan tidak sejalan dengan perintah yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Saat ini tantangan terbesar pelajar bukan hanya malas belajar, tetapi juga distraksi digital yang tidak ada habisnya. Notifikasi media sosial datang setiap menit. Video pendek membuat seseorang lupa waktu. Karena itu, pelajar muslim harus mulai belajar membedakan mana panggilan yang sekadar hiburan dan mana panggilan yang membawa keberkahan. Ketika azan berkumandang, berhentilah sejenak dari dunia digital. Letakkan ponsel, tinggalkan media sosial, lalu penuhi panggilan Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan jumlah pengikut di media sosial, bukan banyaknya likes, bukan banyaknya rank yang berhasil ditaklukkan, dan bukan viralnya konten yang kita miliki. Namun yang akan menjadi penolong dihadapan Allah adalah amal ibadah, termasuk salat yang dijaga tepat pada waktunya. Di sinilah salat fardu berperan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebagai media efektif untuk melatih self-management atau pengelolaan diri (Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5, 2025). Ketika seorang pelajar mampu menunda keinginan bermain game atau menatap layar ponsel demi memenuhi panggilan azan, ia sebenarnya sedang mempraktikkan self-management.

Kewajiban melaksanakan salat pada waktu yang telah ditetapkan mengajarkan pelajar pentingnya manajemen waktu dengan menempatkan ibadah sebagai pusat pengaturan aktivitas (time marker) sehari-hari. Salat tepat waktu melatih pelajar untuk menghargai waktu. Ketika terbiasa bangun untuk salat Subuh maka akan lebih mudah memulai hari dengan teratur. Saat menjaga salat Zuhur dan Ashar akan belajar membagi waktu antara belajar, bermain, dan beribadah. Sedangkan menjaga salat Isya’ mengajarkan pentingnya mengakhiri hari dengan mendekat kepada Allah SWT.

Kedisiplinan dalam beribadah berkorelasi positif dan signifikan dengan perilaku disiplin di kehidupan sehari-hari. Pelajar yang terbiasa salat tepat waktu cenderung lebih sadar akan tanggung jawab akademisnya, seperti mengerjakan tugas tepat waktu dan menghindari perilaku menyontek. Hal ini dikarenakan salat melatih konsistensi dan rasa tanggung jawab yang kemudian terbawa ke dalam ruang kelas dan aktivitas belajar lainnya.

Selain kedisiplinan, kualitas salat yang baik yang ditandai dengan kekhusyukan dan pemahaman maknanya memberikan ketenangan mental bagi pelajar. Di tengah tekanan ujian dan tugas yang menumpuk, salat menjadi momen “istirahat” spiritual yang menyucikan jiwa dan mengurangi tingkat stres serta kecemasan. Pelajar yang memiliki kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta akan merasa lebih tenang dan tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Penghayatan dalam salat membantu pembentukan pengendalian diri dan mengingatkan manusia bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT (Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama, 2025).

Lebih jauh lagi, salat yang dilakukan secara benar berfungsi sebagai perisai yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal ini sangat relevan mengingat tantangan bullying, pergaulan bebas, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya yang mengintai remaja saat ini. Pembiasaaan salat tepat waktu dapat membangun kontrol diri internal yang kuat dan mengingatkan bahwa setiap tindakan selalu diawasi oleh Allah SWT. (Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman, 2023). Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-‘Ankabut ayat 45, “… Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]:45).

Menjadikan azan lebih penting daripada notifikasi adalah langkah awal bagi seorang pelajar untuk meraih keberkahan dalam ilmunya. Jadilah pelajar yang hebat bukan hanya dalam nilai akademik, tetapi juga hebat dalam menjaga salat dan jadilah generasi yang ketika mendengar azan berkata, “Aku harus segera memenuhi panggilan Allah,” bukan justru berkata, “Nanti dulu, sebentar lagi. Tanggung.” Seorang pelajar muslim sejati tahu bahwa ketika azan berkumandang, panggilan Allah SWT selalu lebih penting daripada notifikasi apa pun.

Daftar Pustaka

Khoiriah, Firdaus, Rosdialena, Saiman. (2023). Harmoni Spiritual dalam Kehidupan Sehari-Hari: Mengajarkan Keutamaan. Menara Pengabdian Journal published by the Institute for Research and Community Service, Muhammadiyah University, West Sumatra.

Rakha Dendia Pratama, Malki Ahmad Nasir. (2024). Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Kesadaran Shalat Tepat Waktu. Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI).

Shelia Gian Wardhana, Febriana Novikasari, Bayu Rohmani Sputro, Ananda Excelga Hazmi, Yusuf Adam Hilman5. (2025). Belajar Self-Management dari Sholat Fardhu: Membentuk Disiplin pada Anak. NuCSJo: Nusantara Community Service Journal.

Vera Angliani Juwita, Chandra Yudistira Purnama. (2025). The Relationship between The Quality of Performing Obligatory Prayers and Student Behavior in Daily Life. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya.

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Seiga Khuzaema Cahyati (184202604)
Melalui aplikasi NotebookLM