Era digital memberikan perubahan besar terhadap kehidupan manusia dalam hal berinteraksi, berkomunikasi, mencari informasi dan juga belajar. Berkembangnya teknologi yang semakin pesat tentu memberikan dampak positif, namun juga berpotensi menjadi negatif apabila tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Pesatnya kemajuan teknologi memberikan tantangan besar terhadap kemunduran nilai-nilai moral, khususnya generasi muda yang sebagian besar merupakan pengguna media sosial.Pada awal tahun 2025, pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta atau setara 79,5 persen dari total penduduk Indonesia. Survei dari National Center on Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia menempati peringkat empat secara global dan kedua pada ASEAN dalam kasus pornografi anak di ruang digital. Data tersebut sangat memprihatinkan dan perlu mendapat respons yang serius dari pemerintah dan orang tua anak.
Tantangan Krisis Moral pada Era Digital
Berikut beberapa tantangan krisis moral yang dapat terjadi akibat pesatnya kemajuan teknologi apabila tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya:
Satu, Terpapar Konten Negatif
Mudahnya dalam mengakses berbagai media dan sumber pada internet, dapat berpotensi terpapar konten negatif yang seharusnya belum dapat dikonsumsi pada usianya. Tanpa adanya pengawasan dan filter, risiko terpapar konten pornografi, hoaks, kriminalitas dan ujaran kebencian akan semakin tinggi, sehingga dapat merusak karakter, menurunkan nilai moral, serta memicu perilaku menyimpang.
Dua, Cyberbullyiing atau Perundungan Dunia Maya
Pengguna aktif media sosial berpotensi mengalami cyberbullying apabila tidak membatasi dalam membagikan informasi pribadinya atau memposting konten yang menimbulkan kontroversi yang dapat menimbulkan reaksi komentar kasar atau penghinaan oleh individu atau suatu kelompok.
Tiga, Lunturnya Norma Sosial
Lunturnya norma sosial pada era digital, terjadi ketika batas-batas etika dan sopan santun semakin diabaikan ketika menggunakan media sosial yang tanpa batas. Konten-konten pornografi, ujaran kebencian, hoaks, hedonistik berpotensi menyebabkan pergeseran dan lunturnya norma agama, kesopanan dan norma hukum dalam masyarkat.
Empat, Mudah Terpengaruh Tren dan Hedonisme
Mudahnya terpengaruh gaya hidup hedonisme dan tren yang sedang viral di media sosial membuat banyak orang rela menghabiskan waktu dan uangnya untuk mengikuti pola hidup materialistik dan konsumtif demi mendapatkan pengakuan sosial di masyarakat.
Solusi Mengatasi Terjadinya Krisis Moral pada Era Digital
Menghadapi berbagai tantangan krisis moral pada era digital tersebut, berikut beberapa solusi dalam mengatasi terjadinya krisis moral pada era digital:
Satu, Pendidikan Moral Sejak Dini
Pendidikan moral sejak dini sangat penting dalam membentuk karakter individu yang mempunyai etika, empati dan bertanggung jawab. Orang tua merupakan pendidik pertama yang berperan dalam memberikan teladan bagi anak-anaknya sejak dini. Selain itu, pendidik sekolah juga mempunyai peran strategis dalam hal menanamkan pendidikan karakter di sekolah.
Dua, Penguatan Pendidikan Agama
Penguatan pendidikan agama sejak dini sangat penting dalam membentuk spiritualitas anak, fondasi moral, karakter yang beriman, berakhlak mulia sehingga siap dalam menghadapi tantangan pada era digital.
Tiga, Pendampingan dan Pengawasan dalam Penggunaan Teknologi
Orang tua dan orang terdekat berperan aktif dalam pendampingan dan pengawasan terhadap akses penggunaan teknologi. Pembatasan waktu dan filter akses dapat mengurangi terkena paparan konten negatif.
Empat, Pengembangan Keterampilan dan Berpikir Kritis dalam Pemanfaatan Teknologi
Teknologi apabila dimanfaatkan secara bijak, menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan, meningkatkan komunikasi, mendorong inovasi dan produktivitas individu dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, teknologi apabila dimanfaatkan secara bijak dapat membantu dalam meningkatkan daya saing pada era digital.
Pentingnya keterampilan dan berpikir kritis dalam pemanfaatan teknologi, dapat membantu individu dalam mengelola dan menyaring informasi secara bijak, sehingga dapat membedakan fakta dari opini, mengenali bias, tidak mudah terjebak hoaks dan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan:
Krisis moral pada era digital merupakan sebuah tantangan bagi semua pihak. Perlunya kolaborasi dari orang tua, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif melalui pendidikan moral, literasi digital serta perlunya menerapkan regulasi khusus guna melindungi generasi muda dari paparan konten negatif dan membentuk karakter yang berakhlak mulia.
Penulis: Desi Rahmawati (Tendik FIAI UII)
Puasa di Era Digital
FIAI BerdakwahPuasa di Era Digital
Oleh: M. Husnaini -Dosen FIAI UII
Puasa, kata Emha Ainun Nadjib, adalah suatu proses seleksi dan pendewasaan pikiran agar kita menemukan perbedaan antara yang nomor satu dan yang tidak nomor satu.
Kita sedang berpuasa di zaman kemajuan. Segalanya serba mudah. Utamanya, jika kita tidak gaptek dan mau memanfaatkan segala kecanggihan teknologi. Saya tidak berbicara tentang efek negatif teknologi. Sebab, membicarakan hal-hal positif dan kiat-kiat memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mencari manfaat, lebih menarik hati saya.
Gunakanlah seluruh akun jejaring sosial Anda untuk berbagi kebaikan. Sebisa Anda. Yang terampil menulis, silakan berbagi kebaikan melalui tulisan. Yang bisa ceramah, boleh berbagi kebaikan via lisan. Yang pintar membikin gambar, video, atau meme inspiratif, berbagilah postingan-postingan menarik itu kepada orang lain.
Di samping berbagi, manfaatkanlah akun-akun jejaring sosial Anda untuk menambah wawasan. Mulailah membaca dan memahami postingan-postingan yang berisi ilmu. Sekarang ini, mengikuti pemikiran-pemikiran tokoh cukup mudah. Tidak perlu harus sowan ke rumah mereka. Sebagian besar dapat dijumpai melalui media sosial.
Kemudian, isilah pula gadget Anda dengan aplikasi keislaman. Al-Qur’an, misalnya. Syukur-syukur dilengkapi terjemah dan tafsirnya, sehingga saat senggang, Anda bisa membuka, membaca, dan memahaminya. Selama ini, kita sudah berhasil khatam Al-Qur’an selama Ramadan. Kadang sekali, bahkan ada yang khatam berkali-kali.
Tetapi, cobalah mulai Ramadan ini, Al-Qur’an tidak sekadar kita baca hingga khatam, namun sedikit demi sedikit kita buka terjemahannya. Syukur-syukur tafsirnya, agar kita paham isi Al-Qur’an. Dengan begitu, interaksi kita dengan Al-Qur’an tidak hanya mendatangkan pahala semata, tetapi sekaligus membuahkan ilmu dan hikmah.
Kiranya masih banyak trik-trik menarik untuk memanfaatkan kemudahan teknologi guna mengeruk sebanyak mungkin pahala di Bulan Suci. Masing-masing Anda bisa berkreasi dan berbagi. Lebih baik saling berlomba untuk menguak sisi-sisi kebaikan sesuatu daripada bersaing untuk mengungkap lorong-lorong keburukannya.
Ramadan harus menjadi starting point untuk makin mencintai Allah. Yaitu, patuh dan tunduk demi mengagungkan, memuliakan, dan mengharapkan-Nya. Ucapan-ucapan mulia, seperti zikir dan mendaras Al-Qur’an adalah wujud cinta kepada Allah. Juga, mendahulukan perintah Allah daripada kesenangan, syahwat, dan keinginan diri.
Puasa mengajarkan kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai, dan sesuatu yang kita sukai itu harusnya bukan sebatas urusan perut dan nafsu seksual. Kalau hanya meninggalkan makan dan minum, anak kecil juga bisa. Apalagi sekadar tidak melakukan hubungan seksual. Sudah pasti tujuan puasa bukan sekadar begitu.
Sebaliknya, puasa harus mampu mendorong kita untuk mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai. Lapar, siapa suka. Tapi karena itu mau Allah, maka kita manut. Dus, motivasi kita dalam puasa adalah rida Allah, bukan gairah nafsu durjana. Demikian pula motivasi kita dalam berbagai urusan lain dalam hidup ini.
Tiada kenikmatan kecuali setelah kepenatan, begitu kata pepatah Arab. Dan, kehidupan membuktikan bahwa nikmatnya makan adalah setelah lapar, nikmatnya kerja adalah setelah nganggur, nikmatnya pasangan adalah setelah menjomblo, nikmatnya kendaraan adalah setelah nyeker, dan seterusnya.
Kemudian, semua kesusahan akan terasa enteng saja manakala kita maknai sebagai bentuk puasa. Toh setiap puasa pasti ada waktunya berbuka. Jadi, tidak ada galau mendekat, karena kita senantiasa yakin bahwa kebahagiaan pasti menanti kita saat berbuka nanti.
Betapa ringan segala beban hidup yang kita tanggung ini sekiranya kita mampu mempraktikkan spirit puasa dalam keseharian. Sewaktu sakit, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika sehat nanti. Sewaktu miskin, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika kaya nanti. Sewaktu gagal, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika sukses nanti.
Silakan dikembangkan dengan contoh-contoh lain. Sekali lagi, spirit puasa penting kita camkan dan terapkan dalam menapaki hidup yang serba tidak menentu ini.
Menjadi Insan Ulul Albab
FIAI BerdakwahMenjadi Insan Ulul Albab
Oleh: M. Husnaini
Pembahasan tentang Ulul Albab kian relevan di tengah maraknya praktik bernegara yang kerap mempertontonkan kontradiksi antara praktik pengejawantahan akal dan hati. Kita menyaksikan orang-orang cerdas yang terjerumus dalam korupsi dan kejahatan struktural, sementara mereka yang berhati baik justru lugu, kurang memahami, atau bahkan tak tertarik pada kajian ilmu.
Inilah yang diangkat Prof Mahfud MD dalam kajian FITRAH (Fokus Ilmu & Tarawih) di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia. Berikut adalah poin-poin yang sempat saya catat dalam kajian malam ketiga yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut.
Ulul Albab, dalam bahasa Prof Mahfud MD, adalah orang yang akalnya sehat, kalbunya sehat. Jika akal sehat tapi kalbunya sakit, orang akan menjadi sangat berbahaya. Contohnya adalah orang yang mengoplos Pertamax dengan Pertalite.
Akal yang sehat selalu berpikir. Kalbu yang sehat selalu berzikir. Ulul Albab, sebagaimana dilukiskan dalam surah Ali Imran: 190-191, adalah mereka yang menyelaraskan akal dan hati dalam harmoni, sehingga mampu menangkap keindahan ciptaan Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Kata Prof Mahfud MD, sebab turun tersebut sangat mengharukan. Suatu pagi, Nabi tidak kunjung datang ke masjid sampai azan subuh berkumandang. Padahal rumah Nabi dan masjid terbilang dekat. Para sahabat gelisah. Bilal pun datang ke rumah Nabi, dan mendapati beliau menangis. Ditanya Bilal, Nabi menjawab bahwa beliau khawatir jika umat ini tidak menjadi Ulul Albab.
Nabi khawatir kalau umat ini berzikir saja tapi tidak berpikir. Hatinya hidup tapi tidak berilmu menyebabkan umat gampang ditipu dan dibohongi. Demikian pula sangat bahaya jika umat hanya sibuk berpikir tapi tidak berzikir, sebagaimana disebutkan di bagian atas.
Perintah berpikir mendorong orang terus mencari dan mengembangkan ilmu. Ini sangat penting bagi kehidupan. Namun, ilmu harus dikawal dengan agama. Dan itu hanya terjadi jika umat ini menghidupkan radar kalbu dengan terus berzikir.
Akhirnya, Ulul Albab adalah impelementasi dari kecerdasan intelektual dan spiritual secara bersamaan. Kita semua dituntut menjadi insan Ulul Albab, sebagaimana telah dirumuskan Universitas Islam Indonesia dalam kurikulumnya sebagai insan yang berkepribadian Islami, berpengetahuan integratif, berkepemimpinan profetik dan berketerampilan transformatif.
Puasa sebagai Ritual Kemanusiaan
FIAI BerdakwahPuasa sebagai Ritual Kemanusiaan
Oleh Kurniawan Dwi Saputra – Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam
Sudah jamak diketahui bahwa puasa adalah ibadah mahdhah. Dalam salah satu hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra dijelaskan bahwa puasa adalah milik Allah, dan Allah pula yang akan membalas (ukuran) ganjarannya. Akan tetapi, di samping dimensi itu, puasa juga mengandung sebuah nilai kemanusiaan yang penting. Dalam surat al-Baqarah 183, Allah Swt menjelaskan sekilas tentang genealogi puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah 183).
Dalam menafsirkan ayat ini, Syekh Abdul Hakim Murad menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah umat manusia. Dari ayat di atas tersurat jelas bahwa puasa diwajibkan kepada umat-umat sebelum umat Islam. Menurut beliau, hal ini berarti puasa telah diketahui oleh semua umat manusia sepanjang sejarah, bukan hanya umat Nasrani dan Yahudi seperti yang jamak diketahui.
Dalil bahwa puasa sebagai ibadah umat manusia adalah fakta bahwa hewan tidak bisa berpuasa dengan sengaja. Sebagai makhluk hidup, manusia dan hewan sama-sama membutuhkan makanan. Akan tetapi berbeda dengan manusia, hewan hanya akan menahan lapar dan haus dalam keadaan terpaksa, misalnya karena ketiadaan makanan atau melewati siklus biologis tertentu. Puasa, kata Alija Izetbegovic, seorang filsuf muslim Bosnia, adalah pilihan yang hanya bisa dibuat manusia dan oleh karena itu merupakan ekspresi tertinggi dari kehendak bebas.
Puasa adalah ritual kemanusiaan karena melibatkan ciri kemanusiaan, yaitu intensionalitas, kesadaran atau bahasa awamnya, niat. Karena itu, niat merupakan salah satu rukun puasa yang tak bisa ditinggalkan. Dalam penjelasan mengenai hadis niat, disebutkan bahwa niat ada dua jenis. Pertama, niyyatu al-amal, niat melakukan ibadah. Ini merupakan pembahasan para ahli fikih yang sebagian merumuskannya menjadi lafal niat yang kita kenal, nawaitu shauma ghadin dst. Kedua, niyyatu al-ma’mul lahu, yaitu tujuan dari ibadah yang dilakukan. Aspek ini merupakan pembahasan para ahli tasawuf dan tazkiyah. Niat jenis kedua ini berhubungan dengan tujuan ibadah kita apakah Ikhlas lillahi ta’ala atau untuk tujuan lainnya.
Ikhlas adalah perkara batin yang menjadi urusan pribadi manusia dengan Allah. Namun, secara zahir, ikhlasnya niat seseorang dalam berpuasa ditandai dengan tercapainya hikmah puasa, seperti yang tersurat dalam al-Baqarah 183 di atas, yaitu meningkatnya kualitas ketakwaan seseorang. Maka, seseorang yang puasanya Ikhlas, maka seseorang akan menjadi lebih bertakwa. Sedangkan indikasi dari kualitas ketakwaan yang tampak adalah dengan menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya.
Sebaliknya, kesalahan niat dalam puasa dapat mengakibatkan kita menjalani puasa binatang yang hanya merasakan lapar dan haus. Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadis dari Abu Hurairah Ra:
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورُبَّ قائمٍ ليس له من قيامِه إلا السَّهرُ
Artinya: berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar, dan berapa banyak orang yang mendirikan (malam untuk beribadah) tidak mendapatkan apapun darinya kecuali (rasa kantuk dan lelah) keterjagaan (HR. Ibnu Majah).
Oleh karena itu, dalam momentum puasa Ramadhan kali ini, mari kita bersama-sama meluruskan niat puasa. Pertama-tama, dari aspek niyyatu al-amal, jangan sampai kita melupakan niat puasa Ramadhan kita pada malam hari sebelum terbit fajar, terlepas dari perbedaan pendapat apakah harus dilafalkan atau tidak. Kedua dan yang terpenting, pada aspek niyyatu al-ma’mul lah, mari kita ikhlaskan puasa Ramadhan tahun ini semata hanya untuk Allah, sembari mencoba memperbaiki ketakwaan kita, lewat pemenuhan segala perintahnya dan penjauhan segala larangannya. Wallahu ta’ala a’lam.
Ramadan dan Training Istikamah
FIAI BerdakwahOleh: M. Husnaini
Jika Ramadan datang, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Sabda Nabi tersebut dapat dimaknai bahwa keinginan berbuat kebaikan di bulan ini terbuka lebar. Sementara itu, kesempatan berbuat kejahatan tertutup rapat. Artinya, mayoritas orang Islam terdorong untuk melakukan kegiatan ibadah dibanding maksiat.
Meskin demikian, tantangan utama menunaikan kebaikan secara berkelanjutan adalah kebosanan. Sebab itu, istikamah sangat tidak ringan dipraktikkan. Buktinya, lihat saja shaf shalat tarawih di masjid-masjid selama Ramadan.
Waktu terbagi tiga: masa lalu, sekarang, dan masa depan. Hasil hari ini adalah upaya masa lalu, sementara usaha hari ini adalah pondasi masa depan. Maksudnya, jika ingin berjaya di masa depan, usaha keras harus dimulai sejak sekarang. Sebab, apa pun yang terjadi dan berlaku sekarang ini adalah buah upaya di masa lalu.
Masalahnya, tantangan berat manusia adalah soal istikamah. Dinamika kehidupan dapat mengubah fokus manusia. Ucapan dan perbuatan dari waktu ke waktu tidak selalu sama. Jejak digital sering membuktikan. Sikap politik seorang tokoh beberapa waktu lalu, misalnya, ternyata berseberangan dengan pilihannya sekarang.
Nabi mengingatkan, yang intinya, ada di antara kita orang yang melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanya tinggal sehasta. Tetapi catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli neraka dan masuk ke neraka. Karena itu, kita tidak boleh gampang puas dengan pencapaian sekarang.
Kalau tidak dijaga benar-benar, boleh jadi kebaikan yang kita perjuangkan sekarang tidak bertahan lama. Merawat konsistensi itu tidak ringan. Istikamah, bahkan, menjadi ukuran keikhlasan seseorang. Sebab, suatu amalan dinilai di akhirnya. Dan, waktu akan menjawab apakah kita mati dalam keadaan Muslim atau justru sebaliknya.
Menjalani Ramadan ini juga demikian. Karena itu, hentikan perdebatan terkait jumlah rakaat shalat tarawih, misalnya. Yang terpenting ialah sejauh mana kita mengerjakannya secara khusyuk, ikhlas, dan istikamah. Suatu tradisi bagus yang kita kerjakan secara tulus & istikamah juga kerap mendatangkan rezeki yang sebelumnya tidak kita duga-duga.
Jejak Pengabdian, Saatnya Mahasiswa Berdakwah ke Pedesaan?
Dakwah MahasiswaDi tengah hiruk-pikuk digitalisasi kota, ribuan desa di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Indonesia masih terisolasi dalam kegelapan informasi tahun 2025. Tanpa akses internet dan listrik yang stabil, masyarakat desa seringkali tertinggal dalam pemahaman agama yang moderat dan kontekstual. Kesenjangan ini menciptakan ruang bagi masuknya pemahaman yang keliru atau pengabaian nilai-nilai spiritual akibat fokus hanya pada bertahan hidup.
Mahasiswa harus hadir sebagai penyambung lidah kebenaran. Di sana, dakwah online tidak berlaku, yang dibutuhkan adalah ketulusan raga untuk datang, menetap, dan mengajarkan alif-ba-ta. Menolong mereka dari ketertinggalan informasi bukan sekadar bakti sosial, melainkan upaya menyelamatkan akidah generasi bangsa di pelosok negeri.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ayat ini merupakan seruan bagi kaum intelektual untuk tidak hanya menumpuk ilmu di menara gading universitas, tetapi juga turun ke masyarakat (kaumnya) untuk memberikan pencerahan. Bagi mahasiswa Muslim, pedesaan adalah medan pengabdian yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah dan edukasi.
Memecah Kesenjangan Literasi Agama
Di kota-kota besar, akses terhadap kajian keislaman sangat melimpah, mulai dari masjid-masjid besar hingga kajian media sosial yang mudah diakses. Namun, kondisi di pedesaan seringkali berbeda. Keterbatasan akses informasi, kurangnya tenaga pendidik agama, serta kuatnya pengaruh tradisi yang terkadang bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat, membuat dakwah di pedesaan menjadi sangat krusial.
Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi mitra dialog. Dengan bekal metode berpikir sistematis yang dipelajari di kampus, mahasiswa dapat membantu menjelaskan ajaran Islam secara logis dan relevan bagi kehidupan warga desa. Dakwah ke desa adalah upaya memastikan bahwa cahaya hidayah merata hingga ke pelosok negeri, bukan hanya berputar di pusat kota.
Mengintegrasikan Dakwah dan Pemberdayaan
Satu hal yang menjadi keunggulan mahasiswa saat berdakwah ke pedesaan adalah kemampuan integrasi ilmu. Dakwah mahasiswa tidak harus selalu berbentuk ceramah di atas podium. Dakwah bisa dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, edukasi kesehatan sesuai sunnah, hingga bimbingan belajar bagi anak-anak desa.
Ketika mahasiswa membantu petani meningkatkan hasil panennya dengan cara-cara yang jujur, atau mengajarkan pemuda desa cara berwirausaha tanpa riba, mereka sedang menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Remaja di pedesaan membutuhkan figur teladan—kakak tingkat yang taat beragama namun juga cerdas secara akademik. Kehadiran mahasiswa di desa memberikan harapan dan motivasi bagi anak-anak desa untuk bermimpi lebih tinggi tanpa meninggalkan akar agama mereka.
Melatih Keikhlasan dan Kepekaan Sosial
Bagi mahasiswa itu sendiri, terjun ke pedesaan adalah sekolah kehidupan. Di sana, ego intelektual diuji. Mahasiswa belajar bagaimana cara menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang sederhana dan santun agar dapat diterima oleh orang tua dan masyarakat setempat. Pengalaman ini akan menumbuhkan rasa empati dan syukur yang mendalam.
Dakwah di desa mengajarkan bahwa ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa yang peduli pada pedesaan adalah mereka yang menyadari bahwa gelar sarjananya kelak adalah titipan Allah untuk menolong hamba-hamba-Nya yang membutuhkan.
Turun ke desa bukan sekadar menjalankan program KKN atau formalitas perkuliahan. Ini adalah misi nubuwah untuk menjaga iman umat di akar rumput. Mari jadikan masa muda kita sebagai masa di mana jejak kaki kita pernah singgah di jalan-jalan tanah pedesaan, membawa lentera ilmu, dan meninggalkan kenangan indah berupa perubahan akhlak yang nyata.
Ditulis oleh mahasiswa
Muhammad Sirrul Asror 22421075
Makna Sejatinya Puasa
FIAI BerdakwahPenulis: M. Husnaini, Ph.D – Dosen FIAI UII
Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan, yang di dalamnya ada kewajiban puasa. Puasa benar-benar membentuk mental pejuang. Untuk itu, Allah menjanjikan kebahagiaan besar bagi orang yang berpuasa, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan-Nya.
Betapa ringan segala beban hidup yang kita tanggung sekiranya kita mampu mempraktikkan spirit puasa dalam keseharian. Sewaktu sakit, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika sehat nanti. Sewaktu miskin, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika kaya nanti. Sewaktu gagal, kita yakin bahwa kita sedang berpuasa, yang berbukanya adalah ketika sukses nanti.
Namun demikian, tidak mudah mengaplikasikan nilai-nilai puasa dalam kehidupan ini. Jika sekadar menahan diri dari makan, minum, dan seks sepanjang siang, banyak yang mampu. Namun, betapa susah mengendalikan diri untuk tidak marah, tidak galau, tidak jorok, dan tidak melakukan keburukan-keburukan lain, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Rasulullah sendiri jauh-jauh hari sudah menginformasikan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” Mengoreksi kualitas diri berdasarkan hadis itu, rasanya hampir pesimis bahwa puasa kita benar-benar berbuah pahala.
Dalam riwayat lain yang juga sangat terkenal, Rasulullah mewanti-wanti kita, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, tetapi malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”
Dari hadis-hadis tersebut, ulama kemudian membagi kualitas puasa menjadi tiga tingkat. Ada puasa perut, yang merupakan tingkatan puasa paling rendah. Lebih tinggi dari itu ialah puasa anggota badan, karena mengharuskan kita mampu mencegah seluruh anggota badan ini dari maksiat.
Yang paling tinggi tentu puasa hati. Jujur, kebanyakan kita masih berupaya untuk mencapai derajat ini. Sebab, semua tahu, betapa sukar dan berat melindungi hati dari berbagai anasir negatif.
Sebagai penutup, simaklah sabda Rasulullah berikut:
“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya: Aku sedang puasa, aku sedang puasa.”
Krisis Moral Era Digital: Bagaimana Tantangan dan Solusinya?
Dakwah TendikEra digital memberikan perubahan besar terhadap kehidupan manusia dalam hal berinteraksi, berkomunikasi, mencari informasi dan juga belajar. Berkembangnya teknologi yang semakin pesat tentu memberikan dampak positif, namun juga berpotensi menjadi negatif apabila tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Pesatnya kemajuan teknologi memberikan tantangan besar terhadap kemunduran nilai-nilai moral, khususnya generasi muda yang sebagian besar merupakan pengguna media sosial.Pada awal tahun 2025, pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta atau setara 79,5 persen dari total penduduk Indonesia. Survei dari National Center on Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia menempati peringkat empat secara global dan kedua pada ASEAN dalam kasus pornografi anak di ruang digital. Data tersebut sangat memprihatinkan dan perlu mendapat respons yang serius dari pemerintah dan orang tua anak.
Tantangan Krisis Moral pada Era Digital
Berikut beberapa tantangan krisis moral yang dapat terjadi akibat pesatnya kemajuan teknologi apabila tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya:
Satu, Terpapar Konten Negatif
Mudahnya dalam mengakses berbagai media dan sumber pada internet, dapat berpotensi terpapar konten negatif yang seharusnya belum dapat dikonsumsi pada usianya. Tanpa adanya pengawasan dan filter, risiko terpapar konten pornografi, hoaks, kriminalitas dan ujaran kebencian akan semakin tinggi, sehingga dapat merusak karakter, menurunkan nilai moral, serta memicu perilaku menyimpang.
Dua, Cyberbullyiing atau Perundungan Dunia Maya
Pengguna aktif media sosial berpotensi mengalami cyberbullying apabila tidak membatasi dalam membagikan informasi pribadinya atau memposting konten yang menimbulkan kontroversi yang dapat menimbulkan reaksi komentar kasar atau penghinaan oleh individu atau suatu kelompok.
Tiga, Lunturnya Norma Sosial
Lunturnya norma sosial pada era digital, terjadi ketika batas-batas etika dan sopan santun semakin diabaikan ketika menggunakan media sosial yang tanpa batas. Konten-konten pornografi, ujaran kebencian, hoaks, hedonistik berpotensi menyebabkan pergeseran dan lunturnya norma agama, kesopanan dan norma hukum dalam masyarkat.
Empat, Mudah Terpengaruh Tren dan Hedonisme
Mudahnya terpengaruh gaya hidup hedonisme dan tren yang sedang viral di media sosial membuat banyak orang rela menghabiskan waktu dan uangnya untuk mengikuti pola hidup materialistik dan konsumtif demi mendapatkan pengakuan sosial di masyarakat.
Solusi Mengatasi Terjadinya Krisis Moral pada Era Digital
Menghadapi berbagai tantangan krisis moral pada era digital tersebut, berikut beberapa solusi dalam mengatasi terjadinya krisis moral pada era digital:
Satu, Pendidikan Moral Sejak Dini
Pendidikan moral sejak dini sangat penting dalam membentuk karakter individu yang mempunyai etika, empati dan bertanggung jawab. Orang tua merupakan pendidik pertama yang berperan dalam memberikan teladan bagi anak-anaknya sejak dini. Selain itu, pendidik sekolah juga mempunyai peran strategis dalam hal menanamkan pendidikan karakter di sekolah.
Dua, Penguatan Pendidikan Agama
Penguatan pendidikan agama sejak dini sangat penting dalam membentuk spiritualitas anak, fondasi moral, karakter yang beriman, berakhlak mulia sehingga siap dalam menghadapi tantangan pada era digital.
Tiga, Pendampingan dan Pengawasan dalam Penggunaan Teknologi
Orang tua dan orang terdekat berperan aktif dalam pendampingan dan pengawasan terhadap akses penggunaan teknologi. Pembatasan waktu dan filter akses dapat mengurangi terkena paparan konten negatif.
Empat, Pengembangan Keterampilan dan Berpikir Kritis dalam Pemanfaatan Teknologi
Teknologi apabila dimanfaatkan secara bijak, menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan, meningkatkan komunikasi, mendorong inovasi dan produktivitas individu dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, teknologi apabila dimanfaatkan secara bijak dapat membantu dalam meningkatkan daya saing pada era digital.
Pentingnya keterampilan dan berpikir kritis dalam pemanfaatan teknologi, dapat membantu individu dalam mengelola dan menyaring informasi secara bijak, sehingga dapat membedakan fakta dari opini, mengenali bias, tidak mudah terjebak hoaks dan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan:
Krisis moral pada era digital merupakan sebuah tantangan bagi semua pihak. Perlunya kolaborasi dari orang tua, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif melalui pendidikan moral, literasi digital serta perlunya menerapkan regulasi khusus guna melindungi generasi muda dari paparan konten negatif dan membentuk karakter yang berakhlak mulia.
Penulis: Desi Rahmawati (Tendik FIAI UII)
Mengapa Awal Ramadan Bisa Berbeda?
FIAI BerdakwahFIAI UII Dipercaya Lapas Narkotika II A Yogya untuk Mitra Pelaksana Pesantren Ramadhan
BeritaMenyambut bulan Ramadhan 1446 hijriyah Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Narkotika Klas IIA Yogyakarta menyiapkan program Pesantren Ramadhan bagi warga binaan pemasyarakatan putra. Rencananya program pesantrenisasi akan dilaksanakan sepanjang bulan Ramadhan 1446 hijriyah dengan pembina dari dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia, selain didukung berbagai instansi terkait.
Dalam menandai dimulainya program pesantren, LAPAS Narkotika 2A Yogya bekerjama dengan FIAI UII, diadakan acara pembukaan sekaligus penandatanganan nota kesepahaman kedua belah pihak, Rabu (26/02/2025). Kerjasama kedua belah pihak memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas keagamaan bagi warga binaan yang sudah memenuhi kualifikasi, terdiri dari 120 peserta.
Sebelum seremonial pembukaan, diawali penayangan video Profil Pesantren At-Tawwabin Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, berisi kiprah warga binaan yang menjadi santri pesantren lapas.
Program pesantren selama bulan ramadhan, dibuka oleh Kepala Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta Porman Siregar, AMd.I.P., S.H., M.H, sekaligus memberikan sambutan pembuka.
“Warga binaan di lapas narkotika 2A Yogya ini ibarat sedang jatuh ke lubang jurang yang dalam dan gelap, sehingga butuh penerangan, butuh cahaya, butuh jalan, butuh tali untuk keluar dari jurang. Nah, dari FIAI UII inilah yang akan membantu keluar dari jurang yang gelap. Makanya kesempatan pesantrenisasi dimanfaatkan sebaik-baik mungkin, jangan bermalas-malasan. Agar kelak jika sudah mengabdi di masyarakat, semua akan tahu, di lapas ini manusia bisa menjadi lebih baik, dan mengenal agama,” kata Porman Siregar.
Sambutan selanjutnya oleh Dr. H. Nur Kholis, S.Ag, S.E.I., M.Sh.Ec selaku Wakil Dekan FIAI UII, sekaligus memotiviasi warga binaan.
“Dengan pesantrenisasi di bulan ramadhan, saatnya dimanfaatkan sebaik mungkin. Hindari kegiatan yang tidak bermanfaat, hindari aktivitas yang tidak menjadikan diri kita lebih baik. Tinggalkan kegiatan yang sia-sia, karena sebaik-baik orang salah adalah yang bertaubat. Semoga nanti keluar dari lapas menjadi lebih baik dan dapat bermanfaat di masyarakat,” kata Dr. H. Nur Kholis
Selepas acara sambutan, diteruskan dengan penandatanganan kerjasama antara FIAI UII dan LAPAS Narkotika Klas IIA Yogyakarta, dalam rangka pembinaan ilmu keagamaan bagi warga binaan pemasyarakatan selama bulan Ramadhan 1446 hijriyah, disaksikan Ketua Jurusan Studi Islam FIAI UII Dr. Anton Priyo Nugroho, S.E.,M.M juga wakil dari Kementerian Agama Sleman.
Dalam ranah implementasi, Ketua Jurusan Studi Islam UII, Dr. Anton Priyo Nugroho, S.E.,M.M menambahkan adanya penyempurnaan dari tahun sebelumnya.
“Dalam implementasi kerjasama FIAI UII dan Lapas Narkotika IIA Yogya pada tahun ini, akan ada beberapa penyempurnaan, menjadikan muatan materi dan metode lebih baik dari sebelumnya. Harapannya akan meraih hasil yang jauh lebih baik,” kata Dr Anton.
Sebelum sesi penutupan, diisi dengan penampilan warga binaan dengan Murrotal Qurani yaitu metode pembelajaran baca Al-Quran yang digunakan sebagai metode pembelajaran di dalam pesantren At-Tawwabin Lapas Narkotika IIA Yogya sejak tahun 2022. Setelahnya ditampilkan hadroh kelompok Sunan Tanbihun, merupakan seni musik warga binaan yang dibentuk tahun 2017.(IPK)
Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII
Saatnya Mahasiswa Menulis Dakwah Tebar Cahaya di Dunia Maya
Dakwah MahasiswaDunia digital hari ini bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan medan tempur pemikiran. Sebagai mahasiswa UII mengajak para mahasiswa di manapun berada, saatnya mahasiswa berada di garda depan intelektualitas. Namun, seringkali muncul keraguan: “Bolehkah saya menulis dakwah padahal ilmu saya masih sedikit?” Jawabannya bukan hanya boleh, melainkan sangat dianjurkan selama yang disampaikan adalah kebenaran yang valid. Menulis dakwah secara online adalah cara terbaik bagi mahasiswa untuk mengikat ilmu sekaligus membentengi ruang digital dari konten negatif.
Menjalankan Amanah Ilmu yang Sedikit
Banyak mahasiswa terjebak dalam rasa tidak percaya diri karena merasa bukan lulusan pesantren. Padahal, dakwah tidak harus menunggu menjadi ulama besar. Rasulullah SAW memberikan mandat kepada setiap Muslim untuk menyampaikan apa pun yang diketahuinya, meski hanya satu hal kecil yang benar. Dengan menuliskan satu hadis pendek tentang adab atau satu kutipan ayat tentang sabar di media sosial, kita telah menjalankan tugas sebagai penyambung risalah.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’.” (HR. Bukhari, No. 3461)
Hadis ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu bukan penghalang untuk berbagi kebaikan. Setidaknyada beberapa makna pokok.
Pertama, Makna “Ballighu” yakni sampaikanlah. Para ulama menyebutkan bahwa kata perintah (amr) di sini menunjukkan kewajiban bagi setiap orang yang mendengar atau mengetahui sebuah ilmu agama untuk menyampaikannya kepada mereka yang belum tahu. Ini menunjukkan bahwa dakwah adalah tugas kolektif seluruh umat, bukan hanya tugas para kiai, ustaz, atau ulama besar saja.
Kedua, Makna ‘Anni” artinya Dariku. Kata “dariku” adalah syarat mutlak. Ilmu yang disampaikan harus valid bersumber dari Rasulullah SAW. Bagi mahasiswa atau pemula, ini berarti kita tidak boleh mengarang-ngarang hukum atau menafsirkan ayat semau sendiri. Kita harus menyampaikan apa yang sudah pasti benarnya (seperti kutipan ayat Al-Qur’an, hadis sahih yang sudah dijelaskan ulama, atau nasihat adab yang umum).
Ketiga, makna Walau Satu Ayat. Bagian ini adalah intisari yang paling menguatkan bagi orang yang baru belajar agama. Minimalisme Dakwah, tidak perlu menunggu hafal 30 juz atau ribuan hadis untuk mulai berbagi. Jika kita tahu satu ayat tentang larangan sombong, dan kita yakin akan kebenaran maknanya, kita sudah terkena mandat untuk menyampaikannya. Meringankan beban, Allah tidak membebani kita untuk menyampaikan hal yang tidak kita ketahui. Cukup sampaikan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Meski hadis ini memberikan kelonggaran “hanya satu ayat”, para ulama tetap mengingatkan untuk berhati-hati. Jangan sampai atas nama “satu ayat”, kita menyebarkan hadis palsu atau pemahaman yang keliru. Rumusnya, sampaikan apa yang kamu ketahui dengan pasti (yakin sumbernya), dan diamlah terhadap apa yang tidak kamu ketahui.
Jejak Digital sebagai Amal Jariyah
Mahasiswa sangat akrab dengan teknologi. Setiap status, artikel, atau caption yang kita unggah akan meninggalkan jejak permanen. Bayangkan jika tulisan sederhana kita tentang pentingnya shalat tepat waktu dibaca oleh seorang remaja yang sedang futur (lemah iman), lalu ia tergerak untuk bertaubat. Itulah investasi pahala yang akan terus mengalir bahkan setelah kita wafat. Menulis online adalah cara kita memanen pahala tanpa batas ruang dan waktu.
Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin: 12: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…” Tulisan di internet adalah “bekas” atau jejak yang akan dihisab dan menjadi saksi kebaikan.
Dakwah sebagai Proses Belajar
Menulis dakwah sebenarnya adalah cara belajar yang paling efektif. Saat seorang mahasiswa memutuskan untuk menulis tentang bahaya riba atau kemuliaan orang tua, ia pasti akan melakukan riset, membaca tafsir, dan mengecek keaslian hadis. Secara tidak langsung, ia sedang mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain. Menulis memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri dan konsisten antara kata dan perbuatan.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ash-Shaff: 2-3: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini menjadi pengingat agar tulisan kita menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk terus memperbaiki diri.
Menjadi Penyeimbang di Tengah Banjir Fitnah
Remaja muslim saat ini sangat terpapar konten yang menjauhkan mereka dari agama. Jika mahasiswa yang memiliki akses terhadap ilmu dan teknologi memilih diam, maka ruang digital akan dikuasai oleh kebatilan. Menulis dakwah online adalah bentuk jihad intelektual untuk memastikan bahwa konten positif tetap memiliki porsi di beranda media sosial remaja. Kita harus menjadi bagian dari golongan yang menyeru kepada kebajikan.
Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ditulis mahasiswa
Syamimi Assahira, NIM 24421021