Menurut Badan Pusat Statistik, untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selalu masuk ke dalam 3 besar provinsi dengan upah minimum terkecil di Indonesia sejak tahun 2017. Selain itu menurut BAPPEDA ketimpangan di Provinsi DIY juga tinggi, ditambah lagi lapangan kerja menurut DINASKERTRANS bahwa di DIY juga padat bersaing. Ini menyebabkan banyaknya masyarakat kesulitan ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan setiap keluarga dengan tingkat perekonomian rendah di Provinsi DIY. Dari sinilah, warga masyarakat banyak yang memutuskan untuk beeburu lowongan pekerjaan di luar Indonesia, termasuk ibu rumah tangga yang merasa penghasilan dari suami belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Hal ini menjadi perhatian Ibnul Jauzi Abdul Ceasa, mahasiswa Promosi Doktor Hukum Islam (DHI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Ibnu menjadikan kondisi ini menjadi obyek penelitian untuk penyusunan disertasi meraih gelar doktor.

Sekian tahun penelitian dilakukan, akhirnya Ibnul Jauzi Abdul Ceasar yang juga seorang pengajar dari Bandar Lampung berhasil harus mempertahankan disertasinya pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Hukum Islam (DHI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat 19 September 2025, di Gedung KHA Wahid Hasyim, Kampus Terpadu Jalan Kaliurang km 14,4, Sleman. Disertasi berjudul Analisis Trilogi Filsafat Ekonomi Islam dan Gender Terhadap Peran Pekerja Migran Perempuan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga (Studi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) diselesaikan setelah menempuh studi pada Program Doktor Hukum Islam FIAI UII sejak tahun 2021, hingga dinyatakan berhak menyandang gelar doktor.

Ibnul Jauzi Abdul Ceasar menempuh sidang ujian terbuka promosi doktor disaksikan tamu undangan, kerabat dan keluarga. Bertindak selaku ketua sidang ujian terbuka doktor Dr. Asmuni, MA dibantu sekretaris Dr. Anisah Budiwati, S.HI., M.SI. Sebagai penguji yakni Dr. Sri Wahyuni, S.Ag., M.Ag., M.Hum dan Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D serta Dr. Anton Priyo Nugroho, SE., MM. Selama menyelesaikan disertasi mendapat bimbingan dari promotor Prof. Dr. Amir Mu’allim, MIS. dan kopromotor Prof. Dr. Yusdani, M.Ag.
“Peran pekerja migran perempuan yang dianalisis menggunakan trilogi filsafat ekonomi Islam dan gender, itu belum pernah dilakukan, karena penelitian-penelitian terdahulu mengenai gender dan peningkatan kesejahteraan keluarga, tidak pernah dianalisis menggunakan trilogi filsafat ekonomi Islam dan diintegrasikan dengan gender. Maka kontribusi peneliti dalam menggunakan teori trilogi filsafat ekonomi Islam, itu adalah hal yang baru. Sekaligus memberikan sumbangsih secara teoritis untuk terus mempromosikan pendekatan cara multidisipliner,” kata Ibnul Jauzi.

Novelty dari penelitian Ibnul Jauzi Abdul Ceasar yakni dari segi antropologi ekonomi Islam didapati bahwa pekerja perempuan termasuk konsumtif dalam membelanjakan pendapatan, namun bertolak belakang dengan analisis teologi dan kosmologi, pekerja migran perempuan dapat mengaplikasikan dengan sangat baik. Dari segi teologinya tidak ada masalah, baik dengan ibadah, memakai jilbab dan yang lainnya. Dari sisi kosmologi juga tidak ada masalah. Maka kedua dampak yang kontradiktif menjadi temuan menarik dalam riset ini.

Lebih mendalam, Ibnul Jauzi Abdul Ceasar sampaikan peran pekerja migrasi perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di Provinsi DIY yang dianalisis dengan trilogi filsafat ekonomi Islam yang terdiri dari antropologi ekonomi Islam, kosmologi ekonomi Islam, dan teologi ekonomi Islam dapat dilihat dari hasil penelitian dan fakta di lapangan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pekerjaan perempuan migran yang berada di luar negeri membawa beberapa implikasi dari sudut pandang antropologi ekonomi Islam, perempuan pekerja migran rata-rata menghabiskan penghasilan yang besar sehingga ketika mereka memiliki uang lebih, rasa untuk berbelanja barang yang diimpikan dan tidak dimiliki selama ini menjadi tinggi.

Dalam konstribusi akademik, harapan Ibnul Jauzi Abdul Ceasar sebagai peneliti, bahwa riset ini dapat menjadi pemantik bagi seluruh kajian ekonomi islam dan hukum Islam, bahwa kajian keislaman kedepannya sudah tidak lagi dapat dikaji melalui 1 perspektif.

Di sesi akhir, Ketua Ujian Terbuka Promosi Doktor yakni Dr. Asmuni, MA menyatakan promovendus Ibnul Jauzi Abdul Ceasar dinyatakan lulus dalam studi pada Program Doktor Hukum Islam FIAI UII dengan indeks prestasi kumulatif 3.95, masa studi 3 tahun 6 bulan 7 hari, predikat cumlaude. Ibnul Jauzi sebagai doktor ke-75 yang promosinya pada Program Doktor Hukum Islam FIAI UII, dan doktor ke-424 yang diluluskan UII.

Ajaran Islam senantiasa menuntun serta memberikan panduan dalam segala aspek kehidupan, serta akhirat. Bahkan termasuk bagaimana cara setiap umat muslim menjaga dan merawat tubuhnya. Mengapa? Sebab, menjaga kesehatan tubuh merupakan salah satu aset berharga dalam beribadah. Seperti yang sabda Rasullulah SAW

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah,” (HR. Muslim).

Penggalan hadits tersebut dapat dipahami bahwa “kuat” yang dimaksud dapat merujuk pada fisik yang lebih kuat, bertekad kuat, dan beriman yang kuat. Dengan tubuh yang sehat, kita juga dapat lebih antusias dalam beribadah. Islam juga mengajarkan agar setiap umatnya tidak sekedar beribadah, olahraga juga merupakan sunnah yang sangat berharga. Bahkan, diperkenankan untuk berolahraga dengan berbagai cara, seperti berlari, berenang, bersepeda, dan masih banyak lagi.

Selama cara dan tujuannya baik, insya Allah menjadi amal yang berpahala. Hadits juga menyebutkan, bahwa Rasulullah SAW bertanding lari dengan Aisyah. Para sahabat pun terbiasa dengan olahraga seperti memanah, berkuda, dan berenang. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga termasuk dalam sunnah dalam Islam.

Namun, terdapat etika yang perlu dijaga dalam berolahraga:

  1. Menjaga niat, bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga amanah tubuh dari Allah.
  2. Menjaga aurat serta etika yang baik saat berolahraga.
  3. Tidak berlebih hingga melalaikan aktivitas ibadah atau sampai merusak kesehatan.

Kita sering mendengar pepatah bijak: “Sehat itu mahal harganya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengingatkan: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: sehatmu sebelum sakitmu…” (HR. Hakim). Garis besarnya, bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat berharga.

Mari kita rawat nikmat kesehatan dengan izin Allah, kita bisa mengoptimalkan ibadah dan beramal shalih mengingat nikmat yang Allah berikan.

Sebagai penutup, mari kita berkomitmen untuk meningkatkan rutinitas olahraga, tidak cuma dijadikan aktivitas fisik harian semata, melainkan melakukannya dengan niat beribadah. Dengan kesehatan yang Allah berikan, insya Allah ibadah akan terasa lebih ringan, dakwah dikuatkan, dan akan banyak amal shalih yang dilakukan. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Penulis: Hadi Sutrisno (Tendik FIAI UII)

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai penerapan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana dakwah yang nyata. KKN bukan sekadar program akademik untuk memenuhi kewajiban kampus, melainkan momentum berharga bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa muslim, untuk menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat secara bijak, santun, dan penuh keteladanan.

Dakwah tidak selalu identik dengan ceramah di mimbar atau pengajian formal. Dakwah dapat dilakukan melalui perbuatan, sikap, dan kontribusi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat. Inilah yang disebut dakwah bil hal. Melalui KKN, mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk menerapkan dakwah bil hal dengan cara membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga pembinaan keagamaan.

Mahasiswa yang melaksanakan KKN sejatinya sedang belajar hidup bersama masyarakat dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Di sinilah nilai Islam seperti keikhlasan, kesabaran, amanah, dan kepedulian sosial diuji dan dipraktikkan. Ketika mahasiswa bersikap ramah, rendah hati, mau mendengar, dan bekerja bersama masyarakat tanpa merasa paling tahu, maka itulah dakwah yang mudah diterima dan menyentuh hati.

KKN juga menjadi sarana memperkenalkan dan menguatkan nilai-nilai keislaman di masyarakat, khususnya dalam lingkup pendidikan dan pembinaan generasi muda. Mahasiswa dapat mengadakan kegiatan mengaji, TPA, bimbingan belajar, kajian remaja, atau pendampingan anak-anak desa. Upaya sederhana seperti ini memiliki dampak besar dalam menanamkan kecintaan terhadap Islam dan ilmu sejak dini.

Selain itu, mahasiswa dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran sosial dan moral masyarakat. Program kebersihan lingkungan, kerja bakti, edukasi kesehatan, manajemen masjid, serta penguatan ekonomi berbasis kebersamaan juga merupakan bagian dari dakwah. Islam mengajarkan bahwa kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan adalah bagian dari iman. Dakwah melalui program-program tersebut akan terasa lebih relevan karena langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Namun, penting bagi mahasiswa untuk menjalankan dakwah KKN dengan pendekatan yang bijaksana. Perbedaan tradisi, kebiasaan, dan pemahaman keagamaan harus disikapi dengan sikap menghargai dan tidak menghakimi. Rasulullah SAW mengajarkan dakwah dengan hikmah dan kelembutan. Mahasiswa harus menjadi teladan yang baik, bukan pemaksa apalagi pembuat jarak dengan masyarakat.

Keberhasilan dakwah dalam KKN tidak diukur dari banyaknya program, tetapi dari sejauh mana kehadiran mahasiswa membawa perubahan positif dan meninggalkan kesan baik. Keteladanan akhlak, konsistensi ibadah, serta kepedulian sosial akan meninggalkan jejak nilai Islam yang mendalam, bahkan setelah masa KKN berakhir.

Membuat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis dakwah adalah peluang besar untuk mengabdikan ilmu sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam secara kontekstual. Dakwah di lokasi KKN tidak harus selalu berupa ceramah di mimbar; justru dakwah yang paling efektif adalah melalui perilaku (dakwah bil hal) dan pemberdayaan masyarakat.

Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk menyusun program KKN bertema dakwah:

Pertama, Tahap Observasi dan Pemetaan

Sebelum membuat program, Anda harus memahami kondisi religiusitas dan sosial di desa tersebut. Identifikasi Tokoh dengan mendekati takmir masjid, ketua pengajian, atau tokoh agama setempat. Mintalah masukan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan warga. Masalah Sosial adalah kurangnya guru mengaji, masjid yang sepi, atau banyaknya remaja yang kurang aktivitas positif?

Kedua, Menyusun Program Kerja Unggulan

Pecahlah program dakwah Anda ke dalam beberapa aspek agar lebih terstruktur:

Dakwah Pendidikan yakni dengan membantu mengajar mengaji dengan metode yang lebih menyenangkan (misal: menggunakan media visual atau games edukatif). Pelatihan Adzan & Khutbah dengan melatih anak-anak dan remaja agar berani tampil menjadi muadzin atau kultum singkat. Festival anak sholeh mengadakan perlombaan (lomba mewarnai kaligrafi, hafalan surat pendek, atau cerdas cermat agama) sebagai penutup program. Selain itu, dakwah pemberdayaan ekonomi sesuai dengan dalil sedekah yang kita bahas sebelumnya, Anda bisa membantu warga memahami manajemen keuangan syariah sederhana.  Sosialisasi Zakat Mal & Sedekah dengan memberikan edukasi tentang pentingnya berbagi meski dalam kondisi ekonomi terbatas. Pelatihan UMKM Halal yakni dengan membantu warga mengurus sertifikasi halal atau memperbaiki kemasan produk agar lebih berkah dan bernilai jual.

Ketiga, dakwah fisik dan lingkungan

Bakti Masjid dengan melakukan pembersihan masjid secara total, pengecatan ulang, atau memperbaiki sistem tata suara (sound system). Pojok Baca Islami dengan menyediakan rak buku kecil di pojok masjid berisi buku-buku agama yang ringan dan menarik.

Keempat, Pendekatan “Dakwah Bil Hal”

Ini adalah poin terpenting dalam KKN. Masyarakat tidak hanya melihat apa yang Anda katakan, tapi apa yang Anda lakukan. Menjadi Teladan shalat berjamaah tepat waktu di masjid desa adalah dakwah terkuat tanpa kata-kata. Ramah & Sopan menunjukkan akhlakul karimah kepada warga akan membuat mereka lebih terbuka menerima program-program Anda.

Kelima, Tips Agar Program Diterima Warga

Gunakan Bahasa Lokal, jika di Jawa, gunakan sedikit krama alus untuk menghormati orang tua. Ini adalah bentuk dakwah melalui adab. Jangan menggurui artinya posisikan diri sebagai mahasiswa yang sedang belajar dari kearifan lokal warga, bukan sebagai orang kota yang merasa paling tahu agama. Kolaborasi dengan libatkan Karang Taruna atau remaja masjid dalam setiap kegiatan agar program tersebut berlanjut meskipun KKN sudah usai.

KKN kesempatan untuk berdakwah, agar tim Anda semangat, ingatlah sabda Rasulullah SAW: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Kegiatan KKN Anda adalah sarana menyampaikan “ayat-ayat” Allah melalui pengabdian nyata kepada masyarakat.

Dukung palestina merdeka

Kisah Kematian Mulia
Mendengarkan sebuah kisah menyentuh hati tentang kesabaran yang disampaikan khotib saat khotbah Jumat di Kampus UII, menggambarkan seorang ayah yang meninggal dalam keadaan menjadi imam sholat di masjid. Meninggal dalam keadaan suci berwudhu, sedang memimpin jamaah menghadap Allah dalam sholatnya. Juga meninggal saat membaca ayat Al Quran. Kondisi ini menjadi impian banyak orang, meninggal dalam kondisi yang sedang menjadi imam sholat. Sungguh berbeda dengan kondisi menghadap Allah saat mabuk-mabukan minuman keras.

Suatu hari, ustadz yang menjadi khotib tersebut menemui istri dari almarhum untuk mempelajari amalan dan perilaku islami semasa hidup suaminya yang menjadikan kondisi sakratul mautnya dalam kondisi yang mulia. Setelah bertemu dengan keluarganya, Sang Ustadz mendapat kisah berfaedah, bahwa sepanjang hidup almarhum, tidak pernah marah. Bahkan ketika anaknya berbuat kesalahan fatal pun, tetap membimbing dan menasihati dengan sabar dan santun. Dalam segala kondisi, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang emosi marah keras pun, suaminya tetap sabar dan santun menghadapinya. Selain ibadah wajib  dikerjakan dengan baik, tidak mudah marah menjadikan senjata dalam hidup almarhum.

Kepergiannya menjadi impian banyak orang, kesabarannya menjadikan teladan bagi yang ditinggalkan. Menjadi pelajaran bagi kita semua yang masih memiliki kesempatan memperbaiki diri, sabar dan sholat memang menjadi penolong dalam hadapi segala kondisi hidup ini.

Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 153

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Terlepas dari apa yang disampaikan saat khotbah Jumat tersebut, hamparan ilmu tentang sabar juga begitu luas dijelaskan oleh para ulama, karena Rasulullah menjadikan diri sebagai teladan dalam kesabaran.

Sabar dan Sholat
Begitu jelas, Allah mengutamakan sabar, mendahulukan sabar sebelum sholat. Hal ini karena sabar itu lebih luas dan butuh kekuatan sosial daripada shalat. Dalam hal ini shalat adalah ibadah khusus bersifat personal, sedangkan sabar lebih luas cakupannya berkaitan dengan orang lain, atau makhluk lain termasuk menghadapi binatang, misal tetap bersabat saat ada kucing yang merusak atap genting rumah saat berkelahi.

Bahkan shalat itupun adalah bentuk dari sabar, karena shalat adalah bentuk ketaatan kepada Allah, bersabar atas ketentuan-Nya termasuk perintah. Para ulama menggambarkan sabar itu ada 3 macam:

Pertama, sabar dalam membangun ketaatan kepada Allah. Dalam kondisi keimanan yang kadang naik turun, harus tetap menjaga ketaatan.
Kedua, sabar dari maksiat yang dilarang Allah, yaitu seseorang menahan diri untuk tidak melakukan maksiat yang menjadi larangan bagi kaum Islam.
Ketiga, sabar terhadap takdir Allah, yaitu seseorang menahan diri dari sikap menentang takdir Allah, bersabar atas takdir buruk yang menimpanya namun juga sabar atas kemudahan yang diberikan Allah untuk tidak menjadikan itu sebuah kesombongan di antara pergaulan sesama manusia. Apapun itu, manusia harus menahan diri dari amarah terhadap qadha dan qadar yang digariskan Allah sebelum manusia terlahir.

Bersabar atas Kebaikan Diri

Bersabar tidak serta merta ketika menghadapi orang lain, namun bersabar juga dimaknai ketika kita merasa telah berbuat baik, sudah rajin beribadah, menghabiskan waktu untuk berdoa dan memuji Allah. Lalu apakah pada detik itu pula mendapatkan balasan kebaikan dari Allah? Belum tentu. Balasan atas perbuatan baik manusia bisa dibalas di dunia atau akhirat, atau mendapatkan balasan sekaligus dunia akhirat, namun tetap istiqomah, karena itupun bagian dari kesabaran. Balasan dari Allah, itu hak-Nya sepenuhnya tidak ada 1 orang pun bisa memastikan kapan balasan itu didapatkan. Tidak cukup ilmu manusia memahami ketentuan Allah yang maha luas, namun manusia bisa mengenggam sabar dengan keluasan hati.

Perintah Allah dalam kesabaran begitu jelas, diungkapkan dalam Surat Hud ayat 115

وَاصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”

Di era digital bersabar juga diartikan untuk menahan diri atas segala informasi yang beredar, untuk memastikan kebenaran dan sumber informasinya. Tidak merespon dengan kemarahan, tidak memposisikan langsung berdebat di media hanya untuk menanggapi informasi yang belum valid. Termasuk hadapi fitnah yang mungkin justru menjadi viral di media online.

Mengenggam sabar saat ada fitnah, ada hinaan dan hasutan di media online menjadi jalan selamat untuk meraih pahala. Bahkan ketika mendapat hinaan, mendapatkan fitnah, justru menjadikannya sumber pahala.

Seperti firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 10

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.

Untuk itu begitu pentingnya sabar di dunia ini, sehingga sebagai umat muslim perlu mencontoh Rasulullah dalam segala aspek terutama dalam bersabar. Semakin banyak ujian kesabaran, artinya semakin banyak peluang meraih pahala.
Banyak orang yang masih bangga atas kemampuan dalam menyerang orang dengan amarah, menghantam orang lain berdasar ketersinggungan, menghina orang lain sebagai balasan yang lebih menyakitkan. Itu semua bukan untuk dibanggakan, karena justru dapat menjadi penghalang jalan menuju surga.

Mungkin ada  orang yang bukan ahli sedekah, bukan ahli kitab, bukan ahli tahajud, namun bisa memilih jalan untuk meraih surga dengan tetap bersabar dan kuat dalam menahan amarah. Seperti sabda Rasulullah yang tercatat dalam Kitab Al Mu’jamul Ausath Nomor 2374. Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Artinya: “Jangan kamu marah, maka bagimu Surga (akan masuk Surga).” (HR Ath-Thabrani).

— Tulisan ini juga didesikan untuk kesabaran kaum muslim di Palestina —
Ditulis oleh Ipan Pranashakti – UII

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Swt, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw,
beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini, marilah kita renungkan sebuah tema penting dalam kehidupan kita sebagai umat Islam, yaitu “Cerdas Dunia, Cemerlang Akhirat.” Tema ini mengingatkan kita bahwa dalam Islam, kecerdasan tidak hanya diukur dari prestasi duniawi, tetapi juga dari kesiapan menghadapi kehidupan setelah mati.

1. Makna Kecerdasan dalam Islam
Seringkali kita memaknai kata “cerdas” hanya sebatas nilai akademik, prestasi di sekolah, gelar pendidikan, atau kecakapan bekerja. Tapi Islam memberikan makna yang jauh lebih luas. Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”(HR. Tirmidzi).

Hadis ini menjelaskan bahwa cerdas sejati adalah orang yang hidupnya penuh perhitungan untuk akhirat, bukan hanya sibuk mengejar dunia, tapi lalai terhadap hisab.

2. Menggabungkan Ilmu Dunia dan Ilmu Akhirat
Islam tidak pernah menolak ilmu dunia. Justru, kita diajarkan untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Al-Qur’an mengangkat derajat orang-orang yang berilmu: انْشُزُوْا قِيْ لَ واِذ ا ل كُ مَْ اللَُّٰ يفْ سحَِ ف افْ سحُوْا الْ مجٰلِسَِ فِى ت ف سَّحُوْا ل كُمَْ قِيْ لَ اِذ ا اٰ منُوْْٓا الَّذِيْ نَ يْٰٓا يُّ ها
١َ ۝١ خبِيْ رَ ت عْ ملُوْ نَ بِ ما واللَُّٰ د رجٰ تَ الْعِلْ مَ اُوْتُوا والَّذِيْ نَ مِنْكُ مَْ اٰ منُوْا الَّذِيْ نَ اللَُّٰ يرْف عَِ ف انْشُزُوْا
Wahai orang-orangَ yangَ beriman,َ apabilaَ dikatakanَ kepadamuَ “Berilahَ
kelapangan di dalam majelis-majelis,”َ lapangkanlah,َ niscaya Allah akan memberi
kelapanganَ untukmu.َ Apabilaَ dikatakan,َ “Berdirilah,”َ (kamu)َ berdirilah.َ Allahَ
niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS.Al-Mujadilah :11).
Namun, ilmu dunia harus membawa manfaat untuk akhirat. Seorang dokter yang
menyelamatkan nyawa dengan niat ibadah, akan mendapatkan pahala. Seorang guru yang mengajarkan kebaikan, seorang petani yang bekerja dengan jujur — semua itu bisa menjadi jalan menuju surga, bila diniatkan karena Allah.
Kecerdasan dunia adalah modal untuk menjalani kehidupan ini dengan bijak, efisien, dan produktif. Sementara itu, kecemerlangan akhirat adalah tujuan akhir yang sejati, yang harus selalu kita siapkan dari sekarang.

3.Bahaya Kecerdasan Tanpa Iman
Kita juga melihat di dunia ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tapi justru menyesatkan dirinya sendiri. Ilmu tanpa iman bisa membuat seseorang menjadi sombong, merusak, bahkan menghancurkan masyarakat.
Fir’aun adalah contoh orang yang cerdas, berkuasa, dan penuh strategi. Tapi karena tidak disertai iman, kecerdasannya membawanya kepada kesombongan dan kehancuran.
Cerdas sejati adalah yang menyadari bahwa ilmu harus tunduk pada kebenaran ilahi.

4.Menjadi Muslim Cerdas dan Berakhlak
Kita sebagai umat Islam dituntut untuk menjadi cerdas di dunia, agar bisa memberi manfaat bagi oranglain. tetapi juga harus cemerlang di akhirat, dengan terus menjaga iman, ibadah, dan akhlak mulia.
Ada beberapa cara agar kita bisa meraih kecerdasan dunia dan kecemerlangan akhirat secara bersamaan:

  • Niatkan setiap aktivitas untuk ibadah. Belajar, bekerja, menolong orang lain —
    semua bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.
  • Tingkatkan ilmu agama dan ilmu dunia. Jangan hanya sibuk pada satu sisi. Keseimbangan adalah kunci sukses seorang Muslim sejati.
  • Amalkan ilmu. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Semakin banyak kita tahu, semakin besar tanggung jawab kita.
  • Jaga akhlak. Sebab Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kecerdasan sejati adalah yang membuahkan kebaikan, bukan kejahatan.

 

Dunia adalah Ladang, Akhirat adalah Tujuan
Kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Dunia adalah tempat menanam, akhirat adalah tempat memanen. Maka jangan kita tertipu oleh gemerlap dunia, tapi lalai mempersiapkan bekal untuk akhirat. Jadilah pribadi yang cerdas dalam dunia, tangguh menghadapi tantangan hidup, bermanfaat bagi sesama, namun tidak lupa bahwa tujuan utama kita adalah cemerlang di akhirat, masuk surga Allah bersama orang-orang saleh.Mari kita jaga keseimbangan ini, dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, dan akhir hidup yang husnul khatimah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Solihin (Tendik FIAI UII)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Salawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan ceramah tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, khususnya ibu.
Ibu adalah sosok yang tak tergantikan dalam kehidupan. Pengorbanannya mulai dari mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak penuh cinta adalah bentuk kasih sayang tanpa syarat. Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan disebutkan secara khusus dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Hadirin yang berbahagia, berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an ;

  1.  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu” (QS. Al-Isra: 23). Setelah perintah untuk menyembah Allah Swt, ayat ini menunjukkan pentingnya berbuat baik kepada orang tua, terutama ibu, sebagai perintah utama dalam kehidupan seorang Muslim.
  2.  “Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama di rumahmu, di rumah bapak-bapakmu, atau di rumah ibu-ibumu” QS. An-Nur: 61 Ayat ini menunjukkan keistimewaan rumah ibu sebagai tempat penuh berkah, simbol cinta, dan kasih sayang. Rumah ibu adalah tempat yang selalu terbuka untuk anak-anaknya.
  3. “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” QS. Al-Baqarah: 233 Ayat ini menegaskan peran ibu dalam memberikan ASI eksklusif selama dua tahun. Selain sebagai hak anak, menyusui juga merupakan kewajiban yang dihormati dalam Islam.
  4.  “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” (QS. Maryam: 32). Ayat ini adalah pernyataan Nabi Isa a.s. tentang pentingnya berbakti kepada ibunya, Maryam. Ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun menaruh rasa hormat kepada ibu sebagai salah satu kewajiban utama.
  5.  “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan melahirkannya dalam keadaan lemah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS. Al Ahqaf: 15). Ayat ini menggaris bawahi kesulitan yang dialami ibu selama kehamilan hingga
    menyusui. Allah Swt memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua sebagai balas budi atas segala pengorbanan mereka.
  6.  “Dan Kami memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu” (QS. Luqman: 14). Ayat ini menegaskan betapa besarnya hak ibu atas kita. Selama sembilan bulan, ia mengandung kita dengan penuh kesakitan dan pengorbanan. Setelah itu, ia menyusui dan merawat kita hingga kita tumbuh dewasa. Oleh karena itu, berbakti kepada ibu bukan hanya sekadar kewajiban, melaikan juga merupakan bentuk syukur kita kepada Allah Swt.

 

Rasulullah saw. juga bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ayahmu.”
Dari hadis ini, kita bisa memahami bahwa kedudukan ibu sangatlah tinggi. Dalam tiga kali kesempatan, Rasulullah menekankan pentingnya berbakti kepada ibu sebelum ayah. Ini menunjukkan betapa besar cinta dan penghormatan yang seharusnya kita berikan kepada ibu.
Berbakti kepada ibu bisa kita lakukan dengan berbagai cara. Pertama, kita harus selalu menghormati dan menghargai ibu kita. Kedua, kita harus mendengarkan nasihat dan permintaannya.
Ketiga, kita harus membantu ibu dalam segala hal yang bisa kita lakukan. Dan yang tidak kalah penting, kita harus mendoakan ibu kita, baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang ke rahmatullah.

Apakah Anda sudah menunjukkan cinta kepada ibu hari ini ? Jadikan momen ini sebagai pengingat untuk selalu berbakti kepada ibu.
Orang tua adalah sosok yang harus kita hormati dan sayangi. Mereka telah merawat dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Mari kita selalu berusaha untuk berbakti kepada mereka, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, dan selalu mendoakan mereka.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ali Murtono (Tendik FIAI UII)

Ketika sebagian orang berfikir bersyukur adalah ucapan, selayaknya “Alhamdulillah”, maka ada sisi lain yang lebih  tepat  dan begitu luas dalam memahami syukur. Dalam Islam, makna bersyukur adalah pengakuan hati, lisan, dan sikap perbuatan yang tertuju kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang diberikan, baik yang tampak maupun tidak tampak. Begitu luasnya nikmat, seperti halnya kesehatan, harta, iman, dan ketenangan jiwa maka syukur tidak hanya terbatas pada saat senang, tetapi juga ketika menghadapi ujian atau kesulitan, dan dilakukan dengan menggunakan niat ikhlas karena semua sudah menjadi rencana Allah. Dalam hal kebaikan, bersyukur sebagai bentuk untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Sejatinya, bersyukur adalah kebiasaan baik bagi manusia, seperti yang diperintahkan  Allah dalam firmannya;

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Tidak mungkin manusia akan mampu menghitung nikmat yang diberikan Allah, namun setiap hamba hendaknya bersyukur dan memuji Allah setiap saat, dalam kehidupan ini.

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312).

Dalam memahami indahnya bersyukur, perlu dipahami ada 3 bentuk syukur. Pertama, syukur hati yaitu merasakan kepuasan dan ketenangan batin atas setiap anugerah yang diterima dari Allah. Kedua, syukur lisan yakni mengakui nikmat tersebut dan memuji Allah dengan lisan. Ketiga, syukur Perbuatan yaitu menggunakan nikmat dan karunia yang didapatkan untuk hal-hal yang baik sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Allah janjikan banyak manfaat bagi manusia yang bersyukur, antara lain:
Bersyukur akan menambah nikmat, bahkan Allah menjanjikan akan menambah nikmat-Nya bagi hamba yang bersyukur. Bahkan bersyukur adalah jalan untuk meningkatkan kemudahan menghadapi tantangan masa depan, karena bersyukur laksana menabung keyakinan baik kepada Allah yang bisa dituai suatu saat nanti.

Bersyukur akan Meningkatkan Kebahagiaan
Orang yang bersyukur cenderung lebih puas dan bahagia dengan apa yang dimilikinya.  Tidak menjadikan rakus, tidak serakah karena merasa apa yang ada sudah menjadi bagian dari anugerah Allah.

Meningkatkan Kesehatan Mental dan Fisik
Bersyukur dapat mengurangi stres, kecemasan, dan meningkatkan kualitas tidur serta imunitas tubuh.  Banyak orang stres karena menginginkan banyak hal, termasuk meraih harta yang belum dimiliki, sedangkan yang sudah dimiliki tidak disyukuri. Dengan bersyukur, senantiasa hidup adalah karunia Allah bukan memburu apa yang belum dicapai.

Meningkatkan Ketahanan dalam Menghadapi Tantangan
Sikap bersyukur membantu individu untuk lebih tangguh dalam menghadapi kesulitan dan ujian hidup.  Bahkan ketika ada musibah, yakin bahwa akan ada nikmat dan solusi besertanya. Dengan syukur, menjadikan diri tidak benci kepada Allah atas hal-hal yang tidak sesuai keinginannya.

Memperkuat Hubungan Sosial
Rasa terima kasih dan apresiasi yang tulus dapat membangun hubungan yang harmonis dan mempererat ikatan dengan sesama. Setiap pemberikan orang lain, setiap nikmat atas kebersamaan orang lain disyukuri, sehingga dijauhkan dari menuntut orang lain setinggi keinginannya,

Menjauhkan dari Sifat Kufur
Dengan bersyukur, seseorang menunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan menghindari perilaku ingkar terhadap nikmat-Nya. Bahwa semua yang ada dirasakan di dunia itu datangnya hanya dari Allah, bukan karena kepandaian, usaha manusia, namun ada peran Allah secara menyeluruh,

Kesejahteraan bukan hanya tentang tercapainya kebutuhan jasmani, tetapi juga terpenuhinya kebutuhan rohani. Orang yang bersyukur cenderung merasa lebih sejahtera karena mereka mampu menerima keadaan hidup mereka dengan ikhlas. Sebaliknya, orang yang kurang bersyukur sering kali bergantung pada bantuan eksternal untuk merasa bahagia, yang menunjukkan bahwa kesejahteraan mereka tergantung pada faktor-faktor luar.

Bersyukur membantu kita memahami bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam, bukan dari apa yang kita miliki atau harapkan dari orang lain. Dengan demikian, syukur membawa kita menuju kesejahteraan sejati, di mana kita tidak hanya merasa cukup, tetapi juga mampu memberikan kepada orang lain.

Dengan bersyukur, insya Allah menjalin masa depan dengan keyakinan dan prasangka baik kepada Allah.  Senantiasa dibersamai Allah dalam menjalankan kehidupan masa depan, karena Allah selalu mengingat kita. Dengan diingat selalu oleh Allah artinya apapun kondisinya, kita ada tempat bergantung yang maha kuat.  Seperti firman  Allah dalam Al Baqarah ayat 152.

فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ (١٥٢ )

Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” 

Semoga Allah selalu membersamai kita dalam segala kebaikan di masa mendatang, karena karunia-Nya akan menjadikan setiap manusia kuat, hebat dan siap menghadapi dunia dengan segala kondisinya.

Penulis: Joko Wahyudi (Tendik FIAI UII)

 

Terkadang, Allah Swt menghadirkan tantangan dalam hidup bukan karena marah, melainkan sebagai upaya untuk mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh kemudahan. Banyak orang justru menunjukkan ketahanan saat menghadapi kesulitan—seperti sakit, kemiskinan, atau masalah lainnya—karena dalam kondisi tersebut, mereka lebih cepat untuk berserah kepada Allah. Ujian yang berupa kesempitan sering kali membuat batin menjadi lembut dan menyadari kesalahan, sehingga mendorong seseorang untuk berbenah diri dan kembali ke jalan yang baik.
Namun, tidak semua individu menyadari bahwa kelapangan hidup juga merupakan ujian. Ketika seseorang diberikan kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam ujian. Di waktu yang lapang, seringkali orang menjadi lengah dan merasa tidak sedang menghadapi tantangan. Padahal, Rasulullah SAW sudah mengingatkan bahwa dua anugerah yang sering kali membuat manusia tertipu adalah kesehatan dan waktu luang.
Seorang ulama terkenal dalam kitab Al-Hikam menyatakan bahwa Allah memberikan kelapangan agar manusia tidak terus-menerus dalam kesempitan, dan sebaliknya, memberi kesempitan agar manusia tidak terbuai dalam kelapangan. Terkadang, Allah juga mengeluarkan manusia dari kedua keadaan tersebut agar mereka tidak tergantung hidup pada kenikmatan duniawi, melainkan hanya kepada Allah semata.

بَسَطكََ كَ ىَ لاَيُ بقِيَكََ مَعََ ا لقَ بضَِ وَقَبَضَكََ كَ ىَ لآ يَت رَُ کَكََ مَعََ ا لبَ سطَِ
وَاَ خرَجَكََ عَ نهُمَاکَ يَ لاََ تَکُ ونََ لِثَ يءَِ .
“Allah memberi kamu kelapangan agar kamu tidak selalu dalam kesempitan (qobdh). Allah memberi kesempitan kepadamu, agar kamu tidak hanyut di waktu lapang (basth). Allah melepaskan kamu dari dua-duanya, agar kamu tidak menggantungkan diri, kecuali kepada Allah belaka” (Al-Hikam Pasal 90).

Perubahan Keadaan sebagai Tanda Kekuasaan Allah
Dengan kuasa-Nya, Allah dapat mengubah keadaan manusia. Seseorang yang hari ini sehat mungkin besok akan sakit, yang miskin bisa saja menjadi kaya, yang bersedih bisa menemukan kebahagiaan, dan demikian seterusnya. Semua ini adalah bagian dari sunnatullah agar manusia menyadari bahwa hidup ini tidak dikuasai sepenuhnya oleh dirinya sendiri, tetapi sepenuhnya berada dalam kehendak Allah Swt.
“Siapa yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap hari Dia menangani urusan” (QS. Ar-Rahman: 29).
Dalam menghadapi perubahan ini, seorang hamba seharusnya memiliki dua sikap pokok: khauf (takut tidak diterima amal ibadah) dan raja’ (harap agar amal tersebut diterima). Kedua sikap ini perlu tertanam dalam jiwa. Seorang yang beriman akan terus berusaha memperbaiki ibadahnya karena khawatir amalnya sia-sia, tetapi tetap memiliki harapan besar bahwa Allah menerima amal baiknya.

Kunci Kelapangan Hati: Kembali kepada Allah Tanpa Syarat
Dalam karyanya Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim menuliskan bahwa ketenangan hati hanya dapat dicapai dengan sepenuh hati kembali kepada Allah. Ini berarti tidak ada alasan untuk menunda atau menolak, melainkan sepenuhnya berserah dan mencintai-Nya. Ketika hati telah dipenuhi dengan cinta kepada Allah, hidup akan terasa lebih tenang dan damai. Seseorang yang mencintai Allah akan merasakan kebahagiaan saat beribadah dan akan selalu merindukan kedekatan dengan-Nya.
Cinta sejati kepada Allah Swt menjadikan seseorang tangguh dalam menghadapi ujian hidup, baik dalam kondisi sempit maupun lapang. Hatinya akan selalu merasa tenteram karena yakin bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah, dan tidak ada kekuatan lain yang mampu mengubah takdir kecuali izin-Nya.

Allah yang Mengatur Segala Urusan Setiap Hari
Setiap detik, Allah Swt senantiasa mengatur semua hal yang berkaitan dengan makhluk-Nya. Dalam QS. Ar-Rahman: 29 dinyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi selalu bergantung kepada-Nya. Setiap saat, Allah mengurus berbagai hal yang dihadapi makhluk-Nya berdasarkan ketentuan-Nya yang tidak dapat ditolak. Semua perubahan dalam kehidupan, baik yang kita inginkan maupun yang tidak, berasal dari keputusan Allah.
Pemahaman ini akan mendorong manusia untuk tidak merasa sombong dengan karunia yang diterima, dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan ketika mengalami kehilangan. Dalam QS. Al-Hadid: 23 dijelaskan agar kita tidak berduka secara berlebihan atas hal-hal yang tidak kita miliki, serta tidak berbangga atas apa yang telah dianugerahkan. Allah membenci orang yang sombong dan bangga diri.
“(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadid: 23).

Istiqamah di Segala Keadaan
Semoga kita semua diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah Swt untuk tetap istiqamah dalam melaksanakan perintah-Nya, baik di saat suka maupun duka. Karena pada dasarnya, ujian dari Allah muncul dalam berbagai bentuk dan waktu. Orang yang bijak adalah mereka yang menghadapi setiap situasi dengan iman, kesabaran, dan tawakal kepada-Nya.

Penulis: Heru Sujanto (Tendik FIAI UII)

FIAi UII

Kesempurnaan Iman dalam Islam Kita tentu ingin memiliki keimanan yang sempurna. Terdapat beberapa faktor yang
wajib dimiliki setiap umat Islam agar iman kita sempurna. Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Tiga perkara, barang siapa hal itu ada pada dirinya, berarti ia menyempurnakan imannya: (1) seseorang yang tidak pernah takut demi agama Allah pada kecaman si pengecam (2) tidak riya dengan sesuatu dari amalnya, (3) apabila dua perkara dihadapkan kepadanya, salah satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat, maka ia memilih urusan akhirat daripada urusan dunia. (HR lbnu Asaklr dari Abu Hurairah r.a.) Tiga faktor yang wajib dimiliki agar iman kita betul-betul sempurna a dalah sebagai berikut:1. IkhlasDalam Islam ikhlas memiliki arti memurnikan niat hanya karena Allah dalam setiap amal atau perbuatan. Artinya seseorang melakukan sesuatu bukan karena ingin dipuji, dipandang orang lain atau mendapatkan keuntungan duniawi, tetapi semata-mata karena mencari ridha Allah. Secara bahasa ikhlas berasal dari kata “khalasa” yang memiliki arti murni, bersih, atau terbebas dari campuran. Secara istilah, para ulama mendefinisikan ikhlas sebagai: “Menjadikan segala amal ibadah hanya untuk Allah semata, tidak dicampuri oleh tujuan-tujuan lain seperti riya (pamer), sum’ah (ingin didengar), atau tujuan duniawi”. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ciri-Ciri Orang yang Ikhlas:
1. Tidak mengharapkan pujian atau sanjungan manusia.
2.Tidak kecewa ketika tidak dihargai.
3.Konsisten beramal meski tidak ada yang melihat.
4.Hanya mengharap balasan dari Allah.Ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah. Tanpa ikhlas, amal bisa menjadi sia-sia, bahkan bisa menjadi dosa jika niatnya riya. Keikhlasan menjadi salah satu kunci pokok dalam beramal, karenanya agama Islam sangat mencela perbuatan riya. Rasulullah sawcemas terhadap hal sebagaimana dinyatakan dalam satu hadis. “Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu adalah syirik yang paling kecil.

Sahabat bertanya, apakah syirik yang paling kecil itu? Rasul menjawab riya.”‘ (HR Ahmad) Apabila keikhlasan itu sudah kita miliki setan pun menyadari betapa sulitnya untuk menyesatkan dalam firman-Nya, Allah Swtmenceritakan orang orang yang ikhlas. “Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba hamba Mu yang terpilih di antara mereka.” (al-Hijr: 39-40)

Penulis: Bambang Kintoko, S.Kom (Tendik FIAI UII)

Pernahkah kita merasa hidup begitu sesak? Urusan pekerjaan tak kunjung usai, masalah keluarga datang silih berganti, dan hati rasanya jarang sekali tenang. Jika itu yang Anda rasakan, cobalah berhenti sejenak dan periksa kembali “janji” Anda dengan Sang Pencipta. Bagaimana kondisi shalat kita? Apakah kita sering menundanya hingga akhir waktu? Atau justru kita sering melewatkan panggilan adzan demi mengejar dunia yang tak ada habisnya?

Shalat adalah tiang agama. Namun, shalat tepat waktu secara berjamaah (khususnya bagi laki-laki di masjid) adalah level kedisiplinan tingkat tinggi yang menunjukkan sejauh mana kita menghargai Allah di atas segala-galanya.

Pentingnya Shalat Tepat Waktu bagaikan Adab Menghadap Raja Segala Raja. Ketika seorang atasan atau klien penting memanggil, kita cenderung datang 15 menit lebih awal. Namun, saat Allah—Dzat yang menggenggam nyawa kita—memanggil melalui muadzin, mengapa kita seringkali “nanti dulu”?

Shalat tepat waktu adalah bentuk penghormatan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya. Dengan mendahulukan Allah, kita sebenarnya sedang mengatur ulang prioritas hidup kita. Saat kita memperbaiki waktu shalat, Allah akan memperbaiki sisa waktu dalam hidup kita.

Sholat berjamaah sebagai kekuatan dalam persatuan. Shalat berjamaah bukan sekadar mengejar pahala 27 derajat. Di sana ada pelajaran tentang kerendahan hati. Di dalam shaf shalat, tidak ada perbedaan antara direktur dan kuli bangunan, antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sejajar, rukuk dan sujud pada komando yang sama.

Berjamaah juga merupakan sarana penggugur dosa. Setiap langkah kaki menuju masjid adalah pengangkatan derajat dan penghapusan kesalahan. Inilah mengapa para sahabat nabi dahulu tetap berusaha ke masjid meski dalam kondisi sulit, karena mereka tahu bahwa keberkahan hidup dimulai dari rumah Allah.

Perlunya mahassiswa menyeimbangkan ibadah ritual dengan ibadah sosial. Keimanan seseorang tidak hanya diukur dari sujudnya di atas sajadah, tetapi juga dari kepeduliannya kepada sesama. Shalat yang benar seharusnya melahirkan jiwa yang dermawan. Seringkali, saat kita rajin shalat, Allah akan mengetuk hati kita untuk berbagi melalui sedekah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong adalah bagian dari ibadah yang bernilai pahala jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Di lingkungan kampus, bentuk pertolongan dapat berupa membantu teman yang kesulitan memahami materi kuliah, menggalang dana bagi mahasiswa yang mengalami musibah, memberikan dukungan moril bagi mereka yang sedang terpuruk, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.

Menolong sesama mahasiswa juga dapat memperkuat rasa persatuan dan mengikis sikap individualisme. Ketika mahasiswa saling peduli, tercipta lingkungan kampus yang harmonis dan penuh keberkahan. Ukhuwah yang terbangun akan melahirkan rasa aman, nyaman, dan saling percaya. Hal ini penting karena mahasiswa tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, nilai, dan karakter.

Lebih dari itu, menolong sesama dalam bingkai iman akan melatih kepekaan hati dan menumbuhkan akhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Mahasiswa yang terbiasa membantu akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, peduli, dan bertanggung jawab sosial. Inilah bekal penting untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas.

Namun, penting untuk diingat bahwa pertolongan harus dilakukan dengan niat yang lurus, bukan untuk mencari popularitas atau pujian. Keikhlasan adalah kunci agar amal yang dilakukan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Selain itu, menolong juga harus dilandasi sikap menghargai dan tidak merendahkan pihak yang ditolong.

Perlu dipahami, korelasi shalat dan sedekah  kunci keberkahan. Dalam Al-Qur’an, perintah “Dirikanlah shalat” hampir selalu diikuti dengan “Tunaikanlah zakat/sedekah”. Ini adalah sinyal bahwa kesalehan pribadi (shalat tepat waktu) harus berdampak pada kesalehan sosial (sedekah).

Orang yang rajin shalat berjamaah di masjid akan lebih peka terhadap kondisi tetangganya. Ia akan melihat siapa yang butuh bantuan, siapa yang tidak mampu, dan di situlah ia mempraktikkan dalil-dalil sedekah di atas. Shalat melatih disiplin dan kejujuran, sementara sedekah melatih kedermawanan dan rasa syukur.

Mungkin  saja hari ini urusanmu terasa sulit, barangkali itu adalah kode dari Allah agar kau kembali ke masjid. Jika rezekimu terasa seret, barangkali ada hak orang lain dalam hartamu yang belum tersalurkan. Mulailah langkah baru hari ini. Ketika adzan berkumandang, tinggalkan semua urusan. Langkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah tepat waktu. Setelah itu, carilah seseorang yang membutuhkan, lalu bersedekahlah meski hanya sedikit. Perpaduan antara shalat yang terjaga dan sedekah yang istiqomah adalah resep paling ampuh untuk mengundang kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu rindu pada seruan adzan dan ringan tangan dalam berbagi kepada sesama.