Mahasiswa: Jembatan Hidayah bagi Masa Depan Remaja Islam

Masa beraktivitas selama menjadi mahasiswa UII seringkali disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Di fase ini, seseorang berada pada puncak kematangan intelektual, energi fisik yang meluap, dan idealisme yang tinggi. Namun, kemuliaan status mahasiswaUII  bukan terletak pada gelar yang akan disandang, melainkan pada sejauh mana manfaat yang ia tebar bagi umat. Salah satu ladang amal yang paling krusial saat ini adalah kepedulian terhadap dakwah bagi para remaja.

Mengapa mahasiswa harus peduli pada dakwah remaja? Jawabannya sederhana: Remaja adalah fase transisi yang paling rentan sekaligus menentukan. Di era digital yang penuh dengan disrupsi moral, remaja muslim hari ini dihadapkan pada tantangan berat—mulai dari krisis identitas, paparan konten negatif, hingga pergaulan bebas. Mahasiswa hadir sebagai “kakak” yang mampu menjembatani jarak antara generasi tua (para ulama/orang tua) dengan generasi muda.

Mahasiswa memiliki bahasa yang sama dengan remaja. Dengan pendekatan yang lebih segar, santai, namun berbobot, mahasiswa bisa masuk ke dunia remaja untuk menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Jika mahasiswa abai, maka ruang-ruang kosong di hati para remaja akan diisi oleh pengaruh lingkungan yang menjauhkan mereka dari agama. Menyelamatkan satu remaja hari ini berarti menyelamatkan satu pemimpin di masa depan. Sebagai landasan pergerakan, berikut adalah tiga dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya dakwah dan pembinaan generasi:

1. Kewajiban Menjadi Umat Terbaik (Mengajak Kebaikan)
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Ayat ini menegaskan bahwa predikat “umat terbaik” tidak diberikan cuma-cuma, melainkan harus diraih melalui aktivitas dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar). Relevansi dengan mahasiswa dan dakwah dalam konteks mahasiswa yang peduli pada dakwah remaja (seperti tulisan Anda sebelumnya):

Agen Khaira Ummah: Mahasiswa adalah bagian dari umat ini yang memiliki kapasitas intelektual untuk menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di lingkungan kampus dan remaja.

Solusi Sosial: Dakwah kepada remaja adalah bentuk nyata dari “mencegah kemungkaran” (seperti pergaulan bebas atau narkoba) dan “mengajak pada kebaikan” (hijrah dan menuntut ilmu).

Bermanfaat bagi Sesama: Sesuai tafsir bahwa yang terbaik adalah yang paling bermanfaat, mahasiswa yang berdakwah berarti sedang merealisasikan hakikat ayat ini secara nyata.

2. Seruan Dakwah dengan Hikmah
Dalam menjalankan dakwah ke remaja, mahasiswa harus menggunakan cara yang tepat sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”

Remaja tidak butuh dihakimi, mereka butuh didengar dan diarahkan dengan penuh hikmah serta kasih sayang. Ayat ini sangat krusial bagi mahasiswa karena:

Menghindari kekakuan yakni Remaja seringkali menjauhi agama jika disampaikan dengan cara yang keras atau menakut-nakuti. Mau’izhah Hasanah adalah kunci. Membangun Intelektualitas yakni Mahasiswa diajarkan untuk memiliki Hikmah (kapasitas ilmu), sehingga saat ditanya hal-hal kritis oleh remaja (misalnya tentang sains dan Islam), mahasiswa bisa menjawab secara cerdas. Adab Komunikasi yakni Menekankan bahwa dakwah adalah soal caranya, bukan hanya isinya. Konten yang benar jika disampaikan dengan cara yang salah (kasar), akan ditolak oleh manusia.

3. Tanggung Jawab Menjaga Generasi Allah mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita, sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 9:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”

Lemah yang dimaksud bukan sekadar fisik atau ekonomi, melainkan lemah iman dan karakter. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mahasiswa. Jika mahasiswa (sebagai kaum intelektual muda) bersikap apatis dan tidak peduli pada pembinaan remaja, maka mereka secara tidak langsung membiarkan lahirnya generasi yang “lemah”. Ayat ini mengajak kita untuk memiliki sense of crisis—rasa khawatir yang positif—yang kemudian diwujudkan dengan aksi nyata untuk membekali remaja dengan ilmu dan iman agar mereka menjadi generasi yang kuat di masa depan.

Kepedulian mahasiswa terhadap dakwah remaja bukanlah sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change), dan perubahan paling fundamental dimulai dari pembinaan akidah generasi muda. Ketika mahasiswa turun tangan merangkul remaja, mereka sedang membangun benteng pertahanan umat yang kokoh. Mari jadikan organisasi kampus, media sosial, dan diskusi santai di kantin sebagai sarana untuk menyebarkan cahaya Islam, dimulai dari sejak menjadi mahasiswa, terutama mahasiswa UII.

Penulis mahasiswa:
Adzkia Hulwia Hasanah, NIM 22422033

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *