Puasa Digital di Bulan Ramadan

Ramadan selalu datang membawa undangan untuk kembali. Kembali pada kesadaran, pada jeda, pada makna. Kita menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib, tetapi sesungguhnya puasa tidak berhenti pada urusan perut. Di era ketika layar ponsel lebih sering kita tatap daripada wajah sesama, muncul satu pertanyaan penting: mungkinkah Ramadan juga menjadi momen puasa digital?

Puasa digital bukan berarti memusuhi teknologi. Ia adalah upaya sadar untuk membatasi, menata, dan memurnikan cara kita berinteraksi dengan gawai dan media sosial. Jika puasa mengajarkan pengendalian diri terhadap hal yang halal makan dan minum maka semestinya kita lebih mampu menahan diri dari hal yang berpotensi melalaikan.

Allah SWT berfirman:

ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﯿْﻜُﻢُ اﻟﺼِّﯿَﺎمُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠﱠﻜُﻢْ ﺗَﺘﱠﻘُﻮنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap gerak dan pilihan. Dalam konteks digital, takwa berarti bertanya sebelum mengklik, berpikir sebelum membagikan, dan menimbang sebelum berkomentar. Apakah yang kita konsumsi dan produksi di dunia maya mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan?

Sering kali, tanpa sadar, waktu kita habis oleh scrolling tanpa arah. Satu video pendek membawa ke video berikutnya. Satu unggahan memancing rasa iri, marah, atau debat tak berujung. Padahal Ramadan adalah bulan ketika pahala dilipatgandakan, dan waktu menjadi sangat berharga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﯾَﺪَعْ ﻗَﻮْلَ اﻟ ﱡﺰورِ وَاﻟْﻌَﻤَﻞَ ﺑِﮫِ، ﻓَﻠَﯿْﺲَ ِ ﱠِÖ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﻓِﻲ أَنْ ﯾَﺪَعَ طَﻌَﺎﻣَﮫُ وَﺷَﺮَاﺑَﮫُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Al-Bukhari No. 1903)

Hadis ini menggugah. Ia menegaskan bahwa esensi puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dan perbuatan dari hal yang sia-sia dan berdosa. Di era digital, “perkataan dusta” bisa berbentuk hoaks yang kita sebarkan, komentar kasar yang kita tulis, atau fitnah yang kita dukung dengan sekali klik. Jari-jemari kita hari ini adalah perpanjangan lisan.

Allah juga menggambarkan karakter hamba-Nya yang sejati:

وَﻋِﺒَﺎدُ اﻟ ﱠﺮﺣْٰﻤَﻦِ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﯾَﻤْﺸُﻮنَ ﻋَﻠَﻰ اﻷَْرْضِ ھَﻮْﻧًﺎ وَإِذَا ﺧَﺎطَﺒَﮭُﻢُ اﻟْﺠَﺎھِﻠُﻮنَ ﻗَﺎﻟُﻮا ﺳَﻼَﻣًﺎ

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata- kata yang menyakitkan), mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan budaya komentar di media sosial. Betapa mudahnya kita terpancing emosi oleh perbedaan pendapat. Padahal Ramadan mengajarkan kelembutan dan kesabaran.

Bahkan Rasulullah ﷺ memberi tuntunan praktis ketika seseorang memancing amarah orang yang sedang berpuasa:

اﻟﺼِّﯿَﺎمُ ﺟُﻨﱠﺔٌ، ﻓَﺈِذَا ﻛَﺎنَ ﯾَﻮْمُ ﺻَﻮْمِ أَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﻓَﻼَ ﯾَﺮْﻓُﺚْ وَﻻَ ﯾَﺼْﺨَﺐْ، ﻓَﺈِنْ ﺳَﺎﺑﱠﮫُ أَﺣَﺪٌ أَوْ ﻗَﺎﺗَﻠَﮫُ ﻓَﻠْﯿَﻘُﻞْ :إِﻧِّﻲ ﺻَﺎﺋِﻢٌ

“Puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Al-Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151)

Kalimat “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” bukan sekadar informasi, melainkan pengingat diri agar tidak larut dalam emosi. Dalam dunia digital, mungkin kalimat itu tidak selalu kita ucapkan dengan lisan, tetapi ia bisa hadir dalam hati sebelum kita membalas komentar  pedas  atau  sebelum  ikut  dalam  perdebatan  yang  tak  berujung.

Puasa digital membantu kita menjaga dimensi batin puasa. Ketika kita membatasi akses media sosial, kita memberi ruang bagi Al-Qur’an untuk lebih sering dibuka. Ketika kita mematikan notifikasi, kita memberi kesempatan hati untuk lebih khusyuk dalam salat. Ketika kita mengurangi debat daring, kita menjaga energi untuk memperbaiki diri.

Bukan berarti kita harus sepenuhnya offline. Banyak kebaikan tersebar melalui teknologi: kajian daring, sedekah digital, silaturahmi jarak jauh. Namun kuncinya adalah kendali. Kita yang mengatur teknologi, bukan sebaliknya. Secara praktis, puasa digital bisa dimulai dengan langkah sederhana: menetapkan jam bebas gawai setelah tarawih, tidak membuka media sosial sebelum sahur, atau berkomitmen tidak menyebarkan informasi sebelum memverifikasinya. Setiap pembatasan kecil yang diniatkan karena Allah bernilai ibadah.

Ramadan adalah bulan pembersihan. Kita membersihkan tubuh dari kebiasaan makan, membersihkan hati dari dosa, dan semoga juga membersihkan layar dari hal-hal yang tidak perlu. Jika tujuan puasa adalah takwa, maka setiap keputusan kecil termasuk keputusan untuk menutup aplikasi bisa menjadi langkah menuju-Nya.

Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya membuat kita lebih lapar dan haus, tetapi juga lebih sadar, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Penulis: Ahmad Nurozi. S.H.I., M.S.I.
Dosen Program Studi: S1: Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhshiyah) FIAI UII