Sedekah Saat Kantong Sempit Ikhtiar Mengetuk Pintu Langit

,

Banyak orang  terjebak pada pola pikir bahwa sedekah adalah kebiasaan dari orang kaya. Dampaknya jadi menunggu saldo rekening memiliki digit berlebih baru terpikir untuk berbagi. Padahal, esensi sedekah bukan tentang seberapa besar nominal yang keluar dari dompet, melainkan seberapa besar ketulusan yang lahir dari hati, terutama saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ada nilai istikamah yang harus dipertahankan.

Bersedekah di waktu luang dan lapang itu biasa. Bersedekah saat berkelimpahan rezeki itu biasa. Namun, bersedekah di saat uang mepet adalah sebuah keajaiban iman yang perlu dibiasakan. Di titik itulah cinta kita kepada Sang Pencipta diuji: apakah kita lebih percaya pada angka di buku tabungan, atau pada janji Allah Yang Maha Kaya?

Sedekah sebagai Bukti Kejujuran Iman. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah adalah burhan atau bukti. “Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim). Ketika Anda menyisihkan Rp5.000 atau Rp10.000 padahal itu adalah ongkos terakhir untuk pulang, Anda sedang membuktikan kepada Allah bahwa Anda tidak diperbudak oleh materi. Anda sedang menyatakan bahwa “Ya Allah, aku tahu rezekiku ada di tangan-Mu, bukan pada lembaran kertas ini.”

Inilah yang membuat sedekah di kala sempit memiliki nilai tinggi di mata Allah.  Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab: “Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkan harta (karena merasa butuh), takut miskin, dan mengharap kaya…” (HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Kualitas Lebih Utama daripada Kuantitas. Mungkin kita merasa malu jika hanya menyumbang sedikit. Namun, tahukah Anda bahwa sedekah yang kecil namun dilakukan dalam keadaan kekurangan bisa jadi lebih mulia daripada sedekah besar orang kaya?

Rasulullah SAW pernah ditanya, “Sedekah apa yang paling afdal?” Beliau menjawab:

“Sedekah orang yang sedikit hartanya (berjuang untuk bersedekah), dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Abu Dawud)

Bayangkan seseorang yang memiliki Rp1.000.000 lalu menyumbang Rp100.000. Itu hanya 10% dari hartanya. Namun, jika Anda hanya punya Rp20.000 dan memberikan Rp10.000 kepada orang yang lebih membutuhkan, Anda telah memberikan 50% dari total harta Anda. Di sinilah letak keadilan Allah; Dia melihat persentase pengorbanan, bukan sekadar jumlah angka.

Memancing Rezeki dengan “Investasi” Langit. Secara logika matematika manusia, sedekah itu mengurangi. $10 – 1 = 9$. Namun, matematika Allah berbeda. Allah menjanjikan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)

Logikanya sederhana: Jika kita membantu urusan hamba Allah yang lain, maka Allah sendiri yang akan turun tangan mengurus urusan kita. Saat uang mepet, kita sebenarnya sedang berada dalam kondisi “darurat” yang membutuhkan pertolongan Allah. Maka, cara tercepat menarik pertolongan-Nya adalah dengan menolong orang lain terlebih dahulu. Sedekah di saat sulit adalah “pancingan” agar keberkahan turun ke dalam sisa harta yang kita miliki.

Perlindungan dari Api Neraka. Sedekah juga berfungsi sebagai perisai. Jangan pernah meremehkan sekecil apa pun pemberian Anda. Bahkan jika itu hanya separuh dari sebutir kurma.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan separuh biji kurma.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jika separuh kurma saja bisa menjadi penghalang dari api neraka, maka selembar uang kecil yang Anda masukkan ke kotak amal dengan hati yang tulus saat lapar melanda, tentu memiliki kekuatan yang luar biasa di sisi Allah.

Bagaimana cara tetap istikamah berbagi meski dompet sedang “diet” ketat?. Gunakan Skala Prioritas yakni pastikan kebutuhan pokok keluarga (anak dan istri) terpenuhi dulu, karena menafkahi mereka juga termasuk sedekah yang paling utama. Jangan Lihat Nominal karena jika hanya punya uang receh, berikanlah. Allah tidak melihat kemasan, tapi melihat niat. Sedekah Non-Materi,  jika benar-benar tidak ada uang, ingatlah bahwa senyum, tenaga, menyingkirkan duri di jalan, atau sekadar mendoakan orang lain adalah sedekah. Rahasiakan tentang sedekah, dan pastikan secara sembunyi-sembunyi saat kita sendiri sedang sulit akan menghindarkan kita dari penyakit riya dan membuat kita lebih merasa dekat dengan Allah.

Uang mepet bukanlah alasan untuk menutup pintu kebaikan. Justru di masa-masa sulit itulah, sedekah menjadi “obat” bagi kegundahan hati dan “kunci” bagi pintu-pintu rezeki yang tertutup. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena mungkin saja, Anda akan menjadi kaya justru karena keberkahan dari sedekah yang Anda paksakan di saat sulit.

Ingatlah, Allah tidak memanggil orang yang mampu untuk bersedekah, tapi Allah akan memampukan orang yang mau bersedekah.