Ramadhan sebagai Cermin Kemabruran Haji

Bulan Ramadhan senantiasa menghadirkan ruang kontemplasi bagi umat Islam, termasuk di lingkungan akademik. Bagi civitas akademika Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah ritual, tetapi juga sebagai waktu refleksi atas kualitas spiritual dan integritas moral. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), setara dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) versi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) PAI Ramadhan dapat dipahami sebagai cermin untuk menilai kemabruran haji, sebuah indikator keberhasilan transformasi spiritual yang seharusnya berdampak pada karakter dan etos kehidupan sehari-hari.

Ramadhan sering dipahami sebagai madrasah ruhaniyah yang membentuk insan bertakwa. Namun, lebih dari itu, Ramadhan sejatinya juga menjadi cermin untuk menilai kemabruran ibadah haji. Jika haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim, maka Ramadhan adalah ruang evaluasi tahunan atas kualitas spiritualitas tersebut. Keduanya bertemu pada titik yang sama: transformasi diri menuju ketakwaan dan kematangan akhlak.

Ramadan dan haji adalah dua ibadah besar dalam Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga edukatif dan transformasional. Jika haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim, maka Ramadhan adalah ruang refleksi tahunan untuk menjaga dan mengevaluasi kualitas spiritual tersebut.

Kalaulah muslim-muslimah saat haji  pernah menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Hari ini kita kembali menjadi tamu Allah di bulan suci. Jika haji adalah perjalanan menuju Baitullah, maka Ramadhan adalah perjalanan menuju ridha Allah.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa Ramadhan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183, yaitu agar manusia menjadi bertakwa (la‘allakum tattaqûn). Taqwa dalam perspektif pendidikan bukan sekadar kesalehan simbolik, melainkan kesadaran moral yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Puasa melatih pengendalian diri, kejujuran, dan disiplin, nilai-nilai yang menjadi fondasi karakter seorang Muslim terdidik.

Demikian pula, ibadah haji memiliki dimensi pendidikan yang kuat. QS. Al-Baqarah [2]: 197 menegaskan bahwa dalam haji tidak boleh ada rafats (perkataan kotor), fusuq (perilaku maksiat), dan jidal (perdebatan yang merusak). Ini menunjukkan bahwa haji adalah latihan intensif dalam pengendalian emosi, kesabaran, dan etika sosial. Haji bukan hanya perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan moral menuju kedewasaan spiritual.

Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Al-hajju al-mabrûr laisa lahu jazâ’un illâ al-jannah” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah dan balasannya adalah surga. Namun para ulama menjelaskan bahwa tanda kemabruran bukan hanya sahnya ritual, melainkan adanya perubahan positif dalam perilaku setelahnya. Akhlak menjadi lebih baik, kepedulian sosial meningkat, dan ibadah semakin konsisten.

Di sinilah Ramadhan dapat dipahami sebagai cermin kemabruran haji. Bagi seorang Muslim yang telah berhaji, Ramadhan menjadi momentum evaluasi: apakah nilai kesabaran, kesederhanaan, dan ketulusan yang dilatih saat haji tetap hidup? Apakah ibadah puasa dijalankan dengan penuh integritas? Apakah zakat dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial?

 

Ramadhan sebagai Madrasah Taqwa

Firman Allah dengan sapaan pertama fokus ditujukan kepada hambaNya yang mukmin sebagaimana QS. Al-Baqarah: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  Tujuan puasa: takwa.
Tujuan haji: juga takwa.

Jadi, haji dan Ramadhan bertemu pada satu tujuan: membentuk pribadi muttaqi

Puasa memiliki dimensi kejujuran yang sangat kuat karena bersifat personal dan tersembunyi. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah ibadah khusus untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya (HR. al-Bukhari dan Muslim). Artinya, kualitas puasa sangat bergantung pada kesadaran batin, bukan sekadar pengakuan sosial. Nilai ini sejalan dengan esensi kemabruran haji yang menekankan transformasi internal.

Dalam konteks mahasiswa dan civitas akademika FIAI, refleksi ini memiliki relevansi nyata. Pendidikan Agama Islam tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan keislaman, tetapi juga membentuk integritas akademik dan karakter mulia. Ramadhan dapat menjadi laboratorium karakter: melatih disiplin waktu, memperbaiki etika komunikasi, memperkuat empati sosial, serta membangun budaya akademik yang jujur dan bertanggung jawab.

Jika setelah menjalani haji seseorang semakin rendah hati dan semakin peduli pada sesama, dan jika setiap Ramadan kualitas spiritualnya terus meningkat, maka itulah tanda kemabruran yang hidup. Sebaliknya, jika ibadah hanya berhenti pada formalitas, maka Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, baik haji maupun Ramadhan bermuara pada satu tujuan besar pendidikan Islam: membentuk insan bertakwa yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cermin spiritual yang memantulkan kualitas kemabruran dan kedalaman iman kita.

Hubungan Spiritual Haji dan Ramadhan

Pertama, Kesabaran

Saat haji kita sabar: Antrean panjang, Cuaca panas, Kelelahan

Di Ramadhan kita sabar: Lapar, Dahaga, Menahan amarah

Rasulullah ﷺ bersabda:“الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari no. 1894, Muslim no. 1151)

Jika sepulang haji kita masih mudah marah, Ramadhan adalah terapi ruhani untuk memperbaiki.

Kedua, Keikhlasan

Puasa adalah ibadah paling rahasia. Allah berfirman dalam hadis qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.”
(HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151) Haji sering disaksikan orang.
Puasa? Hanya Allah yang tahu.

Ramadan menguji apakah haji kita dulu benar-benar ikhlas.


Ketiga, Pengampunan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa berhaji karena Allah dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521, Muslim no. 1350)

Dan tentang Ramadhan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760) Keduanya adalah momentum penghapusan dosa.Tetapi yang lebih penting adalah menjaga kebersihan setelahnya.

 

 Penutup Reflektif

Secara sederhana, bagi muslim muslimah yang sudah haji bisa membayangkan saat wukuf di Arafah:saat di mana tangan terangkat menengadah memohon kepada Allah Swt., air mata mengalir, dosa-dosa diampuni, maka Ramadan hadir seperti Arafah tahunan. Oleh karena itu, jika setelah haji kita lebih sabar, lebih lembut, lebih rajin ibadah, lebih peduli sesama, maka insya Allah itu tanda kemabruran. Namun, jika belum, jangan putus asa. Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki.

Melalui momentum Ramadan ini, Fakultas Ilmu Agama Islam mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi budaya akademik yang berintegritas, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Penulis: Dr. Dra. Sri Haningsih, M.Ag
Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam

Referensi —

Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 183 dan 197.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj dan Kitab al-Shawm.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab al-Hajj.