Jawab Tantangan UMKM Halal, Mahasiswa Ekis UII Sabet Juara 3 Business Plan Competition

YOGYAKARTA (EKIS NEWS) — Kompetisi tidak hanya menjadi ajang untuk meraih kemenangan, tetapi juga ruang untuk menguji sejauh mana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh tiga mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Asiyah Azzahra, Suroyya Yefiani, dan Amalia Nuri Ma’rifah (angkatan 2023), yang berhasil meraih Juara 3 Business Plan Competition dalam ajang BRISMAFEST yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Keuangan Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang diselenggarakan pada 16 Mei 2026.

Melalui kompetisi tersebut, tim Ekonomi Islam UII menghadirkan sebuah platform inovatif bernama SYARQ, sebuah gagasan bisnis yang lahir dari keresahan terhadap kondisi UMKM di Indonesia. Berdasarkan pengamatan mereka, masih banyak pelaku UMKM yang belum memperoleh akses pembiayaan formal, sementara di sisi lain terdapat tuntutan kepemilikan sertifikat halal bagi pelaku usaha kuliner.

Berangkat dari dua persoalan tersebut, SYARQ dirancang sebagai platform yang mengintegrasikan pengelolaan keuangan dan pendampingan sertifikasi halal dalam satu layanan. Dengan konsep tersebut, proses pengembangan usaha diharapkan menjadi lebih mudah, efisien, dan sesuai dengan prinsip ekonomi syariah.

Proses penyusunan business plan ini bukan tanpa tantangan. Selain mengusung ide yang benar-benar baru, tim juga harus membangun chemistry karena merupakan formasi yang baru terbentuk. Berbagai revisi dan penyempurnaan dilakukan bersama dosen pembimbing, yakni Bapak Muhammad Iqbal, S.E.I., M.S.I., hingga akhirnya proposal dapat diselesaikan tepat waktu.

Tahap yang paling menantang, menurut tim, adalah penyusunan dummy aplikasi serta perencanaan keuangan yang menjadi fondasi utama dari ide bisnis tersebut. Pembagian tugas pun dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota agar seluruh aspek proposal dapat tersusun secara optimal.

Persaingan di BRISMAFEST juga memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Mereka harus berhadapan dengan berbagai tim dari perguruan tinggi lain yang telah memiliki pengalaman panjang bahkan beberapa di antaranya telah menjalankan bisnis secara nyata.

“Melihat tim-tim lain yang keren dan sudah sering menang tentu menjadi tekanan tersendiri. Tapi Alhamdulillah, dengan tim baru, ide baru, dan waktu persiapan yang cukup singkat, kami masih bisa meraih podium tiga. Kami bangga dengan proses yang sudah dilewati bersama,” ungkap Asiyah

Bagi mereka, kompetisi seperti ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wadah untuk mengukur sejauh mana ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat diimplementasikan dalam dunia nyata. Dukungan dari para dosen yang terbuka untuk berdiskusi dan memberikan bimbingan juga menjadi salah satu kekuatan yang dirasakan selama proses persiapan.

Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi juga didorong untuk menghadirkan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan ekonomi umat melalui karya dan gagasan nyata.

Mereka pun berharap semakin banyak mahasiswa Ekonomi Islam UII yang berani mencoba berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Karena sering kali, sebuah prestasi besar berawal dari keberanian untuk mengambil langkah pertama.

Program Studi Ekonomi Islam UII terus berkomitmen mendukung mahasiswanya untuk berkembang dan berprestasi di berbagai bidang. Melalui lingkungan akademik yang suportif serta pendampingan dari para dosen, mahasiswa didorong untuk menjadi generasi yang inovatif, kompetitif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Kunjungi kami di https://fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran mahasiswa baru tersedia di https://pmb.uii.ac.id

Pimpin Tim Lintas Fakultas, Mahasiswa Ekis UII Torehkan Prestasi Internasional

YOGYAKARTA, 15/05/2026 (EKIS NEWS) — Inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau perusahaan teknologi raksasa. Terkadang, inovasi bermula dari keberanian mahasiswa untuk melihat persoalan dan mencari solusi yang lebih baik di sekitarnya. Semangat itulah yang membawa Muhammad Ilham Hanief Rahmansyah, mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Angkatan 2024, yang menjadi ketua tim bersama anggota dari lintas fakultas lainnya dan meraih Bronze Medal dalam ajang Innovation, Invention and Design Competition (INDES) 2025 yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Perak, Malaysia pada 13–15 Mei 2026.

Dalam kompetisi internasional tersebut, Ilham berkolaborasi dengan Wisnu Wardhana dan Leli Elisca dari Program Studi Analisis Keuangan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII, serta Zhilal dari Program Studi Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII. Bersama-sama, mereka mengembangkan sebuah inovasi bernama PreCision (Pre-Decision Financial Simulation): Financial Impact and Risk Assessment Tools for Pre-Decision Analysis, sebuah platform yang dirancang untuk membantu pengguna menganalisis dampak keuangan dan risiko sebelum mengambil keputusan finansial.

Kolaborasi Lintas Fakultas Menuju Panggung Internasional

Perjalanan menuju Malaysia dimulai sejak awal tahun. Ilham mengaku bergabung dalam tim setelah mendapat ajakan dari rekannya di Program Studi Analisis Keuangan. Sebelum berangkat, tim harus melewati proses seleksi internal di lingkungan UII dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika untuk menentukan proposal yang layak mewakili kampus pada kompetisi internasional tersebut.

Persiapan dilakukan secara bertahap, mulai dari penyusunan proposal, pembagian tugas sesuai bidang keahlian masing-masing anggota, hingga pengembangan produk berbasis website yang dibangun menggunakan GitHub. Proses tersebut juga dibarengi dengan sesi mentoring rutin untuk menyempurnakan konsep maupun implementasi inovasi yang dikembangkan.

Meski telah memiliki ide dasar sejak awal, tantangan terbesar justru muncul ketika tim harus menyempurnakan konsep dan memastikan inovasi yang dibuat benar-benar mampu menjawab permasalahan nyata di masyarakat.

Membawa Inovasi ke Kancah Global

INDES merupakan ajang yang mempertemukan inovator, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai institusi untuk mempresentasikan gagasan kreatif dalam bidang inovasi, penemuan, dan desain. Bagi Ilham, kesempatan berkompetisi di tingkat internasional memberikan pengalaman yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar perlombaan.

Selain mempresentasikan inovasi yang dikembangkan, para peserta juga berkesempatan bertukar wawasan dengan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang akademik. Lingkungan kompetisi yang hangat dan terbuka menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama berada di Malaysia.

Menurut Ilham, pengalaman tersebut membuka perspektif baru tentang bagaimana setiap negara memiliki cara yang berbeda dalam melihat dan menyelesaikan suatu permasalahan. Beragam inovasi yang dipamerkan peserta juga memberikan banyak inspirasi serta sudut pandang baru dalam proses pengembangan ide.

Belajar dari Perbedaan Budaya dan Cara Berpikir

Selama mengikuti kompetisi, tim juga berinteraksi dengan mahasiswa dari UiTM Malaysia dan peserta lainnya. Menariknya, kedekatan budaya antara Indonesia dan Malaysia membuat proses komunikasi berlangsung cukup cair.

Meski demikian, Ilham tetap merasakan banyak perbedaan, mulai dari kebiasaan sehari-hari, cara berpikir, hingga pendekatan dalam menciptakan inovasi. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi di lingkungan internasional.

Baginya, mengikuti kompetisi di luar negeri bukan hanya tentang mengejar medali, tetapi juga tentang memahami bagaimana masyarakat global memandang tantangan dan peluang di masa depan.

Inovasi sebagai Wujud Kemaslahatan

Sebagai mahasiswa Ekonomi Islam, Ilham melihat pengalaman ini dari perspektif yang lebih luas. Ia meyakini bahwa inovasi tidak semata-mata dinilai dari kecanggihan teknologi atau besarnya keuntungan yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

“Inovasi terbaik bukan tentang seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa besar inovasi tersebut mampu memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat secara adil dan berkelanjutan,” ungkap Ilham.

Pandangan tersebut selaras dengan nilai-nilai Ekonomi Islam yang menempatkan kemaslahatan sebagai tujuan utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui inovasi seperti PreCision, Ilham berharap teknologi dapat menjadi sarana untuk membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak dan terukur.

Membawa Semangat Global ke Ekonomi Islam UII

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam UII mampu berkontribusi dan bersaing di tingkat internasional, tidak hanya dalam bidang ekonomi syariah, tetapi juga dalam pengembangan inovasi lintas disiplin. Keberhasilan Ilham dan tim menunjukkan bahwa kolaborasi antara berbagai bidang ilmu dapat menghasilkan solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat.

Bagi Ilham, pengalaman internasional seperti ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, dan meningkatkan kapasitas diri. Ia pun mengajak mahasiswa lain untuk tidak ragu mencoba berbagai peluang yang ada.

Melalui dukungan lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa untuk terus berkembang, Program Studi Ekonomi Islam UII berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata di tingkat nasional maupun global.

Ingin menjadi bagian dari generasi muda yang inovatif, berprestasi, dan berdaya saing global?

Program Studi Ekonomi Islam UII terus membuka ruang bagi mahasiswanya untuk berkembang melalui berbagai kegiatan akademik, kompetisi, riset, hingga pengalaman internasional.

Kunjungi kami di https://fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran mahasiswa baru tersedia di https://pmb.uii.ac.id

Mei 15, 2026/in Ekis Insight, News, Prestasi Mahasiswa/ by Almeyda Asharsyira

Langkah Awal yang Membanggakan Mahasiswa Ekonomi Islam UII Raih Prestasi di Ajang Debat Bahasa Inggris Nasional

YOGYAKARTA, 15/05/2026 (EKIS NEWS) — Kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan penyampaian argumentasi dalam bahasa asing bukan lagi sekadar nilai tambah bagi mahasiswa, tetapi menjadi bagian penting dalam menghadapi ruang diskusi global. Hal inilah yang dibuktikan oleh mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Aisya Nurlaily (angkatan 2025), yang berhasil menorehkan prestasi dalam ajang Annual Saeed National Competition (ASNC) 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 14–15 Mei 2026 melalui cabang debat Bahasa Inggris.

Dalam kompetisi debat bahasa Inggris tingkat nasional tersebut, Aisya tidak berjuang sendiri. Ia tergabung dalam satu tim bersama Nadhira Parsa Wijaya dari Ilmu Komunikasi Internasional Program (IP) 2025 dan Naufal Rafi Pratama dari Hukum IP 2025. Ketiganya membawa semangat kolaborasi lintas program studi untuk tampil di hadapan peserta dari berbagai universitas.

Kompetisi ini menggunakan sistem Asian Parliamentary Debate dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Para peserta dituntut untuk mampu berpikir kritis, menyusun argumen secara cepat, sekaligus mempertahankan pendapat dalam waktu terbatas. Menariknya, setiap sesi menghadirkan mosi berbeda yang diacak secara langsung.

Beberapa isu yang diangkat dalam perlombaan pun sangat relevan dengan kondisi sosial dan politik saat ini, mulai dari efektivitas program makan gratis bagi pelajar, korupsi sistemik dalam politik, hingga peran generasi muda dalam pemerintahan.

Perjalanan menuju kompetisi nasional ini tentu tidak instan. Aisya mengungkapkan bahwa persiapan dilakukan selama kurang lebih satu bulan melalui latihan mandiri maupun diskusi bersama tim untuk membedah berbagai kemungkinan mosi.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya soal menyusun argumen, tetapi bagaimana menyampaikannya secara lancar dalam bahasa Inggris di bawah tekanan waktu yang singkat.

“10 detik sebelum menyampaikan argumen jadi waktu paling deg-degan buat aku. Tapi ketika mulai berbicara, rasa gugup itu berubah jadi tekad untuk memberikan yang terbaik,” ungkap Aisya.

Pengalaman debat sebelumnya ternyata menjadi bekal penting bagi Aisya. Sejak di bangku pesantren, ia sudah aktif mengikuti berbagai kompetisi diskusi dan debat. Ia pernah meraih prestasi dalam debat bahasa Arab di Festival Dunia Arab Gontor 2023 serta debat bahasa Inggris di Festival UNIDA 2024.

Meski begitu, kompetisi debat antaruniversitas tetap memberikan tantangan dan pengalaman baru yang berbeda. Suasana kompetisi yang kompetitif membuat peserta dituntut untuk mampu berpikir cepat dan mempertahankan fokus selama perlombaan berlangsung.

Bagi Aisya, kemenangan dan pengalaman di ASNC 2026 bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga proses belajar yang membentuk mental dan cara berpikirnya. Ia mengaku bersyukur bisa membawa nama baik UII, khususnya Prodi Ekonomi Islam, di ajang nasional.

Dukungan dari lingkungan kampus juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Prodi Ekonomi Islam UII memberikan dukungan moral maupun materil, termasuk dalam kebutuhan akomodasi dan motivasi selama proses perlombaan berlangsung.

Dari pengalaman ini, Aisya berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mencoba berbagai kesempatan pengembangan diri, termasuk kompetisi akademik dan non-akademik.

“Jangan pernah takut mencoba, karena kita tidak tahu kesempatan mana yang akan Allah berikan kepada kita,” pesannya.

Prestasi ini kembali menunjukkan bahwa mahasiswa Ekonomi Islam UII tidak hanya berkembang dalam bidang akademik keislaman dan ekonomi syariah, tetapi juga mampu bersaing dalam forum intelektual global melalui kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan public speaking.

Program Studi Ekonomi Islam UII terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berkembang, berprestasi, dan berani mengambil peluang di tingkat nasional maupun internasional.

Kunjungi kami di https://fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran mahasiswa baru di https://admisi.uii.ac.id

Dari Peserta Menjadi Tuan Rumah: ACTION 2025, Inisiatif Kompetisi Nasional Dari Mahasiswa Ekonomi Islam UII

YOGYAKARTA, 21/12/2025 (EKIS NEWS) — Tidak hanya dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi, kali ini mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) melangkah lebih jauh dengan menghadirkan ACTION  (Advancing Creativepreneurship Through Islamic Oriented Innovation) 2025, ajang Business Plan Competition perdana yang digelar secara offline dan melibatkan peserta dari puluhan universitas di Indonesia.

Diselenggarakan pada 21 Desember 2025 di Kampus Terpadu,Auditorium Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam UII. ACTION hadir sebagai ruang aktualisasi bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menuangkan gagasan bisnis yang kreatif, inovatif, serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Dari Ambisi Kolektif Menjadi Ajang Nasional

ACTION lahir dari semangat kolaborasi Departemen Research and Development (RnD) dan ISEN di bawah naungan Forum Kajian Ekonomi Islam (FKEI) UII. Berangkat dari pengalaman pengurus yang kerap mengikuti, dan menjuarai kompetisi di berbagai daerah, muncul satu pertanyaan reflektif  “mengapa belum pernah menjadi tuan rumah?”

“ACTION berangkat dari keresahan kami sebagai pengurus yang sering mengikuti dan menjuarai berbagai kompetisi nasional, tetapi belum pernah menjadi tuan rumah. Dari situ muncul keinginan untuk menghadirkan ruang kompetisi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga membawa nilai ekonomi Islam yang berorientasi pada kemaslahatan,” ujar Yasaka Fadhilah Tasman, Ketua FKEI UII.

Dari ambisi kolektif itulah ACTION diinisiasi. Bukan sekadar program kerja, tetapi langkah nyata mahasiswa Ekonomi Islam UII untuk berkontribusi di level nasional sebagai penyelenggara kompetisi ilmiah-bisnis yang berkualitas.

Seleksi Ketat, Final yang Menegangkan

Tahun perdana ini, ACTION diikuti oleh 27 tim dari berbagai universitas di Indonesia. Tahap seleksi awal dilakukan secara daring, sebelum akhirnya terpilih 5 tim semifinalis yang melaju ke babak semifinal dan final secara luring di Kampus Terpadu UII.

Format offline dipilih bukan tanpa alasan. Selain menghadirkan euforia kompetisi yang lebih terasa, sistem ini juga memastikan objektivitas penilaian melalui presentasi langsung di hadapan dewan juri. Dengan begitu, ide bisnis yang ditawarkan dapat diuji secara komprehensif, mulai dari konsep hingga kelayakan implementasi.

Apresiasi Peserta dan Tantangan Panitia

Respons peserta terhadap ACTION 2025 terbilang sangat positif. Banyak peserta menilai kompetisi ini sebagai salah satu lomba paling terstruktur dan profesional yang pernah mereka ikuti, termasuk dari sisi pendampingan peserta oleh tim humas dan panitia.

Di balik kelancaran acara, tantangan besar sempat dihadapi panitia. Keterbatasan pendanaan dan minimnya sponsor hampir membuat acara ini batal terselenggara. Namun, optimisme kembali tumbuh ketika dukungan dana datang di detik-detik akhir penutupan pendaftaran. Ditambah dengan fakta bahwa ACTION merupakan pengalaman pertama, panitia harus belajar dari nol dan membangun sistem bersama demi menyukseskan acara.

ACTION tidak hanya berhenti pada perebutan juara. Kompetisi ini membawa nilai penting tentang lahirnya ekonom rabbani muda “young entrepreneurs” yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menjunjung integritas dan kebermanfaatan sosial.

Salah satu panitia menyampaikan harapannya agar ACTION dapat menjadi ruang tumbuh bersama dan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Menurutnya, mempertahankan kualitas dan nama baik jauh lebih menantang daripada meraih kesuksesan pertama.

Yasaka menambahkan, “Melalui ACTION, kami ingin menunjukkan bahwa banyak ekonom rabbani muda yang lahir dari kampus-kampus di Indonesia, entrepreneur yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menjunjung integritas dan tanggung jawab sosial. Harapan kami, ACTION bisa terus berlanjut dan menjadi ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa Ekonomi Islam.”

Ruang Tumbuh Mahasiswa Ekonomi Islam

Kehadiran ACTION 2025 menegaskan bahwa mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya aktif sebagai peserta kompetisi, tetapi juga mampu tampil sebagai inisiator dan penyelenggara ajang nasional yang berdampak. Ini menjadi bukti bahwa ruang-ruang kreatif dan kepemimpinan mahasiswa terus tumbuh subur di lingkungan Ekis UII.

Melalui kegiatan seperti ACTION, mahasiswa belajar mengaplikasikan nilai-nilai ekonomi Islam secara nyata, mulai dari inovasi bisnis, kerja tim, hingga tanggung jawab sosial. Sebuah langkah kecil yang membuka jalan besar bagi kontribusi mahasiswa Ekis di masa depan.

Ingin menjadi bagian dari generasi kreatif, inovatif, dan berintegritas?
Program Studi Ekonomi Islam UII terus mendukung mahasiswanya untuk tumbuh, berprestasi, dan berdampak, baik di tingkat nasional maupun global.

Kunjungi kami di https://fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran mahasiswa baru tersedia di https://pmb.uii.ac.id

Mahasiswa Ekonomi Islam UII Sampaikan Gagasan di Konferensi Internasional STREAMS UIII, Depok

Yogyakarta, 27 November 2025 (EKIS NEWS) – Salah satu mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII),  Almeyda Asharsyira angkatan 2023, berhasil tampil di panggung internasional sebagai presenter pada konferensi STREAMS (Students’ Conference on Islam and Muslim Societies) yang diselenggarakan oleh Faculty of Islamic Studies, Universitas Islam International Indonesia (UIII) Depok, pada 27 November 2025.

STREAMS UIII merupakan konferensi prestigious yang diikuti oleh mahasiswa S2 dan S3 dari berbagai universitas dan negara. Tahun ini, panitia menerima 270 abstrak dari 56 universitas di 15 negara, dan hanya 30 paper terbaik yang dinyatakan lolos untuk dipresentasikan. Menariknya, Almeyda menjadi satu-satunya mahasiswa S1 yang terpilih pada seleksi, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi dirinya.

Mengharumkan Nama Prodi di Ruang Akademik Internasional

Paper yang dipresentasikan berjudul “Non-Transactional Consumption and the Rojali Behavior: An Islamic Ethical and Contractual Framework for Café Sustainability”, sebuah kajian konseptual yang membahas fenomena penggunaan fasilitas kafe tanpa melakukan transaksi, perilaku yang semakin marak di era modern ini.

Melalui pendekatan fiqh mu‘āmalah, etika bisnis Islam, hingga kajian perilaku konsumen, Almeyda memetakan bahwa perilaku “rojali” (rombongan jarang beli) bukan hanya sekadar masalah manajemen ruang kafe, tetapi juga menyentuh dimensi akad, keadilan, israf, serta tanggung jawab sosial dalam etika konsumsi Islam.

Presentasi Almeyda mendapat apresiasi positif dari peserta dan panelis. Beberapa mahasiswa internasional bahkan menyampaikan, “You are the winner. I didn’t expect you are an undergraduate student.”

Suasana Konferensi: Hangat, Intelektual, dan Mengayomi

Sebagai mahasiswa S1, Almeyda mengaku sempat gugup sebelum tampil. Namun, ia merasa terharu karena para mahasiswa S2 dan S3 itu, justru sangat ramah, suportif, dan mengayomi.

“Saya merasa dirangkul. Mereka tidak merendahkan saya. Justru banyak yang menemani dan menguatkan. Saya teringat Ibu saya pernah bilang, orang yang pendidikannya tinggi biasanya tidak suka meremehkan, mereka justru menghormati menghargai, dan mengayomi yang dibawahnya, mereka lebih dewasa” ungkapnya.

Pengalaman ini menjadi pembuktian bahwa ruang akademik internasional bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga kolaborasi dan pertukaran pemikiran.

Tanggapan Panelis: Apresiasi dan Penguatan Akademik

Meski memberikan banyak apresiasi, panelis juga memberikan masukan konstruktif untuk pengembangan paper ke tahap berikutnya, antara lain:

  1. Penyesuaian skala teori dengan skala masalah, agar analisis lebih seimbang dan fokus.
  2. Penguatan data empiris, khususnya terkait dampak finansial bagi kafe.
  3. Pengayaan literatur, dari fiqh klasik → fiqh kontemporer → aplikasi modern.

Masukan tersebut menjadi bekal penting untuk pengembangan penelitian di masa mendatang.

Selain presentasi, Almeyda juga berkesempatan menjelajahi lingkungan Faculty Islamic Studies UIII dan berkenalan dengan mahasiswa internasional serta peserta konferensi lainnya. Salah satu momen berkesan adalah bertemu dan akrab dengan salah satu influencer, figur akademik muda yang sudah lama menjadi inspirasinya.

Selain itu, keesokan harinya Almeyda juga ditemani oleh salah satu mahasiswa PhD UIII untuk berkeliling yang merupakan kolega dari Dosen Ekonomi Islam UII, Bapak Rheyza Virgiawan, LC., ME. Dukungan jejaring ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Ekonomi Islam UII tidak dibiarkan sendiri, ia selalu didampingi, diawasi oleh komunitas akademik yang kuat dan saling mendukung.

Kebanggaan untuk Prodi Ekonomi Islam UII

Partisipasi mahasiswa S1 dalam konferensi internasional terpilih seperti STREAMS menjadi bukti bahwa Prodi Ekonomi Islam UII memiliki potensi besar dalam bersaing di tingkat global. Hal ini juga sejalan dengan visi prodi untuk memperluas jejak akademik dan membangun budaya internasionalisasi.

Almeyda berharap pengalaman ini dapat menginspirasi teman-temannya di Prodi Ekonomi Islam UII untuk berani mengambil kesempatan dan tidak takut mencoba hal-hal baru.

“Kadang kita merasa tidak layak atau tidak cukup hebat. Itu juga yang sangat aku khawatirkan sebelum berangkat bahkan sampai sempat jatuh sakit. Tapi aku sadar bahwa kesempatan besar sering datang justru ketika kita berani melangkah,” tuturnya.

Perjalanan Almeyda di STREAMS UIII menjadi bukti bahwa mahasiswa Ekonomi Islam UII mampu menembus panggung internasional dan menyampaikan gagasan di hadapan komunitas akademik global. Semoga pengalaman ini menjadi langkah awal bagi lebih banyak mahasiswa dan civitas akademika Ekis UII untuk terus berkarya, berjejaring, dan berkontribusi di ruang-ruang keilmuan internasional.

Daftar Sekarang untuk menjadi mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam di Pmb.uii.ac.id
Temukan informasi menarik lainnya dengan mengunjungi https://fis.uii.ac.id/ekis/

Sobat Ekis Sabet Juara di IEKI International Student Festival 2025, Bandung

YOGYAKARTA, 15 November 2025 (EKIS NEWS) — Di tengah padatnya jadwal UTS, deadline mata kuliah, dan berbagai aktivitas kampus, mahasiswa Ekonomi Islam UII kembali membuktikan bahwa kesibukan bukan penghalang untuk berprestasi. Tahun ini, Prodi Ekonomi Islam UII kembali meraih pencapaian di ajang IEKI International Students Festival (IISF) 2025, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam FPEB UPI Bandung, tiga tim mahasiswa Ekonomi Islam UII angkatan 2023 berhasil membawa pulang tiga piala utama sekaligus. Acara berlangsung pada 13–15 November 2025 di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, di bawah naungan APSEI Indonesia.

Tahun ini, IISF diikuti oleh peserta dari berbagai kampus, mulai dari Universitas Siliwangi, Universitas Sriwijaya, Universitas Tanjungpura, UIN Sunan Ampel, Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Aisyiyah Palembang, Universitas Jambi, Universitas Mulawarman, Universitas Djuanda, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Muhammadiyah Dr. Hamka, Universitas Nahdlatul Ulama, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyyah Makassar, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Padjajaran, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Mindanao State University Philippines hingga University of Madinah.

Tiga Prestasi Utama Mahasiswa Ekonomi Islam UII

1. Juara 1 Business Plan Competition

Tim business plan yang beranggotakan Yuyun Rohayati, Asiyah Azzahra, dan Amalia Nuri Ma’rifah berhasil menempati posisi pertama dengan gagasan bisnis bertajuk: “HalalEase: Your Trusted Path to Halal in Bali.” Kemenangan ini terasa begitu emosional bagi tim, mengingat proposal bisnis dengan fokus bidang yang sama telah mereka bawa ke beberapa kompetisi sebelumnya tanpa berhasil meraih juara pertama. Tahun ini, usaha dan ketekunan mereka akhirnya terbayar, membuktikan bahwa jam terbang itu nyata.

2. Juara 1 Essay Competition

Almeyda Asharsyira meraih Juara 1 melalui esainya yang berjudul: “Youth and the Price of Comfort: Beyond a Cup of Coffee, It’s About Conscience.” Walau ini merupakan lomba essay pertamanya di bangku kuliah, Almeyda tampil dominan dengan skor penilaian jauh di atas peserta lainnya. Pencapaian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana konsistensi belajar dan jam terbang dalam kepenulisan mulai memberi hasil nyata.

3. Juara 2 Public Poster Competition

Prestasi lainnya datang dari tim poster yang beranggotakan Yasaka Fadhilah, Suroyya Yefiani, dan Asiyah Azzahra, yang meraih Juara 2 dengan karya berjudul: “ZISWAF: Small Acts, Big Changes”.

Perjalanan Panjang Yang Cukup Menguras Tenaga

Perjuangan menuju IISF tidak mudah. Para peserta dari UII harus membagi waktu di tengah pekan UTS yang padat. Beberapa di antara mereka bahkan mengikuti ujian susulan agar tetap bisa berangkat ke Bandung tanpa mengorbankan nilai akademik. Tantangan seperti persiapan presentasi, finalisasi karya, hingga pengelolaan  waktumenjadi bagian dari proses yang harus mereka lalui.

Khusus tim business plan, kemenangan ini menjadi catatan yang isnpiratif. Setelah berkali-kali mencoba bukanlah alasan untuk berhenti, pada akhirnya mereka bisa merasakan podium tertinggi. Sementara itu, keberhasilan Almeyda memenangkan lomba essay pertamanya semakin menegaskan bahwa kesempatan besar sering datang pada mereka yang berani mencoba.

Dukungan yang Menguatkan

Kesuksesan ini tidak terlepas dari lingkungan yang mendukung, mulai dari kekompakan antar peserta, dukungan moral sesama angkatan, hingga fasilitas dari Prodi dan Fakultas. Prodi Ekonomi Islam UII menanggung biaya pendaftaran seluruh peserta, sesuatu yang sangat berarti bagi mahasiswa. Seperti yang diungkapkan salah satu peserta:

“Kalau pendaftarannya tidak dibiayai prodi, mungkin aku tidak akan ikut.”

Fakultas Ilmu Agama Islam juga turut memberikan dukungan transportasi keberangkatan, disertai doa dan perhatian dari para dosen. Para peserta juga mendapat kesempatan meminta review, latihan presentasi, dan saran dari dosen sebelum berangkat lomba.

Bagi para mahasiswa Ekis, prestasi di IISF bukan hanya tentang memenangkan kompetisi. Ini adalah cara mereka mengaplikasikan apa yang dipelajari di ruang kelas ke dalam bentuk karya nyata yang relevan dengan isu-isu ekonomi Islam. Mereka berharap langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi adik tingkat agar tidak ragu mencoba dan mengambil kesempatan serupa.

“Harapannya, dengan kemenangan ini adik-adik tingkat bisa punya gambaran lebih jelas untuk ikut berbagai lomba. Kadang orang ingin maju dan berkembang, tapi masih bingung harus mulai dari mana. Semoga lewat pengalaman kami, mereka jadi lebih berani untuk mencoba dan terus berkembang,” Tambah Yefi.

Ekis UII, Rumah Tumbuhnya Prestasi

Prestasi ini kembali menegaskan bahwa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya fokus pada pembelajaran teoritis, tetapi juga menyediakan ruang, dukungan, dan peluang bagi mahasiswa untuk berkembang di tingkat nasional maupun internasional.

Di Ekis, mahasiswa tidak berjalan sendiri, mereka ditemani pembinaan, bimbingan, dan fasilitas yang mendukung untuk menjadi versi terbaik diri mereka.

Ingin seperti mereka?
Daftar Sekarang dan Jadilan bagian dari Program Studi Ekonomi Islam UII di pmb.uii.ac.id
Temukan Informasi dan wawasan menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

Menulis dari Hati, Berprestasi untuk Negeri, Kisah Tara Aqila Menjadi Juara 1 Nasional KTIH (STHQ) 2025

YOGYAKARTA, 19 Oktober 2025 (EKIS NEWS) — Di balik layar ajang nasional bergengsi, ada sosok muda yang membuktikan bahwa ketekunan dan rasa ingin tahu bisa membawa seseorang menembus batas. Tara Aqila Humayra, mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UII angkatan 2023, yang sukses menorehkan prestasi sebagai Juara 1 Nasional bidang Karya Tulis Ilmiah Hadits (KTIH) pada ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-hadits (STQH) Nasional 2025, yang diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada 09-19 Oktober 2025.

Bagi Tara, perjalanan ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga proses menemukan makna mendalam dalam belajar dan berjuang. “Awalnya cuma pengin coba hal baru dan ngembangin diri dalam karya tulis ilmiah,” ujarnya Tara. Sebelumnya, Tara memang pernah ikut lomba serupa di MTQM Jambi dalam tim, namun kali ini adalah pertama kalinya ia turun sebagai peserta individu di tingkat nasional.

Perjalanan Panjang Menuju Panggung Nasional

Tidak ada yang instan dari perjalanan prestasi ini. Tara harus melalui proses panjang sejak awal tahun, mulai dari seleksi tingkat kota, lanjut ke provinsi, hingga akhirnya mewakili Kalimantan Timur di tingkat nasional. Ia mengikuti pelatihan intensif atau training center yang digelar LPTQ Kaltim, tempat para peserta terbaik dibina dan diuji kemampuannya.

“Prosesnya lama banget, sekitar sembilan bulan,” ungkapnya.

Selama masa itu, Tara menyiapkan dua karya besar. Tema pertama tentang ketahanan keluarga, dengan judul Digital Free Family Hours: Upaya Mengatasi Loneliness Epidemic Akibat Kesibukan Orang Tua, dan tema kedua tentang ketahanan pangan, berjudul Ketahanan Pangan Islami: Mewujudkan Food Estate Berkeadilan dan Good Handling Practices yang Berkah.

Kedua tema itu, katanya, berangkat dari kegelisahan terhadap isu sosial modern yang semakin relevan, keluarga yang renggang karena kesibukan digital, dan tantangan pangan yang butuh solusi berbasis nilai Islam.

Belajar dari Nol dan Bertahan Tanpa Wi-Fi

Menulis karya ilmiah tingkat nasional tentu bukan hal mudah. Tara mengakui dirinya sempat kewalahan, apalagi karena belum punya pengalaman mendalam, dalam penulisan ilmiah.

“Bener-bener belajar dari nol. Harus banyak baca, mikir kritis, dan belajar ngetik cepat,” kenang Tara

Namun yang paling berkesan justru adalah saat ia menulis selama 7–8 jam tanpa koneksi internet, hanya mengandalkan referensi cetak yang sudah disiapkan.

“Waktu itu no Wi-Fi, jadi harus bener-bener fokus dan ngandelin bahan yang ada,” ceritanya.

Tantangan itu ternyata menjadi momen paling berharga baginya, karena dari situ ia belajar disiplin, sabar, dan tenang di bawah tekanan.

Ketika akhirnya namanya diumumkan sebagai juara 1 nasional, Tara mengaku sempat tidak percaya.

“Bangga dan terharu banget, rasanya kayak semua lelah selama ini terbayar,” ujarnya.

Dukungan dan Nilai yang Menguatkan

Kesuksesan Tara tentu tak lepas dari dukungan banyak pihak, mulai dari orang tua, LPTQ Kaltim, para pelatih, hingga lingkungan kampus. Ia mengaku Prodi Ekonomi Islam UII berperan besar dalam membentuk cara berpikirnya yang islami dan ilmiah.

“Pelajaran dari kampus, mulai dari bahasa Arab sampai perekonomian Islam, bener-bener membantu waktu nulis karya ilmiah hadis ini,” jelasnya.

Tara menegaskan bahwa usaha dan doa adalah kunci utama, dan nilai-nilai Islam jadi fondasi kuat dalam setiap langkahnya. Baginya, kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru untuk terus belajar dan menebar manfaat.

Belajar, Berprestasi, dan Berproses di Ekonomi Islam UII

Setelah kemenangan ini, Tara berencana untuk terus aktif di bidang karya tulis ilmiah dan konferensi ilmiah nasional. Ia berharap bisa berkontribusi lebih luas di bidang akademik dan sosial.

“Jangan takut melangkah, karena setiap keberanian pasti membuka jalan baru menuju kesempatan dan pengalaman berharga,” pesannya untuk mahasiswa lain.

Kisah Tara Aqila menjadi bukti bahwa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya mencetak mahasiswa unggul di bidang ekonomi syariah, tetapi juga melahirkan generasi Qurani yang berprestasi di bidang ilmiah dan spiritual.

“Buat saya, Prodi Ekonomi Islam UII bukan cuma tempat belajar, tapi tempat di mana aku selalu merasa didukung buat jadi versi terbaik diriku,” tutupnya dengan senyum hangat.

Bersama Program Studi Ekonomi Islam UII terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkembang di segala bidang.

Temukan inspirasi dan peluang berprestasi lainnya di fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran mahasiswa baru tersedia di pmb.uii.ac.id.

Menoreh Prestasi dari Goresan Kaligrafi: Cerita Imron Syafi’i di MTQMN 2025

YOGYAKARTA (EKIS NEWS) – Banjarmasin menjadi saksi bagaimana goresan tinta bisa berbicara tentang semangat, ketekunan, dan keindahan iman. Dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat, pada 5–9 Oktober 2025 lalu, mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Imron Syafi’i (angkatan 2024), berhasil mencuri perhatian lewat karyanya di cabang kaligrafi dekorasi dan menjadi kebanggaan UII.

Awal Perjalanan dan Motivasi Berkarya

Kecintaannya terhadap kaligrafi bukan hal baru. Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah jatuh cinta pada seni menulis indah ayat-ayat suci itu. Baginya, setiap goresan adalah bentuk dzikir yang hidup di atas kanvas.

“Motivasi aku ikut lomba ini biar makin rajin berkarya dan nggak males nggores,” ujar Imron dengan nada penuh semangat.

Proses Seleksi dan Persiapan Menuju MTQMN 2025

Perjalanan menuju kompetisi nasional ini pun tidak mudah. Imron melewati proses seleksi di Festival Qur’an UII, yang kemudian dilanjut menjalani serangkaian persiapan cukup panjang.
Latihan dilakukan secara intens di Rusunawa Selatan, bahkan hingga larut malam, bersama rekan-rekannya yang juga mengikuti cabang lomba lain.

Di tengah keterbatasan waktu dan tempat, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik, termasuk mengadakan tryout di Masjid Ulil Albab sampai begadang demi mematangkan hasil karya.

Tantangan dan Momen Berkesan di Banjarmasin

Namun di balik semangatnya, ada momen-momen sulit yang sempat mengguncang mentalnya. Imron sempat merasa down dan nyaris menyerah, namun semangat untuk membawa nama baik kampus membuatnya bangkit kembali. Keteguhan itulah yang akhirnya membuahkan hasil. Meskipun merasa belum maksimal, Imron mengaku sangat bersyukur atas pencapaiannya kali ini.

Imron berhasil memenangkan Juara 3 Nasional dengan sangat ketat, dan baginya keberhasilan bukan semata hasil dari bakat, tetapi perpaduan antara dua hal sederhana usaha dan doa. Ia percaya kekuatan spiritual dan dukungan orang-orang terdekat menjadi bahan bakar penting untuk mencapai hasil terbaik. Dari pengalaman ini, Imron belajar bahwa proses jauh lebih berharga daripada hasil.

Pesan dan Inspirasi untuk Mahasiswa Ekonomi Islam UII

Pesan itu pula yang ingin disampaikan untuk mahasiswa lain,

“Jangan takut mencoba, jangan malas berproses. Karena setiap langkah kecil menuju kebaikan akan selalu bermakna,” jelas Imron.

Kisah Imron adalah bukti bahwa mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya unggul dalam teori ekonomi berbasis nilai-nilai syariah, tetapi juga berprestasi dalam ranah spiritual dan seni Islam. Dukungan penuh dari prodi dan kampus membuat mahasiswa memiliki ruang luas untuk berkembang, baik di bidang akademik, seni, maupun pengabdian.

Program Studi Ekonomi Islam UII

Melalui semangat “Ilmu, Amal, dan Akhlak,” Prodi Ekonomi Islam UII terus mendorong mahasiswanya untuk menjadi generasi yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berjiwa Qurani. Karena di Ekonomi Islam UII, setiap prestasi adalah bagian dari ibadah, dan setiap karya adalah wujud cinta kepada Allah dan umat.

Kunjungi kami di https://fis.uii.ac.id/ekis dan temukan berbagai peluang inspiratif lainnya.
Informasi pendaftaran mahasiswa baru tersedia di pmb.uii.ac.id.

Mahasiswa Ekonomi Islam UII Raih Beasiswa Cendekia BAZNAS 2025

Yogyakarta (EKIS NEWS) – Tidak semua perjuangan mahasiswa harus ditanggung sendirian. Beasiswa hadir sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, semangat, dan potensi yang dimiliki. Salah satunya adalah Beasiswa Cendekia BAZNAS, program prestisius yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pembinaan karakter, wawasan keislaman, hingga kegiatan sosial.

Kabar bahagia ini baru saja dirasakan oleh Hasni Arifatun Nayali Mahasiswa Ekonomi Islam UII Angkatan 2023, yang berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS 2025.

“Alhamdulillah, perasaan saya tentu sangat bahagia dan bersyukur ketika dinyatakan lolos. Rasanya seperti ada hadiah besar yang Allah titipkan setelah melewati proses panjang. Selain itu, saya juga merasa semakin termotivasi untuk lebih serius dalam belajar dan aktif berkarya, karena ada amanah yang harus dijaga,” ungkap Hasni penuh syukur.

Perjalanan Seleksi yang Ketat

Untuk bisa menjadi salah satu awardee, bukanlah perkara mudah. Proses seleksi diawali dengan kelengkapan berkas administrasi seperti transkrip nilai, surat rekomendasi, hingga esai. Setelah itu, ada tahap wawancara yang menilai komitmen, motivasi, dan visi ke depan. Dan dari banyaknya pendaftar, ia berhasil terpilih.

Motivasi utamanya sederhana namun mendalam: ingin meringankan beban finansial orang tua sekaligus mendapatkan wadah pengembangan diri. Baginya, Beasiswa Cendekia BAZNAS bukan sekadar bantuan dana, tetapi juga kesempatan untuk berjejaring, belajar, dan mengabdi kepada masyarakat.

Manfaat dan Tantangan

Sejak menerima beasiswa ini, ia merasakan manfaat besar, baik dalam segi akademik maupun pengembangan diri. Kini ia bisa lebih fokus belajar tanpa khawatir soal biaya. Selain itu, ia mendapat banyak kesempatan pelatihan, mentoring, hingga jaringan luas bersama awardee dari berbagai daerah.

Tantangan terbesar menurutnya bukan hanya saat bersaing dengan pendaftar lain, tetapi juga setelah resmi menjadi awardee, yakni menjaga konsistensi prestasi akademik sekaligus tetap aktif dalam kegiatan sosial sesuai nilai yang dibawa Baznas.

Dukungan dari Prodi Ekonomi Islam UII

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan lingkungan kampus. Prodi Ekonomi Islam UII dinilainya sangat mendukung, mulai dari penyebaran informasi beasiswa, bimbingan hingga dukungan moral dari dosen dan teman-teman. Suasana akademik yang kondusif membuatnya percaya diri untuk mencoba berbagai peluang.

Ke depan, ia berharap bisa menjaga amanah beasiswa ini dengan sebaik-baiknya, terus meningkatkan prestasi, dan berkontribusi lebih banyak untuk masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi Islam.

“Jangan pernah ragu untuk mencoba. Banyak sekali peluang beasiswa yang bisa kita raih, asal ada niat, usaha, dan doa. Jangan takut gagal, karena setiap proses akan memberi pelajaran berharga. Yang penting berani melangkah dan mempersiapkan diri sebaik mungkin,” Tegasnya

Kisah Hasni ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UII tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh lewat berbagai program prestasi dan beasiswa. Jadi, kalau kamu ingin kuliah di kampus yang mendukung penuh impian dan potensimu, Prodi Ekonomi Islam UII jawabannya.

Pendaftaran telah DIBUKA
Kunjungi pmb.uii.ac.id atau KLIK DISINI

Temukan inspirasi dan informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

Lulus Bawa Ijazah Sudah Biasa , Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam UII Bisa Bawa Gelar CIMM Sekaligus sebelum lulus!

Yogyakarta – Dinamika dunia kerja saat ini menuntut lebih dari sekadar ijazah. Lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki skill terlebih kompetensi tambahan yang terukur dan diakui secara profesional. Di bidang keuangan, terutama keuangan syariah, keberadaan akan tenaga ahli yang tersertifikasi juga sangat esensial. Melihat peluang ini, Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (Ekis UII) mengambil langkah strategis untuk mempersiapkan mahasiswa agar lebih siap bersaing.

Lewat program sertifikasi Certified Islamic Money Manager (CIMM), mahasiswa Ekis UII berkesempatan membawa pulang bukan hanya gelar sarjana, tapi juga pengakuan profesional di bidang perencanaan keuangan syariah. Sertifikasi yang dikeluarkan langsung oleh IARFC Indonesia ini biasanya membutuhkan pelatihan panjang dan biaya jutaan rupiah. Namun, di Prodi Ekonomi Islam UII, jalurnya dibuat lebih praktis dan terjangkau. Berikut cara kerjanya!

Konversi Mata Kuliah Jadi Jalan Pintas

Keistimewaan utama program ini ada pada konversi mata kuliah. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Perencanaan Keuangan Islam tidak perlu lagi mengikuti pelatihan tambahan di luar kampus. Materi perkuliahan sudah diakui setara dengan pelatihan CIMM yang telah dicek serta diverifikasi langsung oleh IARFC Indonesia. Dengan begitu, mahasiswa cukup melanjutkan ke tahap ujian sertifikasi, tanpa perlu mengulang dari awal pelatihan.

Dua Jalur Baru Tahun Ini

Tahun 2025 menjadi momen spesial karena untuk pertama kalinya Prodi Ekonomi Islam UII membuka dua jalur resmi menuju CIMM.

  • Jalur beasiswa, diberikan kepada mahasiswa dengan performa terbaik di mata kuliah Perencanaan Keuangan Islam.
  • Jalur non-beasiswa (berbayar), tetap terbuka bagi mahasiswa lain, dengan biaya yang lebih ringan berkat dukungan dari prodi.

Sebelumnya, mahasiswa hanya mendapat potongan biaya jika ingin ikut ujian. Dengan adanya jalur beasiswa ini, menjadi Langkah yang lebih maju sekaligus peluang baru bagi lebih banyak mahasiswa untuk meraih sertifikasi bergengsi ini.

Beberapa mahasiswa Ekonomi Islam UII sudah sukses melalui program ini dan resmi menyandang gelar CIMM. Di antaranya:

Suroyya Yefiani 23423031 Beasiswa
Diah Nurantika 23423032 Beasiswa
Luthfia Aryati Azis 23423033 Beasiswa
Almeyda Asharsyira 23423034 Beasiswa
Tara Aqila Humayra 23423035 Beasiswa
Syahraini Aisyah Putri Sudirman 23423051 Beasiswa
Yuyun Rohayati 23423055 Beasiswa
Muhaimin 20423031 Non Beasiswa
Zahran Al Asyraf Hibatullah 22423146 Non Beasiswa
Asiyah Azzahra 23423024 Non Beasiswa

Suara Mahasiswa:

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan beasiswa untuk mengikuti ujian sertifikasi CIMM. Menurut saya program ini sangat worth it, karena selain membantu dari segi pembiayaan juga membuka peluang besar untuk mengembangkan kompetensi melalui sertifikasi nasional. Semoga pengalaman ini jadi motivasi, baik untuk saya maupun teman-teman lain agar terus berprestasi. Terima kasih kepada seluruh dosen Ekonomi Islam yang sudah mendukung adanya beasiswa ini.” Ujar Luthfia Penerima Beasiswa

“Rasanya bersyukur banget bisa dapat gelar CIMM. Dari prosesnya, aku dapat banyak insight baru soal perencanaan keuangan Islam yang ternyata nyambung banget sama kuliah. Walaupun ikut jalur berbayar, tetap worth it, apalagi ada potongan dari Prodi Ekonomi Islam. Yang paling penting, pengalaman ini benar-benar nambah value diri aku sekaligus bikin makin yakin sama jalur yang aku tempuh.” Tambah Asiyah Penerima Non Beasiswa

Kenapa Program Ini Istimewa?

  1. Nilai Tambah Kompetitif, Lulusan tidak hanya bawa ijazah, tapi juga gelar profesional yang diakui.
  2. Efisiensi Waktu & Biaya, Materi kuliah sudah diverifikasi IARFC, jadi mahasiswa tidak perlu ikut pelatihan tambahan.
  3. Akses Merata, Adanya beasiswa dan potongan biaya membuat program ini bisa
    diakses lebih banyak mahasiswa.
  4. Penguatan Ilmu & Praktik, Materi kelas langsung relevan dengan kebutuhan profesional, sehingga mahasiswa lebih percaya diri menghadapi dunia kerja.

Dari Kampus ke Dunia Profesional

Program CIMM adalah langkah strategis Prodi Ekonomi Islam UII untuk menyiapkan lulusan yang siap bersaing, tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga praktisi profesional. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan sertifikasi, mahasiswa Ekis UII membawa “senjata ganda”: ijazah sekaligus gelar CIMM. Harapannya menjadi sebuah keunggulan yang membedakan mereka di dunia kerja.

Kalau kamu juga ingin punya gelar istimewa dengan cara yang berbeda, yuk bergabung bersama Program Studi Ekonomi Islam UII!

Temukan peluang, kompetensi, dan pengalaman berharga yang tidak hanya membekali teori, tapi juga menambah value nyata untuk masa depanmu.
Daftar sekarang di pmb.uii.ac.id dan jadilah bagian dari generasi Ekis UII yang siap bersaing di dunia profesional!

Temukan informasi menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis/