Kurikulum adalah komponen penting dalam dunia pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi (PT). Seiring dengan berjalannya waktu, kurikulum terus mengalami perubahan dan perkembangan. Belakangan ini yang cukup sering dibicarakan adalah tentang kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Merespon hal tersebut, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Workshop Evaluasi Kurikulum Berbasis KKNI. Hadir sebagai narasumber, Dr. Suyadi, M.Pd.I., pakar KKNI dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Sebelumnya, Suyadi bersama Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., telah menulis buku yang berjudul Desain Kurikulum Perguruan Tinggi: Mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Menurutnya, KKNI sebenarnya merupakan sebuah keharusan. Apalagi dihadapkan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Istilah lain dari KKNI adalah Indonesian Qualification Frmanework (IQF).
Diterangkan Suyadi bahwa KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikann dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan.
Pada awalnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menolak KKNI. Namun pada akhirnya mau tidak mau harus menerima model kurikulum tersebut. Bahkan ada ultimatum bila sampai semester genap tahun ajaran 2017-2018 belum diterapkan maka program studi (prodi)nya akan ditutup.
Suyadi menambahkan bahwa dengan diterapkannya KKNI maka memungkinkan adanya ahli yang tidak memiliki gelar akademik untuk mengajar di kampus. Tentunya setelah adalah proses seleksi dan ujian yang tidak sederhana. Selanjutnya, kedepannya perguruan tinggi juga harus mengeluarkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
Dalam konteks kurikulum KKNI, prodi harus memiliki sistem penjaminan mutu internal. Selebihnya, akreditasi sebuah program studi nantinya tidak hanya oleh Badan Nasional Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT) tetapi juga oleh lembaga akreditasi internasional.
Setelah workshop tersebut semua prodi di FIAI mengirimkan draft kurikulum KKNI untuk di-review oleh Suyadi. Setelah itu dikembalikan lagi ke masing-masing prodi untuk disempurnakan. Betatapun demikian dalam prosesnya nanti tetap membutuhkan pendampingan lagi dari tim ahli untuk sampai disahkan.
Dalam workshop tersebut juga dipaparkan oleh Wakil Dekan FIAI Dra. Sri Haningsih, M.Ag., tentang Kurikulum Ulil Albab. Kurikulum tersebut sebenarnya juga mengacu kepada atau irisan dari KKNI namun sudah diselaraskan dengan keunikan dan kondisi spesifik UII. Meskipun belum final namun perlu untuk diketahui oleh tim kurikulum masing-masing prodi. (Samsul Zakaria/FIAI)

Kunjungan dilakukan pada Selasa, 20 Dzulqa’dah 1437 H/23 Agustus 2016. Bertindak selaku ketua delegasi, Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA. Dekan didampingi Ketua PSHI Prof. Dr. Amir Mu’allim, MIS dan Sekretaris PSHI sekaligus Ketua Pusat Dakwah dan Pengabdian Masyarakat (PDPM) FIAI Drs. Syarif Zubaidah, M.Ag.
Secara spesifik Rakorja tersebut bertujuan untuk memaparkan rancangan program pengembangan Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2017. Setelah itu, para dosen memberikan masukan dan kritikan untuk penyempurnaan terhadap program yang diusulkan. Rakorja dihadiri oleh seluruh Dosen Tetap Reguler dan Pejabat Struktural di lingkungan FIAI.
SG dengan tema “Arriving at One Goal is teh Starting Point to Another (John Dewey)” tersebut menghadirkan narasumber seorang alumnus PSPAI, Ahmad Syafi’i, S.Ag. Dia mengawali paparannya dengan memutarkan video dengan judul “Hidup adalah Pilihan”. Dari video tersebut, Syafi’i mengajak mahasiswa untuk mengambil pelajaran.
Hadir sebagai narasumber, Imam Mustofa, SHI., MSI. Alumnus PSHI tersebut saat ini menjadi Dosen Tetap Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurai Siwo, Metro, Lampung. Di awal paparannya dia menyampaikan bahwa dia merasa terhormat diberi undangan untuk mengisi SG. “Tidak ada mantan murid. Orang tua saya yang telah ‘menurunkan’ saya ke bumi. Guru-guru (dosen-dosen) saya yang akan ‘mengembalikan’ saya ke langit,” tuturnya kepada dosen dan mahasiswa yang hadir.
Hadir sebagai narasumber, Imam Mustofa, SHI., MSI. Alumnus PSHI tersebut saat ini menjadi Dosen Tetap Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurai Siwo, Metro, Lampung. Di awal paparannya dia menyampaikan bahwa dia merasa terhormat diberi undangan untuk mengisi SG. “Tidak ada mantan murid. Orang tua saya yang telah ‘menurunkan’ saya ke bumi. Guru-guru (dosen-dosen) saya yang akan ‘mengembalikan’ saya ke langit,” tuturnya kepada dosen dan mahasiswa yang hadir.
Sebelumnya, di Ruang Sidang FIAI, Sabtu, 25 Syawwal 1437 H/30 Juli 2016, Wakil Rektor I UII Dr. Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI., melepas secara resmi keberangkatan mahasiswa. Sebanyak 4 (empat) mahasiswa melaksanakan PPL di Brainybunch International Islamic Montessori, Selangor, Malaysia. Mereka terdiri dari Andri Setiawan, Fatihatul Muthmainah, Ulufi Khasanah, dan Nisa Havidza.
Rabu, 21 Dzulqa’dah 1437 H/24 Agustus 2016, PSEI mengadakan Studium Generale (SG) sebagai kuliah pembuka di Gedung Kuliah Umum (GKU) Dr. Sardjito Kampus Terpadu UII. Panitia mendatangkan Eri Sudewo, salah satu pendiri Dompet Dhu’afa Republika sebagai narasumber SG. Dompet Dhu’afa adalah lembaga penghimpun Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf (Ziswaf).
Demikian sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Yusdani, M.Ag., Dosen Tetap Program Studi Hukum Islam (PSHI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII dalam disertasinya yang berjudul Respons Pemikiran Islam terhadap Perubahan Relasi Rakyat dan Negara di Indonesia Era Reformasi. Disertasi tersebut telah diujikan dalam Promosi Doktor dan Ujian Terbuka di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin, 12 Dzulqa’dah 1437 H/15 Agustus 2016. Yusdani berhasil lulus dan dikukuhkan sebagai doktor dalam bidang Studi Islam dengan predikat “sangat memuaskan”.
ntuk PSHI, tahun ini adalah kali ketiga (batch 3) mendapat hibah tahunan tersebut. Batch pertama diraih tahun 2013 dan batch kedua didapatkan tahun 2015 yang lalu. Dengan demikian PSHI termasuk salah satu prodi di UII yang berhasil mendapatkan PHK-PS sampai tahap terakhir. Dengan berakhirnya batch 3 akhir tahun ini diharapkan PSHI sudah semakin siap untuk meraih akreditasi internasional.