Samsul Zakaria Juara I Lomba Essay se-DIY

Samsul Zakaria, adalah mahasiswa jurusan Hukum Islam (Syari’ah) angkatan 2009 belum lama ini menjuarai lomba penulisan essay se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diadakan oleh KM al-Huda Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu, 26 November 2011 di fakultas tersebut bersamaan dengan workshop ‘Satu Hari Belajar Menulis Bersama Tere Liye’, penulis novel nasional.

 

Essai yang ditulis oleh pemuda kelahiran Lampung, 9 Februari 1992, tersebut berjudul ‘Urgensi Independensi Jurnalisme di Era Globalisasi’, membahas tentang pentingnya membangun iklim jurnalisme yang independen dengan harapan pemberitaan media menjadi berimbang (covering both side). “Globalisasi semakin memungkinkan warga masyarakat untuk berperan aktif dalam pemberitaan. Begitu juga dalam hal kontrol, masyarakat (citizen) menjadi kolega hangat insan pers yang ada di Indonesia,” tulis Samsul dalam Essainya. Ia juga mengusulkan sentralisasi peran warga dalam pemberitaan demi terciptanya check and balance antara media dan warga sebagai objek pemberitaan.

 

Samsul Zakaria

“Saya bersyukur bisa menjuarai kompetisi tersebut. Tidak menyangka akhirnya keluar sebagai juara pertama,” tutur Samsul yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi LPM Pilar Demokrasi FIAI. Tulis-menulis memang sudah menjadi dunia hobi Samsul. Artikel keagamaannya sudah sering terbit di buletin kampus UII al-Rasikh dan buletin Pondok Pesantren (Ponpes) UII, al-Lu’lu’.

Tidak hanya itu, di media massa lokal dan nasional juga dimuat seperti dalam rubrik Peduli Pendidikan Kedaulatan Rakyat. Terakhir, tulisannya sempat mewarnai harian nasional, Kompas pada rubrik Argumentasi Kompas Kampus. Sebelumnya, Samsul juga menjuarai ajang debat Arab tingkat nasional. Di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, ia berhasil mengharumkan nama UII dengan membawa medali perunggu. Prestasi yang diperoleh bukan menjadikannya puas. Ia terus terpacu untuk mendapatkan prestasi lainnya.

Sosok yang bercita-cita menjadi penulis ini, terus mengasah bakatnya. Salah satunya dengan mengikuti workshop kepenulisan untuk terus menggali inspirasi sehingga dapat termanfaatkan dengan baik. Baginya menulis itu mudah sekaligus sulit. Mudah karena sejak kecil sudah terbiasa menulis, walaupun hanya mencatat mata pelajaran. Susah karena kendala klasik yaitu rasa malas. “Jadi, tidak ada kata susah dalam menulis. Kita kan sudah sering menulis sejak kecil. Susah itu, menurut saya, dan itu yang juga saya alami, adalah rasa malas,” katanya.

Untuk mensemangati dirinya mengutip jargon Tere Liye yaitu tidak ada tulisan yang bagus, sekaligus tidak ada yang jelek, semua soal selera. Ia mengingatkan betapa banyak yang sering menulis namun tidak berani memublikasikan tulisannya. Maka untuk menjadi penulis yang terpenting berani dan percaya diri dan penulis yang baik adalah penulis yang rajin membaca tulisan orang lain. “Kalau Anda ingin terkenal, sementara Anda bukanlah anak seorang penguasa juga bukan anak saudagar kaya maka menulislah!” ajak Samsul mengutip perkataan Imam al-Ghazali.