Kerjasama internasional sangat strategis pada Universitas Islam Indonesia (UII) untuk terus go international. Khususnya kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Dengan kerjasama tersebut dapat meningkatkan iklim akademik di UII, mulai dari pengembangan kurikulum, riset bersama, students exchange, dan lain sebagainya.
Berkenaan dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII Dr. H. Tamyiz Mukharrom, MA., mewakili Rektor UII menandatangani naskah kerjasama/Memorandum of Understanding (MoU) dengan Zaitunah University, Tunisia. Dari pihak Zaitunah University dilakukan langsung oleh Rektor, Prof. Dr. Hichem Grissa. MoU dilakukan di Zaitunah University, Kamis, 28 Shafar 1437 H/10 Desember 2015.
Turut menjadi saksi dalam MoU tersebut, Dr. H. Muhammad Roy Purwanto, S.Ag., M.Ag. (Dosen Tetap Hukum Islam FIAI) dan Hendra Pramudyo (perwakilan dari Kedubes Republik Indonesia di Tunisia). Salah satu isi kesepakatan dalam MoU yang akan dituangkan lebih lanjut dalam Memorandum of Agreement (MoA) tersebut adalah tentang Students Exchange (Tabaadul ath-Thullaab).
Rencananya, dengan kuliah 1 tahun di Zaytunah University mahasiswa Program Studi Hukum Islam (PSHI) akan mendapatkan ijazah dari Zaytunah University. Hal ini tentu sangat strategis untuk menjadi bahan promosi PSHI kedepannya. Selain itu, pertukaran mahasiswa juga penting untuk membekali wawasan internasional bagi mahasiswa.
Zaytunah University sebenarnya sudah menjalin hubungan yang baik dengan UII. Salah satunya adalah Dekan FIAI meraih gelar doktornya di sana. Penting pula dicatat, akhir 2013 salah seorang guru besar Zaytunah University juga memberikan kuliah umum di FIAI UII. Oleh karena itu, komitmen kerjasama tersebut adalah bagian dari keberlanjutan dari beberapa hal yang sudah dilakukan sebelumnya.
Selain menjalin kerjasama dengan Zaytunah University, Dekan FIAI juga menandantangani MoU dengan University of Sousse, Tunisia, Selasa, 26 Shafar 1437 H/08 Desember 2015. Dari University of Sousse ditandatangani langsung oleh Rektor, Prof. Dr. Faysal Mansouri. Semoga kerjasama tersebut dapat berlanjut dan membawa kebaikan untuk kedua belah pihak. (Samsul Zakaria/DRP)

Dengan raihan tersebut, UII memenangi seluruh perlombaan untuk tingkat mahasiswa. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Dari sisi materi, kontingen UII mendapatkan full supporting dari UII melalui (cq.) Direktorat Pembinaan Bakat, Minat, dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM).
Menurut Drs. H. Sofwan Jannah, M.Ag, dosen tetap Program Studi Hukum Islam (PSHI) FIAI, GMT menjadi barometer sistem hisab yang berkembang di Indonesia. Sebab, lebih dari 30 sistem harus diuji dengan realitas gerhana di lapangan. “GMT total adalah ijtima’ yang dapat disaksikan oleh orang lain dan dapat didokumentasikan,” ujar Sofwan.
Rangkaian Shalat Kusuf dimulai dari pemaparan Materi Ilmiah Peristiwa Gerhana oleh Anisah Budiwati, SHI., MSI. Dia menerangkan terjadinya gerhana di aspek ilmiah-akademis. Menurutnya, GMT hanya terjadi di Indonesia. “GMT dapat dikatakan benar-benar milik Indonesia,” ujar Dosen Tetap Hukum Islam FIAI yang menyelesaikan Master Ilmu Falak di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tersebut saat diwawancari reporter UII News, Kamis, 01 Jumadil Akhir 1437 H/10 Maret 2016.
Dekan FIAI Dr. H. Tamyiz Mukharrom, MA dalam sambutannya memberikan respon positif atas acara tersebut. Dia memberikan sedikit gambaran tentang acara tersebut. “Untuk dosen dan tenaga kependidikan masing-masing ada 6 nama nominasi,” ungkapnya dalam acara yang digelar di Auditorium Kahar Mudzakkir, Kamis 22 Jumadil Akhir 1437 H/31 Maret 2016. Penentuan nominasi berdasarkan hasil polling yang dilakukan mahasiswa. Selanjutnya dalam acara puncak tersebut akan diumumkan siapa yang terbaik dari nominasi tersebut.
Sinau Bareng Cak Nun tersebut mengambil tema Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW melalui Pendidikan, Ekonomi Islam, dan Hukum Islam Menuju Manusia Seutuhnya. Turut hadir dalam acara ini Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII, Dr. Drs. Muntoha, SH., M.Ag., Dekan FIAI UII, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., Wakil Dekan FIAI UII, Dra. Sri Haningsih, M.Ag., dan Ketua Milad UII ke-73, Priyonggo Suseno, M.Sc.
Ketiadaan sistem penanggalan yang terunifikasi ini berdampak pada rentetan masalah serius. Diantaranya terjadi pertikaian-pertikaian terus-menerus pada saat memasuki momen-momen penting seperti Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha baik lokal maupun global.
Dalam pertemuaan yang dihadiri pimpinan universitas Islam sedunia tersebut dibicarakan banyak hal. Pada prinsipnya, FUIW mendorong kerjasama antara perguruan tinggi Islam. Selain itu, dibicarakan tentang pengembangan dosen (muhadhir), riset internasional, kajian Islam Asia Tenggara, dan lain-lain.
ore Anak Muslim (JAM) ke-6.
i persaingan semakin ketat sehingga sedini mungkin perlu memupuk jiwa kompetitif untuk masa depan,” tutur Fakhri Aulia Rahman, Ketua LDF JAF FIAI.