Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk

FIAI UII

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang sangat besar sekaligus menakjubkan bagi manusia karena melalui lisanlah ilmu tersebar di seluruh muka bumi. Namun, lisan juga memiliki kekuatan ganda; ia bisa membangun hubungan yang harmonis atau justru menghancurkannya dengan seketika. Dalam ajaran Islam, menjaga lisan bukan sekadar menahan ucapan, melainkan merupakan salah satu aspek terpenting dalam akhlak mulia dan menjadi tanda nyata keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir.

Landasan Syariat dalam Berkata Baik

Allah SWT telah memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya menjaga ucapan. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70-71, Allah memerintahkan orang beriman untuk bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar agar amalannya diperbaiki dan dosa-dosanya diampuni. Selain itu, kita diingatkan bahwa tidak ada satu ucapan pun yang luput dari pengawasan, karena ada malaikat pengawas (Raqib dan Atid) yang selalu hadir mencatat setiap kata yang terlontar.

Rasulullah SAW juga memberikan pedoman praktis melalui haditsnya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Hal ini dipertegas dengan jaminan surga bagi siapa saja yang mampu memberikan jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan). Keselamatan seorang Muslim bahkan didefinisikan sebagai kondisi di mana orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Meneladani Kehati-hatian Para Sahabat

Para sahabat Nabi Muhammad SAW memberikan teladan luar biasa dalam mempraktikkan ajaran ini. Abu Hurairah, misalnya, dikenal sangat menjaga kualitas pembicaraannya dan lebih suka diam daripada mengatakan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula dengan Umar bin Khattab yang menyadari dampak besar dari setiap kata, sehingga beliau merasa lebih tenang ketika diam dan menyesal jika berbicara hal yang tidak perlu. Ketajaman lisan juga dijaga oleh Aisyah RA, yang hanya akan berbicara jika apa yang disampaikan benar, bermanfaat, dan membawa kedamaian.

Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga

Kelalaian dalam menjaga lisan dapat berujung pada perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), fitnah, dan mencaci maki. Ghibah sendiri diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Lebih mengerikan lagi, Rasulullah SAW memperingatkan tentang “orang yang bangkrut” (muflis) di hari kiamat; yaitu mereka yang datang dengan pahala shalat dan puasa yang banyak, namun pahala tersebut habis diberikan kepada orang lain karena semasa hidupnya ia suka mencela, menuduh, dan menyakiti sesama dengan lisannya.

Relevansi di Era Digital

Di zaman modern, menjaga lisan tidak lagi terbatas pada ucapan verbal, tetapi juga mencakup aktivitas di media sosial. Dampak tulisan atau “ketikan jari” di platform digital tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan. Setiap komentar, status, atau pesan yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, berpikir sebelum berucap atau menulis adalah bentuk kebijaksanaan agar kita tidak terjerumus ke dalam neraka akibat “buah lisan” yang buruk.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa menjaga hati agar tetap bersih, karena lisan yang terjaga adalah hasil dari hati yang sehat. Dengan senantiasa ber-tabayyun (klarifikasi) dan memilih kata-kata yang mendatangkan ridha Allah, kita dapat menyelamatkan diri sendiri dan orang lain dari fitnah dunia maupun siksa akhirat.

Daftar Pustaka

  1. Prayoga, Yudi.(2026). Khutbah Jumat: Menjaga Lisan Dari Perkataan Buruk Salah Satu Tanda Selamat. WartaKeislaman / NU Online Lampung.
  2. Humas BAZNAS.(2024). Kisah Sahabat tentang Menjaga Lisan: Kekuatan Kata dalam Kehidupan. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
  3. Al-Badr, Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad.(2012). Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik. Almanhaj – Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah.

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Bambang kintoko (141002221)
Melalui aplikasi NotebookLM