Hidup Sederhana dan Tidak Berlebihan

FIAI UII

Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan signifikan yang cenderung mengarah pada pola konsumtif. Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial telah menjadi tren baru demi mengejar pengakuan sosial dan eksistensi diri. Namun, dalam pandangan Islam, perilaku ini merupakan bentuk penyimpangan karena mengutamakan kesenangan duniawi yang bersifat sementara dan sering kali mengabaikan prinsip moderasi.

 

Esensi Kesederhanaan dalam Islam

Kesederhanaan atau bersahaja dimaknai sebagai sikap hidup yang tidak melampaui batas atau berlebihan. Sikap ini bukan berarti melarang umat Islam untuk mengejar kekayaan atau hidup dalam kemiskinan, melainkan sebuah pola hidup yang menghindari sikap mubazir. Prinsip utamanya adalah kemampuan seseorang dalam membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Dengan menerapkan pola hidup sederhana, seseorang akan lebih mendahulukan kebutuhan pokok yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidupnya daripada sekadar memuaskan hasrat nafsu yang tiada batasnya.

 

Keteladanan Rasulullah SAW

Pola hidup sederhana merupakan ajaran yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun beliau adalah pemimpin umat yang memiliki pengaruh besar, kehidupan keseharian beliau jauh dari kemewahan. Rasulullah SAW memberikan teladan melalui hal-hal mendasar, seperti cara berpakaian yang pantas namun tidak mencolok, serta pola makan yang secukupnya tanpa ada yang terbuang percuma. Beliau bahkan bersabda bahwa kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari iman. Prinsip yang ditekankan oleh beliau adalah bahwa orang kaya sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak harta, melainkan mereka yang sedikit kebutuhannya.

 

Larangan Israf dan Tabdzir

Islam secara tegas melarang perilaku israf (melampaui batas wajar) dan tabdzir (pemborosan harta untuk hal yang tidak bermanfaat). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 31 agar manusia makan dan minum secukupnya namun tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Perilaku konsumtif yang berlebihan, seperti hedonisme, tidak hanya berdampak buruk pada kondisi finansial pribadi melalui jebakan utang, tetapi juga merusak kohesi sosial dan spiritual. Secara spiritual, fokus yang berlebihan pada materi dapat mengalihkan perhatian dari ibadah dan pengembangan diri, sehingga mengakibatkan kekeringan jiwa.

 

Manfaat dan Implementasi Maqashid Syariah

Menerapkan kesederhanaan membawa banyak manfaat, di antaranya adalah perasaan tenang, jauh dari rasa putus asa, serta senantiasa merasa cukup atas apa yang dimiliki (qana’ah). Dalam kerangka Maqashid Syariah, pola hidup sederhana berfungsi untuk menjaga lima aspek dasar: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Perlindungan terhadap harta (Hifz al-Mal) dicapai dengan mengelola kekayaan secara bijaksana, menghindari pemborosan, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan sosial seperti zakat dan sedekah.

Sebagai penutup, hidup sederhana adalah kunci kebahagiaan di zaman yang serba berlebih ini. Dengan mengendalikan hawa nafsu dan bersikap syukur, kita dapat mencapai keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan persiapan bekal untuk akhirat. Mari kita jadikan kesederhanaan sebagai identitas diri agar terhindar dari tipu daya materialisme yang menyesatkan.

Daftar Pustaka

  • Amini, N., & Sari, Y. M. (2022). Penanaman Nilai Kesederhanaan Sejak Dini dalam Perspektif Hadits. Jurnal Amal Pendidikan, 3(2), 134-145.
  • Amelia, M., et al. (2024). Pola Hidup Sederhana dalam Perspektif Hadis di Era Konsumtif. Madinah: Jurnal Studi Islam, 11(1).
  • Mutmainnah, M., et al. (2023). Fenomena Flexing dalam Ekonomi Islam. Econetica, 5(1), 30-41.
  • Nadhifah, S. N., & Syakur, A. (2025). Etika Konsumsi dan Tantangan Hedonisme Perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Jesya (Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah), 8(1).

 

Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Desi Rahmawati (184202607)
Melalui aplikasi NotebookLM