Menjadi mahasiswa dalam kampus UII yang notabene mendukung program dakwah, harus memahami bahwa seusia mahasiwa yang memiliki waktu lebih banyak, maka bisa dioptimalkan untuk mendukung ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan mandat besar bagi setiap Muslim, khususnya para mahasiswa, untuk memanfaatkan segala sarana yang ada demi menyebarkan kebaikan. Di era zettabyte saat ini, sarana paling efektif dan masif yang ada di genggaman kita adalah media sosial. Bagi mahasiswa, media sosial bukan sekadar tempat pamer gaya hidup, melainkan “mimbar digital” yang mampu menembus batas ruang dan waktu.
Transformasi Dakwah di Tangan Mahasiswa
Dahulu, dakwah hanya identik dengan khutbah di atas mimbar masjid atau pengajian di majelis taklim. Namun saat ini, wajah dakwah telah bertransformasi. Sebuah desain grafis yang estetik, video pendek (Reels/TikTok) yang menyentuh, atau tulisan reflektif di caption Instagram bisa menjadi wasilah hidayah bagi ribuan orang.
Mahasiswa memiliki keunggulan intelektual dan kreativitas untuk mengemas konten dakwah menjadi lebih relevan. Jika konten maksiat diproduksi secara profesional, maka konten kebenaran tidak boleh dibuat ala kadarnya. Mahasiswa harus berperan sebagai kreator konten yang mengisi ruang hampa di hati para pengguna internet dengan nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah.
Membendung Arus Negatif
Media sosial laksana pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi ladang pahala, di sisi lain ia bisa menjadi sumber fitnah dan dosa jariyah. Fenomena cyber-bullying, penyebaran hoaks, hingga konten yang merusak moral remaja muslim menjadi tantangan nyata. Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan.
Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang sekadar “scroll” tanpa arah. Mahasiswa harus menjadi produsen konten positif. Ketika seorang mahasiswa mengunggah kutipan ayat, potongan hadis, atau opini Islami mengenai isu terkini, ia sedang melakukan perlawanan terhadap arus negatif. Ia sedang membangun benteng pertahanan bagi iman adik-adik tingkatnya dan para remaja yang setiap hari terpapar polusi digital.
Kekuatan Jangkauan yang Tak Terbatas
Satu hal yang luar biasa dari media sosial adalah jangkauannya. Sebuah tulisan bermanfaat yang dibuat oleh seorang mahasiswa di kamarnya bisa dibaca oleh orang di belahan bumi lain. Inilah yang disebut dengan efisiensi dakwah. Kita tidak perlu berkeliling dunia untuk berdakwah; cukup dengan satu klik, pesan kebaikan itu bisa menyebar (viral).
Bagi mahasiswa yang mungkin merasa ilmunya belum setinggi ulama, media sosial adalah sarana belajar sekaligus berbagi. Dengan mengutip penjelasan para ulama terpercaya dan mengemasnya dalam bahasa anak muda, mahasiswa telah membantu menyederhanakan pesan-pesan agama agar lebih mudah diterima oleh generasinya.
Media sosial adalah amanah. Kelak, setiap unggahan, komentar, dan like kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menjadikan akun media sosial sebagai portofolio dakwah adalah keputusan paling cerdas yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa. Jangan biarkan jempolmu diam ketika kemungkaran berseliweran di beranda. Mulailah menulis, mulailah mendesain, dan mulailah berbicara tentang kebenaran melalui layar ponselmu.
Ditulis oleh mahasiswa
Endah Fuzi Yatnih, NIM 22421098




