Kementerian Agama Republik Indonesia baru saja merilis Indeks Keberagamaan Mahasiswa 2025 yang menunjukkan hasil “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa muslim di Indonesia pada tahun 2025 memiliki tingkat moderasi dan kesadaran beragama yang sangat kuat. Mahasiswa bukan sekadar status akademik bagi pemuda yang duduk di bangku kuliah. Dalam kacamata Islam, mahasiswa adalah kelompok elit intelektual yang memikul amanah besar sebagai Agent of Change (agen perubahan) dan Iron Stock (cadangan masa depan) bagi umat. Di Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, peran mahasiswa menjadi sangat krusial dalam menentukan arah peradaban bangsa ke depan.

Perlu diingat, mahasiswa sebagai Pewaris Nilai Keislaman. Tugas utama mahasiswa Muslim adalah menjadi jembatan antara wahyu dan realitas. Islam sangat memuliakan orang yang berilmu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11:

“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dengan nilai-nilai tauhid. Bukan sekadar cerdas dalam teknologi atau ekonomi, tetapi juga memiliki akhlak yang kokoh. Di era disrupsi informasi ini, mahasiswa berperan sebagai filter untuk menjaga umat agar tidak terombang-ambing oleh pemikiran yang menjauhkan diri dari syariat.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi. Membangun umat berarti membenahi kondisi sosial dan ekonominya. Mahasiswa memiliki akses terhadap riset dan inovasi yang bisa diaplikasikan di tengah masyarakat. Peran nyata ini bisa diwujudkan melalui:

  • Pendidikan Masyarakat: Mengajar di TPA atau mengadakan bimbingan belajar gratis bagi keluarga kurang mampu.
  • Pemberdayaan Ekonomi Syariah: Membantu UMKM milik masyarakat sekitar untuk berkembang melalui literasi keuangan syariah atau pemasaran digital.
  • Advokasi Kebijakan: Menjadi penyambung lidah rakyat dalam menyuarakan keadilan jika ada kebijakan yang merugikan maslahat umat.

Mahasiswa sebagai penjaga persatuan atau sering disebut ukhuwah di Tengah Keberagaman. Indonesia adalah negeri yang majemuk. Mahasiswa Muslim harus menjadi pelopor dalam merajut ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Mahasiswa jangan sampai terjebak dalam fanatisme golongan yang sempit yang justru memecah belah kekuatan umat. Dengan wawasan yang luas, mahasiswa harus mampu menghadirkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin—Islam yang damai, santun, dan memberi solusi bagi semua pihak.

Mahasiswa berperan dalam dakwah kreatif di era digital. Dakwah tidak lagi terbatas di atas mimbar masjid. Mahasiswa yang akrab dengan teknologi memiliki peluang besar untuk berdakwah melalui konten kreatif. Tulisan, video pendek, maupun infografis yang edukatif tentang Islam dapat menjangkau jutaan anak muda lainnya. Ini adalah bentuk jihad intelektual di masa kini untuk melawan narasi negatif atau hoaks yang dapat merusak citra Islam.

Masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus oleh Allah SWT. Menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas untuk menanam benih kebaikan bagi umat. Mari jadikan bangku perkuliahan sebagai sarana untuk mempertajam kecerdasan, dan jadikan organisasi sebagai wadah untuk mengasah kepedulian.

Umat merindukan mahasiswa yang tidak hanya mengejar IPK tinggi, tetapi juga mereka yang ruku’ di tengah malam dan bekerja keras di siang hari demi kemaslahatan sesama. Mari melangkah, karena masa depan umat ini ada di tangan generapa penerus, seperti mahasiswa sekarang ini.

Di dalam sejarah peradaban Islam, tinta para ulama seringkali disejajarkan dengan darah para syuhada. Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan pengakuan betapa krusialnya tulisan dalam menjaga eksistensi agama ini. Hari ini, di tengah gempuran informasi digital yang serba instan, tantangan literasi umat semakin besar. Di sinilah mahasiswa Muslim harus hadir bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai pelopor edukasi pentingnya menulis buku Islam.

Menulis dakwah mendukung upaya menjaga warisan intelektual muslim. Salah satu alasan mengapa Islam bisa sampai kepada kita hari ini adalah karena tradisi membukukan ilmu. Jika para pendahulu kita seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Hamka tidak menulis, mungkin kekayaan khazanah pemikiran Islam sudah hilang ditelan zaman. Mahasiswa, dengan kapasitas intelektual dan akses terhadap referensi yang luas, memegang tongkat estafet ini. Mahasiswa perlu menyadarkan rekan sebaya dan masyarakat bahwa menulis buku bukan hanya tugas dosen atau kyai, melainkan bentuk penjagaan terhadap warisan pemikiran yang akan menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina adalah dua raksasa intelektual dalam sejarah Islam yang melakukan jihad intelektual dengan cara yang berbeda namun saling melengkapi. Jika Ibnu Sina berjihad dengan membangun fondasi rasionalitas dan sains, Al-Ghazali berjihad dengan melakukan pemurnian spiritual dan harmonisasi antara akal dan wahyu.

Jihad intelektual yang dapat dilakukan mahasiswa juga dalam rangka melawan narasi negatif dan distorsi informasi. Dunia literasi saat ini sering kali dibanjiri oleh pemikiran yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam, mulai dari materialisme hingga pemahaman radikal yang tidak tepat. Jika mahasiswa yang berilmu hanya diam dan enggan menulis, maka kekosongan ruang literasi akan diisi oleh pihak lain.

Kondisi kampus dengan dinamikanya, bisa menjadi bahan tulisan, misal mengonversi diskusi menjadi naskah. Mahasiswa sering melakukan diskusi ilmiah; edukasi harus diarahkan agar hasil diskusi tersebut tidak hilang begitu saja, melainkan dibukukan. Selain itu mahasiswa berpeluang mempopulerkan sains islami dengan menjelaskan fenomena ilmiah melalui perspektif tauhid dalam bentuk buku yang ringan dan populer bagi kaum milenial. Mahasiswa juga dapat sebagai mediator dengan meluruskan kesalahpahaman melalui buku, mahasiswa bisa menjawab isu-isu kontemporer tentang Islam dengan argumen yang sistematis dan akademis.

Kondisi sosial mahasiswa di kampus, merupakan kesempatan untuk membangun budaya literasi di lingkungan kampus. Edukasi tidak selalu berarti ceramah. Mahasiswa dapat berperan melalui tindakan nyata untuk menciptakan ekosistem menulis. Hal ini bisa dimulai dengan membentuk komunitas penulis buku, mengadakan pelatihan penulisan kreatif bernuansa Islam, hingga memberikan pendampingan proses penerbitan.

Penting bagi mahasiswa untuk mengedukasi bahwa menulis buku Islam tidak harus selalu tentang fikih yang berat. Buku bisa berupa antologi esai tentang pengalaman spiritual, panduan praktis ekonomi syariah untuk anak muda, atau novel yang menyisipkan nilai-nilai akhlak. Dengan variasi tema, minat baca dan tulis umat akan tumbuh secara organik.

Peran mahasiswa menulis dakwah sebagai amal jariyah. Mahasiswa harus mampu memberikan perspektif ukhrawi dalam edukasi menulis. Menulis buku adalah investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu amal yang tidak terputus pahalanya setelah seseorang wafat adalah ilmu yang bermanfaat (HR. Muslim).

Sebuah buku yang ditulis saat mahasiswa mungkin akan dibaca sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Selama ilmu di dalamnya diamalkan, maka aliran pahala akan terus mengalir kepada penulisnya. Inilah motivasi spiritual tertinggi yang harus ditanamkan kepada setiap pemuda Muslim.

Menulis merupakan upaya menembus batas zaman dan ruang, kelebihan buku dibandingkan dakwah lisan adalah jangkauannya. Suara seorang orator mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir di ruangan, tetapi sebuah buku bisa menyeberangi lautan dan melampaui batas waktu. Mahasiswa sebagai warga digital memiliki kemudahan untuk menerbitkan buku, baik secara fisik maupun e-book, yang bisa diakses secara global.

Mahasiswa adalah wajah masa depan umat. Jika hari ini mahasiswa Muslim malas menulis, maka masa depan peradaban Islam di Indonesia akan kekurangan rujukan yang berkualitas. Edukasi tentang pentingnya menulis buku Islam harus digaungkan sekarang juga.

Jangan menunggu menjadi ahli untuk mulai menulis, tapi menulislah untuk menjadi ahli. Jadikan pena Anda sebagai pedang untuk membela kebenaran dan sebagai lentera untuk menerangi kegelapan pemikiran. Setiap kata yang Anda goreskan adalah batu bata bagi bangunan peradaban umat.

Ditulis oleh mahasiswa
MUHAMMAD FADHLI ABDILLAH, NIM  22422063

Menjadi mahasiswa dalam kampus UII yang notabene mendukung program dakwah, harus memahami bahwa seusia mahasiwa yang memiliki waktu lebih banyak, maka bisa dioptimalkan untuk mendukung ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan mandat besar bagi setiap Muslim, khususnya para mahasiswa, untuk memanfaatkan segala sarana yang ada demi menyebarkan kebaikan. Di era zettabyte saat ini, sarana paling efektif dan masif yang ada di genggaman kita adalah media sosial. Bagi mahasiswa, media sosial bukan sekadar tempat pamer gaya hidup, melainkan “mimbar digital” yang mampu menembus batas ruang dan waktu.

Transformasi Dakwah di Tangan Mahasiswa

Dahulu, dakwah hanya identik dengan khutbah di atas mimbar masjid atau pengajian di majelis taklim. Namun saat ini, wajah dakwah telah bertransformasi. Sebuah desain grafis yang estetik, video pendek (Reels/TikTok) yang menyentuh, atau tulisan reflektif di caption Instagram bisa menjadi wasilah hidayah bagi ribuan orang.

Mahasiswa memiliki keunggulan intelektual dan kreativitas untuk mengemas konten dakwah menjadi lebih relevan. Jika konten maksiat diproduksi secara profesional, maka konten kebenaran tidak boleh dibuat ala kadarnya. Mahasiswa harus berperan sebagai kreator konten yang mengisi ruang hampa di hati para pengguna internet dengan nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah.

Membendung Arus Negatif

Media sosial laksana pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi ladang pahala, di sisi lain ia bisa menjadi sumber fitnah dan dosa jariyah. Fenomena cyber-bullying, penyebaran hoaks, hingga konten yang merusak moral remaja muslim menjadi tantangan nyata. Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan.

Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang sekadar “scroll” tanpa arah. Mahasiswa harus menjadi produsen konten positif. Ketika seorang mahasiswa mengunggah kutipan ayat, potongan hadis, atau opini Islami mengenai isu terkini, ia sedang melakukan perlawanan terhadap arus negatif. Ia sedang membangun benteng pertahanan bagi iman adik-adik tingkatnya dan para remaja yang setiap hari terpapar polusi digital.

Kekuatan Jangkauan yang Tak Terbatas

Satu hal yang luar biasa dari media sosial adalah jangkauannya. Sebuah tulisan bermanfaat yang dibuat oleh seorang mahasiswa di kamarnya bisa dibaca oleh orang di belahan bumi lain. Inilah yang disebut dengan efisiensi dakwah. Kita tidak perlu berkeliling dunia untuk berdakwah; cukup dengan satu klik, pesan kebaikan itu bisa menyebar (viral).

Bagi mahasiswa yang mungkin merasa ilmunya belum setinggi ulama, media sosial adalah sarana belajar sekaligus berbagi. Dengan mengutip penjelasan para ulama terpercaya dan mengemasnya dalam bahasa anak muda, mahasiswa telah membantu menyederhanakan pesan-pesan agama agar lebih mudah diterima oleh generasinya.

Media sosial adalah amanah. Kelak, setiap unggahan, komentar, dan like kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menjadikan akun media sosial sebagai portofolio dakwah adalah keputusan paling cerdas yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa. Jangan biarkan jempolmu diam ketika kemungkaran berseliweran di beranda. Mulailah menulis, mulailah mendesain, dan mulailah berbicara tentang kebenaran melalui layar ponselmu.

Ditulis oleh mahasiswa
Endah Fuzi Yatnih, NIM 22421098

Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi kota, ribuan desa di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Indonesia masih terisolasi dalam kegelapan informasi tahun 2025. Tanpa akses internet dan listrik yang stabil, masyarakat desa seringkali tertinggal dalam pemahaman agama yang moderat dan kontekstual. Kesenjangan ini menciptakan ruang bagi masuknya pemahaman yang keliru atau pengabaian nilai-nilai spiritual akibat fokus hanya pada bertahan hidup.

Mahasiswa harus hadir sebagai penyambung lidah kebenaran. Di sana, dakwah online tidak berlaku, yang dibutuhkan adalah ketulusan raga untuk datang, menetap, dan mengajarkan alif-ba-ta. Menolong mereka dari ketertinggalan informasi bukan sekadar bakti sosial, melainkan upaya menyelamatkan akidah generasi bangsa di pelosok negeri.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 122:

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Ayat ini merupakan seruan bagi kaum intelektual untuk tidak hanya menumpuk ilmu di menara gading universitas, tetapi juga turun ke masyarakat (kaumnya) untuk memberikan pencerahan. Bagi mahasiswa Muslim, pedesaan adalah medan pengabdian yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah dan edukasi.

Memecah Kesenjangan Literasi Agama

Di kota-kota besar, akses terhadap kajian keislaman sangat melimpah, mulai dari masjid-masjid besar hingga kajian media sosial yang mudah diakses. Namun, kondisi di pedesaan seringkali berbeda. Keterbatasan akses informasi, kurangnya tenaga pendidik agama, serta kuatnya pengaruh tradisi yang terkadang bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat, membuat dakwah di pedesaan menjadi sangat krusial.

Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi mitra dialog. Dengan bekal metode berpikir sistematis yang dipelajari di kampus, mahasiswa dapat membantu menjelaskan ajaran Islam secara logis dan relevan bagi kehidupan warga desa. Dakwah ke desa adalah upaya memastikan bahwa cahaya hidayah merata hingga ke pelosok negeri, bukan hanya berputar di pusat kota.

Mengintegrasikan Dakwah dan Pemberdayaan

Satu hal yang menjadi keunggulan mahasiswa saat berdakwah ke pedesaan adalah kemampuan integrasi ilmu. Dakwah mahasiswa tidak harus selalu berbentuk ceramah di atas podium. Dakwah bisa dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, edukasi kesehatan sesuai sunnah, hingga bimbingan belajar bagi anak-anak desa.

Ketika mahasiswa membantu petani meningkatkan hasil panennya dengan cara-cara yang jujur, atau mengajarkan pemuda desa cara berwirausaha tanpa riba, mereka sedang menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Remaja di pedesaan membutuhkan figur teladan—kakak tingkat yang taat beragama namun juga cerdas secara akademik. Kehadiran mahasiswa di desa memberikan harapan dan motivasi bagi anak-anak desa untuk bermimpi lebih tinggi tanpa meninggalkan akar agama mereka.

Melatih Keikhlasan dan Kepekaan Sosial

Bagi mahasiswa itu sendiri, terjun ke pedesaan adalah sekolah kehidupan. Di sana, ego intelektual diuji. Mahasiswa belajar bagaimana cara menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang sederhana dan santun agar dapat diterima oleh orang tua dan masyarakat setempat. Pengalaman ini akan menumbuhkan rasa empati dan syukur yang mendalam.

Dakwah di desa mengajarkan bahwa ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa yang peduli pada pedesaan adalah mereka yang menyadari bahwa gelar sarjananya kelak adalah titipan Allah untuk menolong hamba-hamba-Nya yang membutuhkan.

Turun ke desa bukan sekadar menjalankan program KKN atau formalitas perkuliahan. Ini adalah misi nubuwah untuk menjaga iman umat di akar rumput. Mari jadikan masa muda kita sebagai masa di mana jejak kaki kita pernah singgah di jalan-jalan tanah pedesaan, membawa lentera ilmu, dan meninggalkan kenangan indah berupa perubahan akhlak yang nyata.

Ditulis oleh mahasiswa
Muhammad Sirrul Asror 22421075

Dunia digital hari ini bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan medan tempur pemikiran. Sebagai mahasiswa UII mengajak para mahasiswa di manapun berada, saatnya mahasiswa berada di garda depan intelektualitas. Namun, seringkali muncul keraguan: “Bolehkah saya menulis dakwah padahal ilmu saya masih sedikit?” Jawabannya bukan hanya boleh, melainkan sangat dianjurkan selama yang disampaikan adalah kebenaran yang valid. Menulis dakwah secara online adalah cara terbaik bagi mahasiswa untuk mengikat ilmu sekaligus membentengi ruang digital dari konten negatif.

Menjalankan Amanah Ilmu yang Sedikit

Banyak mahasiswa terjebak dalam rasa tidak percaya diri karena merasa bukan lulusan pesantren. Padahal, dakwah tidak harus menunggu menjadi ulama besar. Rasulullah SAW memberikan mandat kepada setiap Muslim untuk menyampaikan apa pun yang diketahuinya, meski hanya satu hal kecil yang benar. Dengan menuliskan satu hadis pendek tentang adab atau satu kutipan ayat tentang sabar di media sosial, kita telah menjalankan tugas sebagai penyambung risalah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’.” (HR. Bukhari, No. 3461)

 Hadis ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu bukan penghalang untuk berbagi kebaikan. Setidaknyada beberapa makna pokok.

Pertama, Makna “Ballighu” yakni sampaikanlah. Para ulama menyebutkan bahwa kata perintah (amr) di sini menunjukkan kewajiban bagi setiap orang yang mendengar atau mengetahui sebuah ilmu agama untuk menyampaikannya kepada mereka yang belum tahu. Ini menunjukkan bahwa dakwah adalah tugas kolektif seluruh umat, bukan hanya tugas para kiai, ustaz, atau ulama besar saja.

Kedua, Makna ‘Anni”  artinya Dariku. Kata “dariku” adalah syarat mutlak. Ilmu yang disampaikan harus valid bersumber dari Rasulullah SAW. Bagi  mahasiswa atau pemula, ini berarti kita tidak boleh mengarang-ngarang hukum atau menafsirkan ayat semau sendiri. Kita harus menyampaikan apa yang sudah pasti benarnya (seperti kutipan ayat Al-Qur’an, hadis sahih yang sudah dijelaskan ulama, atau nasihat adab yang umum).

Ketiga, makna Walau Satu Ayat. Bagian ini adalah intisari yang paling menguatkan bagi orang yang baru belajar agama. Minimalisme Dakwah, tidak perlu menunggu hafal 30 juz atau ribuan hadis untuk mulai berbagi. Jika kita tahu satu ayat tentang larangan sombong, dan kita yakin akan kebenaran maknanya, kita sudah terkena mandat untuk menyampaikannya. Meringankan beban, Allah tidak membebani kita untuk menyampaikan hal yang tidak kita ketahui. Cukup sampaikan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Meski hadis ini memberikan kelonggaran “hanya satu ayat”, para ulama tetap mengingatkan untuk berhati-hati. Jangan sampai atas nama “satu ayat”, kita menyebarkan hadis palsu atau pemahaman yang keliru. Rumusnya, sampaikan apa yang kamu ketahui dengan pasti (yakin sumbernya), dan diamlah terhadap apa yang tidak kamu ketahui.

 Jejak Digital sebagai Amal Jariyah

Mahasiswa sangat akrab dengan teknologi. Setiap status, artikel, atau caption yang kita unggah akan meninggalkan jejak permanen. Bayangkan jika tulisan sederhana kita tentang pentingnya shalat tepat waktu dibaca oleh seorang remaja yang sedang futur (lemah iman), lalu ia tergerak untuk bertaubat. Itulah investasi pahala yang akan terus mengalir bahkan setelah kita wafat. Menulis online adalah cara kita memanen pahala tanpa batas ruang dan waktu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin: 12: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…” Tulisan di internet adalah “bekas” atau jejak yang akan dihisab dan menjadi saksi kebaikan.

Dakwah sebagai Proses Belajar

Menulis dakwah sebenarnya adalah cara belajar yang paling efektif. Saat seorang mahasiswa memutuskan untuk menulis tentang bahaya riba atau kemuliaan orang tua, ia pasti akan melakukan riset, membaca tafsir, dan mengecek keaslian hadis. Secara tidak langsung, ia sedang mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain. Menulis memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri dan konsisten antara kata dan perbuatan.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ash-Shaff: 2-3: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini menjadi pengingat agar tulisan kita menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk terus memperbaiki diri.

Menjadi Penyeimbang di Tengah Banjir Fitnah

Remaja muslim saat ini sangat terpapar konten yang menjauhkan mereka dari agama. Jika mahasiswa yang memiliki akses terhadap ilmu dan teknologi memilih diam, maka ruang digital akan dikuasai oleh kebatilan. Menulis dakwah online adalah bentuk jihad intelektual untuk memastikan bahwa konten positif tetap memiliki porsi di beranda media sosial remaja. Kita harus menjadi bagian dari golongan yang menyeru kepada kebajikan.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ditulis mahasiswa
Syamimi Assahira, NIM 24421021

Masa beraktivitas selama menjadi mahasiswa UII seringkali disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Di fase ini, seseorang berada pada puncak kematangan intelektual, energi fisik yang meluap, dan idealisme yang tinggi. Namun, kemuliaan status mahasiswaUII  bukan terletak pada gelar yang akan disandang, melainkan pada sejauh mana manfaat yang ia tebar bagi umat. Salah satu ladang amal yang paling krusial saat ini adalah kepedulian terhadap dakwah bagi para remaja.

Mengapa mahasiswa harus peduli pada dakwah remaja? Jawabannya sederhana: Remaja adalah fase transisi yang paling rentan sekaligus menentukan. Di era digital yang penuh dengan disrupsi moral, remaja muslim hari ini dihadapkan pada tantangan berat—mulai dari krisis identitas, paparan konten negatif, hingga pergaulan bebas. Mahasiswa hadir sebagai “kakak” yang mampu menjembatani jarak antara generasi tua (para ulama/orang tua) dengan generasi muda.

Mahasiswa memiliki bahasa yang sama dengan remaja. Dengan pendekatan yang lebih segar, santai, namun berbobot, mahasiswa bisa masuk ke dunia remaja untuk menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Jika mahasiswa abai, maka ruang-ruang kosong di hati para remaja akan diisi oleh pengaruh lingkungan yang menjauhkan mereka dari agama. Menyelamatkan satu remaja hari ini berarti menyelamatkan satu pemimpin di masa depan. Sebagai landasan pergerakan, berikut adalah tiga dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya dakwah dan pembinaan generasi:

1. Kewajiban Menjadi Umat Terbaik (Mengajak Kebaikan)
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Ayat ini menegaskan bahwa predikat “umat terbaik” tidak diberikan cuma-cuma, melainkan harus diraih melalui aktivitas dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar). Relevansi dengan mahasiswa dan dakwah dalam konteks mahasiswa yang peduli pada dakwah remaja (seperti tulisan Anda sebelumnya):

Agen Khaira Ummah: Mahasiswa adalah bagian dari umat ini yang memiliki kapasitas intelektual untuk menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di lingkungan kampus dan remaja.

Solusi Sosial: Dakwah kepada remaja adalah bentuk nyata dari “mencegah kemungkaran” (seperti pergaulan bebas atau narkoba) dan “mengajak pada kebaikan” (hijrah dan menuntut ilmu).

Bermanfaat bagi Sesama: Sesuai tafsir bahwa yang terbaik adalah yang paling bermanfaat, mahasiswa yang berdakwah berarti sedang merealisasikan hakikat ayat ini secara nyata.

2. Seruan Dakwah dengan Hikmah
Dalam menjalankan dakwah ke remaja, mahasiswa harus menggunakan cara yang tepat sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”

Remaja tidak butuh dihakimi, mereka butuh didengar dan diarahkan dengan penuh hikmah serta kasih sayang. Ayat ini sangat krusial bagi mahasiswa karena:

Menghindari kekakuan yakni Remaja seringkali menjauhi agama jika disampaikan dengan cara yang keras atau menakut-nakuti. Mau’izhah Hasanah adalah kunci. Membangun Intelektualitas yakni Mahasiswa diajarkan untuk memiliki Hikmah (kapasitas ilmu), sehingga saat ditanya hal-hal kritis oleh remaja (misalnya tentang sains dan Islam), mahasiswa bisa menjawab secara cerdas. Adab Komunikasi yakni Menekankan bahwa dakwah adalah soal caranya, bukan hanya isinya. Konten yang benar jika disampaikan dengan cara yang salah (kasar), akan ditolak oleh manusia.

3. Tanggung Jawab Menjaga Generasi Allah mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita, sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 9:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”

Lemah yang dimaksud bukan sekadar fisik atau ekonomi, melainkan lemah iman dan karakter. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mahasiswa. Jika mahasiswa (sebagai kaum intelektual muda) bersikap apatis dan tidak peduli pada pembinaan remaja, maka mereka secara tidak langsung membiarkan lahirnya generasi yang “lemah”. Ayat ini mengajak kita untuk memiliki sense of crisis—rasa khawatir yang positif—yang kemudian diwujudkan dengan aksi nyata untuk membekali remaja dengan ilmu dan iman agar mereka menjadi generasi yang kuat di masa depan.

Kepedulian mahasiswa terhadap dakwah remaja bukanlah sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change), dan perubahan paling fundamental dimulai dari pembinaan akidah generasi muda. Ketika mahasiswa turun tangan merangkul remaja, mereka sedang membangun benteng pertahanan umat yang kokoh. Mari jadikan organisasi kampus, media sosial, dan diskusi santai di kantin sebagai sarana untuk menyebarkan cahaya Islam, dimulai dari sejak menjadi mahasiswa, terutama mahasiswa UII.

Penulis mahasiswa:
Adzkia Hulwia Hasanah, NIM 22422033