Pentingnya Bersyukur atas Nikmat Allah
Untuk memahami makna syukur secara lebih mendalam, kita perlu meninjau akar katanya dalam bahasa Arab. M. Quraish Shihab, merujuk pada pendapat ahli bahasa Ahmad Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah, menjelaskan bahwa kata syukur memiliki makna dasar yang berkaitan dengan pujian atas kebaikan, kepenuhan, pertumbuhan, dan keberkahan yang terus berkembang.
Makna-makna tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa seseorang yang mampu menghargai nikmat yang sedikit akan memperoleh keberkahan yang lebih besar. Sebaliknya, syukur merupakan lawan dari kufur. Secara bahasa, kufur berarti menutup atau menyembunyikan nikmat. Orang yang kufur terhadap nikmat Allah cenderung hanya melihat kekurangan dalam hidupnya sehingga merasa miskin secara batin meskipun memiliki kelimpahan harta dan fasilitas.
Sebagaimana dijelaskan oleh M. Quraish Shihab:
“Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat berarti menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh Pemberinya serta mengakui dan menyebutkannya dengan penuh kesadaran.”
Karena itu, syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap dan tindakan yang mencerminkan pengakuan atas nikmat Allah. Semakin seseorang mampu mensyukuri nikmat yang dimiliki, semakin luas pula ruang kebahagiaan dalam hatinya. Sebaliknya, semakin ia fokus pada apa yang belum dimiliki, semakin sulit ia merasakan ketenangan dan kepuasan dalam hidup.
Strategi Iblis dan Pentingnya Menjaga Rasa Syukur
Dalam perspektif Islam, hilangnya rasa syukur tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis seseorang, tetapi juga dapat menjauhkan manusia dari kedekatannya dengan Allah Swt. Al-Qur’an menggambarkan bahwa salah satu tujuan utama Iblis adalah membuat manusia lalai terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah.
Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16–17)
Para ulama menjelaskan bahwa serangan-serangan tersebut dapat dipahami sebagai berbagai bentuk godaan yang melemahkan keimanan dan rasa syukur manusia. Dari depan berupa kekhawatiran terhadap masa depan, dari belakang berupa penyesalan terhadap masa lalu, dari kanan melalui keraguan dalam menjalankan kebenaran, dan dari kiri melalui godaan untuk melakukan kemaksiatan.
Namun demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa terdapat dua arah yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu arah atas dan bawah. Hal ini mengandung pelajaran yang mendalam bagi kehidupan seorang mukmin.
- Arah atasmelambangkan hubungan manusia dengan Allah melalui doa, harapan, dan tawakal. Selama seseorang masih menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah, ia memiliki sumber kekuatan yang tidak akan pernah habis.
- Arah bawahmelambangkan sujud, yaitu posisi paling mulia seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Dalam sujud, manusia menyadari asal-usulnya yang berasal dari tanah sekaligus mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati, mengikis kesombongan, dan menghadirkan ketenangan jiwa.
Oleh karena itu, menjaga kebiasaan berdoa, bersujud, dan bersyukur merupakan benteng spiritual yang dapat melindungi manusia dari berbagai bentuk kecemasan, keputusasaan, serta bisikan-bisikan negatif yang mengganggu ketenangan hati.
“Hasbunallah”: Rahasia Mengapa Allah Saja Sudah Cukup
Puncak kekuatan syukur adalah ketika seseorang sampai pada kesadaran hasbunallah bahwa Allah saja sudah lebih dari cukup. Gambaran ini terlihat indah dalam kisah Kaum Ansar setelah Perang Hunain. Saat itu, para mualaf seperti Abu Sufyan mendapat hadiah ratusan ekor unta untuk melunakkan hati mereka. Sementara Kaum Ansar, yang telah berkorban besar, justru tidak mendapatkan bagian dari “dunia” tersebut.
Namun Rasulullah mengubah cara pandang mereka dengan pertanyaan yang menyentuh hati:
“Tidakkah kalian rela orang lain pulang membawa unta dan domba, sementara kalian pulang membawa Allah dan Rasul-Nya?”
Bagi hati yang dalam, membawa kedekatan dengan Sang Pencipta jauh lebih berharga daripada harta apa pun. Prinsip inilah yang membuat tokoh seperti Ibnu Taimiyah tetap merasakan “surga” meski di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kesempatan untuk menyendiri dengan Tuhan, pengasingan adalah perjalanan, dan kematian adalah syahid. Ia tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal duniawi yang mudah berubah.
Tiga Level Syukur: Dari Hati hingga Perbuatan
Agar syukur benar-benar berdampak pada kesehatan mental, ia perlu diwujudkan dalam tiga tingkatan:
- Syukur Hati
Merasakan cukup (qana’ah) dan menyadari bahwa setiap napas yang kita hirup adalah anugerah. - Syukur Lisan
Mengganti keluhan dengan kata-kata positif. Lidah yang terbiasa bersyukur akan membentuk pikiran yang lebih optimis. - Syukur Perbuatan
Menggunakan seluruh anggota tubuh sesuai tujuan kebaikan:
- Mata untuk melihat keindahan dan kebenaran, bukan membandingkan diri dengan standar semu.
- Telinga untuk mendengar hal yang membangun, bukan gosip yang melelahkan jiwa.
- Tangan dan kaki untuk membantu sesama, karena memberi adalah bentuk syukur yang paling nyata.
Penutup: Syukur sebagai Proses Tanpa Akhir
Syukur bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan. Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh cara kita menyikapi apa yang ada. Dengan melatih syukur setiap hari, kita sedang membangun ketahanan mental yang kuat yang tidak mudah goyah oleh perubahan hidup.
Coba renungkan: Jika hari ini Allah hanya menyisakan nikmat yang kita syukuri kemarin, masihkah ada yang tersisa dalam hidup kita?
Daftar Pustaka
- Rahmadiah, N. (2025). Manfaat dari berdoa dan bersyukur dalam kesehatan mental. ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling, 4(1), 41–47. https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/istisyfa/
- Mahfud, C. (2014). The power of syukur: Tafsir kontekstual konsep syukur dalam Al-Qur’an. Jurnal Episteme, 9(2).
- Video YouTube. (n.d.). Selalu Merasa Cukup Dan Bersyukur – Ust. Hanan Attaki, Lc. https://youtu.be/k8bSLSuDXD0
Disusun dalam rangka Dakwah Digital Tendik, oleh:
Mufti Dedy Wirawan (151002230)
Melalui aplikasi NotebookLM



