Kementerian Agama Republik Indonesia baru saja merilis Indeks Keberagamaan Mahasiswa 2025 yang menunjukkan hasil “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa muslim di Indonesia pada tahun 2025 memiliki tingkat moderasi dan kesadaran beragama yang sangat kuat. Mahasiswa bukan sekadar status akademik bagi pemuda yang duduk di bangku kuliah. Dalam kacamata Islam, mahasiswa adalah kelompok elit intelektual yang memikul amanah besar sebagai Agent of Change (agen perubahan) dan Iron Stock (cadangan masa depan) bagi umat. Di Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, peran mahasiswa menjadi sangat krusial dalam menentukan arah peradaban bangsa ke depan.

Perlu diingat, mahasiswa sebagai Pewaris Nilai Keislaman. Tugas utama mahasiswa Muslim adalah menjadi jembatan antara wahyu dan realitas. Islam sangat memuliakan orang yang berilmu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11:

“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dengan nilai-nilai tauhid. Bukan sekadar cerdas dalam teknologi atau ekonomi, tetapi juga memiliki akhlak yang kokoh. Di era disrupsi informasi ini, mahasiswa berperan sebagai filter untuk menjaga umat agar tidak terombang-ambing oleh pemikiran yang menjauhkan diri dari syariat.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi. Membangun umat berarti membenahi kondisi sosial dan ekonominya. Mahasiswa memiliki akses terhadap riset dan inovasi yang bisa diaplikasikan di tengah masyarakat. Peran nyata ini bisa diwujudkan melalui:

  • Pendidikan Masyarakat: Mengajar di TPA atau mengadakan bimbingan belajar gratis bagi keluarga kurang mampu.
  • Pemberdayaan Ekonomi Syariah: Membantu UMKM milik masyarakat sekitar untuk berkembang melalui literasi keuangan syariah atau pemasaran digital.
  • Advokasi Kebijakan: Menjadi penyambung lidah rakyat dalam menyuarakan keadilan jika ada kebijakan yang merugikan maslahat umat.

Mahasiswa sebagai penjaga persatuan atau sering disebut ukhuwah di Tengah Keberagaman. Indonesia adalah negeri yang majemuk. Mahasiswa Muslim harus menjadi pelopor dalam merajut ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Mahasiswa jangan sampai terjebak dalam fanatisme golongan yang sempit yang justru memecah belah kekuatan umat. Dengan wawasan yang luas, mahasiswa harus mampu menghadirkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin—Islam yang damai, santun, dan memberi solusi bagi semua pihak.

Mahasiswa berperan dalam dakwah kreatif di era digital. Dakwah tidak lagi terbatas di atas mimbar masjid. Mahasiswa yang akrab dengan teknologi memiliki peluang besar untuk berdakwah melalui konten kreatif. Tulisan, video pendek, maupun infografis yang edukatif tentang Islam dapat menjangkau jutaan anak muda lainnya. Ini adalah bentuk jihad intelektual di masa kini untuk melawan narasi negatif atau hoaks yang dapat merusak citra Islam.

Masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus oleh Allah SWT. Menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas untuk menanam benih kebaikan bagi umat. Mari jadikan bangku perkuliahan sebagai sarana untuk mempertajam kecerdasan, dan jadikan organisasi sebagai wadah untuk mengasah kepedulian.

Umat merindukan mahasiswa yang tidak hanya mengejar IPK tinggi, tetapi juga mereka yang ruku’ di tengah malam dan bekerja keras di siang hari demi kemaslahatan sesama. Mari melangkah, karena masa depan umat ini ada di tangan generapa penerus, seperti mahasiswa sekarang ini.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai penerapan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana dakwah yang nyata. KKN bukan sekadar program akademik untuk memenuhi kewajiban kampus, melainkan momentum berharga bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa muslim, untuk menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat secara bijak, santun, dan penuh keteladanan.

Dakwah tidak selalu identik dengan ceramah di mimbar atau pengajian formal. Dakwah dapat dilakukan melalui perbuatan, sikap, dan kontribusi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat. Inilah yang disebut dakwah bil hal. Melalui KKN, mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk menerapkan dakwah bil hal dengan cara membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga pembinaan keagamaan.

Mahasiswa yang melaksanakan KKN sejatinya sedang belajar hidup bersama masyarakat dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Di sinilah nilai Islam seperti keikhlasan, kesabaran, amanah, dan kepedulian sosial diuji dan dipraktikkan. Ketika mahasiswa bersikap ramah, rendah hati, mau mendengar, dan bekerja bersama masyarakat tanpa merasa paling tahu, maka itulah dakwah yang mudah diterima dan menyentuh hati.

KKN juga menjadi sarana memperkenalkan dan menguatkan nilai-nilai keislaman di masyarakat, khususnya dalam lingkup pendidikan dan pembinaan generasi muda. Mahasiswa dapat mengadakan kegiatan mengaji, TPA, bimbingan belajar, kajian remaja, atau pendampingan anak-anak desa. Upaya sederhana seperti ini memiliki dampak besar dalam menanamkan kecintaan terhadap Islam dan ilmu sejak dini.

Selain itu, mahasiswa dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran sosial dan moral masyarakat. Program kebersihan lingkungan, kerja bakti, edukasi kesehatan, manajemen masjid, serta penguatan ekonomi berbasis kebersamaan juga merupakan bagian dari dakwah. Islam mengajarkan bahwa kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan adalah bagian dari iman. Dakwah melalui program-program tersebut akan terasa lebih relevan karena langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Namun, penting bagi mahasiswa untuk menjalankan dakwah KKN dengan pendekatan yang bijaksana. Perbedaan tradisi, kebiasaan, dan pemahaman keagamaan harus disikapi dengan sikap menghargai dan tidak menghakimi. Rasulullah SAW mengajarkan dakwah dengan hikmah dan kelembutan. Mahasiswa harus menjadi teladan yang baik, bukan pemaksa apalagi pembuat jarak dengan masyarakat.

Keberhasilan dakwah dalam KKN tidak diukur dari banyaknya program, tetapi dari sejauh mana kehadiran mahasiswa membawa perubahan positif dan meninggalkan kesan baik. Keteladanan akhlak, konsistensi ibadah, serta kepedulian sosial akan meninggalkan jejak nilai Islam yang mendalam, bahkan setelah masa KKN berakhir.

Membuat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis dakwah adalah peluang besar untuk mengabdikan ilmu sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam secara kontekstual. Dakwah di lokasi KKN tidak harus selalu berupa ceramah di mimbar; justru dakwah yang paling efektif adalah melalui perilaku (dakwah bil hal) dan pemberdayaan masyarakat.

Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk menyusun program KKN bertema dakwah:

Pertama, Tahap Observasi dan Pemetaan

Sebelum membuat program, Anda harus memahami kondisi religiusitas dan sosial di desa tersebut. Identifikasi Tokoh dengan mendekati takmir masjid, ketua pengajian, atau tokoh agama setempat. Mintalah masukan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan warga. Masalah Sosial adalah kurangnya guru mengaji, masjid yang sepi, atau banyaknya remaja yang kurang aktivitas positif?

Kedua, Menyusun Program Kerja Unggulan

Pecahlah program dakwah Anda ke dalam beberapa aspek agar lebih terstruktur:

Dakwah Pendidikan yakni dengan membantu mengajar mengaji dengan metode yang lebih menyenangkan (misal: menggunakan media visual atau games edukatif). Pelatihan Adzan & Khutbah dengan melatih anak-anak dan remaja agar berani tampil menjadi muadzin atau kultum singkat. Festival anak sholeh mengadakan perlombaan (lomba mewarnai kaligrafi, hafalan surat pendek, atau cerdas cermat agama) sebagai penutup program. Selain itu, dakwah pemberdayaan ekonomi sesuai dengan dalil sedekah yang kita bahas sebelumnya, Anda bisa membantu warga memahami manajemen keuangan syariah sederhana.  Sosialisasi Zakat Mal & Sedekah dengan memberikan edukasi tentang pentingnya berbagi meski dalam kondisi ekonomi terbatas. Pelatihan UMKM Halal yakni dengan membantu warga mengurus sertifikasi halal atau memperbaiki kemasan produk agar lebih berkah dan bernilai jual.

Ketiga, dakwah fisik dan lingkungan

Bakti Masjid dengan melakukan pembersihan masjid secara total, pengecatan ulang, atau memperbaiki sistem tata suara (sound system). Pojok Baca Islami dengan menyediakan rak buku kecil di pojok masjid berisi buku-buku agama yang ringan dan menarik.

Keempat, Pendekatan “Dakwah Bil Hal”

Ini adalah poin terpenting dalam KKN. Masyarakat tidak hanya melihat apa yang Anda katakan, tapi apa yang Anda lakukan. Menjadi Teladan shalat berjamaah tepat waktu di masjid desa adalah dakwah terkuat tanpa kata-kata. Ramah & Sopan menunjukkan akhlakul karimah kepada warga akan membuat mereka lebih terbuka menerima program-program Anda.

Kelima, Tips Agar Program Diterima Warga

Gunakan Bahasa Lokal, jika di Jawa, gunakan sedikit krama alus untuk menghormati orang tua. Ini adalah bentuk dakwah melalui adab. Jangan menggurui artinya posisikan diri sebagai mahasiswa yang sedang belajar dari kearifan lokal warga, bukan sebagai orang kota yang merasa paling tahu agama. Kolaborasi dengan libatkan Karang Taruna atau remaja masjid dalam setiap kegiatan agar program tersebut berlanjut meskipun KKN sudah usai.

KKN kesempatan untuk berdakwah, agar tim Anda semangat, ingatlah sabda Rasulullah SAW: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Kegiatan KKN Anda adalah sarana menyampaikan “ayat-ayat” Allah melalui pengabdian nyata kepada masyarakat.

Pernahkah kita merasa hidup begitu sesak? Urusan pekerjaan tak kunjung usai, masalah keluarga datang silih berganti, dan hati rasanya jarang sekali tenang. Jika itu yang Anda rasakan, cobalah berhenti sejenak dan periksa kembali “janji” Anda dengan Sang Pencipta. Bagaimana kondisi shalat kita? Apakah kita sering menundanya hingga akhir waktu? Atau justru kita sering melewatkan panggilan adzan demi mengejar dunia yang tak ada habisnya?

Shalat adalah tiang agama. Namun, shalat tepat waktu secara berjamaah (khususnya bagi laki-laki di masjid) adalah level kedisiplinan tingkat tinggi yang menunjukkan sejauh mana kita menghargai Allah di atas segala-galanya.

Pentingnya Shalat Tepat Waktu bagaikan Adab Menghadap Raja Segala Raja. Ketika seorang atasan atau klien penting memanggil, kita cenderung datang 15 menit lebih awal. Namun, saat Allah—Dzat yang menggenggam nyawa kita—memanggil melalui muadzin, mengapa kita seringkali “nanti dulu”?

Shalat tepat waktu adalah bentuk penghormatan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya. Dengan mendahulukan Allah, kita sebenarnya sedang mengatur ulang prioritas hidup kita. Saat kita memperbaiki waktu shalat, Allah akan memperbaiki sisa waktu dalam hidup kita.

Sholat berjamaah sebagai kekuatan dalam persatuan. Shalat berjamaah bukan sekadar mengejar pahala 27 derajat. Di sana ada pelajaran tentang kerendahan hati. Di dalam shaf shalat, tidak ada perbedaan antara direktur dan kuli bangunan, antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sejajar, rukuk dan sujud pada komando yang sama.

Berjamaah juga merupakan sarana penggugur dosa. Setiap langkah kaki menuju masjid adalah pengangkatan derajat dan penghapusan kesalahan. Inilah mengapa para sahabat nabi dahulu tetap berusaha ke masjid meski dalam kondisi sulit, karena mereka tahu bahwa keberkahan hidup dimulai dari rumah Allah.

Perlunya mahassiswa menyeimbangkan ibadah ritual dengan ibadah sosial. Keimanan seseorang tidak hanya diukur dari sujudnya di atas sajadah, tetapi juga dari kepeduliannya kepada sesama. Shalat yang benar seharusnya melahirkan jiwa yang dermawan. Seringkali, saat kita rajin shalat, Allah akan mengetuk hati kita untuk berbagi melalui sedekah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong adalah bagian dari ibadah yang bernilai pahala jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Di lingkungan kampus, bentuk pertolongan dapat berupa membantu teman yang kesulitan memahami materi kuliah, menggalang dana bagi mahasiswa yang mengalami musibah, memberikan dukungan moril bagi mereka yang sedang terpuruk, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.

Menolong sesama mahasiswa juga dapat memperkuat rasa persatuan dan mengikis sikap individualisme. Ketika mahasiswa saling peduli, tercipta lingkungan kampus yang harmonis dan penuh keberkahan. Ukhuwah yang terbangun akan melahirkan rasa aman, nyaman, dan saling percaya. Hal ini penting karena mahasiswa tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, nilai, dan karakter.

Lebih dari itu, menolong sesama dalam bingkai iman akan melatih kepekaan hati dan menumbuhkan akhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Mahasiswa yang terbiasa membantu akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, peduli, dan bertanggung jawab sosial. Inilah bekal penting untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas.

Namun, penting untuk diingat bahwa pertolongan harus dilakukan dengan niat yang lurus, bukan untuk mencari popularitas atau pujian. Keikhlasan adalah kunci agar amal yang dilakukan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Selain itu, menolong juga harus dilandasi sikap menghargai dan tidak merendahkan pihak yang ditolong.

Perlu dipahami, korelasi shalat dan sedekah  kunci keberkahan. Dalam Al-Qur’an, perintah “Dirikanlah shalat” hampir selalu diikuti dengan “Tunaikanlah zakat/sedekah”. Ini adalah sinyal bahwa kesalehan pribadi (shalat tepat waktu) harus berdampak pada kesalehan sosial (sedekah).

Orang yang rajin shalat berjamaah di masjid akan lebih peka terhadap kondisi tetangganya. Ia akan melihat siapa yang butuh bantuan, siapa yang tidak mampu, dan di situlah ia mempraktikkan dalil-dalil sedekah di atas. Shalat melatih disiplin dan kejujuran, sementara sedekah melatih kedermawanan dan rasa syukur.

Mungkin  saja hari ini urusanmu terasa sulit, barangkali itu adalah kode dari Allah agar kau kembali ke masjid. Jika rezekimu terasa seret, barangkali ada hak orang lain dalam hartamu yang belum tersalurkan. Mulailah langkah baru hari ini. Ketika adzan berkumandang, tinggalkan semua urusan. Langkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah tepat waktu. Setelah itu, carilah seseorang yang membutuhkan, lalu bersedekahlah meski hanya sedikit. Perpaduan antara shalat yang terjaga dan sedekah yang istiqomah adalah resep paling ampuh untuk mengundang kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu rindu pada seruan adzan dan ringan tangan dalam berbagi kepada sesama.

Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam perjalanan sejarah umat Islam. Sejak dulu hingga hari ini, peradaban Islam tidak pernah lepas dari peran generasi muda yang berilmu, beriman, dan beramal. Mahasiswa bukan hanya sekadar penuntut ilmu di bangku perguruan tinggi, tetapi juga calon pemimpin dan penentu arah umat di masa depan. Oleh karena itu, mahasiswa harus menyadari jati dirinya sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun umat Islam.

Islam sangat memuliakan ilmu dan orang-orang yang mencarinya. Mahasiswa yang menuntut ilmu sejatinya sedang menempuh jalan jihad fi sabilillah, jika dilandasi niat yang ikhlas karena Allah SWT. Ilmu yang diperoleh tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi harus diarahkan untuk kemaslahatan umat. Mahasiswa muslim perlu menjadikan keilmuan sebagai sarana dakwah dan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun teknologi.

Membangun umat Islam tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi harus ditopang oleh kekuatan iman dan akhlak. Kampus adalah tempat yang penuh dengan ragam pemikiran dan tantangan moral. Di sinilah mahasiswa diuji untuk tetap menjaga identitas keislamannya. Mahasiswa muslim harus menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, etika, dan tanggung jawab. Akhlak mulia yang ditampilkan akan menjadi dakwah yang hidup dan lebih kuat daripada sekadar kata-kata.

Selain itu, mahasiswa juga memiliki peran penting dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah. Perbedaan latar belakang, organisasi, dan pendapat tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan umat. Mahasiswa perlu belajar berdialog dengan bijak, saling menghormati, dan bekerja sama dalam kebaikan. Dengan ukhuwah yang kokoh, umat Islam akan lebih kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.

Peran mahasiswa dalam membangun umat juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. Banyak persoalan umat yang membutuhkan sentuhan langsung, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan dekadensi moral. Mahasiswa dapat menjadi motor penggerak dalam kegiatan sosial, pendidikan masyarakat, dakwah kampus, dan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan aktif ini akan melatih kepekaan sosial sekaligus memperkuat karakter kepemimpinan.

Di era globalisasi dan digitalisasi, tantangan umat Islam semakin kompleks. Arus informasi yang cepat dan nilai-nilai asing yang masuk tanpa filter menuntut mahasiswa untuk cerdas, kritis, dan bijaksana. Mahasiswa muslim harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah dan pencerahan, bukan justru terjebak pada hal-hal yang melalaikan dan merusak nilai Islam. Membangun generasi Islami yang tangguh bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan amanah ideologis yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Generasi yang kuat secara iman, ilmu, dan amal adalah fondasi keberlanjutan dakwah di masa depan. Tanggung jawab untuk membangun generasi tangguh, sekaligus larangan meninggalkan generasi yang lemah. Al-Qur’an memberikan peringatan keras agar orang tua dan pendidik tidak meninggalkan generasi penerus dalam keadaan lemah, baik secara ekonomi, mental, maupun spiritual.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa mempersiapkan kemandirian dan kekuatan akidah generasi muda adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah. Bentuk tanggung jawab melindungi keluarga, generasi islami dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pemimpin keluarga bertanggung jawab memastikan anak-anak mereka memiliki tameng iman yang kuat.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)Para ulama menafsirkan ayat ini dengan kewajiban memberikan pendidikan (adab) dan ilmu agama kepada anak cucu agar mereka tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Setiap Anak Lahir dalam Keadaan Fitrah. Pendidikan dari lingkungan (orang tua dan guru) sangat menentukan apakah potensi ketuhanan seorang anak akan berkembang atau justru melenceng.

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa krusialnya peran pendampingan dalam membentuk karakter Islami sejak dini, karena anak adalah “kertas putih” yang siap menerima warna dari pendidiknya. Investasi Pahala yang Tidak Terputus. Mendidik generasi Islami adalah proyek jangka panjang yang keuntungannya terbawa hingga ke liang lahad. Seorang anak yang shalih adalah aset abadi bagi orang tuanya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Karakteristik Generasi Islami Ideal. Untuk memudahkan pemahaman, generasi Islami yang diharapkan sering kali merujuk pada profil yang seimbang antara hubungan dengan Tuhan dan kemampuan mengelola dunia.

  • Salimul Aqidah yakni memiliki akidah yang bersih dan kokoh.
  • Shahihul Ibadah yakni melakukan ibadah dengan benar sesuai sunnah.
  • Matinul Khuluq yakni memiliki akhlak yang mulia dan terpuji.
  • Qowiyyul Jismi yakni memiliki fisik yang kuat dan sehat.
  • Mutsaqqafun Fikri yakni memiliki wawasan intelektual yang luas.

Perlu ditekankan bahwa mahasiswa adalah generasi harapan umat Islam. Dengan ilmu yang diamalkan, iman yang kokoh, akhlak yang mulia, serta kepedulian terhadap sesama, mahasiswa dapat menjadi pilar kuat dalam membangun umat Islam yang berkemajuan. Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari mahasiswa yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga berkontribusi besar bagi kebangkitan umat dan memperoleh keberkahan di akhirat. Aamiin.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Namun, potensi ini tidak akan terwujud tanpa peran aktif motor penggerak peradaban, yaitu mahasiswa. Sebagai kelompok yang memiliki kedalaman intelektual dan semangat muda, mahasiswa memegang mandat besar untuk mentransformasi sistem ekonomi konvensional menuju sistem yang berlandaskan pada prinsip keadilan Islam. Saat ini berbagai negara Islam berupaya menguatkan perannya di kancah dunia. Antara lain berusaha mendominasi ekonomi di masa depan  memanfaatkan teknologi. Untuk itu Indonesia harus mempercepat adopsi teknologi finansial (fintech) syariah untuk menjangkau populasi unbanked (masyarakat yang belum terjangkau perbankan). Setidaknya segera melakukan Inovasi Perbankan Digital dengan mengembangkan layanan bank syariah yang sekompetitif bank konvensional dari sisi fitur dan kemudahan akses. Selain itu juga memperhatikan smart contracts menggunakan teknologi blockchain untuk memastikan transparansi dalam akad-akad syariah, seperti dalam pengelolaan wakaf atau investasi sukuk.

Dalam hal ini mahasiswa sebagai edukator dan literator ekonomi syariah, masalah utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia bukanlah kurangnya modal, melainkan rendahnya tingkat literasi. Masih banyak masyarakat yang menganggap perbankan syariah hanya sekadar ganti nama dari sistem konvensional. Di sinilah peran mahasiswa untuk terjun ke lapangan sebagai edukator. Mahasiswa harus mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana mengenai bahaya riba dan keunggulan sistem bagi hasil (sharing economy). Melalui diskusi di kampus, konten di media sosial, hingga pengabdian masyarakat, mahasiswa dapat meluruskan kesalahpahaman umat dan membangun kepercayaan terhadap institusi keuangan syariah.

Inkubator Inovasi dan Teknologi Finansial (Fintech) Syariah. Dunia saat ini sedang berada dalam arus digitalisasi. Mahasiswa, sebagai digital native, memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan teknologi dengan prinsip syariah. Peran ini bisa diwujudkan dengan menciptakan solusi Fintech yang memudahkan umat dalam berzakat, berwakaf, atau melakukan investasi syariah yang transparan.

Inovasi tidak hanya terbatas pada aplikasi, tetapi juga pada model bisnis. Mahasiswa dapat mempelopori lahirnya startup halal yang menerapkan prinsip halalan thoyyiban mulai dari rantai pasok hingga distribusi. Dengan demikian, ekonomi syariah tidak lagi dipandang sebagai teori di buku teks, melainkan solusi praktis bagi kebutuhan sehari-hari.

Mahasiswa dapat memperkuat sektor riil melalui kewirausahaan muda. Ekonomi syariah tidak akan kuat jika hanya menyentuh sektor keuangan. Kekuatan utamanya terletak pada sektor riil. Mahasiswa Muslim ditantang untuk tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) yang berbasis syariah.

Dengan menjadi wirausaha muda yang jujur, amanah, dan profesional, mahasiswa sedang mempraktikkan dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan). Keberhasilan bisnis yang dikelola mahasiswa secara syariah akan menjadi bukti nyata bagi masyarakat bahwa sistem Islam mendatangkan keberkahan dan kemakmuran bersama.

Mahasiswa berperan dalam riset dan advokasi kebijakan. Secara intelektual, mahasiswa berperan dalam melakukan riset mendalam mengenai tantangan ekonomi syariah di tingkat lokal maupun global. Hasil riset ini dapat dijadikan bahan advokasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengeluarkan kebijakan yang pro-ekonomi syariah.

Mahasiswa harus kritis terhadap ketimpangan ekonomi yang terjadi. Islam sangat melarang perputaran harta hanya di kalangan orang kaya saja (QS. Al-Hashr: 7). Oleh karena itu, mahasiswa harus memperjuangkan sistem ekonomi yang inklusif, di mana instrumen seperti zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) menjadi pilar utama dalam pengentasan kemiskinan.

Mahasiswa mampu menyiapkan SDM Syariah yang Kompeten dan Berintegritas. Permintaan akan tenaga kerja di industri halal kian meningkat, namun seringkali terdapat celah (gap) antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan sertifikasi dan keahlian khusus di bidang ekonomi syariah.

Lebih dari sekadar keahlian teknis, mahasiswa harus menjaga integritas moral. Ekonomi syariah akan runtuh jika dijalankan oleh orang-orang yang tidak memiliki khauf (takut) kepada Allah. Mahasiswa adalah harapan agar di masa depan, posisi-posisi strategis di lembaga keuangan syariah diisi oleh individu yang profesional sekaligus bertakwa.

Perjuangan membangun ekonomi syariah adalah perjuangan jangka panjang untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi umat. Mahasiswa tidak boleh berpangku tangan melihat ketimpangan ekonomi yang terjadi di depan mata.

Di dalam sejarah peradaban Islam, tinta para ulama seringkali disejajarkan dengan darah para syuhada. Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan pengakuan betapa krusialnya tulisan dalam menjaga eksistensi agama ini. Hari ini, di tengah gempuran informasi digital yang serba instan, tantangan literasi umat semakin besar. Di sinilah mahasiswa Muslim harus hadir bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai pelopor edukasi pentingnya menulis buku Islam.

Menulis dakwah mendukung upaya menjaga warisan intelektual muslim. Salah satu alasan mengapa Islam bisa sampai kepada kita hari ini adalah karena tradisi membukukan ilmu. Jika para pendahulu kita seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Hamka tidak menulis, mungkin kekayaan khazanah pemikiran Islam sudah hilang ditelan zaman. Mahasiswa, dengan kapasitas intelektual dan akses terhadap referensi yang luas, memegang tongkat estafet ini. Mahasiswa perlu menyadarkan rekan sebaya dan masyarakat bahwa menulis buku bukan hanya tugas dosen atau kyai, melainkan bentuk penjagaan terhadap warisan pemikiran yang akan menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina adalah dua raksasa intelektual dalam sejarah Islam yang melakukan jihad intelektual dengan cara yang berbeda namun saling melengkapi. Jika Ibnu Sina berjihad dengan membangun fondasi rasionalitas dan sains, Al-Ghazali berjihad dengan melakukan pemurnian spiritual dan harmonisasi antara akal dan wahyu.

Jihad intelektual yang dapat dilakukan mahasiswa juga dalam rangka melawan narasi negatif dan distorsi informasi. Dunia literasi saat ini sering kali dibanjiri oleh pemikiran yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam, mulai dari materialisme hingga pemahaman radikal yang tidak tepat. Jika mahasiswa yang berilmu hanya diam dan enggan menulis, maka kekosongan ruang literasi akan diisi oleh pihak lain.

Kondisi kampus dengan dinamikanya, bisa menjadi bahan tulisan, misal mengonversi diskusi menjadi naskah. Mahasiswa sering melakukan diskusi ilmiah; edukasi harus diarahkan agar hasil diskusi tersebut tidak hilang begitu saja, melainkan dibukukan. Selain itu mahasiswa berpeluang mempopulerkan sains islami dengan menjelaskan fenomena ilmiah melalui perspektif tauhid dalam bentuk buku yang ringan dan populer bagi kaum milenial. Mahasiswa juga dapat sebagai mediator dengan meluruskan kesalahpahaman melalui buku, mahasiswa bisa menjawab isu-isu kontemporer tentang Islam dengan argumen yang sistematis dan akademis.

Kondisi sosial mahasiswa di kampus, merupakan kesempatan untuk membangun budaya literasi di lingkungan kampus. Edukasi tidak selalu berarti ceramah. Mahasiswa dapat berperan melalui tindakan nyata untuk menciptakan ekosistem menulis. Hal ini bisa dimulai dengan membentuk komunitas penulis buku, mengadakan pelatihan penulisan kreatif bernuansa Islam, hingga memberikan pendampingan proses penerbitan.

Penting bagi mahasiswa untuk mengedukasi bahwa menulis buku Islam tidak harus selalu tentang fikih yang berat. Buku bisa berupa antologi esai tentang pengalaman spiritual, panduan praktis ekonomi syariah untuk anak muda, atau novel yang menyisipkan nilai-nilai akhlak. Dengan variasi tema, minat baca dan tulis umat akan tumbuh secara organik.

Peran mahasiswa menulis dakwah sebagai amal jariyah. Mahasiswa harus mampu memberikan perspektif ukhrawi dalam edukasi menulis. Menulis buku adalah investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu amal yang tidak terputus pahalanya setelah seseorang wafat adalah ilmu yang bermanfaat (HR. Muslim).

Sebuah buku yang ditulis saat mahasiswa mungkin akan dibaca sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Selama ilmu di dalamnya diamalkan, maka aliran pahala akan terus mengalir kepada penulisnya. Inilah motivasi spiritual tertinggi yang harus ditanamkan kepada setiap pemuda Muslim.

Menulis merupakan upaya menembus batas zaman dan ruang, kelebihan buku dibandingkan dakwah lisan adalah jangkauannya. Suara seorang orator mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir di ruangan, tetapi sebuah buku bisa menyeberangi lautan dan melampaui batas waktu. Mahasiswa sebagai warga digital memiliki kemudahan untuk menerbitkan buku, baik secara fisik maupun e-book, yang bisa diakses secara global.

Mahasiswa adalah wajah masa depan umat. Jika hari ini mahasiswa Muslim malas menulis, maka masa depan peradaban Islam di Indonesia akan kekurangan rujukan yang berkualitas. Edukasi tentang pentingnya menulis buku Islam harus digaungkan sekarang juga.

Jangan menunggu menjadi ahli untuk mulai menulis, tapi menulislah untuk menjadi ahli. Jadikan pena Anda sebagai pedang untuk membela kebenaran dan sebagai lentera untuk menerangi kegelapan pemikiran. Setiap kata yang Anda goreskan adalah batu bata bagi bangunan peradaban umat.

Ditulis oleh mahasiswa
MUHAMMAD FADHLI ABDILLAH, NIM  22422063

Menjadi mahasiswa dalam kampus UII yang notabene mendukung program dakwah, harus memahami bahwa seusia mahasiwa yang memiliki waktu lebih banyak, maka bisa dioptimalkan untuk mendukung ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan mandat besar bagi setiap Muslim, khususnya para mahasiswa, untuk memanfaatkan segala sarana yang ada demi menyebarkan kebaikan. Di era zettabyte saat ini, sarana paling efektif dan masif yang ada di genggaman kita adalah media sosial. Bagi mahasiswa, media sosial bukan sekadar tempat pamer gaya hidup, melainkan “mimbar digital” yang mampu menembus batas ruang dan waktu.

Transformasi Dakwah di Tangan Mahasiswa

Dahulu, dakwah hanya identik dengan khutbah di atas mimbar masjid atau pengajian di majelis taklim. Namun saat ini, wajah dakwah telah bertransformasi. Sebuah desain grafis yang estetik, video pendek (Reels/TikTok) yang menyentuh, atau tulisan reflektif di caption Instagram bisa menjadi wasilah hidayah bagi ribuan orang.

Mahasiswa memiliki keunggulan intelektual dan kreativitas untuk mengemas konten dakwah menjadi lebih relevan. Jika konten maksiat diproduksi secara profesional, maka konten kebenaran tidak boleh dibuat ala kadarnya. Mahasiswa harus berperan sebagai kreator konten yang mengisi ruang hampa di hati para pengguna internet dengan nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah.

Membendung Arus Negatif

Media sosial laksana pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi ladang pahala, di sisi lain ia bisa menjadi sumber fitnah dan dosa jariyah. Fenomena cyber-bullying, penyebaran hoaks, hingga konten yang merusak moral remaja muslim menjadi tantangan nyata. Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan.

Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang sekadar “scroll” tanpa arah. Mahasiswa harus menjadi produsen konten positif. Ketika seorang mahasiswa mengunggah kutipan ayat, potongan hadis, atau opini Islami mengenai isu terkini, ia sedang melakukan perlawanan terhadap arus negatif. Ia sedang membangun benteng pertahanan bagi iman adik-adik tingkatnya dan para remaja yang setiap hari terpapar polusi digital.

Kekuatan Jangkauan yang Tak Terbatas

Satu hal yang luar biasa dari media sosial adalah jangkauannya. Sebuah tulisan bermanfaat yang dibuat oleh seorang mahasiswa di kamarnya bisa dibaca oleh orang di belahan bumi lain. Inilah yang disebut dengan efisiensi dakwah. Kita tidak perlu berkeliling dunia untuk berdakwah; cukup dengan satu klik, pesan kebaikan itu bisa menyebar (viral).

Bagi mahasiswa yang mungkin merasa ilmunya belum setinggi ulama, media sosial adalah sarana belajar sekaligus berbagi. Dengan mengutip penjelasan para ulama terpercaya dan mengemasnya dalam bahasa anak muda, mahasiswa telah membantu menyederhanakan pesan-pesan agama agar lebih mudah diterima oleh generasinya.

Media sosial adalah amanah. Kelak, setiap unggahan, komentar, dan like kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menjadikan akun media sosial sebagai portofolio dakwah adalah keputusan paling cerdas yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa. Jangan biarkan jempolmu diam ketika kemungkaran berseliweran di beranda. Mulailah menulis, mulailah mendesain, dan mulailah berbicara tentang kebenaran melalui layar ponselmu.

Ditulis oleh mahasiswa
Endah Fuzi Yatnih, NIM 22421098

Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi kota, ribuan desa di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Indonesia masih terisolasi dalam kegelapan informasi tahun 2025. Tanpa akses internet dan listrik yang stabil, masyarakat desa seringkali tertinggal dalam pemahaman agama yang moderat dan kontekstual. Kesenjangan ini menciptakan ruang bagi masuknya pemahaman yang keliru atau pengabaian nilai-nilai spiritual akibat fokus hanya pada bertahan hidup.

Mahasiswa harus hadir sebagai penyambung lidah kebenaran. Di sana, dakwah online tidak berlaku, yang dibutuhkan adalah ketulusan raga untuk datang, menetap, dan mengajarkan alif-ba-ta. Menolong mereka dari ketertinggalan informasi bukan sekadar bakti sosial, melainkan upaya menyelamatkan akidah generasi bangsa di pelosok negeri.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 122:

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Ayat ini merupakan seruan bagi kaum intelektual untuk tidak hanya menumpuk ilmu di menara gading universitas, tetapi juga turun ke masyarakat (kaumnya) untuk memberikan pencerahan. Bagi mahasiswa Muslim, pedesaan adalah medan pengabdian yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah dan edukasi.

Memecah Kesenjangan Literasi Agama

Di kota-kota besar, akses terhadap kajian keislaman sangat melimpah, mulai dari masjid-masjid besar hingga kajian media sosial yang mudah diakses. Namun, kondisi di pedesaan seringkali berbeda. Keterbatasan akses informasi, kurangnya tenaga pendidik agama, serta kuatnya pengaruh tradisi yang terkadang bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat, membuat dakwah di pedesaan menjadi sangat krusial.

Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi mitra dialog. Dengan bekal metode berpikir sistematis yang dipelajari di kampus, mahasiswa dapat membantu menjelaskan ajaran Islam secara logis dan relevan bagi kehidupan warga desa. Dakwah ke desa adalah upaya memastikan bahwa cahaya hidayah merata hingga ke pelosok negeri, bukan hanya berputar di pusat kota.

Mengintegrasikan Dakwah dan Pemberdayaan

Satu hal yang menjadi keunggulan mahasiswa saat berdakwah ke pedesaan adalah kemampuan integrasi ilmu. Dakwah mahasiswa tidak harus selalu berbentuk ceramah di atas podium. Dakwah bisa dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, edukasi kesehatan sesuai sunnah, hingga bimbingan belajar bagi anak-anak desa.

Ketika mahasiswa membantu petani meningkatkan hasil panennya dengan cara-cara yang jujur, atau mengajarkan pemuda desa cara berwirausaha tanpa riba, mereka sedang menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Remaja di pedesaan membutuhkan figur teladan—kakak tingkat yang taat beragama namun juga cerdas secara akademik. Kehadiran mahasiswa di desa memberikan harapan dan motivasi bagi anak-anak desa untuk bermimpi lebih tinggi tanpa meninggalkan akar agama mereka.

Melatih Keikhlasan dan Kepekaan Sosial

Bagi mahasiswa itu sendiri, terjun ke pedesaan adalah sekolah kehidupan. Di sana, ego intelektual diuji. Mahasiswa belajar bagaimana cara menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang sederhana dan santun agar dapat diterima oleh orang tua dan masyarakat setempat. Pengalaman ini akan menumbuhkan rasa empati dan syukur yang mendalam.

Dakwah di desa mengajarkan bahwa ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa yang peduli pada pedesaan adalah mereka yang menyadari bahwa gelar sarjananya kelak adalah titipan Allah untuk menolong hamba-hamba-Nya yang membutuhkan.

Turun ke desa bukan sekadar menjalankan program KKN atau formalitas perkuliahan. Ini adalah misi nubuwah untuk menjaga iman umat di akar rumput. Mari jadikan masa muda kita sebagai masa di mana jejak kaki kita pernah singgah di jalan-jalan tanah pedesaan, membawa lentera ilmu, dan meninggalkan kenangan indah berupa perubahan akhlak yang nyata.

Ditulis oleh mahasiswa
Muhammad Sirrul Asror 22421075

Dunia digital hari ini bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan medan tempur pemikiran. Sebagai mahasiswa UII mengajak para mahasiswa di manapun berada, saatnya mahasiswa berada di garda depan intelektualitas. Namun, seringkali muncul keraguan: “Bolehkah saya menulis dakwah padahal ilmu saya masih sedikit?” Jawabannya bukan hanya boleh, melainkan sangat dianjurkan selama yang disampaikan adalah kebenaran yang valid. Menulis dakwah secara online adalah cara terbaik bagi mahasiswa untuk mengikat ilmu sekaligus membentengi ruang digital dari konten negatif.

Menjalankan Amanah Ilmu yang Sedikit

Banyak mahasiswa terjebak dalam rasa tidak percaya diri karena merasa bukan lulusan pesantren. Padahal, dakwah tidak harus menunggu menjadi ulama besar. Rasulullah SAW memberikan mandat kepada setiap Muslim untuk menyampaikan apa pun yang diketahuinya, meski hanya satu hal kecil yang benar. Dengan menuliskan satu hadis pendek tentang adab atau satu kutipan ayat tentang sabar di media sosial, kita telah menjalankan tugas sebagai penyambung risalah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’.” (HR. Bukhari, No. 3461)

 Hadis ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu bukan penghalang untuk berbagi kebaikan. Setidaknyada beberapa makna pokok.

Pertama, Makna “Ballighu” yakni sampaikanlah. Para ulama menyebutkan bahwa kata perintah (amr) di sini menunjukkan kewajiban bagi setiap orang yang mendengar atau mengetahui sebuah ilmu agama untuk menyampaikannya kepada mereka yang belum tahu. Ini menunjukkan bahwa dakwah adalah tugas kolektif seluruh umat, bukan hanya tugas para kiai, ustaz, atau ulama besar saja.

Kedua, Makna ‘Anni”  artinya Dariku. Kata “dariku” adalah syarat mutlak. Ilmu yang disampaikan harus valid bersumber dari Rasulullah SAW. Bagi  mahasiswa atau pemula, ini berarti kita tidak boleh mengarang-ngarang hukum atau menafsirkan ayat semau sendiri. Kita harus menyampaikan apa yang sudah pasti benarnya (seperti kutipan ayat Al-Qur’an, hadis sahih yang sudah dijelaskan ulama, atau nasihat adab yang umum).

Ketiga, makna Walau Satu Ayat. Bagian ini adalah intisari yang paling menguatkan bagi orang yang baru belajar agama. Minimalisme Dakwah, tidak perlu menunggu hafal 30 juz atau ribuan hadis untuk mulai berbagi. Jika kita tahu satu ayat tentang larangan sombong, dan kita yakin akan kebenaran maknanya, kita sudah terkena mandat untuk menyampaikannya. Meringankan beban, Allah tidak membebani kita untuk menyampaikan hal yang tidak kita ketahui. Cukup sampaikan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Meski hadis ini memberikan kelonggaran “hanya satu ayat”, para ulama tetap mengingatkan untuk berhati-hati. Jangan sampai atas nama “satu ayat”, kita menyebarkan hadis palsu atau pemahaman yang keliru. Rumusnya, sampaikan apa yang kamu ketahui dengan pasti (yakin sumbernya), dan diamlah terhadap apa yang tidak kamu ketahui.

 Jejak Digital sebagai Amal Jariyah

Mahasiswa sangat akrab dengan teknologi. Setiap status, artikel, atau caption yang kita unggah akan meninggalkan jejak permanen. Bayangkan jika tulisan sederhana kita tentang pentingnya shalat tepat waktu dibaca oleh seorang remaja yang sedang futur (lemah iman), lalu ia tergerak untuk bertaubat. Itulah investasi pahala yang akan terus mengalir bahkan setelah kita wafat. Menulis online adalah cara kita memanen pahala tanpa batas ruang dan waktu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin: 12: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…” Tulisan di internet adalah “bekas” atau jejak yang akan dihisab dan menjadi saksi kebaikan.

Dakwah sebagai Proses Belajar

Menulis dakwah sebenarnya adalah cara belajar yang paling efektif. Saat seorang mahasiswa memutuskan untuk menulis tentang bahaya riba atau kemuliaan orang tua, ia pasti akan melakukan riset, membaca tafsir, dan mengecek keaslian hadis. Secara tidak langsung, ia sedang mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain. Menulis memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri dan konsisten antara kata dan perbuatan.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ash-Shaff: 2-3: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini menjadi pengingat agar tulisan kita menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk terus memperbaiki diri.

Menjadi Penyeimbang di Tengah Banjir Fitnah

Remaja muslim saat ini sangat terpapar konten yang menjauhkan mereka dari agama. Jika mahasiswa yang memiliki akses terhadap ilmu dan teknologi memilih diam, maka ruang digital akan dikuasai oleh kebatilan. Menulis dakwah online adalah bentuk jihad intelektual untuk memastikan bahwa konten positif tetap memiliki porsi di beranda media sosial remaja. Kita harus menjadi bagian dari golongan yang menyeru kepada kebajikan.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ditulis mahasiswa
Syamimi Assahira, NIM 24421021

Masa beraktivitas selama menjadi mahasiswa UII seringkali disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Di fase ini, seseorang berada pada puncak kematangan intelektual, energi fisik yang meluap, dan idealisme yang tinggi. Namun, kemuliaan status mahasiswaUII  bukan terletak pada gelar yang akan disandang, melainkan pada sejauh mana manfaat yang ia tebar bagi umat. Salah satu ladang amal yang paling krusial saat ini adalah kepedulian terhadap dakwah bagi para remaja.

Mengapa mahasiswa harus peduli pada dakwah remaja? Jawabannya sederhana: Remaja adalah fase transisi yang paling rentan sekaligus menentukan. Di era digital yang penuh dengan disrupsi moral, remaja muslim hari ini dihadapkan pada tantangan berat—mulai dari krisis identitas, paparan konten negatif, hingga pergaulan bebas. Mahasiswa hadir sebagai “kakak” yang mampu menjembatani jarak antara generasi tua (para ulama/orang tua) dengan generasi muda.

Mahasiswa memiliki bahasa yang sama dengan remaja. Dengan pendekatan yang lebih segar, santai, namun berbobot, mahasiswa bisa masuk ke dunia remaja untuk menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Jika mahasiswa abai, maka ruang-ruang kosong di hati para remaja akan diisi oleh pengaruh lingkungan yang menjauhkan mereka dari agama. Menyelamatkan satu remaja hari ini berarti menyelamatkan satu pemimpin di masa depan. Sebagai landasan pergerakan, berikut adalah tiga dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya dakwah dan pembinaan generasi:

1. Kewajiban Menjadi Umat Terbaik (Mengajak Kebaikan)
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Ayat ini menegaskan bahwa predikat “umat terbaik” tidak diberikan cuma-cuma, melainkan harus diraih melalui aktivitas dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar). Relevansi dengan mahasiswa dan dakwah dalam konteks mahasiswa yang peduli pada dakwah remaja (seperti tulisan Anda sebelumnya):

Agen Khaira Ummah: Mahasiswa adalah bagian dari umat ini yang memiliki kapasitas intelektual untuk menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di lingkungan kampus dan remaja.

Solusi Sosial: Dakwah kepada remaja adalah bentuk nyata dari “mencegah kemungkaran” (seperti pergaulan bebas atau narkoba) dan “mengajak pada kebaikan” (hijrah dan menuntut ilmu).

Bermanfaat bagi Sesama: Sesuai tafsir bahwa yang terbaik adalah yang paling bermanfaat, mahasiswa yang berdakwah berarti sedang merealisasikan hakikat ayat ini secara nyata.

2. Seruan Dakwah dengan Hikmah
Dalam menjalankan dakwah ke remaja, mahasiswa harus menggunakan cara yang tepat sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”

Remaja tidak butuh dihakimi, mereka butuh didengar dan diarahkan dengan penuh hikmah serta kasih sayang. Ayat ini sangat krusial bagi mahasiswa karena:

Menghindari kekakuan yakni Remaja seringkali menjauhi agama jika disampaikan dengan cara yang keras atau menakut-nakuti. Mau’izhah Hasanah adalah kunci. Membangun Intelektualitas yakni Mahasiswa diajarkan untuk memiliki Hikmah (kapasitas ilmu), sehingga saat ditanya hal-hal kritis oleh remaja (misalnya tentang sains dan Islam), mahasiswa bisa menjawab secara cerdas. Adab Komunikasi yakni Menekankan bahwa dakwah adalah soal caranya, bukan hanya isinya. Konten yang benar jika disampaikan dengan cara yang salah (kasar), akan ditolak oleh manusia.

3. Tanggung Jawab Menjaga Generasi Allah mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita, sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 9:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”

Lemah yang dimaksud bukan sekadar fisik atau ekonomi, melainkan lemah iman dan karakter. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mahasiswa. Jika mahasiswa (sebagai kaum intelektual muda) bersikap apatis dan tidak peduli pada pembinaan remaja, maka mereka secara tidak langsung membiarkan lahirnya generasi yang “lemah”. Ayat ini mengajak kita untuk memiliki sense of crisis—rasa khawatir yang positif—yang kemudian diwujudkan dengan aksi nyata untuk membekali remaja dengan ilmu dan iman agar mereka menjadi generasi yang kuat di masa depan.

Kepedulian mahasiswa terhadap dakwah remaja bukanlah sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change), dan perubahan paling fundamental dimulai dari pembinaan akidah generasi muda. Ketika mahasiswa turun tangan merangkul remaja, mereka sedang membangun benteng pertahanan umat yang kokoh. Mari jadikan organisasi kampus, media sosial, dan diskusi santai di kantin sebagai sarana untuk menyebarkan cahaya Islam, dimulai dari sejak menjadi mahasiswa, terutama mahasiswa UII.

Penulis mahasiswa:
Adzkia Hulwia Hasanah, NIM 22422033