Kementerian Agama Republik Indonesia baru saja merilis Indeks Keberagamaan Mahasiswa 2025 yang menunjukkan hasil “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa muslim di Indonesia pada tahun 2025 memiliki tingkat moderasi dan kesadaran beragama yang sangat kuat. Mahasiswa bukan sekadar status akademik bagi pemuda yang duduk di bangku kuliah. Dalam kacamata Islam, mahasiswa adalah kelompok elit intelektual yang memikul amanah besar sebagai Agent of Change (agen perubahan) dan Iron Stock (cadangan masa depan) bagi umat. Di Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, peran mahasiswa menjadi sangat krusial dalam menentukan arah peradaban bangsa ke depan.
Perlu diingat, mahasiswa sebagai Pewaris Nilai Keislaman. Tugas utama mahasiswa Muslim adalah menjadi jembatan antara wahyu dan realitas. Islam sangat memuliakan orang yang berilmu.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11:
“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”
Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dengan nilai-nilai tauhid. Bukan sekadar cerdas dalam teknologi atau ekonomi, tetapi juga memiliki akhlak yang kokoh. Di era disrupsi informasi ini, mahasiswa berperan sebagai filter untuk menjaga umat agar tidak terombang-ambing oleh pemikiran yang menjauhkan diri dari syariat.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi. Membangun umat berarti membenahi kondisi sosial dan ekonominya. Mahasiswa memiliki akses terhadap riset dan inovasi yang bisa diaplikasikan di tengah masyarakat. Peran nyata ini bisa diwujudkan melalui:
- Pendidikan Masyarakat: Mengajar di TPA atau mengadakan bimbingan belajar gratis bagi keluarga kurang mampu.
- Pemberdayaan Ekonomi Syariah: Membantu UMKM milik masyarakat sekitar untuk berkembang melalui literasi keuangan syariah atau pemasaran digital.
- Advokasi Kebijakan: Menjadi penyambung lidah rakyat dalam menyuarakan keadilan jika ada kebijakan yang merugikan maslahat umat.
Mahasiswa sebagai penjaga persatuan atau sering disebut ukhuwah di Tengah Keberagaman. Indonesia adalah negeri yang majemuk. Mahasiswa Muslim harus menjadi pelopor dalam merajut ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Mahasiswa jangan sampai terjebak dalam fanatisme golongan yang sempit yang justru memecah belah kekuatan umat. Dengan wawasan yang luas, mahasiswa harus mampu menghadirkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin—Islam yang damai, santun, dan memberi solusi bagi semua pihak.
Mahasiswa berperan dalam dakwah kreatif di era digital. Dakwah tidak lagi terbatas di atas mimbar masjid. Mahasiswa yang akrab dengan teknologi memiliki peluang besar untuk berdakwah melalui konten kreatif. Tulisan, video pendek, maupun infografis yang edukatif tentang Islam dapat menjangkau jutaan anak muda lainnya. Ini adalah bentuk jihad intelektual di masa kini untuk melawan narasi negatif atau hoaks yang dapat merusak citra Islam.
Masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus oleh Allah SWT. Menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas untuk menanam benih kebaikan bagi umat. Mari jadikan bangku perkuliahan sebagai sarana untuk mempertajam kecerdasan, dan jadikan organisasi sebagai wadah untuk mengasah kepedulian.
Umat merindukan mahasiswa yang tidak hanya mengejar IPK tinggi, tetapi juga mereka yang ruku’ di tengah malam dan bekerja keras di siang hari demi kemaslahatan sesama. Mari melangkah, karena masa depan umat ini ada di tangan generapa penerus, seperti mahasiswa sekarang ini.






