Ramadan selalu datang membawa undangan untuk kembali. Kembali pada kesadaran, pada jeda, pada makna. Kita menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib, tetapi sesungguhnya puasa tidak berhenti pada urusan perut. Di era ketika layar ponsel lebih sering kita tatap daripada wajah sesama, muncul satu pertanyaan penting: mungkinkah Ramadan juga menjadi momen puasa digital?

Puasa digital bukan berarti memusuhi teknologi. Ia adalah upaya sadar untuk membatasi, menata, dan memurnikan cara kita berinteraksi dengan gawai dan media sosial. Jika puasa mengajarkan pengendalian diri terhadap hal yang halal makan dan minum maka semestinya kita lebih mampu menahan diri dari hal yang berpotensi melalaikan.

Allah SWT berfirman:

ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﯿْﻜُﻢُ اﻟﺼِّﯿَﺎمُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠﱠﻜُﻢْ ﺗَﺘﱠﻘُﻮنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap gerak dan pilihan. Dalam konteks digital, takwa berarti bertanya sebelum mengklik, berpikir sebelum membagikan, dan menimbang sebelum berkomentar. Apakah yang kita konsumsi dan produksi di dunia maya mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan?

Sering kali, tanpa sadar, waktu kita habis oleh scrolling tanpa arah. Satu video pendek membawa ke video berikutnya. Satu unggahan memancing rasa iri, marah, atau debat tak berujung. Padahal Ramadan adalah bulan ketika pahala dilipatgandakan, dan waktu menjadi sangat berharga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﯾَﺪَعْ ﻗَﻮْلَ اﻟ ﱡﺰورِ وَاﻟْﻌَﻤَﻞَ ﺑِﮫِ، ﻓَﻠَﯿْﺲَ ِ ﱠِÖ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﻓِﻲ أَنْ ﯾَﺪَعَ طَﻌَﺎﻣَﮫُ وَﺷَﺮَاﺑَﮫُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Al-Bukhari No. 1903)

Hadis ini menggugah. Ia menegaskan bahwa esensi puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dan perbuatan dari hal yang sia-sia dan berdosa. Di era digital, “perkataan dusta” bisa berbentuk hoaks yang kita sebarkan, komentar kasar yang kita tulis, atau fitnah yang kita dukung dengan sekali klik. Jari-jemari kita hari ini adalah perpanjangan lisan.

Allah juga menggambarkan karakter hamba-Nya yang sejati:

وَﻋِﺒَﺎدُ اﻟ ﱠﺮﺣْٰﻤَﻦِ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﯾَﻤْﺸُﻮنَ ﻋَﻠَﻰ اﻷَْرْضِ ھَﻮْﻧًﺎ وَإِذَا ﺧَﺎطَﺒَﮭُﻢُ اﻟْﺠَﺎھِﻠُﻮنَ ﻗَﺎﻟُﻮا ﺳَﻼَﻣًﺎ

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata- kata yang menyakitkan), mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan budaya komentar di media sosial. Betapa mudahnya kita terpancing emosi oleh perbedaan pendapat. Padahal Ramadan mengajarkan kelembutan dan kesabaran.

Bahkan Rasulullah ﷺ memberi tuntunan praktis ketika seseorang memancing amarah orang yang sedang berpuasa:

اﻟﺼِّﯿَﺎمُ ﺟُﻨﱠﺔٌ، ﻓَﺈِذَا ﻛَﺎنَ ﯾَﻮْمُ ﺻَﻮْمِ أَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﻓَﻼَ ﯾَﺮْﻓُﺚْ وَﻻَ ﯾَﺼْﺨَﺐْ، ﻓَﺈِنْ ﺳَﺎﺑﱠﮫُ أَﺣَﺪٌ أَوْ ﻗَﺎﺗَﻠَﮫُ ﻓَﻠْﯿَﻘُﻞْ :إِﻧِّﻲ ﺻَﺎﺋِﻢٌ

“Puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Al-Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151)

Kalimat “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” bukan sekadar informasi, melainkan pengingat diri agar tidak larut dalam emosi. Dalam dunia digital, mungkin kalimat itu tidak selalu kita ucapkan dengan lisan, tetapi ia bisa hadir dalam hati sebelum kita membalas komentar  pedas  atau  sebelum  ikut  dalam  perdebatan  yang  tak  berujung.

Puasa digital membantu kita menjaga dimensi batin puasa. Ketika kita membatasi akses media sosial, kita memberi ruang bagi Al-Qur’an untuk lebih sering dibuka. Ketika kita mematikan notifikasi, kita memberi kesempatan hati untuk lebih khusyuk dalam salat. Ketika kita mengurangi debat daring, kita menjaga energi untuk memperbaiki diri.

Bukan berarti kita harus sepenuhnya offline. Banyak kebaikan tersebar melalui teknologi: kajian daring, sedekah digital, silaturahmi jarak jauh. Namun kuncinya adalah kendali. Kita yang mengatur teknologi, bukan sebaliknya. Secara praktis, puasa digital bisa dimulai dengan langkah sederhana: menetapkan jam bebas gawai setelah tarawih, tidak membuka media sosial sebelum sahur, atau berkomitmen tidak menyebarkan informasi sebelum memverifikasinya. Setiap pembatasan kecil yang diniatkan karena Allah bernilai ibadah.

Ramadan adalah bulan pembersihan. Kita membersihkan tubuh dari kebiasaan makan, membersihkan hati dari dosa, dan semoga juga membersihkan layar dari hal-hal yang tidak perlu. Jika tujuan puasa adalah takwa, maka setiap keputusan kecil termasuk keputusan untuk menutup aplikasi bisa menjadi langkah menuju-Nya.

Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya membuat kita lebih lapar dan haus, tetapi juga lebih sadar, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Penulis: Ahmad Nurozi. S.H.I., M.S.I.
Dosen Program Studi: S1: Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhshiyah) FIAI UII

Bulan Ramadhan senantiasa menghadirkan ruang kontemplasi bagi umat Islam, termasuk di lingkungan akademik. Bagi civitas akademika Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah ritual, tetapi juga sebagai waktu refleksi atas kualitas spiritual dan integritas moral. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), setara dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) versi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) PAI Ramadhan dapat dipahami sebagai cermin untuk menilai kemabruran haji, sebuah indikator keberhasilan transformasi spiritual yang seharusnya berdampak pada karakter dan etos kehidupan sehari-hari.

Ramadhan sering dipahami sebagai madrasah ruhaniyah yang membentuk insan bertakwa. Namun, lebih dari itu, Ramadhan sejatinya juga menjadi cermin untuk menilai kemabruran ibadah haji. Jika haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim, maka Ramadhan adalah ruang evaluasi tahunan atas kualitas spiritualitas tersebut. Keduanya bertemu pada titik yang sama: transformasi diri menuju ketakwaan dan kematangan akhlak.

Ramadan dan haji adalah dua ibadah besar dalam Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga edukatif dan transformasional. Jika haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim, maka Ramadhan adalah ruang refleksi tahunan untuk menjaga dan mengevaluasi kualitas spiritual tersebut.

Kalaulah muslim-muslimah saat haji  pernah menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Hari ini kita kembali menjadi tamu Allah di bulan suci. Jika haji adalah perjalanan menuju Baitullah, maka Ramadhan adalah perjalanan menuju ridha Allah.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa Ramadhan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183, yaitu agar manusia menjadi bertakwa (la‘allakum tattaqûn). Taqwa dalam perspektif pendidikan bukan sekadar kesalehan simbolik, melainkan kesadaran moral yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Puasa melatih pengendalian diri, kejujuran, dan disiplin, nilai-nilai yang menjadi fondasi karakter seorang Muslim terdidik.

Demikian pula, ibadah haji memiliki dimensi pendidikan yang kuat. QS. Al-Baqarah [2]: 197 menegaskan bahwa dalam haji tidak boleh ada rafats (perkataan kotor), fusuq (perilaku maksiat), dan jidal (perdebatan yang merusak). Ini menunjukkan bahwa haji adalah latihan intensif dalam pengendalian emosi, kesabaran, dan etika sosial. Haji bukan hanya perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan moral menuju kedewasaan spiritual.

Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Al-hajju al-mabrûr laisa lahu jazâ’un illâ al-jannah” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah dan balasannya adalah surga. Namun para ulama menjelaskan bahwa tanda kemabruran bukan hanya sahnya ritual, melainkan adanya perubahan positif dalam perilaku setelahnya. Akhlak menjadi lebih baik, kepedulian sosial meningkat, dan ibadah semakin konsisten.

Di sinilah Ramadhan dapat dipahami sebagai cermin kemabruran haji. Bagi seorang Muslim yang telah berhaji, Ramadhan menjadi momentum evaluasi: apakah nilai kesabaran, kesederhanaan, dan ketulusan yang dilatih saat haji tetap hidup? Apakah ibadah puasa dijalankan dengan penuh integritas? Apakah zakat dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial?

 

Ramadhan sebagai Madrasah Taqwa

Firman Allah dengan sapaan pertama fokus ditujukan kepada hambaNya yang mukmin sebagaimana QS. Al-Baqarah: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  Tujuan puasa: takwa.
Tujuan haji: juga takwa.

Jadi, haji dan Ramadhan bertemu pada satu tujuan: membentuk pribadi muttaqi

Puasa memiliki dimensi kejujuran yang sangat kuat karena bersifat personal dan tersembunyi. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah ibadah khusus untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya (HR. al-Bukhari dan Muslim). Artinya, kualitas puasa sangat bergantung pada kesadaran batin, bukan sekadar pengakuan sosial. Nilai ini sejalan dengan esensi kemabruran haji yang menekankan transformasi internal.

Dalam konteks mahasiswa dan civitas akademika FIAI, refleksi ini memiliki relevansi nyata. Pendidikan Agama Islam tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan keislaman, tetapi juga membentuk integritas akademik dan karakter mulia. Ramadhan dapat menjadi laboratorium karakter: melatih disiplin waktu, memperbaiki etika komunikasi, memperkuat empati sosial, serta membangun budaya akademik yang jujur dan bertanggung jawab.

Jika setelah menjalani haji seseorang semakin rendah hati dan semakin peduli pada sesama, dan jika setiap Ramadan kualitas spiritualnya terus meningkat, maka itulah tanda kemabruran yang hidup. Sebaliknya, jika ibadah hanya berhenti pada formalitas, maka Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, baik haji maupun Ramadhan bermuara pada satu tujuan besar pendidikan Islam: membentuk insan bertakwa yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cermin spiritual yang memantulkan kualitas kemabruran dan kedalaman iman kita.

Hubungan Spiritual Haji dan Ramadhan

Pertama, Kesabaran

Saat haji kita sabar: Antrean panjang, Cuaca panas, Kelelahan

Di Ramadhan kita sabar: Lapar, Dahaga, Menahan amarah

Rasulullah ﷺ bersabda:“الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari no. 1894, Muslim no. 1151)

Jika sepulang haji kita masih mudah marah, Ramadhan adalah terapi ruhani untuk memperbaiki.

Kedua, Keikhlasan

Puasa adalah ibadah paling rahasia. Allah berfirman dalam hadis qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.”
(HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151) Haji sering disaksikan orang.
Puasa? Hanya Allah yang tahu.

Ramadan menguji apakah haji kita dulu benar-benar ikhlas.


Ketiga, Pengampunan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa berhaji karena Allah dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521, Muslim no. 1350)

Dan tentang Ramadhan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760) Keduanya adalah momentum penghapusan dosa.Tetapi yang lebih penting adalah menjaga kebersihan setelahnya.

 

 Penutup Reflektif

Secara sederhana, bagi muslim muslimah yang sudah haji bisa membayangkan saat wukuf di Arafah:saat di mana tangan terangkat menengadah memohon kepada Allah Swt., air mata mengalir, dosa-dosa diampuni, maka Ramadan hadir seperti Arafah tahunan. Oleh karena itu, jika setelah haji kita lebih sabar, lebih lembut, lebih rajin ibadah, lebih peduli sesama, maka insya Allah itu tanda kemabruran. Namun, jika belum, jangan putus asa. Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki.

Melalui momentum Ramadan ini, Fakultas Ilmu Agama Islam mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi budaya akademik yang berintegritas, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Penulis: Dr. Dra. Sri Haningsih, M.Ag
Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam

Referensi —

Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 183 dan 197.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj dan Kitab al-Shawm.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab al-Hajj.

 

Di kalangan masyarakat tertentu, praktik memberikan bantuan dan kontribusi kepada mereka yang membutuhkan telah menjadi hal yang lumrah dan bahkan populer. Kegiatan ini dilakukan atas dasar kasih sayang sesama manusia, dorongan moral untuk menegakkan kebenaran, serta semangat kedermawanan, sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai Islam. Menariknya, praktik ini tidak hanya terbatas bagi sesama Muslim, namun juga dilakukan lintas latar belakang agama, sosial, dan budaya.

Konsep Islamic Philanthropy

Islamic philanthropy atau filantropi Islam merupakan bentuk kepedulian sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Konsep ini mencakup berbagai instrumen seperti:

Zakat

  • Zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat.
  • Zakat ditujukan kepada delapan kelompok penerima (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 60).
  • Zakat memiliki batas minimal (nisab) dan waktu tertentu dalam pelaksanaannya.

Infaq

  • Infaq adalah pengeluaran harta di jalan Allah yang sifatnya sukarela dan tidak terbatas pada jumlah, waktu, maupun penerima.
  • Cakupannya lebih luas daripada zakat, dan dapat diberikan kapan saja.

Shodaqoh

  • Shodaqoh adalah pemberian dalam bentuk materi maupun non-materi (seperti senyum, bantuan tenaga) yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah.
  • Tidak ada ketentuan jumlah atau penerima khusus, dan dapat dilakukan kapan saja.

Wakaf

  • Wakaf adalah pemberian harta benda yang ditahan pokoknya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum secara berkelanjutan.
  • Contohnya adalah wakaf tanah untuk pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya.

Peran Filantropi Islam dalam Pembangunan dan Kesejahteraan

Islamic philanthropy memainkan peran strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu masyarakat yang kurang mampu. Konsep ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam aspek pengentasan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan, dan pembangunan sosial yang inklusif.

Salah satu sektor yang sangat membutuhkan perhatian adalah pendidikan, terutama pada jenjang menengah dan tinggi. Akses terhadap pendidikan berkualitas di Indonesia masih tergolong rendah bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Di sinilah peran strategis zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf untuk membuka kesempatan dan mendorong mobilitas sosial.

Potensi Filantropi Islam di Indonesia

Potensi Islamic philanthropy di Indonesia sangat besar. Praktik seperti infaq di masjid, zakat fitrah, dan wakaf telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Data tahun 2022 menunjukkan bahwa potensi zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) di Indonesia mencapai Rp237 triliun per tahun dan mengalami pertumbuhan sekitar 40% setiap tahun.

Angka ini menunjukkan bahwa Islamic philanthropy dapat menjadi instrumen penting dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai mekanisme redistribusi kekayaan yang efektif dan berkeadilan.

Penulis: Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si.

Husnaini FIAI UII

Makna Mudik
Oleh: M. Husnaini

Mudik, tradisi pulang kampung tahunan di Indonesia, lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan emosional dan spiritual yang mendalam, sebuah cara untuk kembali ke akar, menjalin kembali hubungan keluarga, dan menegaskan kembali identitas diri. Namun, di balik aspek materialistik perjalanan dan pertemuan kembali, mudik juga melambangkan konsep mendalam dalam Islam: perjalanan menuju rumah keabadian.

Dalam bahasa Inggris, kata “home” menyiratkan keterikatan emosional dan spiritual yang tidak dimiliki oleh kata “house”. “House” hanyalah bangunan fisik, sementara “home” adalah tempat di mana cinta, kehangatan, dan rasa memiliki berada. Dalam pengertian yang sama, mudik bukan sekadar kembali ke tempat fisik, tetapi juga menyambung kembali hubungan, mencari berkah, dan menemukan kembali tujuan hidup. Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara—seperti menunggu panggilan boarding pass—sebelum perjalanan menuju rumah yang abadi.

Dalam filosofi Islam, hidup ini fana, dan rumah sejati kita adalah akhirat. Al-Qur’an sering mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah sesaat dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat. Pemahaman ini mencerminkan esensi mudik: sejauh apa pun seseorang pergi dalam hidupnya, akan selalu ada kerinduan untuk kembali. Namun, mudik yang sejati bukan hanya tentang mengenang masa kecil, tetapi juga tentang mempersiapkan kepulangan terakhir—kepulangan kepada Allah.

Keberhasilan seseorang dalam hidup sering ditunjukkan saat mudik, dengan para pemudik memamerkan pencapaian mereka melalui kendaraan baru, hadiah, atau pengeluaran berlebihan. Namun, perilaku semacam ini bertentangan dengan makna spiritual dari pulang kampung. Islam menekankan sikap rendah hati dan bersyukur, mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari kekayaan materi, tetapi dari keimanan dan amal kebaikan. Alih-alih memamerkan kemewahan, mudik seharusnya menjadi momen refleksi, rasa syukur, dan mempererat hubungan keluarga.

Kesuksesan dalam Islam bukan tentang seberapa banyak seseorang mengumpulkan, tetapi tentang seberapa banyak ia memberi dan melayani. Nabi Muhammad (saw) mencontohkan hal ini dengan menjalani kehidupan sederhana meskipun memiliki akses kepada kekayaan. Ajaran beliau mengingatkan umat Muslim untuk lebih fokus pada kualitas hubungan, ketulusan dalam ibadah, dan kedermawanan terhadap sesama.

Ketika mudik menjadi ajang pamer, maknanya pun hilang. Esensi sejati dari mudik adalah kembali ke rumah dengan kerendahan hati, menyadari bahwa hidup ini singkat dan perjalanan yang sebenarnya adalah menuju rumah yang abadi. Alih-alih menjadikan pulang kampung sebagai kesempatan untuk mengesankan orang lain, seharusnya ini menjadi waktu untuk mempererat kasih sayang, meminta maaf, dan memperkokoh hubungan yang benar-benar bermakna.

Dengan demikian, mudik lebih dari sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman; ini adalah pengingat akan kefanaan hidup dan perlunya bersiap untuk kepulangan terakhir. Seperti halnya para pelancong yang memastikan semua kebutuhan siap sebelum perjalanan panjang, umat beriman juga harus mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah yang sejati—dengan menjalani hidup penuh kebaikan, ketulusan, dan pengabdian. Itulah makna sejati mudik dalam Islam.

Husnaini FIAI UII

Obatilah Orang yang Sakit dengan Sedekah
Oleh: M. Husnaini

Kisah ini saya dapat dari kiriman seorang teman lewat WhatsApp.

Riyad, Saudi Arabia. Di sebuah desa bernama Huraimla. Seorang wanita telah divonis oleh dokter terkena kanker darah. Kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.

Untuk merawat dirinya dan mengurusi keperluannya, ia mendatangkan seorang pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang yang taat beribadah. Seminggu setelah bekerja, majikan merasa pekerjaannya bagus.

Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dikerjakan pembantu dari Indonesia itu. Namun, suatu waktu majikan menemukan kelakuan aneh si pembantu. Pembantu ini sering sekali masuk kamar mandi dan berdiam cukup lama.

Dengan tutur kata yang lemah lembut si majikan bertanya: “Apa yang sebenarnya kau lakukan di kamar mandi?”

Pembantu itu tidak menjawab, tapi malah menangis tersedu-sedu. Majikan menjadi iba dan menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi

Akhirnya pembantu itu pun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah makanya ia mau bekerja menjadi TKW di Arab Saudi.

“Saya harus membuang air susu saya. Jika tidak dibuang, dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusui anak saya.”

Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah membuatnya sakit, dan harus diperas dan dibuang di kamar mandi.

“Subhanallah Anda harus berjuang untuk keluarga Anda,” kata majikan.

Seketika majikan memberikan gajinya selama 2 tahun penuh sesuai akad kontrak dan memberikan tiket pulang.

“Kamu pulanglah dulu. Uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu. Kamu susui anakmu selama 2 tahun penuh. Kemudian jika kamu ingin kembali bekerja kamu hubungi nomor telepon ini dan saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu,” tutur majikan.

“Subhanallah apa ibu tidak apa-apa jika saya tinggal?”

Majikan waktu itu hanya menggeleng kepala, lalu berkata: “Apa yang kamu tinggal lebih berharga daripada kamu mengurus saya.”

Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan yang luar biasa. Hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang lain yang sedang kesusahan.

Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya. Yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian ia baru mengunjungi rumah sakit untuk kontrol.

Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaan yang mendetail.

Apa yang terjadi?

Dokter yang menangani awal tidak melihat adanya penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat adanya kanker darah yang dialami pasien.

Dokter pun kagum, bagaimana mungkin bisa secepat dan sedasyat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah.

“Apa telah terjadi salah diagnosa?” batin dokter.

Kemudian dokter bertanya apa yang telah dilakukan oleh pasien. Wanita itu pun menjawab: “Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya. Mungkin sedekah yang telah saya lakukan kepada pembantu saya yang membantu saya sembuh. Nyatanya setelah saya menolong, hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup. Saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya, tapi susu itu tak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi. Saya menangis bila mengingat keadaannya. Akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar ia bisa menyusui anaknya. Ia sehat dan anaknya juga sehat. Mungkin dengan itu penyakit saya bisa sembuh, Dokter.”

Dokter itu sadar bahwa diagnosa atau penyakit apa pun bisa sembuh karena Allah SWT menghendaki.

Ya, seperti judul di atas: obatilah orang yang sakit dengan sedekah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

Husnaini FIAI UII

Membangun Semangat Berkarya Tulis

Oleh: M. Husnaini

Berkarya tulis masih menjadi tantangan yang berat dijawab. Karena itu, jika tidak menulis, minimal kita mau membaca.

Kesibukan kerap kali menjadi dalih untuk tidak berkarya tulis. Padahal, semua karya tulis hebat lahir dari orang-orang sibuk. Penganggur tidak pernah melahirkan karya.

Jelas, karya tulis adalah tanda intelektualitas seseorang, bukan gelar pendidikan. Menulis adalah aktivitas yang mencerdaskan. Menuliskan rangkuman atau ringkasan ide-ide bagus, misalnya, dapat mendorong kita berpikir, meneliti, atau menggali sesuatu yang lebih mendalam.

Prof Ahmad Syafii Maarif, guru bangsa yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998–2005, pernah mengatakan bahwa membaca, berpikir, meneliti, dan menulis adalah aktivitas yang sangat penting, dan sebaiknya ditekuni sepanjang hidup. Ijazah Pendidikan ibarat SIM yang tidak bermakna apa-apa tanpa ditopang dengan keempat aktivitas ilmiah di atas.

Pesan Buya Syafii Maarif tersebut mengingatkan saya pada ungkapan Prof Imam Suprayogo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Periode 1997-2013. Menurut Prof Imam, ciri khas seorang doktor adalah selalu berpikir dan berkreasi tentang pembaruan. Seorang doktor tidak pernah berhenti berpikir. Tatkala dia berhenti berpikir, terang Prof Imam, yang tersisa hanya gelarnya. Sedangkan substansinya sudah kembali jadi manusia biasa atau sama dengan orang yang tidak bergelar doktor.

Senada dengan itu adalah Prof Mulyadhi Kartanegara. Berikut ini kalimat-kalimat yang saya kutip secara verbatim dari akun Facebook milik filsuf dan cendekiawan Muslim Indonesia tersebut.

“Pohon kesarjanaan boleh rindang, tapi tanpa menghasilkan karya, ia bagai pohon tak berbuah. Pengetahuan autentik bukanlah yang kita pelajari dari karya para cendekia, tapi justru yang kita peras dan sarikan dari berbagai pengalaman panjang hidup kita.”

“Potensi manusia ibarat hujan lebat, di mana apa yang telah manusia tulis hanyalah beberapa percikan darinya. Membaca dengan fasih karya seseorang adalah satu perkara. Menuliskan pikiran sendiri dalam sebuah karya adalah perkara yang lain.”

“Ketika aku mulai nulis sebuah karya, ada orang yang bertanya, “Ah apa ada orang yang bakal tertarik padanya?” Aku pun menjawab, “Aku berkarya tidak untuk tujuan yang lain kecuali menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Sisanya aku serahkan pada Tuhan.”

“Alhamdulillah, ia telah menjadikan karyaku menarik banyak orang. Nasihatku, kalau mau berkarya, pasang niat yang tulus, bertawakal dan minta petunjuk-Nya, dan menulislah dengan ringan tanpa beban.”

“Ketika aku menuliskan pikiranku di sebuah buku, aku seperti menitipkan bagian dari jiwaku untuk tinggal di sana selama-lamanya, dalam keabadian. Percaya diri dapat membantu menumbuhkan banyak potensi yang tersembunyi. Dengannya kita bisa merentangkan sayap diri lebih lebar dan tinggi lagi.”

“Kekaguman yang berlebihan terhadap seorang atau beberapa tokoh dapat menutup pintu-pintu kreativitas kita. Siapa yang bisa bebas dari kungkungan mereka, dialah sang genius.”

Demikianlah, dan nasihat-nasihat itulah di antara yang melecut semangat saya untuk terus berkarya tulis. Syukur jika tradisi mulia ini juga diikuti banyak orang. Namun, jangan sampai kesibukan memotivasi orang lain untuk menulis menyebabkan kita lupa untuk berkarya tulis. Semoga kita tidak seperti lilin yang menerangi sekitar tapi diri sendiri habis terbakar.

Husnaini FIAI UII

Menulis dan Kebahagiaan

Oleh: M. Husnaini

Apa hubungan menulis dengan kebahagiaan? Menulis saban hari jelas bukan aktivitas mudah. Yang susah bukan tentang apa yang ditulis. Orang yang membaca (dalam arti luas) tidak sulit menemukan inspirasi setiap hari. Segala yang ditangkap pancaindra, misalnya, dapat melahirkan pengetahuan, dan itulah yang memantik ide untuk dikemas menjadi tulisan.

Yang teramat susah adalah menjaga mood. Suasana hati atau keadaan jiwa kerap berubah-ubah. Kadang riang, tetapi tidak jarang juga geram. Terutama bagi yang tidak pandai mengelola irama hati, tentu hari-hari lebih sering terliput gundah ketimbang bahagia. Dalam kondisi demikian, mana mungkin dapat menulis.

Menulis itu aktivitas berbagi. Berbagi meniscayakan kepemilikan untuk dibagi. Dari situ, penulis yang bagus haruslah pembaca yang tekun, kendati banyaknya bacaan belum menjamin bagusnya tulisan. Buktinya, tidak sedikit kutu buku yang buruk tulisannya. Kutu buku tanpa mampu menulis malah lebih banyak lagi.

Katanya, menulis adalah perjuangan melawan diam. Ini juga hanya dapat dilakukan oleh orang berpengetahuan. Yang tidak punya bahan dan wawasan, lantas apa yang disuarakan untuk melawan diam?

Ada pula yang bilang, menulis adalah suatu cara untuk berkata, berbicara, dan menyapa orang lain yang entah di mana. Jelas pula aktivitas-aktivitas ini membutuhkan hati yang selesai. Tidak mungkin dapat berkata dan menyapa orang lain apabila diri sendiri masih dililit aneka masalah.

Benar kata seorang bestari, kebahagiaan tidak terletak pada kaya atau miskin, berharta atau tak berpunya, dijunjung atau dibuang, melainkan pada kecerdasan kita memaknai setiap keadaan dan pengalaman kita. Jadi, bahagia bukan karena segala sesuatu baik, melainkan karena kita mampu melihat hal-hal baik dari segala sesuatu.

Karena itu, saya kagum dan hormat pada orang-orang yang rutin menulis saban hari. Di samping soal keilmuan mereka, kekaguman saya terutama pada kemampuan mereka mengelola perasaan, sehingga mampu melakukan kebaikan secara istikamah.

Sesuatu akan menjadi kebiasaan jika terus-menerus dilakukan hingga menemukan enaknya. Kata Nabi, adwamuha wain qalla. Bahasa Indonesianya kira-kira, biar sedikit asal ajek. Demikian nasihat beliau ketika ditanya amalan (sunah) apakah yang paling bagus dan dicintai Allah.

Teringat kata seorang teman penghafal Al-Qur’an. Katanya, kita baru akan merasakan nikmatnya Al-Qur’an ketika sanggup terus membacanya, kendati kita telah atau sedang merasa lelah dan bosan. Merokok, menurut perokok, juga begitu. Baru menemukan atau kecanduan merokok setelah pernah teler akibat rokok. Dalam bahasa Jawa disebut mendem. Tetapi contoh terakhir ini jangan dilakukan.

Kembali ke topik bahasan. Menulis menjadi aktivitas yang nyaman dan menyenangkan ketika telah dilakukan secara rutin setiap hari, apalagi sampai berjalan tahunan. Kalau hanya hangat-hangat tahi ayam, aktivitas apa saja akan terasa berat dan menyiksa. Hangat-hangat tahi ayam itu istilah orang Jawa untuk menggambarkan apa saja yang kadang dilakukan, tetapi sering ditinggalkan. Istilah lainnya adalah “rok-rok wit asem”. Kalau lagi senang, semangat bukan kepalang. Tetapi kalau kumat gilanya, mandi saja ogah.

Akhirnya, menulis rutin setiap hari, menurut saya, hanya dilakukan oleh orang-orang yang bahagia. Setidaknya, mereka adalah orang-orang yang mampu berdamai dengan suasana batin pribadi, sehingga tidak bermasalah dengan diri mereka sendiri.

Husnaini FIAI UII

Kita, Dakwah, dan Peradaban

Oleh: M. Husnaini

 

“Agama itu apa sih, Guru?” tanya seorang murid yang tengah belajar di surau milik KH Ahmad Dahlan.

Yang ditanya tak menjawab. Ia kemudian meraih dan memainkan biola. Gesekan biola yang syahdu membuat sang murid memejamkan mata, menyungging senyum.

“Islam itu indah, membawa kesejukan dan kedamaian bila dipelajari dengan benar, dan sebaliknya akan terjadi kekacauan bila tidak dipahami dengan benar,” ujar Kiai Dahlan.

Melalui salah satu adegan dalam film Sang Pencerah itu, Kiai Dahlan tampak tak banyak mengumbar kata dalam dakwah. Ia lebih menonjolkan sosok pemikir yang visioner nan penuh wibawa.

Berdakwah itu jangan terlalu menonjolkan khilafiah (fikih) sambil merendahkan pendapat yang tidak sejalan. Agama itu untuk diamalkan, bukan dijadikan bahan (amunisi) perdebatan.
Misalnya, karena ngotot berpendapat bahwa musik/lagu adalah haram, lantas merendahkan pihak lain yang berpendapat bahwa hukum asal musik/lagu tidaklah haram.

Padahal, hukum terkait musik/lagu dari dulu hingga sekarang memang masuk wilayah khilafiah. Muhammadiyah & NU juga tidak menghukumi musik/lagu sebagai haram. Di sinilah para dai harus belajar untuk mampu menerima khilafiah secara bijak tanpa mendaku sebagai “yang paling” karena sikap begitu, bagi orang berilmu, justru tampak lucu.

Selama ratusan tahun, kesibukan utama umat Islam Nusantara adalah melawan penjajah. Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid pernah menyatakan bahwa secara sosio-kultural, kita dibesarkan dalam semangat berjuang “melawan”. Reaktif dan proaktifnya kurang sekali karena memang tidak sempat.

Selain itu, umat Islam Indonesia, dari segi budaya dan ilmu pengetahuan, juga baru sampai tingkat konsumen. Tidak pernah menjadi produsen. Di antara indikasinya, objek-objek turisme di Indonesia adalah bangunan-bangunan Hindu.

Karena umat Islam dibesarkan dan ditumbuhkan dalam semangat perjuangan “melawan”, maka umat Islam paling ahli dalam berpidato. Padahal, menurut Cak Nur, pidato tidak dapat memecahkan masalah. Yang dapat memecahkan masalah adalah ilmu.

Cak Nur juga mengingatkan bahwa dalam situasi-situasi tertentu, nahi mungkar itu lebih sulit dari amar makruf, karena harus melawan. Tetapi, dalam banyak hal, amar makruf lebih sulit dari nahi mungkar, karena nahi mungkar cukup dengan semangat, sementara amar makruf perlu ilmu.

Agama mengajarkan kemampuan mengendalikan diri, bukan melampiaskan. Pengendalian diri itulah inti ajaran puasa sebulan penuh selama Ramadan. Semoga dengan pemahaman lebih luas dan mendalam tentang agama, kita dapat terus memperbaiki kualitas. Dakwah berlandaskan ilmu dan kebijaksanaan akan lebih efektif dalam membangun peradaban yang maju dan harmonis.