Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris narasumber di FIAI UII (foto: IPK)

Suhu bumi yang kian meningkat, serta wacana pemerintah Republik Indonesia memberikan hak pengelolaan tambang kepada perguruan tinggi di Indonesia, menjadikan banyak tanggapan dari para akademisi. Salah satunya Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI)  Universitas Islam Indonesia (UII)  menyelenggarakan diskusi internasional bertema Islam dan Kelestarian Alam, Kamis 13 Februari 2025.

Diskusi internasional menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama, Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris dari Pusat Kajian Tinggi Islam, Sains dan Peradaban Raja Zarith Sofiah (RZS-CASIS), Universiti Teknologi Malaysia. Narasumber kedua, Dr. Drs. Yusdani, M.Ag, dosen FIAI UII. Diskusi diikuti oleh dosen FIAI di Ruang Dekanat lantai I, Gedung KHA Wahid Hasyim FIAI Kampus Terpadu UII.

Diskusi internasional dibuka Dr. Drs. Asmuni, MA., sekaligus sampaikan sambutan pembuka. ”FIAI sering melakukan kunjungan ke Malaysia, dan dari Malaysia pun sering ke FIAI UII. Sehingga kemitraan FIAI dengan Malaysia termasuk bagus. Tahun 2023 ada diskusi rutin tentang lingkungan hidup, insya Allah beberapa bulan ke depan hasil diskusi bisa dipublikasikan. Selain itu tema MILAD UII tahun ini, UII Mengerti Bumi. Etika lingkungan hidup menjadi pos ulama-ulama  muslim sejak dahulu, tapi sayangnya di Indonesia, etika tentang lingkungan dan mengelolanya sering mengacu pada konsep barat. Kenapa? Mungkin karena ketidakmampuan eksplorasi turost yang berbicara tentang lingkungan,” katanya.

Diskusi diawali paparan Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris. “Kita mempunyai tantangan yang besar saat ini, dihadapkan pendekatan yang ekstrim. Di negara barat, memiliki 2 pendekatan yang ekstrim, salah satunya antroposentrisme. Sejak abad ke-16 antroposentrisme muncul, dan dari sanalah revolusi industri. Dengan alasan itupulah mereka perlu penjajah, hingga ke Indonesia dan Malaysia. Jadi tidak benar penjajah datang untuk mendapatkan rempah, tapi sebenarnya datang untuk revolusi industri, mereka akan kuasai alam. Revolusi industri tidak akan berjalan tanpa kuasai dunia. Ini penting dipahami, bahwa antroposentrisme mengakar dalam budaya negara barat,” kata Dr. Khalif Muammar

Menurut Khalif, sejak tahun 1970-an hingga tahun 2023, suhu bumi terus meningkat dan terakhir tahun 2023 sudah meningkat 1,5 derajat, maknanya senantiasi meningkat. Pada tahun itu dianggarkan meningkat 1.5 deraja celcius, karena jika sudah melebihi itu misal 3 atau 4 derajat, maka sulit dihentikan, dampaknya akan banyak bencana. Kalau itu terjadi maka banyak bencana yang tidak akan dapat kita tangani. Tapi  justru yang dilakukan dunia justru greenwash dan retorika, ini menurut studi Kevin Anderson.

Khalif Muammar hadir di FIAI sekaligus membagikan buku karyanya yang berjudul, Islam harus memiliki solusi yang berbeda, itu antara pendorong saya menulis buku ini. Negara barat terbukti gagal, sehingga orang Islam tidak boleh begitu saja mengambil dari konsep yang gagal.

Khalif Muammar mencuplik dari pemikiran Kevin Anderson tahun 2023 yang terdiri beberapa kalimat, yang intinya menegaskan bahwa kita sedang menuju pemanasan 3 hingga 4°C di abad ini, suatu hal yang mutlak bencana iklim bagi semua spesies termasuk kita sendiri. Dan yang kami lakukan sejauh ini hanyalah memberi retorika dan optimisme dan greenwash. Kita sedang menghadapi kenaikan permukaan air laut yang sangat tinggi, mungkin 7-8 meter. Kita mengubah pola cuaca dan curah hujan serta penyerbukan serangga hasil panen kita. Semua ini menyebabkan bencana demi bencana. Kita berbicara tentang masyarakat runtuh di sini.

Selain itu, Khalif Muammar menegaskan adanya kegagalan penanganan alam dengan mencuplik dari statemen Kevin Anderson yang pernah mengatakan, Kevin  jujur dan berkata sebagai seseorang yang pernah bekerja di bidang perubahan iklim selama bertahun-tahun, prediksi terbaiknya mengatakan bahwa kita akan gagal. Tapi itu adalah pilihan untuk gagal. Politik para pemimpin, akademisi, dan jurnalisme telah berulang kali memilih untuk gagal dalam menangani iklim selama 30 tahun.

Teliti Aliran Islam Jama’ah, Iskandar Dzulkurnain Raih Gelar Doktor di FIAI UII

Dinamika Fatwa Majelis Ulama Indonesia terhadap aliran Islam Jama’ah, sejak tahun 1979 hingga 2023 menjadi obyek penelitian Iskandar Dzulkurnain  untuk menempuh studi pada Program Doktor Hukum Islam FIAI UII.  Iskandar merupakan dosen Ma’had Abu Bakar Ash Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta, tinggal di Laweyan Surakarta. Sebelumnya telah menempuh studi program sarjana di LIPIA Jakarta, program magister di Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan program doktor di FIAI UII.

Untuk menuntaskan studi doktor, Iskandar menempuh ujian disertasi pada Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Doktor Hukum Islam di Gedung Prof. Mr. H. Mohammad Yamin Fakultas Hukum UII, Jumat 13 Februari 2025. Sebagai ketua sidang Dr. Asmuni, MA, didampingi sekretaris Dr. Anisah Budiwati, S.HI., M.SI. Sebagai promotor yakni Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat S.H.,M.Hum dan kopromotor yakni Dr. M. Muslich KS., M.Ag. Para penguji yakni Prof. Dr. Amir Mu’allim, MIS dan Dr. Drs. Muntoha, S.H., M.Ag serta  Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, MA

Iskandar menyusun disertasi berjudul Fatwa MUI Terhadap Kontestasi Identitas Keagamaan : Analisis Sosiologis Aliran Islam Jama’Ah di Indonesia. Disertasi disusun dari penelitian kualitatif serta pendekatan yuridis normatif dan historis sosiologis. Sumber data primer diperoleh dengan melakukan wawancara kepada para mantan anggota Islam Jamaah. Sumber data sekunder didapatkan daribuku-buku dan artikel.

“Islam Jamaah memiliki metode dalam istinbath yang mereka namakan metode manqul, yakni pengambilan ilmu dari guru murid secara langsung dan harus bersumber dari pendiri pertama aliran ini, yaitu KH Nur Hasan Ubaidah. Islam Jamaah menancapkan doktrin kepada seluruh pengikutnya bahwa ilmu yang tidak bersumber dari KH Nur Hasan Ubaidah maka ilmu tersebut batil dan tidak sah untuk diamalkan. Alasan ini meyakini bahwa KH Nur Hasan Ubaidah adalah salah satu-satunya orang di muka bumi ini yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah,” kata Iskandar di hadapan para penguji.

Menurut Iskandar dalam konteks sosial keindonesiaan, tafkir mempunyai implikasi yang luas terhadap stabilitas negara atau bila diarahkan kepada seorang pemimpin negara. Tafkir bisa berupa pengkafiran terhadap penguasa. Tanfir yaitu menanamkan kebencian terhadap penguasa. Tafjir yaitu melakukan pengeboman. Tadmir yaitu melakukan penghancuran.

“Sehingga paham ini pada hakikatnya juga telah memenuhi salah satu kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI poin nomor sepuluh yaitu mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya,” jelas Iskandar.

Berdasar kesepakatan para penguji, Iskandar dinyatakan lulus program doktor, dan berhak menyandang gelar doktor, dengan predikat cumlaude. Promotor Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat S.H.,M.Hum, dalam pesan penutupan menyampaikan sambutan penyemangat.

”Selamat dan izinkan saya memanggil gelar yang lengkap, Dr. Iskandar Zulkurnain, M.Ag. Perlu saudara pahami, disertasi itu karya monomental tidak boleh berhenti, karena sebagai tenaga edukatif tidak dituntut berhenti di sini, tapi saudara mencapai dedikasi lebih tinggi lagi. Di harapan saudara sudah menanti predikat guru besar,” kata Prof. Makhrus di akhir sidang. (IPK)

Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris dan Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, MA didampingi Dr. Nur Kholis, SEI., M.Sh.Ec.

Suhu bumi yang kian meningkat, serta wacana pemerintah Republik Indonesia memberikan hak pengelolaan tambang kepada perguruan tinggi di Indonesia, menjadikan banyak tanggapan dari para akademisi. Salah satunya Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI)  Universitas Islam Indonesia (UII)  menyelenggarakan diskusi internasional bertema Islam dan Kelestarian Alam, Kamis 13 Februari 2025.

Diskusi internasional menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama, Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris dari Pusat Kajian Tinggi Islam, Sains dan Peradaban Raja Zarith Sofiah (RZS-CASIS), Universiti Teknologi Malaysia. Narasumber kedua, Dr. Drs. Yusdani, M.Ag, dosen FIAI UII. Diskusi diikuti oleh dosen FIAI di Ruang Dekanat lantai I, Gedung KHA Wahid Hasyim FIAI Kampus Terpadu UII.

Diskusi internasional dibuka Dr. Drs. Asmuni, MA., sekaligus sampaikan sambutan pembuka. ”FIAI sering melakukan kunjungan ke Malaysia, dan dari Malaysia pun sering ke FIAI UII. Sehingga kemitraan FIAI dengan Malaysia termasuk bagus. Tahun 2023 ada diskusi rutin tentang lingkungan hidup, insya Allah beberapa bulan ke depan hasil diskusi bisa dipublikasikan. Selain itu tema MILAD UII tahun ini, UII Mengerti Bumi. Etika lingkungan hidup menjadi pos ulama-ulama  muslim sejak dahulu, tapi sayangnya di Indonesia, etika tentang lingkungan dan mengelolanya sering mengacu pada konsep barat. Kenapa? Mungkin karena ketidakmampuan eksplorasi turost yang berbicara tentang lingkungan,” katanya.

Diskusi diawali paparan Assoc. Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris. “Kita mempunyai tantangan yang besar saat ini, dihadapkan pendekatan yang ekstrim. Di negara barat, memiliki 2 pendekatan yang ekstrim, salah satunya antroposentrisme. Sejak abad ke-16 antroposentrisme muncul, dan dari sanalah revolusi industri. Dengan alasan itupulah mereka perlu penjajah, hingga ke Indonesia dan Malaysia. Jadi tidak benar penjajah datang untuk mendapatkan rempah, tapi sebenarnya datang untuk revolusi industri, mereka akan kuasai alam. Revolusi industri tidak akan berjalan tanpa kuasai dunia. Ini penting dipahami, bahwa antroposentrisme mengakar dalam budaya negara barat,” kata Dr. Khalif Muammar

Menurut Khalif, sejak tahun 1970-an hingga tahun 2023, suhu bumi terus meningkat dan terakhir tahun 2023 sudah meningkat 1,5 derajat, maknanya senantiasi meningkat. Pada tahun itu dianggarkan meningkat 1.5 deraja celcius, karena jika sudah melebihi itu misal 3 atau 4 derajat, maka sulit dihentikan, dampaknya akan banyak bencana. Kalau itu terjadi maka banyak bencana yang tidak akan dapat kita tangani. Tapi  justru yang dilakukan dunia justru greenwash dan retorika, ini menurut studi Kevin Anderson.

Khalif Muammar hadir di FIAI sekaligus membagikan buku karyanya yang berjudul Etika Alam Sekitar dalam Islam. Menurutnya, Islam harus memiliki solusi yang berbeda, itu antara pendorong saya menulis buku ini. Negara barat terbukti gagal, sehingga orang Islam tidak boleh begitu saja mengambil dari konsep yang gagal.

Khalif Muammar mencuplik dari pemikiran Kevin Anderson tahun 2023 yang terdiri beberapa kalimat, yang intinya menegaskan bahwa kita sedang menuju pemanasan 3 hingga 4°C di abad ini, suatu hal yang mutlak bencana iklim bagi semua spesies termasuk kita sendiri. Dan yang kami lakukan sejauh ini hanyalah memberi retorika dan optimisme dan greenwash. Kita sedang menghadapi kenaikan permukaan air laut yang sangat tinggi, mungkin 7-8 meter. Kita mengubah pola cuaca dan curah hujan serta penyerbukan serangga hasil panen kita. Semua ini menyebabkan bencana demi bencana. Kita berbicara tentang masyarakat runtuh di sini.

Selain itu, Khalif Muammar menegaskan adanya kegagalan penanganan alam dengan mencuplik dari statemen Kevin Anderson yang pernah mengatakan, Kevin  jujur dan berkata sebagai seseorang yang pernah bekerja di bidang perubahan iklim selama bertahun-tahun, prediksi terbaiknya mengatakan bahwa kita akan gagal. Tapi itu adalah pilihan untuk gagal. Politik para pemimpin, akademisi, dan jurnalisme telah berulang kali memilih untuk gagal dalam menangani iklim selama 30 tahun. (IPK)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hari ini kita hidup di zaman yang sibuk. Kita bangun pagi-pagi untuk kerja, sekolah, atau kegiatan lain. Kita terbiasa melihat layar handphone, laptop, dan TV hampir setiap hari. Kadang, tanpa sadar, kita lupa untuk menjaga hati kita. Padahal, hati adalah bagian penting dari hidup kita sebagai seorang Muslim.

Dalam sebuah      hadis, Rasulullah saw. bersabda:

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

hadits ini mengingatkan kita betapa pentingnya hati. Hati kita seperti pusat kendali. Kalau hati kita penuh dengan kebaikan, maka seluruh perilaku kita juga akan baik. Tapi kalau hati kita dipenuhi keburukan, maka perilaku kita pun ikut rusak.

Namun pertanyaannya, bagaimana cara kita menjaga hati di zaman sekarang ini?

Pertama, kita harus dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah bukan hanya soal shalat lima waktu, tapi juga menjaga hubungan kita dengan-Nya setiap saat. Misalnya, dengan membaca Al-Qur’an walau hanya satu ayat sehari, berzikir di waktu senggang, atau merenung tentang nikmat yang telah Allah beri. Hal-hal kecil ini bisa menjadi penjaga hati kita agar tetap lembut.

Kedua, kita harus hati-hati dalam memilih tontonan, bacaan, dan pergaulan. Saat ini, banyak sekali hiburan yang menarik tapi bisa menjauhkan kita dari Allah. Tontonan yang mengandung kekerasan, aurat, atau hal-hal yang tidak bermanfaat bisa membuat hati kita menjadi keras.

Ketiga, kita perlu bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Banyak dari kita yang sibuk membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial. Kita merasa orang lain lebih bahagia, lebih kaya, lebih cantik, atau lebih sukses. Padahal, kita tidak tahu apa yang sebenarnya mereka alami. Bersyukurlah atas apa yang kita punya hari ini.

Keempat, sering-seringlah bergaul dengan orang-orang yang baik, yang bisa mengingatkan kita kepada Allah. Teman itu sangat berpengaruh pada hati. Jika kita berada di lingkungan yang baik, hati kita akan ikut menjadi baik.

Saudaraku, menjaga hati bukanlah perkara sekali jadi. Ini adalah proses seumur hidup. Kadang iman kita naik turun, kadang semangat ibadah, kadang juga malas. Tapi yang penting adalah kita terus berusaha. Jangan menyerah hanya karena merasa belum sempurna. Allah mencintai hamba-Nya yang terus berjuang memperbaiki diri.

Terakhir, mari kita jadikan hati kita tempat yang bersih. Tempat yang hanya berisi cinta kepada Allah, kasih sayang kepada sesama, dan harapan akan ampunan-Nya. Jika hati kita bersih, maka insya Allah hidup kita juga akan terasa lebih tenang dan bahagia.

Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang hatinya dijaga oleh Allah Swt.      Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ditulis oleh
Mulyadi – Tendik FIAI UII

 

Belakangan ini, pemberitaan mengenai pro dan kontra Kebijakan Gubernur Jawa Barat (KDM) hampir memenuhi layar televisi. Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan adalah pengiriman sekelompok anak yang dianggap “nakal” ke barak militer untuk dibina. Tujuannya agar mereka menjadi lebih disiplin, patuh terhadap aturan, dan diharapkan dapat kembali ke rumah sebagai pribadi yang lebih baik. Banyak pihak memuji langkah ini dan menilainya sebagai solusi yang tepat.

Namun, di sela-sela kabar itu, hati saya bertanya: Apakah benar masalah ini hanya soal disiplin? Atau mungkin, masalah sebenarnya justru berakar dari lemahnya pendidikan akhlak sejak mereka kecil?

Bayangkan sejenak. Seandainya sejak balita, anak-anak kita sudah dikenalkan kepada Allah. Seandainya mereka sudah diajarkan adab, akhlak, rasa cinta, tanggung jawab, dan rasa Syukur, apakah mereka akan tumbuh menjadi pribadi pembangkang? Menurut saya tidak.

Anak yang terbiasa bersyukur sejak kecil akan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Mereka tidak akan mudah iri ketika melihat orang lain lebih punya segalanya. Mereka tidak gampang marah ketika keinginannya tak terpenuhi. Dan yang paling penting, mereka tidak mudah dikendalikan oleh ajakan yang menjerumuskan.

Rasa syukur mengubah cara pandang seorang anak terhadap hidup. Mereka melihat dari sisi positif, bukan terus-menerus merasa kurang. Dan mereka mampu belajar menerima dengan lapang dada, berusaha dengan tekun, dan menghargai apa yang ada di hadapannya.

Sayangnya, banyak dari kita sebagai orang tua lupa bahwa kunci utama pendidikan anak justru terletak pada diri kita sendiri. Kita sering fokus pada perilaku anak yang “harus berubah”, padahal perubahan itu dimulai dari teladan yang kita berikan. Parenting bukan soal memaksa anak untuk menjadi baik, tapi soal bagaimana kita lebih dulu menjadi pribadi yang baik.

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka menyerap apa yang mereka lihat lebih dalam daripada apa yang mereka dengar. Jika di rumah mereka melihat orang tua yang sering mengeluh, mudah marah, dan jarang bersyukur, lambat laun mereka akan meniru pola itu. Namun, jika mereka melihat rumah yang penuh doa, kata-kata baik, dan rasa syukur, nilai itu akan melekat erat di hati mereka.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Janji ini tidak hanya berlaku untuk harta, tetapi juga untuk kebahagiaan keluarga, ketenangan hati, dan keberkahan dalam mendidik anak.

Mengirim anak ke barak militer mungkin bisa membuat mereka patuh untuk sementara waktu. Namun, disiplin yang lahir karena takut hukuman tidak akan bertahan lama. Begitu mereka kembali ke lingkungan yang sama tanpa pondasi akhlak, perilaku lama bisa muncul kembali. Sebaliknya, jika nilai akhlak sudah tertanam di hati mereka, aturan akan mereka patuhi bukan karena takut, tapi karena sadar itu adalah hal yang benar.

Mendidik akhlak memang bukan pekerjaan sehari dua hari. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang tak putus. Hasilnya tidak instan, tapi bekalnya akan dibawa anak sepanjang hidupnya.

Jadi, jika kita ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, tenang, dan penuh rasa hormat, mulailah dari rumah. Bangun lingkungan yang penuh syukur. Ucapkan terima kasih atas nikmat kecil setiap hari. Jadilah teladan dalam kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab.

Karena sejatinya, generasi yang kuat tidak lahir dari hukuman, melainkan dari cinta yang dibalut dengan adab dan syukur. Dan itu, hanya bisa dimulai dari kita sebagai orang tuanya.

Penulis: Mufti Dedy Wirawan, S.Kom. (Tendik FIAI UII)

Pendahuluan

Di era digital saat ini, kita menyaksikan perkembangan teknologi Artficial Intelligence (AI) yang begitu

pesat. Chatbot yang mampu berkomunikasi layaknya manusia, sistem pengenalan wajah yang semakin

akurat, hingga asisten virtual yang dapat membantu berbagai tugas sehari-hari telah menjadi bagian dari

kehidupan kita.

Namun di balik kemajuan teknologi yang menakjubkan ini, umat Muslim perlu menjaga keseimbangan

antara pemanfaatan teknologi dan keteguhan iman. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana

tetap mempertahankan kesadaran spiritual di tengah arus digitalisasi yang kian deras.

Dengan pemahaman yang tepat, teknologi AI dapat menjadi alat yang mendukung peningkatan kualitas

ibadah dan pemahaman agama, bukan malah menjauhkan kita dari nilai-nilai keislaman yang

fundamental.

 

Pemahaman Iman dalam Konteks Teknologi AI

Iman dalam Islam merupakan keyakinan yang tertanam dalam hat, diucapkan dengan lisan, dan

dibuktkan melalui perbuatan. Di era digital, makna iman tetap sama namun menghadapi tantangan yang

berbeda. Kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah cara kita berinteraksi, belajar, dan menjalani

kehidupan sehari-hari.

Refleksi Spiritual di Era Digital

  • Menjaga kekhusyukan ibadah tanpa gangguan notfikasi
  • Meluangkan waktu untuk tadabbur Al-Qur’an
  • Menerapkan nilai-nilai Islam dalam penggunaan teknologi

Kesadaran spiritual menjadi benteng pentng menghadapi arus teknologi AI. Umat Muslim perlu

menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan praktk keagamaan. Ketka AI menawarkan kemudahan,

kita perlu tetap menjaga connecton dengan Allah Swt. melalui:

  • Membatasi waktu penggunaan gadget
  • Memprioritaskan ibadah di atas kesibukan digital
  • Menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan penggant pemahaman agama

Ketergantungan berlebihan pada dunia digital dapat mengikis kesadaran rohani. Pentng bagi kita untuk membangun digital mindfulness – kesadaran penuh dalam menggunakan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai keimanan.

 Penulis: Wahyudi Kusumo Nugroho, S.Kom (Tendik FIAI UII)

Masa beraktivitas selama menjadi mahasiswa UII seringkali disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Di fase ini, seseorang berada pada puncak kematangan intelektual, energi fisik yang meluap, dan idealisme yang tinggi. Namun, kemuliaan status mahasiswaUII  bukan terletak pada gelar yang akan disandang, melainkan pada sejauh mana manfaat yang ia tebar bagi umat. Salah satu ladang amal yang paling krusial saat ini adalah kepedulian terhadap dakwah bagi para remaja.

Mengapa mahasiswa harus peduli pada dakwah remaja? Jawabannya sederhana: Remaja adalah fase transisi yang paling rentan sekaligus menentukan. Di era digital yang penuh dengan disrupsi moral, remaja muslim hari ini dihadapkan pada tantangan berat—mulai dari krisis identitas, paparan konten negatif, hingga pergaulan bebas. Mahasiswa hadir sebagai “kakak” yang mampu menjembatani jarak antara generasi tua (para ulama/orang tua) dengan generasi muda.

Mahasiswa memiliki bahasa yang sama dengan remaja. Dengan pendekatan yang lebih segar, santai, namun berbobot, mahasiswa bisa masuk ke dunia remaja untuk menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Jika mahasiswa abai, maka ruang-ruang kosong di hati para remaja akan diisi oleh pengaruh lingkungan yang menjauhkan mereka dari agama. Menyelamatkan satu remaja hari ini berarti menyelamatkan satu pemimpin di masa depan. Sebagai landasan pergerakan, berikut adalah tiga dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya dakwah dan pembinaan generasi:

1. Kewajiban Menjadi Umat Terbaik (Mengajak Kebaikan)
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Ayat ini menegaskan bahwa predikat “umat terbaik” tidak diberikan cuma-cuma, melainkan harus diraih melalui aktivitas dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar). Relevansi dengan mahasiswa dan dakwah dalam konteks mahasiswa yang peduli pada dakwah remaja (seperti tulisan Anda sebelumnya):

Agen Khaira Ummah: Mahasiswa adalah bagian dari umat ini yang memiliki kapasitas intelektual untuk menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di lingkungan kampus dan remaja.

Solusi Sosial: Dakwah kepada remaja adalah bentuk nyata dari “mencegah kemungkaran” (seperti pergaulan bebas atau narkoba) dan “mengajak pada kebaikan” (hijrah dan menuntut ilmu).

Bermanfaat bagi Sesama: Sesuai tafsir bahwa yang terbaik adalah yang paling bermanfaat, mahasiswa yang berdakwah berarti sedang merealisasikan hakikat ayat ini secara nyata.

2. Seruan Dakwah dengan Hikmah
Dalam menjalankan dakwah ke remaja, mahasiswa harus menggunakan cara yang tepat sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”

Remaja tidak butuh dihakimi, mereka butuh didengar dan diarahkan dengan penuh hikmah serta kasih sayang. Ayat ini sangat krusial bagi mahasiswa karena:

Menghindari kekakuan yakni Remaja seringkali menjauhi agama jika disampaikan dengan cara yang keras atau menakut-nakuti. Mau’izhah Hasanah adalah kunci. Membangun Intelektualitas yakni Mahasiswa diajarkan untuk memiliki Hikmah (kapasitas ilmu), sehingga saat ditanya hal-hal kritis oleh remaja (misalnya tentang sains dan Islam), mahasiswa bisa menjawab secara cerdas. Adab Komunikasi yakni Menekankan bahwa dakwah adalah soal caranya, bukan hanya isinya. Konten yang benar jika disampaikan dengan cara yang salah (kasar), akan ditolak oleh manusia.

3. Tanggung Jawab Menjaga Generasi Allah mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita, sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 9:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”

Lemah yang dimaksud bukan sekadar fisik atau ekonomi, melainkan lemah iman dan karakter. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mahasiswa. Jika mahasiswa (sebagai kaum intelektual muda) bersikap apatis dan tidak peduli pada pembinaan remaja, maka mereka secara tidak langsung membiarkan lahirnya generasi yang “lemah”. Ayat ini mengajak kita untuk memiliki sense of crisis—rasa khawatir yang positif—yang kemudian diwujudkan dengan aksi nyata untuk membekali remaja dengan ilmu dan iman agar mereka menjadi generasi yang kuat di masa depan.

Kepedulian mahasiswa terhadap dakwah remaja bukanlah sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change), dan perubahan paling fundamental dimulai dari pembinaan akidah generasi muda. Ketika mahasiswa turun tangan merangkul remaja, mereka sedang membangun benteng pertahanan umat yang kokoh. Mari jadikan organisasi kampus, media sosial, dan diskusi santai di kantin sebagai sarana untuk menyebarkan cahaya Islam, dimulai dari sejak menjadi mahasiswa, terutama mahasiswa UII.

Penulis mahasiswa:
Adzkia Hulwia Hasanah, NIM 22422033

Etika dan moral menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pelaku usaha di tengah kondisi ekonomi saat ini dan kompetitor yang bersaing dalam profitabilitas. Bahkan dengan kondisi terpuruk, pelaku usaha dihadapkan pada pilihan tetap berpegang pada sifat Qur’ani agar memperoleh berkah dari Allah Swt. atau hanya menargetkan untung tanpa mempertahankan etika dan moral dalam berbisnis.

Praktik dakwah dalam kegiatan berbisnis tidak bisa hanya dengan menunggu kedatangan pemuka agama ataupun seseorang karyawan menjadi ustadz ataupun ustadzah. Dakwah bisa dimulai dari diri sendiri atau yang disebut dengan dakwah nafsiyah untuk sarana instropeksi agar bisa memperbaiki diri dan menjadi pribadi berkualitas yang Islami (Rostilawati, 2019:22). Rasulullah saw. sebagai pebisnis dapat dijadikan motivasi dengan prinsipnya yang berpegang teguh pada kejujuran, sifat amanah yang dapat bertanggung jawab dengan profesinya dan menjaga kepercayaan dari konsumen, menjauhi gharar yakni transaksi tidak jelas objek, kepemilikan misalnya menjual barang curian, barang yang belum ada wujudnya, tidak melakukan al-ghab (penipuan), ihtikar (menimbun barang), dan tadlis (menipu dengan menyembunyikan kecacatan).

Penerapan dakwah dalam berbisnis dapat diaplikasikan tidak hanya pada individu pekerja saja yang menjadi sumber daya manusia yang menjalankan operasional dengan penguatan etika bisnis dan moral, namun juga dapat diwujudkan penerapan dakwah dalam sektor bisnis yang digeluti. Seperti kebijakan manajemen kantor melaksanakan program kajian rutin sebagai pembinaan spiritual untuk karyawan, meluangkan sedikit waktu untuk karyawan mengaji bersama sebelum memulai kegiatan. Adapun CSR yang disesuaikan dengan praktik keislaman untuk mengikat hubungan baik antara karyawan, pemilik usaha, kostumer, lembaga umum, masyarakat di lingkungan domisili usaha. Contohnya kegiatan amal, pengajian akbar, program pengecekan kesehatan di hari nasional yang bekerjasama dengan lembaga kesehatan. Pada hari besar keagamaan misalnya turut andil penyembelihan hewan Qurban, program penyuluhan dan pemberdayaan dalam mengelolaan limbah sampah. Hal-hal tersebut sekiranya dapat menjadi salah satu solusi dalam berbagai masalah kekinian di tengah masyarakat. Dampak positif yang secara tidak langsung dapat diperoleh yaitu munculnya ide bisnis baru untuk warga sekitar. Dengan begitu tujuan dari dakwah membawa hal kebaikan di lingkungannya dengan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitarnya.

Kebijakan itu membutuhkan anggaran khusus ataupun sumber dana di luar target profit atau yang dirumuskan usaha dagang atau pebisnis.Hal ini menjadi tantangan yang dapat mendorong tim lebih bersemangat dalam bekerja meningkatkan omset agar mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Saat karyawan merasa profesi yang dijalani memiliki makna dalam kehidupan sehari hari, diharapkan akan tetap loyal untuk bekerja di unit usaha dagang tersebut. Dakwah pun bisa terserap dalam produk yang dihasilkan oleh badan usaha. Upaya mengedepankan produk bersertifikat halal, pemasaran produk dengan desain produk yang   realpic, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang ambigu pada produk yang diiklankan. Tips dan trik saat iklanpun dapat dikemas dengan konten iklan di media yang memaparkan sumber bahan baku produk dari sumber yang baik. Sehingga akan menarik minat konsumen karena awareness keamanan, kesehatan yang didapatkan dari kemajuan informasi dan teknologi. Bukan berarti semua produk barang dan jasa harus dihasilkan dan diiklankan dengan branding yang islami tetapi dengan cara yang baikpun tanpa menyinggung produk lain sudah menjadi nilai positif dalam beriklan.

Dengan upaya dakwah yang disisipkan dalam kegiatan operasionalnya diharapkan dapat menuntun pekerja dan pelaku usaha untuk menjalankan etika bisnis Islam dengan baik sesuai ajaran Islam. Moral karyawan dan pelaku usaha di dalamnya akan mengikuti tuntunan agama sehingga dapat mendatangkan keuntungan materiil dan ridha Allah Swt. dalam menjalankan usaha, bahagia di dunia dan akhirat. Aamin

Penulis: Ary Purnama (Tendik FIAI UII)

Referensi:
Fausiah, Najim Nur, https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-itu-gharar-bagaimana-hukumnya-dalam-islam (2024).

Rostilawati, (2019). Dakwah dalam Pembinaan Akhlak Pedagang Ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa Kabupaten Sinjai, 22.

Banyak orang  terjebak pada pola pikir bahwa sedekah adalah kebiasaan dari orang kaya. Dampaknya jadi menunggu saldo rekening memiliki digit berlebih baru terpikir untuk berbagi. Padahal, esensi sedekah bukan tentang seberapa besar nominal yang keluar dari dompet, melainkan seberapa besar ketulusan yang lahir dari hati, terutama saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ada nilai istikamah yang harus dipertahankan.

Bersedekah di waktu luang dan lapang itu biasa. Bersedekah saat berkelimpahan rezeki itu biasa. Namun, bersedekah di saat uang mepet adalah sebuah keajaiban iman yang perlu dibiasakan. Di titik itulah cinta kita kepada Sang Pencipta diuji: apakah kita lebih percaya pada angka di buku tabungan, atau pada janji Allah Yang Maha Kaya?

Sedekah sebagai Bukti Kejujuran Iman. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah adalah burhan atau bukti. “Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim). Ketika Anda menyisihkan Rp5.000 atau Rp10.000 padahal itu adalah ongkos terakhir untuk pulang, Anda sedang membuktikan kepada Allah bahwa Anda tidak diperbudak oleh materi. Anda sedang menyatakan bahwa “Ya Allah, aku tahu rezekiku ada di tangan-Mu, bukan pada lembaran kertas ini.”

Inilah yang membuat sedekah di kala sempit memiliki nilai tinggi di mata Allah.  Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab: “Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkan harta (karena merasa butuh), takut miskin, dan mengharap kaya…” (HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Kualitas Lebih Utama daripada Kuantitas. Mungkin kita merasa malu jika hanya menyumbang sedikit. Namun, tahukah Anda bahwa sedekah yang kecil namun dilakukan dalam keadaan kekurangan bisa jadi lebih mulia daripada sedekah besar orang kaya?

Rasulullah SAW pernah ditanya, “Sedekah apa yang paling afdal?” Beliau menjawab:

“Sedekah orang yang sedikit hartanya (berjuang untuk bersedekah), dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Abu Dawud)

Bayangkan seseorang yang memiliki Rp1.000.000 lalu menyumbang Rp100.000. Itu hanya 10% dari hartanya. Namun, jika Anda hanya punya Rp20.000 dan memberikan Rp10.000 kepada orang yang lebih membutuhkan, Anda telah memberikan 50% dari total harta Anda. Di sinilah letak keadilan Allah; Dia melihat persentase pengorbanan, bukan sekadar jumlah angka.

Memancing Rezeki dengan “Investasi” Langit. Secara logika matematika manusia, sedekah itu mengurangi. $10 – 1 = 9$. Namun, matematika Allah berbeda. Allah menjanjikan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)

Logikanya sederhana: Jika kita membantu urusan hamba Allah yang lain, maka Allah sendiri yang akan turun tangan mengurus urusan kita. Saat uang mepet, kita sebenarnya sedang berada dalam kondisi “darurat” yang membutuhkan pertolongan Allah. Maka, cara tercepat menarik pertolongan-Nya adalah dengan menolong orang lain terlebih dahulu. Sedekah di saat sulit adalah “pancingan” agar keberkahan turun ke dalam sisa harta yang kita miliki.

Perlindungan dari Api Neraka. Sedekah juga berfungsi sebagai perisai. Jangan pernah meremehkan sekecil apa pun pemberian Anda. Bahkan jika itu hanya separuh dari sebutir kurma.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan separuh biji kurma.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jika separuh kurma saja bisa menjadi penghalang dari api neraka, maka selembar uang kecil yang Anda masukkan ke kotak amal dengan hati yang tulus saat lapar melanda, tentu memiliki kekuatan yang luar biasa di sisi Allah.

Bagaimana cara tetap istikamah berbagi meski dompet sedang “diet” ketat?. Gunakan Skala Prioritas yakni pastikan kebutuhan pokok keluarga (anak dan istri) terpenuhi dulu, karena menafkahi mereka juga termasuk sedekah yang paling utama. Jangan Lihat Nominal karena jika hanya punya uang receh, berikanlah. Allah tidak melihat kemasan, tapi melihat niat. Sedekah Non-Materi,  jika benar-benar tidak ada uang, ingatlah bahwa senyum, tenaga, menyingkirkan duri di jalan, atau sekadar mendoakan orang lain adalah sedekah. Rahasiakan tentang sedekah, dan pastikan secara sembunyi-sembunyi saat kita sendiri sedang sulit akan menghindarkan kita dari penyakit riya dan membuat kita lebih merasa dekat dengan Allah.

Uang mepet bukanlah alasan untuk menutup pintu kebaikan. Justru di masa-masa sulit itulah, sedekah menjadi “obat” bagi kegundahan hati dan “kunci” bagi pintu-pintu rezeki yang tertutup. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena mungkin saja, Anda akan menjadi kaya justru karena keberkahan dari sedekah yang Anda paksakan di saat sulit.

Ingatlah, Allah tidak memanggil orang yang mampu untuk bersedekah, tapi Allah akan memampukan orang yang mau bersedekah.