Husnaini FIAI UII

Puasa dan Omon-Omon

Oleh: M. Husnaini – Dosen FIAI UII

Puasa dalam Islam tidak hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan dengan pasangan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Al-Qur’an menyebut dua istilah untuk menggambarkan puasa, yaitu “shiyam” dan “shaum”. Shiyam merujuk pada puasa wajib di bulan Ramadan yang meliputi aspek fisik, sementara shaum adalah menahan diri dari berbicara.

Menghadapi aneka pertanyaan seputar kehamilannya, Maryam, ibunda Nabi Isa AS, bernazar untuk melakukan shaum, yaitu tidak berbicara dengan seorang pun kala itu (QS. Maryam: 26).

Shaum (puasa bicara) dimaknai sebagai bentuk ibadah dan tanda kepasrahan kepada Allah. Dalam kehidupan sosial, shaum juga menjadi strategi untuk menghadapi fitnah dan tuduhan yang dia terima setelah melahirkan Nabi Isa AS tanpa suami. Diamnya Maryam menjadi simbol kesabaran dan ketundukan pada kehendak Allah.

Banyak omong, belakangan dikenal dengan omon-omon, termasuk kejelekan yang penting dihindari. Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menjaga lisan ketika berpuasa. “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk”, kata beliau,“Allah tidak butuh terhadap puasanya yang sekadar meninggalkan makan dan minum” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa esensi puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan diri dari omon-omon yang mengandung kedustaan dan perbuatan tercela.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Puasa adalah perisai, maka jika salah satu dari kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak. Jika seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa'” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak ancaman bagi orang berpuasa yang tidak mampu menjaga lisan dari omon-omon tidak penting. “Tidak sedikit orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga,” begitu tegas Rasulullah SAW sebagaimana ditulis oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah.

Omon-omon yang tidak berguna, dan bahkan menggerus pahala puasa, itu seperti dusta, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), ucapan kotor dan makian. Semua omon-omon itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, esensi puasa tidak hanya shiyam (puasa perut dan syahwat), tetapi juga harus disertai shaum (puasa lisan) dari berbagai bentuk kemaksiatan. Jika shiyam dilakukan sepanjang Ramadan, shaum harus menjadi jihad kita seumur hidup.

Apalagi, kata Rasulullah SAW, lisan adalah salah satu penyebab utama manusia terjerumus ke dalam dosa. “Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua bibirnya (lisan) dan di antara dua kakinya (kemaluannya), aku menjamin untuknya surga” (HR. Bukhari).

Marilah jadikan Ramadan sebagai momentum untuk melatih diri melakukan shiyam sekaligus shaum. Semoga puasa kita beroleh pahala sempurna dan membuahkan keharmonisan kehidupan sosial karena kita semua terhindar dari omon-omon yang nirguna.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Husnaini FIAI UII

Jangan Lelah Berdoa

Oleh: M. Husnaini

Kata Nabi, doa orang yang sedang berpuasa itu mustajab, manjur. Karena itu, Ramadan merupakan waktu yang tepat digunakan untuk berdoa kepada Allah. Tulisan berikut saya copas dari anonim, dengan sedikit editing kalimat dan tanda baca dari saya sendiri. Katanya, ini kisah nyata yang terjadi di Pakistan.

Seorang dokter ahli bedah terkenal bernama Dokter Ishan tergesa-gesa menuju bandara. Beliau berencana akan menghadiri seminar dunia dalam bidang kedokteran yang akan membahas penemuan terbesar beliau di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar satu jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di bandara terdekat.

Dokter Ishan mendatangi ruangan penerangan dan berkata, “Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa manusia bergantung pada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam enam belas jam?”

Pegawai di bandara menjawab, “Wahai Dokter, jika Anda terburu-buru, Anda bisa menyewa mobil. Tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil, tiga jam tiba.”

Dokter Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil.

Baru berjalan lima menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir dua jam, sopir dan Dokter Ishan yang berada di dalam mobil tersadar bahwa mereka tersesat dan terasa kelelahan.

Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapan Dokter Ishan, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya.

Terdengar suara seorang wanita tua, “Silakan masuk. Siapa, ya?”

Terbukalah pintunya.

Dokter Ishan masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam teleponnya.

Ibu itu tersenyum dan berkata, “Telepon apa, Nak? Apa Anda tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah. Silakan duduk saja dulu, istirahat. Sebentar, saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda.”

Dokter Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan.

Sementara ibu itu shalat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah di antara tiap shalat.

Ibu tersebut melanjutkan shalatnya dengan doa-doa yang panjang.

Dokter Ishan mendatanginya dan berkata, “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan keramahan Anda dan kemuliaan akhlak Anda. Semoga Allah menjawab doa-doa Anda.”

Ibu itu berkata, “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan doa-doa saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.”

“Apa itu doanya?” tanya Dokter Ishan.

Ibu itu menjawab, “Anak ini adalah cucu saya. Dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada di sini. Mereka berkata kepada saya, ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya. Katanya, namanya Dokter Ishan. Akan tetapi, dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya, saya berdoa kepada Allah agar memudahkannya.”

Menangislah Dokter Ishan dan berkata sambil terisak, “Allahu Akbar. La haula wa la quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh doa ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami hanya untuk mengantarkan saya kepada ibu secara cepat dan tepat.”

“Sayalah Dokter Ishan, Bu,” kata sang dokter selanjutnya. “Sungguh Allah SWT telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yang mukmin dengan doa. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.”

Sahabat semua, jangan pernah berhenti berdoa karena diam-diam Allah akan menjawabnya, kendati kita tidak tahu entah suatu kapan.

Husnaini - Laku Hidup Seorang Mukmin - FIAI UII

Laku Hidup Seorang Mukmin

Oleh: M. Husnaini

Muslim, menurut Rasulullah, adalah pribadi yang mulut dan tangannya, termasuk keputusannya, menjamin keselamatan semua orang di sekitarnya. Jika tidak demikian, berarti bukan muslim. Jadi, Islam itu kata kerja, doing thing. Menjalankan Islam berarti menyelamatkan tanah, menyelamatkan sungai, menyelamatkan daun, menyelamatkan sesama manusia, menyelamatkan semua makhluk, dan seterusnya.

Pokoknya, metabolisme dan ekosistem kehidupan kita pelihara sedemikian rupa, itulah Islam. Produknya adalah salam.

Sementara mukmin itu senjatanya iman, tujuannya untuk membuat aman, doanya diakhiri amin. Mukmin adalah orang yang, kalau ada dia, amanlah harta semua orang, amanlah nyawa seluruh orang, dan amanlah kehormatan setiap orang. Laku mukmin itu amanah, sehingga orang di sekelilingnya merasa uman (kebagian).

Menjadi mukmin tidak cukup dengan ikrar lisan, namun harus dikonfirmasi dengan perbuatan. Ada tuntutan dan larangan yang harus dikerjakan dan ditinggalkan seorang mukmin. Sebanyak 89 kali seruan Allah untuk orang beriman dalam Al-Quran, seluruhnya diawali dengan kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu”, dan ditambah satu yang langsung “Ayyuhal mu’minun.”

Silakan buka Al-Quran dan pelajari satu per satu. Dari seruan-seruan itu, kita menjadi tahu apa sesungguhnya yang dikehendaki dan tidak dikehendaki Allah dari pribadi mukmin. Sudah pula ada buku terbitan Zaman yang mengupas, yaitu “Seruan Tuhan untuk Orang-Orang Beriman” karya Dr Nurul Huda Maarif.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin,” puji Rasulullah, “seluruh urusannya baik. Ini tidak terdapat kecuali pada diri mukmin. Apabila menerima kesenangan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, dia bersabar, dan itu juga baik baginya.”

Kehebatan seorang mukmin, jika mengacu hadis di atas, karena dua perkara. Satu, sabar dan yang kedua, syukur. Boleh kita sebut syukur dulu, baru sabar. Tergantung situasi dan kondisi.

Yang jelas, kemampuan bersyukur berbanding sama dengan tingkat kebahagiaan. Semakin kita tidak mampu bersyukur, semakin kita tidak bahagia. Ada orang naik mobil satu miliar, karena tanpa rasa syukur, dia tidak bahagia. Ada orang naik motor, tapi karena sibuk sekali dengan rasa syukur, dia merasakan bahagia luar biasa.

Demikian pula sabar. Besar atau kecilnya derita ketika ditimpa masalah itu sangat tergantung sejauh mana kualitas kesabaran kita. Ibarat sakit gigi, semakin kita meradang, semakin sakit gigi menjadi-jadi. Namun, ketika kita mampu berdamai dengan keadaan, biasanya rasa sakit berangsur nyaman.

Setiap mukmin harus terus belajar syukur dan sabar. Melampiaskan itu bertentangan dengan nilai puasa, dan hasil dari kebiasaan melampiaskan pastilah stres, galau, frustrasi, dan seterusnya.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Husnaini FIAI UII

Puasa Membentuk Pribadi Saleh

Oleh: M. Husnaini

Beberapa konsep dalam Al-Qur’an, seperti birr, ihsan, khair, ma’ruf, termasuk juga shalih, diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai “baik/kebaikan”. Hal itu karena miskinnya bahasa Indonesia akan filosofi-nilai sebagaimana terkandung dalam bahasa Arab. Padahal, masing-masing kata tersebut mengandung makna yang tidak sama secara filosofis. Saleh, umpamanya, adalah kebaikan yang motivasinya adalah iman.

Kamus Bahasa Arab mengartikan saleh sebagai terhindar dari kerusakan atau keburukan. Saleh juga berarti bermanfaat. Dengan demikian, saleh adalah kebaikan yang terkait erat dengan hubungan sosial masyarakat. Tingkat kesalehan sebuah perbuatan ditandai dengan semakin banyaknya manfaat dan sedikitnya mudarat yang timbul. Orang saleh berarti orang yang ucapan, perbuatan, bahkan pikirannya terbebas dari kerusakan atau keburukan.

Ketika melakukan sebuah perilaku yang dianggap sebagai sebuah kebaikan, orang saleh masih harus menghitung kembali, apakah kebaikan yang akan dilakukan itu nantinya mendatangkan mudarat atau tidak. Dalam era media sosial, mereka yang doyan berkomentar waton suloyo, apalagi kerap mengunggah hoaks, fitnah, dan adu domba, jelas bukan pribadi saleh. Orang saleh menjauhkan diri dari unsur-unsur yang merusak.

Pribadi ada dua macam, yaitu saleh duniawi dan saleh ukhrawi. Yang pertama ialah orang yang berkepribadian baik sehingga banyak memberi manfaat bagi orang-orang dan alam di sekitarnya. Kesalehan duniawi berdimensi etis. Baik dan benar yang dilakukan hanya didasarkan atas pertimbangan akal. Orang yang memiliki kesalehan duniawi ini barangkali ada di semua tempat. Dia bisa saja seorang muslim atau bahkan ateis sekalipun.

Yang keren tentu saleh ukhrawi. Inilah kesalehan yang lahir dari iman. Kebaikan yang dilakukan bukan semata didorong pikiran sehat atau tuntutan etika, melainkan memang ekspresi ketaatan kepada Tuhan. Orang saleh tipe kedua ini, dalam setiap tindakannya, pasti selalu mengindahkan rambu-rambu agama. Puasa adalah salah satu bentuk kesalehan ukhrawi. Sebab, puasa ini berat. Tetapi karena ini perintah dari Allah, mau tidak mau, harus kita jalankan.

Ramadan adalah momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan, serta membentuk pribadi yang lebih baik di hadapan Allah dan sesama manusia. Firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 105, “bahwa bumi (surga) akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” Mudah-mudahan kita semua dimampukan oleh Allah menjadi individu-individu Muslim yang saleh secara duniawi maupun ukhrawi sehingga kita layak menjadi ahli waris surga sebagaimana disebut ayat di atas.

Jihad Melawan Diri Sendiri - Husnaini - FIAI UII

Jihad Melawan Diri Sendiri

Oleh: M. Husnaini

Berbuat baik itu mudah. Yang sukar adalah berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita. Jangankan membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan, lah menahan diri untuk tidak membalas secara sepadan saja beratnya minta ampun.

Berikut pesan Buya Hamka yang menarik kita renungkan:

“Memang sulit mengubah seorang musuh menjadi kawan, kemudian menjadi sahabat, memadamkan kemarahan hati dan mengubah muka marah dengan senyum, memberi maaf kesalahan, sehingga udara yang tadinya mendung menjadi terang benderang. Memang susah melakukan itu. Karena itu hanyalah pekerjaan orang yang hatinya memang hati waja, budinya budi emas; yaitu orang yang mempunyai kemauan besar dan cita-cita yang mulia. Memang susah. Tetapi menempuh kesusahan itulah yang harus kita coba, untuk kemuliaan jiwa kita sendiri.”

Kebanyakan orang begitu sibuk mengantisipasi musuh-musuh di luar diri, seperti rival kariernya, lawan politiknya, seteru komunitasnya, dan serupanya. Mereka lupa pada musuh paling berbahaya yang justru datang dari dalam diri sendiri. Itulah nafsu yang harus terus-menerus ditundukkan setiap menit, bahkan dalam hitungan detik.

Jika perang Uhud disebut jihad besar, perang melawan dorongan nafsu dikatakan jihad yang lebih besar. Dengan demikian, sepanjang perjalanan hidup, manusia dituntut waspada dan tidak boleh leha-leha. Terus waspada itulah takwa. Yaitu sikap selalu berjaga-jaga supaya hidup ini berjalan di atas perintah Allah dan terhindar dari larangan-Nya.

“Mintalah fatwa pada hatimu,” kata Rasulullah. Hati yang bersih dapat menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan bisikan-bisikan jahat dari dalam diri. Karena itu, kata sebuah falsafah, “Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih setia kepada hatinya sendiri.”

Modus bisikan-bisikan jahat itu semakin canggih seiring kemajuan zaman. Melawannya jelas merupakan jihad hidup yang paling panjang bagi manusia, siapa pun dia. Bahkan, jihad terberat manusia di era digital adalah selalu menahan diri untuk tidak mengunggah fitnah, gibah, hoaks, dan aneka informasi sampah meski dengan tujuan mulia.

Ramadan adalah training tahunan selama sebulan penuh untuk melatih ketangguhan diri menundukkan bisikan-bisikan nafsu itu. Semoga kita semua diberikan keberhasilan dan keberkahan.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Pegangan Menghadapi Pertanyaan Kritis Anak

Oleh: M. Husnaini – Dosen FIAI UII

Ramadan momen bagus untuk membaca. Saya kembali mendaras buku “M Quraish Shihab Menjawab Pertanyaan Anak tentang Islam”. Pakar tafsir satu ini adalah di antara rujukan saya. Sering, karya-karyanya belum kelar saya baca, sudah memunculkan ide-ide baru di kepala. Sebagian besar buku cendekiawan Muslim kebanggaan Indonesia ini sudah saya miliki dan baca.

Buku di tangan saya ini juga menarik. Berisi jawaban penulis “Tafsir Al-Mishbah” tersebut atas berbagai pertanyaan murid-murid di Sekolah CIKAL Jakarta. Namanya anak-anak, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tampak unik dan lucu. Bahkan, tidak terduga oleh kita. Sebagai orangtua, dan juga guru, bukankah kita, tidak jarang, dibuat bingung dan kesulitan menjawab pertanyaan polos anak-anak kita?

Di buku ini, misalnya, ada anak yang bertanya, “Apakah Allah itu lelaki atau perempuan, terus malaikat itu siapanya Allah?” Anak lain juga menanyakan, “Allah itu umur berapa sih, dan lahirnya di mana?” Ada juga yang penasaran, “Sebenarnya kiamat itu kapan datangnya: hari apa dan jam berapa, lalu gimana cara manusia menyelamatkan diri?”

Apa boleh buat, kekritisan anak, tidak bisa lain, adalah cermin kecerdasannya. Calon pribadi hebat, terlihat dari rasa penasarannya terhadap pengetahuan-pengetahuan baru sejak dia masih kecil. Maka, kendati urusan sepele, seorang anak ingin tahu, “Apakah boleh memberi contekan pada teman, soalnya kalau aku nggak kasih, aku dimusuhin?” Yang satunya bilang, “Binatang yang menggigit orang, apakah juga berdosa, Pak?”

Buku ini, dengan demikian, patut dibaca orangtua dan guru yang saban hari berhadapan dengan anak-anak. Segala yang ditanyakan anak-anak tentang Islam, betapa pun lugu dan aneh, setidaknya, menunjukkan gairah mereka terhadap agama ini. Karena itu, perlu jawaban yang terang dan jelas. Apalagi, dalam pengantar buku ini juga dijabarkan pedoman penting terkait bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak kecil.

Selamat berburu buku ini dan membacanya. Saya sendiri sudah pernah mengkhatamkan buku keren ini beberapa tahun lalu, dan rasanya masih asyik menikmatinya.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Husnaini. dosen FIAI dan Ramadan dan Motivasi Menulis

Ramadan dan Motivasi Menulis

Oleh: M. Husnaini

Saban Ramadan, sembari menjalankan puasa dan memenuhi undangan ceramah di beberapa tempat, saya membiasakan menulis saban hari. Tidak mudah, memang, mencari waktu senggang untuk membaca dan menulis. Tetapi, mohon doa dari semua, semoga diberikan kemudahan dan istikamah.

Menulis adalah lahan amal, jalan jihad. Tidak perlu ambil pusing dengan honor. Honor penting, tetapi bukan itu motivasi utama kita menulis. Kita sudah memiliki, katakanlah, ladang rezeki. Menulis, dengan begitu, adalah sarana sharing manfaat dan kebaikan. Kalau kemudian mendatangkan materi, syukur deh. Tetapi, sekali lagi, bukan itu tujuan kita.

Pemahaman semacam itulah yang saya pegang, dan saya tularkan ke grup-grup WhatsApp menulis saya. Hidup jelas bukan melulu urusan materi. Percayalah, kebahagiaan hakiki bukan di situ. Tidak perlu berdebat soal ini. Buktikanlah saja. Karena itu, saya ogah memotivasi orang lain untuk menulis, apalagi kalau tujuannya hanya semata ingin mencari uang.

Yang saya lakukan selama ini hanya menunjukkan cara praktis menulis, bagi siapa saja yang benar-benar ingin berkarya tulis. Kalau Anda ingin kaya, jangan belajar menulis. Lebih baik Anda berdagang atau lainnya. Menulis jelas bukan jalan pintas mencari uang, kendati banyak pula penulis yang menjadi kaya. Saya, yang setiap hari menulis, juga tidak kaya.

Jadi, sudahlah, jangan bicara soal honor, soal kaya. Kita berbagi saja. Sebanyak dan seikhlas mungkin. Selama kita terus mau “menggerakkan badan”, Insya Allah kita tetap “bisa makan”, meskipun bukan dari menulis. Tetapi, dan ini penting, kalau ada penulis yang sudah bicara tentang honor, monggo. Semoga jalan usaha kita semua diridai Allah.

Membaca, berpikir, menulis, dan menyusun kata adalah cara ampuh untuk menjaga agar pikiran ini tetap hidup. M Quraish Shihab dalam “Kumpulan 101 Kultum tentang Islam” menyatakan bahwa menulis dan tulisan dapat memberi manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. Lebih-lebih jika penulis dan tulisannya baik dan pembacanya pandai menyimak dan mau berinteraksi positif.

“Untuk bisa menulis, terutama untuk menghasilkan tulisan bagus,” kata AS Laksana, “kita harus belajar.” Kita bisa belajar sendiri atau belajar pada orang lain. Namun, masih kata AS Laksana, kita tidak mungkin belajar tanpa membaca. Manusia menularkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala lain melalui tulisan. Karena itulah membaca dan menulis ibarat dua koin mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Puasa dan Korupsi

Oleh: M. Husnaini

Monyet berebut makanan hanya ketika merasa lapar. Tetapi manusia tega merampas hak-hak sesama meskipun dalam kondisi sangat kaya dan jaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kerakusan bukan sekadar dorongan biologis, melainkan sifat mental yang tidak mengenal batas.

Puasa mengajarkan kita untuk mencukupkan diri sesuai kebutuhan. Ketika berpuasa, kita menahan diri dari makan dan minum, bukan karena tidak mampu, tetapi karena ingin melatih kesadaran akan kecukupan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga mengendalikan hawa nafsu, termasuk sifat rakus dan tamak.

Sayangnya, dalam realitas sosial, kita sering menjumpai orang-orang yang tidak pernah merasa cukup. Kasus korupsi yang terus terungkap belakangan ini menjadi bukti nyata. Banyak pejabat dan pengusaha yang sudah kaya raya, tetapi tetap tergoda untuk menyelewengkan uang rakyat. Mereka lebih memilih mengejar sesuatu yang belum dimiliki daripada mensyukuri dan menikmati apa yang telah ada.

Sifat tamak ini menciptakan ketidakadilan. Harta yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bersama justru dikuasai oleh segelintir orang. Akibat perilaku koruptif, kesenjangan sosial semakin lebar, dan rakyat kecil semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Puasa menawarkan solusi moral atas masalah korupsi. Dengan berlatih menahan diri, kita diajarkan untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan lebih bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan. Jika semangat puasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan lebih mudah merasa cukup dan terhindar dari sikap rakus yang merugikan banyak orang.

Selain itu, puasa juga menanamkan nilai-nilai empati dan solidaritas. Saat merasakan lapar dan haus, kita dapat memahami bagaimana perjuangan orang-orang yang kurang beruntung dalam kehidupan sehari-hari. Ini seharusnya menumbuhkan kesadaran untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama. Dalam Islam, berbagi dengan yang membutuhkan, seperti melalui zakat dan sedekah, menjadi salah satu cara untuk menyeimbangkan ketimpangan sosial.

Jika nilai-nilai yang diajarkan dalam puasa benar-benar diterapkan, maka kita akan memiliki masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Orang-orang tidak akan lagi berlomba-lomba menumpuk kekayaan dengan cara korupsi, tetapi justru mencari keberkahan dalam berbagi dan membantu sesama. Dengan begitu, puasa bukan hanya menjadi ibadah pribadi, tetapi juga menjadi solusi sosial yang nyata.

Akhirnya, kepuasan sejati bukanlah pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kita bisa bersyukur dan berbagi. Puasa mengajarkan kita bahwa hidup bukan soal mengumpulkan harta, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan harta untuk kebaikan bersama. Jika kita berhasil menerapkan esensi puasa dalam kehidupan, maka kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan harmonis.

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII Yogyakarta

Mengendalikan Yes, Melampiaskan No

Oleh: M. Husnaini

Inti dari puasa adalah mengendalikan. Tidak main-main, ini diperlukan latihan yang luar biasa. Sebab, mengendalikan jelas lebih susah ketimbang melampiaskan.

Jika dikasih uang sejuta, kemudian disuruh menghabiskan sehari, siapa yang tidak bisa? Namun, jika diminta untuk merasa cukup kebutuhan hanya dengan belanja seratus ribu di sebuah supermarket, tentu butuh pengendalian ekstra. Silakan buktikan sendiri, jika tidak yakin.

Karena itu, kegagalan dalam hidup ini sering disebabkan karena manusia gagal mengendalikan. Bukan hanya kita. Para manusia mulia pun setali tiga uang.

Nabi Adam, misalnya, diturunkan dari surga karena tidak mampu mengendalikan nafsu untuk memakan buah larangan. Nabi Musa tidak lulus belajar kepada Nabi Khidir karena tidak tahan mengendalikan protes dan selalu gagal paham atas setiap sikap sang guru misterius itu. Nabi Yunus dihukum di perut ikan nun karena tidak kuat mengendalikan rasa ngambek atas kedurhakaan kaumnya.

Contoh-contoh lain bisa ditambahkan. Atau barangkali justru dari pengalaman kita sendiri.

Yang jelas, kemampuan untuk mengendalikan ini luar biasa penting. Dan, sekali lagi, perlu latihan sekaligus pembiasaan. Lain dengan perilaku melampiaskan, yang anak kecil atau, bahkan, orang tidak waras pun mampu melakukan.

Benarlah kalimat menarik dari Emha Ainun Nadjib dalam buku Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem: Nasihat-Nasihat Kearifan. Kata budayawan kondang itu, “Jangan memasuki suatu sistem yang membuat Anda melampiaskan diri. Tapi dekat-dekatlah dengan sahabat yang membuat Anda mengendalikan diri. Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.”

Karena itu, Ramadan harus menjadi bulan penuh kesederhanaan, bukan momen pelampiasan dengan berbelanja aneka makanan dan pakaian demi kepuasan.

Sebaliknya, Ramadan harus menjadi madrasah ruhaniah bagi kita untuk berlatih memperbanyak ibadah dan amal utama. Jika Ramadan tidak juga membuat kita rajin beribadah dan beramal mulia, lantas momen apa yang mampu mendorong kita mau mendekat kepada Sang Pencipta?

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII

Memaknai Hujan Kajian FIAI UII

Memaknai Hujan

Oleh: M. Husnaini

Sudah beberapa bulan terakhir Yogyakarta kerap diguyur hujan cukup lebat. Hujan deras yang mengguyur wilayah Sleman dari siang hingga sore hari awal Januari lalu bahkan sempat menyebabkan jembatan bulevar di kampus Universitas Islam Indonesia Pusat ambles. Sebagian wilayah di Indonesia juga sampai dilanda banjir bandang.

Hujan merupakan fenomena alam sehari-hari. Zaman masih kecil dulu, hati saya girang kala melihat hujan. Sambil berlari keluar rumah, mata saya berusaha memandang ke langit. Dalam pikiran awam waktu itu, langit akan terbuka ketika hujan turun dan segera tertutup kembali manakala hujan reda.

Saintis dan ilmuwan juga mengkaji hujan. Setelah radar cuaca atau weather surveillance radar (WSR) ditemukan, manusia jadi tahu bahwa proses terjadinya hujan dimulai dari awan. Awan cumulonimbus terbentuk ketika angin mendorong sejumlah awan kecil menjadi gumpalan awan, dan terjadilah hujan.

Namun, jauh sebelum itu, Al-Qur’an telah menjelaskan proses hujan turun. Dalam surah Ar-Rum ayat 48, Allah berfirman, “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Penjelasan Al-Qur’an tersebut persis sesuai dengan pemantauan radar cuaca. Jadi, hujan terjadi melalui tiga tahap. Pertama, pembentukan hujan dijelaskan lewat “Allah, Dialah yang mengimkan angin…” Tahap kedua dijelaskan dalam “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…” Tahap ketiga, “… lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya.”

Sungguh Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dalam bahasa Arab, kata hujan mempunyai dua redaksi utama, yaitu “al-mathar” dan “al-ghaits”. Dua istilah itu berbeda namun bermakna sama, yaitu hujan atau air hujan. Perbedaan di antara keduanya ialah bahwa al-mathar itu bentuk tunggal, namun berkonotasi pada hal-hal yang negatif, yakni hujan yang berdampak mendatangkan kerusakan seperti banjir, longsor, dan sejenisnya.

Bahkan, pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an, al-mathar dimaknai sebagai azab, yakni berupa hujan batu yang ditimpakan kepada umat yang berbuat zalim (dosa).

“Wa amtharna ‘alaihim matharan (dan Kami hujani mereka dengan hujan batu). Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS Al-A’raf [7]: 84).

Simak pula terjemahan ayat senada berikut: “Maka, ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata: Inilah awan mumthiruna (yang akan menurunkan hujan kepada kita). (Bukan) Tetapi itulah azab yang kamu minta disegerakan datangnya.” (QS Al-Ahqaf [46]: 24).

Berbeda dengan itu, al-ghaits dimaknai sebagai bentuk jamak dari al-mathar, namun al-ghaits dikategorikan sebagai hujan yang membawa berkah, misalnya kesuburan tanaman atau disebut pula dengan hujan rahmat.

Perhatikan terjemahan firman Allah di bawah ini: “Dan Dia-lah yang menurunkan ghaits (hujan) setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pelindung, Maha Terpuji.” (QS Asy-Syura [42]: 28).

Firman Allah yang lain: “Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi ghaits (hujan) (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS Yusuf [12]: 49).

Demikian pemaparan singkat tentang hujan. Semoga bermanfaat. Mudah-mudahan pula setiap hujan yang turun kepada kita adalah hujan yang senantiasa membawa berkah dan rahmat.

 

Penerimaan Mahasiswa Baru FIAI UII