Sangat miris saat membaca berita tentang tawuran antar sekolah. Apalagi ada seorang siswa yang sebenarnya bukan bagian dari “tawuran” tersebut justru menjadi korban (detik.com, 29/11/14). Apakah kekerasan sudah dianggap sebagai satu-satunya penyelesaian masalah? Lalu apa gunanya mereka sekolah? Bukankah mereka juga mendapatkan didikan karakter sejak di rumah? Sebenarnya apa yang salah? Read more

Belajar dari Qatar

Belajar Dari Qatar

Samsul Zakaria, S.Sy.

Kabar bahwa Qatar sedang “bermasalah” dengan beberapa negara Timur Tengah (asy-syarqu al-ausath) lain memompa semangat saya untuk mengingat betapa baiknya Qatar kepada saya. Pasalnya, Januari 2017 lalu Qatar (melalui Qatar Foundation) mengundang saya selaku Trainer Debat Arab Universitas Islam Indonesia (UII) untuk mengikuti Training of Arabic Debate selama 1 minggu. Luar biasanya, Qatar membiayai seluruh keperluan saya untuk acara tersebut, mulai tiket (PP), visa, akomodasi (hotel berbintang), dan souvenir.

Belum lagi bila saya harus mengkalkulasikan ilmu, pengalaman, wawasan, dan segenap hal baik lain yang saya dapatkan selama di sana. Tentu semakin banyak nilai kebaikan yang saya Read more

Sejuta Alasan Bersyukur

Sejuta Alasan Bersyukur | Samsul Zakaria (MJ KR)

Samsul Zakaria, S.Sy.

Ada sejuta alasan untuk bersyukur. Bila kacamatanya bukan semata materi yang serba terukur. Atas segenap ujian yang Allah berikan, banyak sisi positif yang bisa kita temukan. Ini bukan masalah musibah yang menimpa, tetapi tentang cara kita menyikapinya.

Petuah bijak menuturkan, “Hidup yang kau keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan.” Dari situ semestinya kita menyadari. Hidup yang kita ingini boleh jadi adalah hidup yang orang lain hindari. Jadi, kalau memang mendamba, syukuri dahulu apa yang saat ini kita punya.

Petuah di atas cukup mudah kita qiyaskan. Diantara kita mungkin ada yang tidak sejalan dengan pasangan hidup kita. Padahal, “Pasangan hidup yang kau keluhkan adalah Read more

Tak ada yang sia-sia

Tak Ada yang Sia-sia | Samsul Zakaria (MJ KR)

Samsul Zakaria, S.Sy.

Ibarat organisasi, di dalam tubuh manusia terdapat bagian-bagian yang berkaitan (Ancok, 2017). Ceritanya, salah satu bagian tubuh yaitu otak merasa paling penting dari yang lain. “Akulah yang paling penting karena posisiku paling atas. Aku juga yang paling banyak berpikir menentukan langkah hidup. Kualitas manusia juga ditentukan oleh otaknya kan?” tutur otak penuh bangga.

Mendengar ungkapan tersebut, jantung tidak terima. Dia membalas kesombongan otak seraya membanggakan kuasanya dalam konstruksi tubuh manusia. “Akulah yang paling penting. Sebab akulah yang berkuasa mendistribusikan Read more

Iman dapat menjadikan manusia sadar bahwa manusia pada dasarnya setara dan titik pembedanya hanya terletak pada takwa, tetapi iman yang tertutup senantiasa mengotak-kotakkan umat manusia menjadi ‘kita’ dan ‘mereka’ (nahnu wa al-ākhar) dimana yang satu berada di sini dan yang lain berada di sana; kita di surga dan mereka di neraka.

(Gus Irwan Masduqi)

Saya memiliki 2 kalimat. Kalimat pertama: Saya membeli sapi. Kalimat kedua: Saya membeli kambing. Ketika ingin mengungkapkan 2 kalimat tersebut maka saya boleh (bahkan harus) menggabungkannya dalam satu kalimat majemuk. Kalimat kombinasinya menjadi: Saya membeli sapi dan kambing. Sebab, dalam kalimat tersebut subyek dan predikatnya saya; “saya” dan “membeli”. Sehingga, harus disederhanakan supaya tidak terjadi pleonasme (tabdzīr).

Read more

“…kekerasan tidak selalu dapat menyelesaikan masalah, tetapi masalah yang satu ini hanya dapat diselesaikan dengan kekerasan…”

(www.suara-tamiang.com)

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di negara manapun. Begitulah bunyi kata bijak yang tidak diketahui secara pasti siapa pencetusnya. Ungkapan tersebut adalah penegasan bahwa kejujuran merupakan harga mati, yang tidak seharusnya ditawar(-tawar) lagi. Dimanapun manusia berada ia harus menjaga integritasnya, dengan berlaku jujur. Hadits Rasulullāh tegas sekali, kejujuran pada akhirnya akan menghantarkan pelakunya ke pintu surga.

Read more

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggil-Nya dengan pengeras suara setiap saat…” (Gus Mus)

Kalau Tuhan lebih dekat dari urat nadi, lalu siapa yang lebih dekat dengan kita selain Dia? Antara Tuhan dan manusia bertemu dalam kebersatuan yang begitu erat dan lekat. Sayangnya, kita sebagai hamba-Nya seringkali lupa akan kehadiran-Nya, yang bersatu dalam “tubuh” kita. Singkat kata, Tuhan hanya terasa ketika kita mengunjungi rumah ibadah. Sementara ketika kita berada di luar “tempat mulia” itu, aura ketuhanan seolah mulai sirna.

Read more

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jal an Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Nahl [16]: 125)

Salah satu kebiasaan yang ada di daerah penulis yang terryata sangat melekat dan sulit ditinggalkan adalah ‘ngopi’. Sepet rasanya sehari tanpa si hitam nikmat itu. Paling tidak, satu cangkir kopi satu hari sekali. Itu memang kebutuhan saya, bukan untuk jantan-jantanan, lanang-lanangan. Kalau jantan-jantanan berarti cuma macak jantan, artinya dia betina.

Read more

يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوْكُوْنُوْ قَوَّامِيْنَ لِلّهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ وَلاَيَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوْا اعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَالتَّقُوْا اللهِ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allāh, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allāh, sungguh, Allāh Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mâidah [5]: 8)

Golongan pertama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yang akan mendapat pertolongan Allâh adalah pemimpin yang adil (imâmun ‘âdilun). Tidak main-main. Pertolongan yang dimaksudkan diberikan langsung oleh Allâh. Dimana pertolongan tersebut datang di saat tidak ada lagi pertolongan kecuali pertolongan dari-Nya. Hal ini mengingatkan kita betapa susahnya mencari pemimpin yang adil (dan merakyat) di negeri ini.

Read more

Hidup ibarat balon yang ditiup, kemudian terbang, lalu meletus dan jatuh. Tidak  apa-apa. Jika tidak jatuh, kita tidak akan merasakan sakit dan tidak akan tau bagaimana rasanya berjuang untuk bangun dan belajar berjalan lagi. Memang yang dimaksud hidup berwarna itu ya seperti itu. Jatuh, sakit, berusaha bangun dan belajar berjalan lagi. Rasanya keren kan, jika hidup kita warna-warni? Mulai dari gelap sampai terang, ada semua dan bisa dirasakan. Itu baru nikmat dan berkah. Subhân Allâh! Kenapa nikmat dan berkah? Karena jika terus-menerus terang, kemudian tiba-tiba Allâh memberi setitik warna gelap dalam hidup kita, kita akan kaget dan bingung bagaimana cara menghadapinya. Ternyata kegelapanpun bisa membawa hikmah, nikmat, dan berkah kan? Baiknya Allâh sama kita, sampai-sampai kegelapan bisa jadi berkah. SubhânAllâh That’s why ada sisi positif dan negatif.

Ibarat gelap dan terang, sakit dan sehat, sedih dan gembira, nyatanya memang mereka saling melengkapi. Tetapi mungkin kita saja yang sering lupa dengan negatif ketika kita sedang dalam suasana terlalu positif. Semacam terlalu bahagia. Ujung-ujungnya saat kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak kita harapkan, kita sering merasa terlalu sedih. Nah, ketika kita terlalu sedih, kita masih terbayang-bayang saat kita merasakan kebahagiaan yang berlebihan itu. Akibatnya mempersulit diri untuk bangkit. Jika sudah mulai sulit bangkit sendiri, gimana dong? Sebenernya simple. Ingat saja, “Aku bisa jatuh dengan mudahnya. Mengapa aku harus kesulitan ketika hendak bangkit?” Kata-kata itu mungkin terkesan meremehkan tetapi berbalut motivasi agar kita percaya bahwa kita bisa bangkit. Nyatanya banyak pelajaran dalam hidup dari perkara simple.

Read more