Idul Adha dan Semangat Qurban
Idul Adha adalah momentum penting dalam kalender umat Islam yang sarat dengan nilai-nilai tauhid, pengorbanan, dan keteladanan. Peristiwa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. menjadi inspirasi sepanjang zaman tentang kepatuhan total kepada Allah Swt. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ketaatan Nabi Ismail a.s. dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. menjadi dasar spiritual ibadah qurban. Di balik ritual penyembelihan, terdapat pesan mendalam tentang keikhlasan, kesabaran, dan ujian iman. Maka dakwah tentang qurban seharusnya tidak hanya menjelaskan aspek hukum, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai ruhaniah ini di tengah masyarakat.
Era Digital dan Perubahan Pola Dakwah
Dunia dakwah mengalami pergeseran besar di era digital. Penyampaian pesan Islam tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tapi telah merambah ruang virtual seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga WhatsApp. Di platform inilah dai, lembaga zakat, dan komunitas Islam berperan penting dalam menyampaikan pesan Idul Adha secara menarik dan komunikatif.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa dakwah harus disampaikan dengan cara yang bijak:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Prinsip ini tetap relevan dalam konteks digital: menyampaikan kebaikan, sekecil apa pun, bisa memberi pengaruh luas jika dilakukan dengan niat dan strategi yang tepat. Dai digital tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai ceramah, tapi juga sebagai kreator konten, manajer interaksi, hingga penjaga akhlak publik.
Konten Dakwah dan Edukasi Qurban di Media Sosial
Media sosial telah melahirkan beragam bentuk konten edukatif tentang Idul Adha. Misalnya:
- Infografis tata cara menyembelih hewan qurban sesuai syariat.
- Video singkat yang menceritakan sejarah qurban secara menarik dan visual.
- Live streaming proses penyembelihan dari lembaga zakat.
- Cerita inspiratif penerima manfaat di pelosok negeri.
Bahkan, kini lembaga-lembaga Islam memanfaatkan media sosial untuk mengumpulkan donasi qurban dengan sistem yang transparan dan interaktif. Penyumbang dapat melihat dokumentasi penyembelihan dan distribusi, serta mendapatkan laporan digital. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak mengurangi nilai ibadah, justru bisa memperkuat akuntabilitas dan kepercayaan publik.
Namun, dalam mengemas konten dakwah, penting untuk menjaga nilai adab dan sensitivitas publik. Menampilkan proses penyembelihan hewan, misalnya, harus dilakukan dengan cara yang mendidik dan tidak menimbulkan trauma visual. Etika digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan dakwah di media sosial.
Dampak dan Tantangan Dakwah Qurban Digital
Dakwah Idul Adha di media sosial memiliki dampak yang luas. Banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang menjadi lebih sadar tentang pentingnya berqurban. Akses terhadap informasi keagamaan yang dulu sulit kini menjadi sangat mudah. Video satu menit bisa menjelaskan satu hadis. Infografis bisa merangkum satu bab fiqh.
Namun, transformasi ini juga menghadirkan tantangan serius:
- Komersialisasi ibadah– Qurban dikemas lebih sebagai ‘produk’ daripada ‘pengorbanan’. Kadang, lembaga-lembaga lebih menonjolkan brand daripada nilai ibadah itu sendiri.
- Krisis otoritas keilmuan– Siapa saja kini bisa berdakwah, termasuk yang belum memiliki kapasitas keilmuan syar’i. Ini dapat menimbulkan penyesatan atau kesalahpahaman hukum agama.
- Sikap instan dalam beragama– Informasi yang serba cepat bisa mendorong pemahaman yang dangkal jika tidak dibarengi pembelajaran mendalam.
Maka dari itu, dai dan konten kreator muslim perlu bersinergi: yang satu kuat di bidang ilmu, yang lain kuat di bidang media. Dakwah yang berdampak adalah dakwah yang menggabungkan substansi syariat, estetika digital, dan strategi komunikasi yang kontekstual.
Allah Swt berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Dakwah Digital yang Humanis dan Menyentuh
Di balik teknologi, dakwah digital harus tetap menyentuh sisi insani. Konten qurban yang baik adalah yang membangkitkan empati: bagaimana daging qurban menjadi hadiah bagi keluarga dhuafa yang tak mampu membeli daging sepanjang tahun, atau bagaimana qurban menjadi ladang amal bagi peternak kecil yang diberdayakan.
Kisah-kisah ini menghidupkan makna qurban sebagai jembatan kemanusiaan, bukan sekadar ritual. Inilah bentuk dakwah bil hal, dakwah melalui aksi nyata dan teladan.
Penutup: Menguatkan Dakwah Qurban di Era Digital
Idul Adha di era digital adalah tantangan sekaligus peluang. Media sosial bisa menjadi sarana efektif untuk menguatkan dakwah dan edukasi qurban, asal dijalankan dengan hikmah dan tanggung jawab.
Dai dan pegiat dakwah hari ini dituntut bukan hanya memahami teks-teks agama, tapi juga konteks media, psikologi digital, dan etika publik. Tujuannya satu: agar pesan Idul Adha tidak sekadar viral, tapi juga membekas dalam hati dan mengubah perilaku umat menuju ketakwaan yang lebih mendalam.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu…”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka, mari jadikan momentum Idul Adha sebagai ajang dakwah yang menyentuh jiwa, mempererat ukhuwah, dan membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bahkan dari balik layar gawai.
Penulis: Kusprayitna Widianta (Tendik FIAI)
FIAI UII Apresiasi Prestasi SDM dan Hasil Akreditasi
Berita, Berita FIAIDalam rangka hari jadi Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) yang ke-82, diselenggarakan Majelis Tasyakuran Milad dan Halalbihalal, Kamis (15/5/2025) di Gedung KHA Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang km 14,4, Sleman.
Tasyakuran diselenggarakan atas peningkatan hasil akreditasi untuk beberapa prodi, serta untuk prestasi sumber daya manusia, berkenaan peningkatan jenjang karir akademik dan jenjang studi.
“Tujuan pemberian penghargaan dan penyampaian bingkisan, untuk meningkatkan semangat kerja dan motivasi dosen dan tenaga kependidikan untuk terus meningkatkan kinerja dan kualitas layanan. Selain itu unuk mendorong peningkatan disiplin dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan di FIAI,” kata Dr. Nur Kholis, S.Ag., SEI., M.Sh.Ec. Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FIAI UII disampaikan setelah acara.
Imbuhnya, dengan apresiasi positif diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan komitmen dosen dan tendik untuk mencapai standar kualitas yang tinggi juga memenuhi persyaratan akreditasi. Acara seremonial dengan menghadirkan seluruh sumber daya manusia FIAI UII, sebagai bentuk pengakuan dan wujud niat menghargai dedikasi dan komitmen dosen dan tenaga kependidikan (tendik) dalam mencapai akreditasi yang lebih baik dalam 1 tahun terakhir.
Predikat dosen terbaik diberikan kepada 3 dosen yang berprestasi secara akademis, serta untuk 3 tendik berdasar penilaian dan kedisiplinan.
Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni. M.A dalam kesempatan ini juga menyampaikan apresiasi berupa bingkisan kepada 2 dosen atas prestasi peningkatan jabatan akademik profesor juga dosen yang berhasil menyelesaikan jenjang studi doktor.
“Dengan pemberian apresiasi ini agar dapat memotivasi, sekaligus memberikan dorongan kepada yang lain untuk serta meningkatkan jabatan akademik dan jenjang studinya. Diharapkan para penerima penghargaan dapat memberikan contoh sekaligus sharing untuk kemajuan karir dosen lainnya,” kata Asmuni, setelah memberikan apresiasi kepada Prof Dr. Drs. Yusdani, M.Ag yang berhasil meraih gelar profesor, serta kepada Dr. Syaifulloh Yusuf, S.Pd.I., M.Pd.I yang berhasil meraih gelar doktor setelah menyelesaikan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dr. Drs. Asmuni. M.A juga menyampaikan apresiasi atas hasil akreditasi untuk 3 program sarjana yang meraih predikat unggul, yakni Prodi Ahwal Syakhshiyah, Prodi Ekonomi Islam dan Prodi Pendidikan Agama Islam. Sehingga dalam 1 tahun terakhir seluruh prodi program sarjana di FIAI UII berhasil meraih predikat akreditasi ‘Unggul’. Untuk program magister, Dr. Asmuni juga menyampaikan apresiasi, karena Magister Ilmu Agama Islam FIAI UII berhasil meraih predikat akreditasi ‘Unggul’.
Serangkaian apresiasi juga berupa penyerahan bingkisan kepada 1 dosen dan 1 tendik yang akan beribadah haji ke Tanah Suci Arab Saudi, pada bulan ini. Menurut Dr. Muhammad Roy Purwanto, S.Ag., Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni FIAI UII, setelah menyampaikan bingkisan.
“Penyampaikan penghargaan berupa bingkisan kepada dosen dan tendik yang akan berangkat ibadah haji ke Tanah Suci, sebagai bentuk penyemangat sekaligus doa bersama di hadapan seluruh SDM di FIAI UII. Hal ini juga sebagai pendorong bagi SDM yang belum mendapat giliran ibadah haji ke Tanah Suci, agar bisa merencanakan dengan baik, termasuk menabung dan memberikan prioritas yang lebih untuk ibadah ini,” kata Dr. Muhammad Roy Purwanto. (IPK)
Idul Adha di Era Digital: Transformasi Dakwah dan Edukasi Qurban di Media Sosial
Dakwah TendikIdul Adha dan Semangat Qurban
Idul Adha adalah momentum penting dalam kalender umat Islam yang sarat dengan nilai-nilai tauhid, pengorbanan, dan keteladanan. Peristiwa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. menjadi inspirasi sepanjang zaman tentang kepatuhan total kepada Allah Swt. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ketaatan Nabi Ismail a.s. dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. menjadi dasar spiritual ibadah qurban. Di balik ritual penyembelihan, terdapat pesan mendalam tentang keikhlasan, kesabaran, dan ujian iman. Maka dakwah tentang qurban seharusnya tidak hanya menjelaskan aspek hukum, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai ruhaniah ini di tengah masyarakat.
Era Digital dan Perubahan Pola Dakwah
Dunia dakwah mengalami pergeseran besar di era digital. Penyampaian pesan Islam tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tapi telah merambah ruang virtual seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga WhatsApp. Di platform inilah dai, lembaga zakat, dan komunitas Islam berperan penting dalam menyampaikan pesan Idul Adha secara menarik dan komunikatif.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa dakwah harus disampaikan dengan cara yang bijak:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Prinsip ini tetap relevan dalam konteks digital: menyampaikan kebaikan, sekecil apa pun, bisa memberi pengaruh luas jika dilakukan dengan niat dan strategi yang tepat. Dai digital tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai ceramah, tapi juga sebagai kreator konten, manajer interaksi, hingga penjaga akhlak publik.
Konten Dakwah dan Edukasi Qurban di Media Sosial
Media sosial telah melahirkan beragam bentuk konten edukatif tentang Idul Adha. Misalnya:
Bahkan, kini lembaga-lembaga Islam memanfaatkan media sosial untuk mengumpulkan donasi qurban dengan sistem yang transparan dan interaktif. Penyumbang dapat melihat dokumentasi penyembelihan dan distribusi, serta mendapatkan laporan digital. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak mengurangi nilai ibadah, justru bisa memperkuat akuntabilitas dan kepercayaan publik.
Namun, dalam mengemas konten dakwah, penting untuk menjaga nilai adab dan sensitivitas publik. Menampilkan proses penyembelihan hewan, misalnya, harus dilakukan dengan cara yang mendidik dan tidak menimbulkan trauma visual. Etika digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan dakwah di media sosial.
Dampak dan Tantangan Dakwah Qurban Digital
Dakwah Idul Adha di media sosial memiliki dampak yang luas. Banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang menjadi lebih sadar tentang pentingnya berqurban. Akses terhadap informasi keagamaan yang dulu sulit kini menjadi sangat mudah. Video satu menit bisa menjelaskan satu hadis. Infografis bisa merangkum satu bab fiqh.
Namun, transformasi ini juga menghadirkan tantangan serius:
Maka dari itu, dai dan konten kreator muslim perlu bersinergi: yang satu kuat di bidang ilmu, yang lain kuat di bidang media. Dakwah yang berdampak adalah dakwah yang menggabungkan substansi syariat, estetika digital, dan strategi komunikasi yang kontekstual.
Allah Swt berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Dakwah Digital yang Humanis dan Menyentuh
Di balik teknologi, dakwah digital harus tetap menyentuh sisi insani. Konten qurban yang baik adalah yang membangkitkan empati: bagaimana daging qurban menjadi hadiah bagi keluarga dhuafa yang tak mampu membeli daging sepanjang tahun, atau bagaimana qurban menjadi ladang amal bagi peternak kecil yang diberdayakan.
Kisah-kisah ini menghidupkan makna qurban sebagai jembatan kemanusiaan, bukan sekadar ritual. Inilah bentuk dakwah bil hal, dakwah melalui aksi nyata dan teladan.
Penutup: Menguatkan Dakwah Qurban di Era Digital
Idul Adha di era digital adalah tantangan sekaligus peluang. Media sosial bisa menjadi sarana efektif untuk menguatkan dakwah dan edukasi qurban, asal dijalankan dengan hikmah dan tanggung jawab.
Dai dan pegiat dakwah hari ini dituntut bukan hanya memahami teks-teks agama, tapi juga konteks media, psikologi digital, dan etika publik. Tujuannya satu: agar pesan Idul Adha tidak sekadar viral, tapi juga membekas dalam hati dan mengubah perilaku umat menuju ketakwaan yang lebih mendalam.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu…”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka, mari jadikan momentum Idul Adha sebagai ajang dakwah yang menyentuh jiwa, mempererat ukhuwah, dan membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bahkan dari balik layar gawai.
Penulis: Kusprayitna Widianta (Tendik FIAI)
Mahasiswa sebagai Arsitek Kejayaan Ekonomi Syariah di Indonesia
Dakwah MahasiswaIndonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Namun, potensi ini tidak akan terwujud tanpa peran aktif motor penggerak peradaban, yaitu mahasiswa. Sebagai kelompok yang memiliki kedalaman intelektual dan semangat muda, mahasiswa memegang mandat besar untuk mentransformasi sistem ekonomi konvensional menuju sistem yang berlandaskan pada prinsip keadilan Islam. Saat ini berbagai negara Islam berupaya menguatkan perannya di kancah dunia. Antara lain berusaha mendominasi ekonomi di masa depan memanfaatkan teknologi. Untuk itu Indonesia harus mempercepat adopsi teknologi finansial (fintech) syariah untuk menjangkau populasi unbanked (masyarakat yang belum terjangkau perbankan). Setidaknya segera melakukan Inovasi Perbankan Digital dengan mengembangkan layanan bank syariah yang sekompetitif bank konvensional dari sisi fitur dan kemudahan akses. Selain itu juga memperhatikan smart contracts menggunakan teknologi blockchain untuk memastikan transparansi dalam akad-akad syariah, seperti dalam pengelolaan wakaf atau investasi sukuk.
Dalam hal ini mahasiswa sebagai edukator dan literator ekonomi syariah, masalah utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia bukanlah kurangnya modal, melainkan rendahnya tingkat literasi. Masih banyak masyarakat yang menganggap perbankan syariah hanya sekadar ganti nama dari sistem konvensional. Di sinilah peran mahasiswa untuk terjun ke lapangan sebagai edukator. Mahasiswa harus mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana mengenai bahaya riba dan keunggulan sistem bagi hasil (sharing economy). Melalui diskusi di kampus, konten di media sosial, hingga pengabdian masyarakat, mahasiswa dapat meluruskan kesalahpahaman umat dan membangun kepercayaan terhadap institusi keuangan syariah.
Inkubator Inovasi dan Teknologi Finansial (Fintech) Syariah. Dunia saat ini sedang berada dalam arus digitalisasi. Mahasiswa, sebagai digital native, memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan teknologi dengan prinsip syariah. Peran ini bisa diwujudkan dengan menciptakan solusi Fintech yang memudahkan umat dalam berzakat, berwakaf, atau melakukan investasi syariah yang transparan.
Inovasi tidak hanya terbatas pada aplikasi, tetapi juga pada model bisnis. Mahasiswa dapat mempelopori lahirnya startup halal yang menerapkan prinsip halalan thoyyiban mulai dari rantai pasok hingga distribusi. Dengan demikian, ekonomi syariah tidak lagi dipandang sebagai teori di buku teks, melainkan solusi praktis bagi kebutuhan sehari-hari.
Mahasiswa dapat memperkuat sektor riil melalui kewirausahaan muda. Ekonomi syariah tidak akan kuat jika hanya menyentuh sektor keuangan. Kekuatan utamanya terletak pada sektor riil. Mahasiswa Muslim ditantang untuk tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) yang berbasis syariah.
Dengan menjadi wirausaha muda yang jujur, amanah, dan profesional, mahasiswa sedang mempraktikkan dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan). Keberhasilan bisnis yang dikelola mahasiswa secara syariah akan menjadi bukti nyata bagi masyarakat bahwa sistem Islam mendatangkan keberkahan dan kemakmuran bersama.
Mahasiswa berperan dalam riset dan advokasi kebijakan. Secara intelektual, mahasiswa berperan dalam melakukan riset mendalam mengenai tantangan ekonomi syariah di tingkat lokal maupun global. Hasil riset ini dapat dijadikan bahan advokasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengeluarkan kebijakan yang pro-ekonomi syariah.
Mahasiswa harus kritis terhadap ketimpangan ekonomi yang terjadi. Islam sangat melarang perputaran harta hanya di kalangan orang kaya saja (QS. Al-Hashr: 7). Oleh karena itu, mahasiswa harus memperjuangkan sistem ekonomi yang inklusif, di mana instrumen seperti zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) menjadi pilar utama dalam pengentasan kemiskinan.
Mahasiswa mampu menyiapkan SDM Syariah yang Kompeten dan Berintegritas. Permintaan akan tenaga kerja di industri halal kian meningkat, namun seringkali terdapat celah (gap) antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan sertifikasi dan keahlian khusus di bidang ekonomi syariah.
Lebih dari sekadar keahlian teknis, mahasiswa harus menjaga integritas moral. Ekonomi syariah akan runtuh jika dijalankan oleh orang-orang yang tidak memiliki khauf (takut) kepada Allah. Mahasiswa adalah harapan agar di masa depan, posisi-posisi strategis di lembaga keuangan syariah diisi oleh individu yang profesional sekaligus bertakwa.
Perjuangan membangun ekonomi syariah adalah perjuangan jangka panjang untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi umat. Mahasiswa tidak boleh berpangku tangan melihat ketimpangan ekonomi yang terjadi di depan mata.
Tidak Berhaji Tapi Jadi Haji Mabrur: Kisah Ali al-Muwaffaq
Dakwah TendikDalam berbagai kisah kaum muslim, ada yang cukup terkenal yaitu berkenaan Ali al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu dari Damaskus yang meskipun tidak berangkat haji, tetapi mendapat ganjaran haji mabrur karena keikhlasannya menolong tetangganya yang kelaparan. Kisah ini banyak dinukil dalam literatur klasik Islam, seperti Siyar A‘lām an-Nubalā’ karya Adz-Dzahabi dan al-Bidāyah wa an-Nihāyah karya Ibnu Katsir. Melalui pendekatan dakwah ilmiah, artikel ini menelaah nilai keikhlasan, prioritas amal sosial, dan hubungan antara syariat serta hakikat ibadah. Hasil telaah menunjukkan bahwa meskipun kisah ini tidak bersandar pada hadis sahih, ia tetap relevan sebagai hikayat yang memberi motivasi moral dan spiritual. Kisah Ali al-Muwaffaq menegaskan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian integral dari misi dakwah Islam.
Haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan. Al-Qur’an menegaskan:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran [3]: 97).
Namun, di tengah kewajiban ini, terdapat kisah menarik dari sejarah Islam yang memperlihatkan bahwa nilai haji mabrur tidak semata-mata ditentukan oleh perjalanan fisik menuju tanah suci, melainkan juga oleh keikhlasan amal. Kisah itu adalah kisah Ali al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu Damaskus, yang riwayatnya tersebar melalui hikayat para ulama.
Dari perspektif dakwah, dengan menyoroti nilai-nilai keikhlasan, amal sosial, dan hakikat ibadah, kisah Ali al-Muwaffaq dinukil oleh beberapa ulama klasik, di antaranya:
– Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’ (jilid 8, hlm. 418).
– Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah (jilid 10, hlm. 251).
– Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya’ (jilid 8, hlm. 167).
Riwayat tersebut tidak berstatus hadis, melainkan hikayat yang datang melalui mimpi Abdullah bin al-Mubarak. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan bahwa kisah berbasis mimpi tidak dapat dijadikan dalil syar‘i, namun dapat diambil sebagai ibrah (pelajaran moral).
Sehingga dapat kita pelajari bersama bahwa:
1. Keikhlasan sebagai Hakikat Ibadah
Keputusan Ali al-Muwaffaq untuk membatalkan hajinya demi menolong tetangga menunjukkan keikhlasan yang tinggi. Ia lebih mengutamakan kebutuhan mendesak orang lain dibanding ibadah personal. Hal ini selaras dengan prinsip ikhlas lillāh yang menjadi syarat diterimanya amal.
2. Amal Sosial sebagai Prioritas Dakwah
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, no. 23408). Memberi makan orang lapar, menolong fakir miskin, dan peduli terhadap tetangga merupakan bagian dari maqāṣid al-syarī‘ah dalam menjaga jiwa (ḥifẓ an-nafs). Dari perspektif dakwah, amal sosial adalah bentuk nyata keberislaman yang memudahkan penyebaran nilai Islam.
3. Syariat dan Hakikat dalam Ibadah
Kisah ini tidak membatalkan kewajiban haji bagi yang mampu, tetapi menunjukkan bahwa hakikat haji mabrur adalah transformasi diri menuju kepedulian sosial. Dengan kata lain, syariat (haji secara fisik) harus berbuah pada hakikat (perubahan moral dan kepedulian sosial).
4. Relevansi untuk Dakwah Kontemporer
Dalam konteks dakwah modern, kisah ini relevan sebagai narasi yang mengajarkan bahwa Islam bukan hanya ritual, melainkan juga etika sosial. Di tengah fenomena meningkatnya ibadah ritual tetapi melemahnya solidaritas sosial, kisah Ali al-Muwaffaq dapat menjadi strategi dakwah berbasis uswah (keteladanan).
Kesimpulan
Kisah Ali al-Muwaffaq meskipun tidak bersumber dari hadis sahih, tetap memiliki nilai moral yang tinggi. Ia menegaskan bahwa keikhlasan dan amal sosial dapat bernilai setara dengan ibadah besar. Dari perspektif dakwah, kisah ini mengajarkan:
1. Keikhlasan adalah inti dari setiap ibadah.
2. Amal sosial dapat menguatkan dimensi kemanusiaan Islam.
3. Syariat dan hakikat harus saling melengkapi dalam praktik beragama.
4. Dakwah kontemporer dapat memanfaatkan kisah ini untuk menumbuhkan kepedulian sosial.
Dengan demikian, kisah Ali al-Muwaffaq menjadi inspirasi bagi dakwah Islam untuk selalu menekankan keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial
Penulis: Mabdaul Basar (Tendik FIAI UII)
Daftar Pustaka
Kebiasaan Menulis Tangan Materi Pengaruhi Kemampuan Public Speaking
BeritaFakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia UII) menyelenggarakan Pelatihan Dakwah Bil Lisan dan Motivasi Berbicara dalam Forum bagi tenaga kependidikan di tingkat fakultas, Selasa (29/4/2025) di Gedung KHA Wahid Hasyim FIAI UII lantai 3, Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang km 14.4 Sleman. Sebagai narasumber yaitu Dr. Nur Kholis, S.Ag., SEI., M.Sh.Ec.
”Salah satu keberuntungan menjadi pembicara dan pendakwah adalah bisa sekaligus belajar, karena sebelum tampil bicara akan berusaha mempersiapkan diri, termasuk belajar kembali untuk pengayaan materi. Artinya semakin banyak menyampaikan ilmu artinya semakin menguasai ilmu,” kata Nur Kholis mengawali paparannya.
Imbuhnya, dengan menjadi pembicara dan pendakwah maka akan dipaksa kondisi untuk terus belajar, sampai menjadikan belajar sebagai kebutuhan yang sangat nikmat. Selain itu menjadi pendakwah selain meningkatkan semangat belajar juga memotivasi untuk mengamalkan dan menjaga diri agar walk the talk. Selain itu, menyebarkan ilmu sebagai pembicara dan pendakwah berpeluang meraih pahala yang tidak terputus oleh kematian.
“Ketika menjadi pembicara kita harus mengenali audiensnya, tapi tidak perlu risau terhadap kondisi audiensnya. Misal ada peserta yang lebih senior, atau gelar akademik lebih tinggi. Tidak usah gugup, tekankan pada diri sendiri bahwa kita lebih banyak menguasai materi, karena sudah belajar juga sebelumnya,” kata Dr. Nur Kholis.
Dr. Nus Kholis tambahkan ketika menjadi pembicara jadilah versi yang terbaik, mengerti dengan siapa berbicara, mengetahui apa yang mereka inginkan, mengetahui bagaimana memuaskan mereka dengan ide-ide kreatif dan solusi efektif dan mengetahui metode penyampaian yang audies sukai.
“Ada pengalaman ketika diminta menjadi pemateri dakwah kemudian malam sebelumnya saya siapkan kisi-kisi materi dengan tulis tangan di selembar kertas. Paginya saya bersiap berangkat menuju lokasi, dan mengambil kertas tulis tangan. Sampai lokasi saya tidak mengecek materi kertas, saat naik ke mimbar, saya mengambil kertas tulis tangan. Beta kagetnya, ternyata salah ambil kertas, yang terbawa bukan kisi-kisi materi yang sebelumnya saya tulis. Tapi karena saat menulis tangan saya berusaha menyimpan dalam ingatan, ternyata tanpa kisi materi pun bisa lancar saat berikan materi dakwah, “ kata Nur Kholis.
Pesannya, budaya menulis tangan beda dengan mengetik menggunakan komputer. Dengan upaya tulis tangan akan otomatis memaksa memori ingatan untuk merekam. Menulis tangan memaksa ingatan karena melibatkan proses kognitif yang lebih mendalam dibandingkan dengan mengetik. Gerakan menulis mendorong otak untuk memproses informasi, mengulanginya, dan membentuk koneksi yang lebih kuat dalam memori.
”Terbukti menulis tangan untuk materi sebelum menjadi pembicara, menjadikan memori ingatan jadi lebih tajam dan runtut ketika menyampaikan materi di depan publik,” kata Nur Kholis. (IPK)
Istidraj: Tipuan Kenikmatan Dunia
Dakwah TendikSaat ini kita hidup di era digital, dimana segala hal yang awalnya manual menjadi praktis dan modern. Dari sisi teknologi informasi dengan cepat kita bisa melihat dan mendengar berbagai informasi yang tersaji di media yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Tidak jarang berita yang tersaji terkait kehidupan seseorang terutama tentang kekayaan, kesuksesan yang didapat dengan mudah tanpa hambatan, seolah-olah hidupnya berjalan sangat mulus dan tidak ada halangan. Sedangkan orang tersebut tidak pernah beribadah, penuh maksiat bahkan ada yang tidak mempercayai adanya tuhan. Apakah ini yang dinamakan ujian dari Allah Swt.?
Secara bahasa, istidraj berasal dari kata daraja, yang berarti ‘bertahap’ atau ‘berangsur-angsur’. Adapun istidraj juga dapat bermakna sebagai sebuah ‘ujian’ yang diberikan Allah Swt. secara berangsur-angsur kepada hamba-Nya. Ujian itu bisa berupa jabatan atau harta yang melimpah yang diberikan Allah terus-menerus meskipun seseorang itu jauh dari jalan kebenaran dan akhirnya akan mengantarkannya pada malapetaka yang lebih besar. Hal itu disebutkan dalam hadis berikut: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad).
Kondisi istidraj ini juga telah dijelaskan dalam Al Qur’an “Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur’an). Kelak akan Kami hukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui” (Qs Al-Qalam:44). Seseorang yang mengalami istidraj tidak akan menyadari jika perbuatannya telah membuat Allah murka, sebaliknya mereka menganggap kenikmatan yang diperoleh merupakan anugerah dari Allah.
Salah satu tanda istidraj pada diri seseorang yang mencolok yaitu selalu mendapatkan kenikmatan yang berlimpah padahal jarang melakukan ibadah, selalu melakukan kemaksiatan namun hidupnya selalu sukses, saat melakukan kesalahan tidak merasa berdosa, serta dalam hidupnya hampir tidak pernah diberikan cobaan. Ketika seseorang merasa kualitas ibadahnya turun namun kenikmatannya terus meningkat, hal itu jelas merupakan ciri-ciri sebuah Istidraj. Allah membiarkan orang-orang yang lalai dan bermaksiat itu semakin tersesat dan semakin dimanjakan dengan berbagai kenikmatan duniawi. Kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. tersebut sebenarnya bukan bentuk kasih sayang terhadap hamba-Nya, melainkan murka-Nya.
Istidraj ini dapat dengan mudah kita temui di lingkungan masyarakat, bahkan banyak contohnya yang terpampang jelas. Seperti pejabat-pejabat negara yang diberikan amanah mendapatkan jabatan atau pangkat tinggi namun tidak menggunakan tugas dan wewenangnya dengan baik. Bahkan menyalahgunakan jabatan atau pangkatnya untuk memperkaya diri sendiri dengan melakukan kebijakan yang sangat merugikan rakyat. Mereka sebagian besar hidupnya mewah, bergelimang harta dan diberikan kenikmatan berkuasa dalam waktu yang lama.
Istidraj merupakan ujian yang sangat berbahaya bagi umat manusia. Pasalnya, istidraj adalah tipu daya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang telah lalai dan tersesat dari jalan yang benar. Semakin seseorang itu jauh dari Allah dan terlena dengan berbagai kenikmatan yang Allah berikan semakin bertambah pula kesenangan yang didapat oleh orang tersebut. Mereka mengira bahwa mereka mendapatkan nikmat karena keberhasilan atau usaha mereka sendiri. Mereka tidak bersyukur kepada Allah Swt. atas segala karunia-Nya. Hal ini dapat mendatangkan azab yang lebih berat.
Sebagai seorang muslim, kita diminta selalu waspada dan berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia. Kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya harus didasari dengan keimanan yang kuat. Selalu bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan dan menjauhi semua hal yang mengandung maksiat. Selain itu, juga meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah antara lain melaksanakan shalat lima waktu tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menghafal dan mengamalkannya, serta selalu berdoa dan memohon perlindungan Allah dari segala godaan dan fitnah dunia.
Penulis: Arum Huda Nurjanatun, S.IP (Tendik FIAI UII)
Moderasi Beragama dan Kurikulum Cinta sebagai Upaya Reinterpretasi Islam dalam Pendidikan
Dakwah TendikPendahuluan
Kementerian Agama Republik Indonesia menggagas penerapan kurikulum cinta sebagai bentuk penanaman nilai-nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini. Inisiatif ini disebut sebagai respons terhadap meningkatnya intoleransi dan konflik sosial berbasis agama di Indonesia. Di saat yang sama, Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila, hasil kolaborasi Kemendikbudristek dan BPIP, diperkenalkan sebagai upaya membentuk Pelajar Pancasila, dengan mengaruskan program moderasi beragama sebagai inti dari Kurikulum Merdeka.
Namun, baik kurikulum cinta maupun moderasi beragama menuai kritik karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam secara kaffah. Keduanya dicurigai sebagai bentuk rekayasa ideologis yang menyusupkan nilai-nilai liberalisme, pluralisme, dan sekularisme ke dalam tubuh pendidikan Islam di Indonesia.
Konsep dan Latar Belakang
Kurikulum cinta diperkenalkan sebagai elemen tambahan dalam sistem pendidikan madrasah dan nasional, bukan untuk menggantikan pelajaran yang ada, tetapi untuk mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan serta toleransi. Lima nilai utama yang dikembangkan meliputi: kasih kepada Allah, kasih kepada Rasul, kasih antar sesama manusia, kasih terhadap lingkungan, dan kasih terhadap tanah air.
Sementara itu, moderasi beragama telah menjadi program prioritas sejak 2019 dan kini diimplementasikan dalam kurikulum formal. Dinyatakan sebagai cara untuk menangkal radikalisme dan intoleransi, program ini diujicobakan di ribuan sekolah penggerak dan menjadi materi wajib dalam Program Guru Penggerak.
Namun, kritik utama datang dari pemahaman bahwa istilah “moderat” dan “radikal” adalah konstruksi asing yang menyesatkan. Strategi global ini dipandang sebagai upaya untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan nilai-nilai demokrasi, HAM, dan pluralisme yang tidak bersumber dari wahyu. Klasifikasi Islam ke dalam kelompok radikal, moderat, tradisional, dan liberal merupakan rekayasa yang bertujuan melemahkan keteguhan umat terhadap penerapan Islam secara kaffah.
Kritik Teologis dan Konseptual
Secara teologis, baik kurikulum cinta maupun moderasi beragama dianggap menciptakan ambiguitas terhadap ajaran Islam. Penghapusan atau reinterpretasi terhadap konsep-konsep seperti jihad, hudud, qishash, dan hukum murtad dipandang sebagai bentuk pelunturan akidah. Ada kekhawatiran bahwa pendekatan reflective learning dan multikulturalisme dalam kurikulum cinta akan membentuk keraguan terhadap syariat Islam.
Penerapan nilai-nilai universal seperti kesetaraan agama dan toleransi kebablasan diyakini dapat menciptakan generasi Muslim yang ragu terhadap kebenaran tunggal Islam. Konsep pluralisme yang menganggap semua agama sama benar bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan umat untuk berpegang teguh pada satu kebenaran.
Kritik ini juga menyasar akar ideologis kurikulum cinta yang diyakini berasal dari proyek ideologis global untuk merombak cara berpikir umat Islam. Narasi cinta, humanisme, dan nasionalisme sekuler secara halus menggantikan nilai-nilai transendental yang bersumber dari wahyu.
Konsekuensi Sosiologis dan Pendidikan
Kedua kebijakan ini berdampak secara sosiologis dan historis:
– Teologis: Konsep cinta dan toleransi disinyalir menjauhkan siswa dari pemahaman kaffah tentang syariat.
– Normatif: Pelajaran-pelajaran penting dalam Islam dikaburkan atau dihapus dengan alasan moderasi.
– Sosiologis: Terjadi pergeseran nilai dalam praktik ibadah dan identitas keislaman; seperti keterlibatan Muslim dalam perayaan keagamaan non-Muslim.
– Historis: Syariat dan daulah hanya diposisikan sebagai fenomena sejarah, bukan sistem yang hidup dan relevan.
Lebih dari itu, pendekatan moderasi mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan. Hal ini menyebabkan generasi muda kehilangan jati diri sebagai Muslim. Padahal Islam menuntut penerapan syariat secara menyeluruh sebagai solusi tunggal atas seluruh problem kehidupan, termasuk pendidikan. Sistem pendidikan yang benar menurut Islam harus bertujuan membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang bersumber dari akidah Islam
Islam dan Toleransi: Sudut Pandang Asli
Islam sejak awal adalah agama yang menjunjung tinggi perbedaan. QS Al-Baqarah:256 dan QS Al-An’am:108 menunjukkan bahwa Islam melarang pemaksaan dalam agama dan menjunjung tinggi kebebasan berkeyakinan. Dalam sejarahnya, umat Islam hidup berdampingan dengan non-Muslim dengan prinsip keadilan dan kedamaian.
Toleransi dalam Islam bukan hasil benturan sejarah, seperti halnya di Eropa, melainkan bersumber dari wahyu. Maka, toleransi Islam tidak memerlukan reinterpretasi atau penyusupan nilai-nilai asing. Islam telah mengatur interaksi antarumat beragama dengan prinsip yang jelas dan adil. Pengaburan makna toleransi ini hanya akan membuka pintu kompromi terhadap syariat dan menggiring umat untuk menerima sistem nilai non-Islami.
Penutup
Baik kurikulum cinta maupun program moderasi beragama perlu dikaji ulang secara mendalam. Keduanya terindikasi sebagai strategi halus untuk menjauhkan umat Islam dari penerapan Islam secara total. Penyusupan nilai-nilai sekuler, pluralis, dan humanis ke dalam pendidikan Islam adalah upaya sistemik yang membahayakan generasi masa depan.
Sebagai alternatif, pendidikan harus dikembalikan kepada dasar Islam secara menyeluruh—bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi utama. Pendidikan berbasis syariat harus dikembangkan untuk membentuk generasi yang memiliki pemahaman yang sahih, akidah yang kuat, serta kesiapan untuk menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam.
Penulis: M. Darzan Hanan M. (Tendik FIAI UII)
Peran Mahasiswa dalam Edukasi Literasi Islam Sebagai Jihad Intelektual
Dakwah MahasiswaDi dalam sejarah peradaban Islam, tinta para ulama seringkali disejajarkan dengan darah para syuhada. Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan pengakuan betapa krusialnya tulisan dalam menjaga eksistensi agama ini. Hari ini, di tengah gempuran informasi digital yang serba instan, tantangan literasi umat semakin besar. Di sinilah mahasiswa Muslim harus hadir bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai pelopor edukasi pentingnya menulis buku Islam.
Menulis dakwah mendukung upaya menjaga warisan intelektual muslim. Salah satu alasan mengapa Islam bisa sampai kepada kita hari ini adalah karena tradisi membukukan ilmu. Jika para pendahulu kita seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Hamka tidak menulis, mungkin kekayaan khazanah pemikiran Islam sudah hilang ditelan zaman. Mahasiswa, dengan kapasitas intelektual dan akses terhadap referensi yang luas, memegang tongkat estafet ini. Mahasiswa perlu menyadarkan rekan sebaya dan masyarakat bahwa menulis buku bukan hanya tugas dosen atau kyai, melainkan bentuk penjagaan terhadap warisan pemikiran yang akan menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina adalah dua raksasa intelektual dalam sejarah Islam yang melakukan jihad intelektual dengan cara yang berbeda namun saling melengkapi. Jika Ibnu Sina berjihad dengan membangun fondasi rasionalitas dan sains, Al-Ghazali berjihad dengan melakukan pemurnian spiritual dan harmonisasi antara akal dan wahyu.
Jihad intelektual yang dapat dilakukan mahasiswa juga dalam rangka melawan narasi negatif dan distorsi informasi. Dunia literasi saat ini sering kali dibanjiri oleh pemikiran yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam, mulai dari materialisme hingga pemahaman radikal yang tidak tepat. Jika mahasiswa yang berilmu hanya diam dan enggan menulis, maka kekosongan ruang literasi akan diisi oleh pihak lain.
Kondisi kampus dengan dinamikanya, bisa menjadi bahan tulisan, misal mengonversi diskusi menjadi naskah. Mahasiswa sering melakukan diskusi ilmiah; edukasi harus diarahkan agar hasil diskusi tersebut tidak hilang begitu saja, melainkan dibukukan. Selain itu mahasiswa berpeluang mempopulerkan sains islami dengan menjelaskan fenomena ilmiah melalui perspektif tauhid dalam bentuk buku yang ringan dan populer bagi kaum milenial. Mahasiswa juga dapat sebagai mediator dengan meluruskan kesalahpahaman melalui buku, mahasiswa bisa menjawab isu-isu kontemporer tentang Islam dengan argumen yang sistematis dan akademis.
Kondisi sosial mahasiswa di kampus, merupakan kesempatan untuk membangun budaya literasi di lingkungan kampus. Edukasi tidak selalu berarti ceramah. Mahasiswa dapat berperan melalui tindakan nyata untuk menciptakan ekosistem menulis. Hal ini bisa dimulai dengan membentuk komunitas penulis buku, mengadakan pelatihan penulisan kreatif bernuansa Islam, hingga memberikan pendampingan proses penerbitan.
Penting bagi mahasiswa untuk mengedukasi bahwa menulis buku Islam tidak harus selalu tentang fikih yang berat. Buku bisa berupa antologi esai tentang pengalaman spiritual, panduan praktis ekonomi syariah untuk anak muda, atau novel yang menyisipkan nilai-nilai akhlak. Dengan variasi tema, minat baca dan tulis umat akan tumbuh secara organik.
Peran mahasiswa menulis dakwah sebagai amal jariyah. Mahasiswa harus mampu memberikan perspektif ukhrawi dalam edukasi menulis. Menulis buku adalah investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu amal yang tidak terputus pahalanya setelah seseorang wafat adalah “ilmu yang bermanfaat“ (HR. Muslim).
Sebuah buku yang ditulis saat mahasiswa mungkin akan dibaca sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Selama ilmu di dalamnya diamalkan, maka aliran pahala akan terus mengalir kepada penulisnya. Inilah motivasi spiritual tertinggi yang harus ditanamkan kepada setiap pemuda Muslim.
Menulis merupakan upaya menembus batas zaman dan ruang, kelebihan buku dibandingkan dakwah lisan adalah jangkauannya. Suara seorang orator mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir di ruangan, tetapi sebuah buku bisa menyeberangi lautan dan melampaui batas waktu. Mahasiswa sebagai warga digital memiliki kemudahan untuk menerbitkan buku, baik secara fisik maupun e-book, yang bisa diakses secara global.
Mahasiswa adalah wajah masa depan umat. Jika hari ini mahasiswa Muslim malas menulis, maka masa depan peradaban Islam di Indonesia akan kekurangan rujukan yang berkualitas. Edukasi tentang pentingnya menulis buku Islam harus digaungkan sekarang juga.
Jangan menunggu menjadi ahli untuk mulai menulis, tapi menulislah untuk menjadi ahli. Jadikan pena Anda sebagai pedang untuk membela kebenaran dan sebagai lentera untuk menerangi kegelapan pemikiran. Setiap kata yang Anda goreskan adalah batu bata bagi bangunan peradaban umat.
Ditulis oleh mahasiswa
MUHAMMAD FADHLI ABDILLAH, NIM 22422063
Makna Mudik
FIAI BerdakwahMakna Mudik
Oleh: M. Husnaini
Mudik, tradisi pulang kampung tahunan di Indonesia, lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan emosional dan spiritual yang mendalam, sebuah cara untuk kembali ke akar, menjalin kembali hubungan keluarga, dan menegaskan kembali identitas diri. Namun, di balik aspek materialistik perjalanan dan pertemuan kembali, mudik juga melambangkan konsep mendalam dalam Islam: perjalanan menuju rumah keabadian.
Dalam bahasa Inggris, kata “home” menyiratkan keterikatan emosional dan spiritual yang tidak dimiliki oleh kata “house”. “House” hanyalah bangunan fisik, sementara “home” adalah tempat di mana cinta, kehangatan, dan rasa memiliki berada. Dalam pengertian yang sama, mudik bukan sekadar kembali ke tempat fisik, tetapi juga menyambung kembali hubungan, mencari berkah, dan menemukan kembali tujuan hidup. Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara—seperti menunggu panggilan boarding pass—sebelum perjalanan menuju rumah yang abadi.
Dalam filosofi Islam, hidup ini fana, dan rumah sejati kita adalah akhirat. Al-Qur’an sering mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah sesaat dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat. Pemahaman ini mencerminkan esensi mudik: sejauh apa pun seseorang pergi dalam hidupnya, akan selalu ada kerinduan untuk kembali. Namun, mudik yang sejati bukan hanya tentang mengenang masa kecil, tetapi juga tentang mempersiapkan kepulangan terakhir—kepulangan kepada Allah.
Keberhasilan seseorang dalam hidup sering ditunjukkan saat mudik, dengan para pemudik memamerkan pencapaian mereka melalui kendaraan baru, hadiah, atau pengeluaran berlebihan. Namun, perilaku semacam ini bertentangan dengan makna spiritual dari pulang kampung. Islam menekankan sikap rendah hati dan bersyukur, mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari kekayaan materi, tetapi dari keimanan dan amal kebaikan. Alih-alih memamerkan kemewahan, mudik seharusnya menjadi momen refleksi, rasa syukur, dan mempererat hubungan keluarga.
Kesuksesan dalam Islam bukan tentang seberapa banyak seseorang mengumpulkan, tetapi tentang seberapa banyak ia memberi dan melayani. Nabi Muhammad (saw) mencontohkan hal ini dengan menjalani kehidupan sederhana meskipun memiliki akses kepada kekayaan. Ajaran beliau mengingatkan umat Muslim untuk lebih fokus pada kualitas hubungan, ketulusan dalam ibadah, dan kedermawanan terhadap sesama.
Ketika mudik menjadi ajang pamer, maknanya pun hilang. Esensi sejati dari mudik adalah kembali ke rumah dengan kerendahan hati, menyadari bahwa hidup ini singkat dan perjalanan yang sebenarnya adalah menuju rumah yang abadi. Alih-alih menjadikan pulang kampung sebagai kesempatan untuk mengesankan orang lain, seharusnya ini menjadi waktu untuk mempererat kasih sayang, meminta maaf, dan memperkokoh hubungan yang benar-benar bermakna.
Dengan demikian, mudik lebih dari sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman; ini adalah pengingat akan kefanaan hidup dan perlunya bersiap untuk kepulangan terakhir. Seperti halnya para pelancong yang memastikan semua kebutuhan siap sebelum perjalanan panjang, umat beriman juga harus mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah yang sejati—dengan menjalani hidup penuh kebaikan, ketulusan, dan pengabdian. Itulah makna sejati mudik dalam Islam.
Media Sosial Sebagai Mimbar Digital Mahasiswa dalam Mengguncang Dunia
Dakwah MahasiswaMenjadi mahasiswa dalam kampus UII yang notabene mendukung program dakwah, harus memahami bahwa seusia mahasiwa yang memiliki waktu lebih banyak, maka bisa dioptimalkan untuk mendukung ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan mandat besar bagi setiap Muslim, khususnya para mahasiswa, untuk memanfaatkan segala sarana yang ada demi menyebarkan kebaikan. Di era zettabyte saat ini, sarana paling efektif dan masif yang ada di genggaman kita adalah media sosial. Bagi mahasiswa, media sosial bukan sekadar tempat pamer gaya hidup, melainkan “mimbar digital” yang mampu menembus batas ruang dan waktu.
Transformasi Dakwah di Tangan Mahasiswa
Dahulu, dakwah hanya identik dengan khutbah di atas mimbar masjid atau pengajian di majelis taklim. Namun saat ini, wajah dakwah telah bertransformasi. Sebuah desain grafis yang estetik, video pendek (Reels/TikTok) yang menyentuh, atau tulisan reflektif di caption Instagram bisa menjadi wasilah hidayah bagi ribuan orang.
Mahasiswa memiliki keunggulan intelektual dan kreativitas untuk mengemas konten dakwah menjadi lebih relevan. Jika konten maksiat diproduksi secara profesional, maka konten kebenaran tidak boleh dibuat ala kadarnya. Mahasiswa harus berperan sebagai kreator konten yang mengisi ruang hampa di hati para pengguna internet dengan nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah.
Membendung Arus Negatif
Media sosial laksana pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi ladang pahala, di sisi lain ia bisa menjadi sumber fitnah dan dosa jariyah. Fenomena cyber-bullying, penyebaran hoaks, hingga konten yang merusak moral remaja muslim menjadi tantangan nyata. Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan.
Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang sekadar “scroll” tanpa arah. Mahasiswa harus menjadi produsen konten positif. Ketika seorang mahasiswa mengunggah kutipan ayat, potongan hadis, atau opini Islami mengenai isu terkini, ia sedang melakukan perlawanan terhadap arus negatif. Ia sedang membangun benteng pertahanan bagi iman adik-adik tingkatnya dan para remaja yang setiap hari terpapar polusi digital.
Kekuatan Jangkauan yang Tak Terbatas
Satu hal yang luar biasa dari media sosial adalah jangkauannya. Sebuah tulisan bermanfaat yang dibuat oleh seorang mahasiswa di kamarnya bisa dibaca oleh orang di belahan bumi lain. Inilah yang disebut dengan efisiensi dakwah. Kita tidak perlu berkeliling dunia untuk berdakwah; cukup dengan satu klik, pesan kebaikan itu bisa menyebar (viral).
Bagi mahasiswa yang mungkin merasa ilmunya belum setinggi ulama, media sosial adalah sarana belajar sekaligus berbagi. Dengan mengutip penjelasan para ulama terpercaya dan mengemasnya dalam bahasa anak muda, mahasiswa telah membantu menyederhanakan pesan-pesan agama agar lebih mudah diterima oleh generasinya.
Media sosial adalah amanah. Kelak, setiap unggahan, komentar, dan like kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menjadikan akun media sosial sebagai portofolio dakwah adalah keputusan paling cerdas yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa. Jangan biarkan jempolmu diam ketika kemungkaran berseliweran di beranda. Mulailah menulis, mulailah mendesain, dan mulailah berbicara tentang kebenaran melalui layar ponselmu.
Ditulis oleh mahasiswa
Endah Fuzi Yatnih, NIM 22421098