,

Muhammad Roy Purwanto Presentasi Riset di Abu Dhabi

Dr. Muhammad Roy Purwanto, S.Ag., M.Ag., terpilih sebagai presenter dalam 3rd International Conference on Humanities, Social Sciences, and Education (ICHSSE) 2017. Konferensi tersebut dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Senin-Selasa, 14-15 Jumadil Akhir 1438 H/13-15 Maret 2017.

Samsul_3_M. Roy (2)Menurut Roy, penyelenggara konferensi tersebut adalah lembaga prestisius yaitu International Academy of Engineers and Universal Researcher of UEA. Alhamdulilah, baru saja mempresentasikan hasil riset yang berjudul Acculturation between Islamic Teaching and Javanes Tradition in Mubeng Beteng Ritual Among Moslems in Yogyakarta Indonesia,” tutur Dosen Tetap Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah (PSAS) tersebut beberapa saat setelah presentasi.

“Ada akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa dalam tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta,” tutur Roy menceritakan simpulan risetnya. “Bentuk akulturasi tersebut diantaranya, Mubeng Beteng Keraton Jogja (yang) diambil dari Thawaf mengelilingi Ka’bah dalam ibadah Haji,” lanjut mantan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut.

WhatsApp Image 2017-03-20 at 02.47.33Selanjutnya, Roy menerangkan bahwa masyarakat Yogyakarta pelaku Mubeng Beteng mengandaikan Keraton sebagai “pusat spiritual” seperti halnya Ka’bah bagi umat Islam. Akulturasi yang kedua yaitu mubeng beteng diisi dengan kontemplasi, merenung, tidak boleh berkata-kata atau yang biasa disebut topo mbisu. “(Hal ini) mirip dengan kondisi Thawaf yg diisi dengan dzikir pada Allah,” ungkapnya.

Sementara itu, wujud akulturasi yang terakhir yaitu dalam ritual Mubeng Beteng, patokan paling depan yang dijadikan imam adalah Pusaka Kyai Tunggul Wulung. “Posisinya sama seperti al-Quran yang dijadikan imam umat Islam. Kyai Tunggul Wulung merupakan bendera yg diambil dari Kiswah Ka’bah,” tutupnya. (Samsul)

,

Prof. Dr. Jasser Auda dalam Diskusi tentang Maqaashid Syarii’ah

Prof. Dr. Jasser Auda (the Executive Director of the Maqasid Institute) menjadi narasumber tunggal diskusi tentang “Maqaashid Syarii’ah: Pembacaan Kontemporer” di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII). Diskusi diadakan di Ruang Sidang FIAI, Senin, 14 Jumadil Akhir 1438 H/13 Maret 2017.

Samsul_1 (1)Diskusi dibuka secara resmi oleh Dekan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA. Dalam sambutannya Tamyiz menyampaikan terima kasih atas kesediaan Jasser Auda untuk hadir ke FIAI. Tamyiz juga berpesan secara khusus kepada Jasser Auda untuk memaparkan hubungan maqaashid syarii’ah kontemporer dengan kajian keilmuan program studi (prodi) di FIAI.

Dalam paparannya, Jasser Auda mencontohkan bahwa saat berbicara ekonomi Islam seringkali hanya diidentikkan dengan bank-bank Islam (al-bunuuk al-islaamiy). Sementara, menurutnya, bank Islam hanyalah bagian kecil dari ekonomi Islam. Oleh karena itu, penting untuk berbicara ekonomi Islam dengan model pendekatan yang dia tawarkan.

Profesor tamu Hukum Islam (Islamic Law) di Carleton University Canada tersebut menjelaskan bahwa terdapat banyak pendekatan dalam memahami wahyu. Dari ragam pendekatan tersebut dia menawarkan pendekatan integratif (muqaarabah takaamuliyyah). Dengan pendekatan tersebut maka pemahaman terhadap wahyu—yang salah satu aspek pentingnya adalah maqaashid syarii’ah—menjadi komprehensif.

Karenanya, Jasser Auda menasihatkan untuk menghindari beberapa pendekatan dalam memahami wahyu. Yaitu, pendekatan parsialistik (muqaaraabah tajzii-iyyah). Lalu, pendekatan justifikatif (muqaarabah tabriiriyyah). Pendekatan ini maksudnya adalah menjadikan ayat untuk menjustifikasi realitas (min al-waaqi’ ila an-nashsh). Sementara yang ideal adalah berangkat dari Al-Quran untuk membaca realitas (min an-nashsh ila al-waaqi’).Samsul_1 (2)

Selanjutnya yang perlu dihindari adalah pendekatan posmodernis yang dekonstruktif. Terakhir, pendekatan keseluruhan (muqaarabah kulliah). Pendekatan ini nampaknya memang ideal namun pendekatan itu kurang memperhitungkan anasir parsial (juziyyah) yang harus dikaitkan dengan yang keseluruhan (kulliyyah).

Diskusi yang dimoderatori Dr. Ali Abdul Mun’iem, MSI., tersebut diikuti oleh seluruh dosen FIAI. Untuk menambah hangat diskusi moderator memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan tanggapan dan pertanyaan secara bergilir. Diskusi diakhiri dengan penyerahan cinderamata dari FIAI dan foto bersama. (Samsul)

,

Sadarlah Bahwa Dunia Terus Berubah

Dalam rangka menyemarakkan Milad Universitas Islam Indonesia (UII) yang ke-74, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) mengadakan Pelatihan Etos Kerja Islami bagi Tenaga Kependidikan (Tendik). Bertempat di Ruang Sidang FIAI, Kamis, 03 Jumadil Akhir 1438 H/02 Maret 2017. Hadir sebagai narasumber tunggal Prof. Djamaluddin Ancok, Ph.D (Guru besar emeritus UGM).

Samsul_6Di awal materinya, Ancok mengingatkan bahwa tiket masuk surga—sesuai hadits Rasulullah—itu ada tiga (3). Pertama, ilmu yang bermanfaat, lalu sedekah jariyah. Ketiga, anak shalih. “Ingat, ciri anak shalih itu tidak ngantuk saat mendengarkan ceramah (materi pelatihan),” candanya untuk mengugah semangat para peserta pelatihan.

Bagi Ancok, setiap elemen di FIAI harus sadar bahwa dunia terus berubah. Oleh karena itu, harus inovatif dalam performa dan pelayanan. Apalagi dalam sebuah universitas yang pelanggan utamanya adalah mahasiswa. Dia menambahkan bahwa di UII para pegawainya ‘dibayar’ mahasiswa. “Di luar negeri banyak universitas tutup karena tidak ada mahasiswa,” tuturnya. Karenanya, mahasiswa supaya nyaman harus diberikan pelayanan terbaik.

Ancok juga menasihatkan bahwa dalam konteks manajemen yang baik yang perlu diutamakan adalah teamwork (kerjasama). Artinya, saling menolong bila ada unit lain yang sedang super sibuk meskipun bukan job deskripsinya secara langsung. Hal ini, menurutnya, sesuai dengan konsep Islam yaitu tolong-menolong dalam kebaikan. “Jadi tidak terkotak-kotak,” tegasnya.

Tidak kalah pentingnya, Ancok menyampaikan bahwa bersikap ramah dengan selalu tersenyum sangat penting dalam pelayanan. “Apalagi tersenyum adalah perintah agama,” tuturnya. “Bayangkan kalau ada mahasiswa yang saat parkir saja sudah tidak diperlakukan dengan ramah maka rusaklah image fakultas,” tambahnya. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan Total Quality Management (TQM) dalam pelayanan terbaik.

Selanjutnya, Ancok juga mengungkapkan bahwa untuk menciptakan work engagement (keterlibatan dalam bekerja) perlu diperhatikan 3 hal. Pertama, meaning yaitu bagaimana semua tendik merasa melakukan sesuatu yang bermakna. Kedua, membership yaitu semua elemen diposisikan sebagai anggota kerja (kekeluargaan). Ketiga, mastery of work yaitu bertambahnya pengetahuan dengan pekerjaan yang dilakukan.

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA. Dalam sambutannya dia menyampaikan bahwa dalam rangka menghadapi persaingan global dibutuhkan upaya perbaikan kualitas layanan. “Dengan training etos kerja islami ini bukan berarti sekarang tidak islami namun supaya yang sudah baik menjadi lebih baik,” tuturnya. (Samsul)

,

Zukhruf UIN Surabaya, UII Berjaya

Kontingen Universitas Islam Indonesia (UII) menorehkan tinta emas sebagai Juara Umum pada even Zein al-Ukhuwah wa at-Ta’aruf (Zukhruf) Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya. Even dengan tema “Lima Dasawarsa: Integritas Sastra Mengawal Budaya” tersebut diadakan pada Rabu-Jumat, 23-25 Shafar 1438 H/23-25 November 2016.

Samsul_9 (1)Dalam even tersebut, Mustofa Abdul Karim (Manajemen, 2014) dinobatkan sebagai Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Arab. Sementara itu, Saiful Aziz (IP Syari’ah, 2014), Auzia Hilmy Muhammad (Ilmu Ekonomi, 2015), dan M. Fakhri Al-Kahfi (Ekonomi Islam, 2015) meraih Juara 2 Lomba Debat Arab. Capaian tersebut semakin menegaskan kualitas tim debat Arab UII. Pasalnya dalam beberapa even nasional UII terus menorehkan prestasi bahkan lebih sering sebagai juara pertama.

Praktis dalam satu bulan terakhir UII berhasil menyabet 3 Juara Umum dalam festival berbahasa Arab. Akhir Oktober lalu, UII meraih Juara Umum di Festival Kebudayaan Arab (FKA) Universitas Gadjah Mada (UGM). Awal November dinobatkan sebagai Juara Umum Festival Jazirah ‘Arab (FJA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang. Dan terakhir Juara Umum di UIN Surabaya.

Saiful Aziz selaku ketua kontingen bersyukur karena Allah telah memudahkan UII meraih kembali Juara Umum di even Bahasa Arab se-Indonesia (nasional). “Harapan saya, mudah-mudahan pencapaian ini terus dipertahankan oleh delegasi UII dalam even berikutnya,” tuturnya. Kontingen UII tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) El-Markazy. El-Markazy terus melakukan regenerasi dengan mencari bibit handal untuk even-even nasional bahkan ASEAN dan internasional berikutnya.

Menanggapi raihan tersebut, Direktur Direktorat Pembinaan Bakat Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) UII Beni Suranto, ST., M.Soft.Eng menyatakan bahwa capaian prestasi ini sangat membanggakan. Di mana mahasiswa UII mampu melestarikan tradisi Juara Umum di kompetisi bidang keislaman atau kompetensi bidang Bahasa Arab.

“Hal ini sangat mendukung misi UII dalam mewujudkan generasi muda insan Ulil Albab yang memiliki keunggulan dan terus menghasilkan karya serta prestasi. Diharapkan ke depan makin banyak mahasiswa UII yang mau dan mampu mengembangkan potensi keunggulan untuk merepresentasikan keunggulan kualitas proses pembinaan mahasiswa di UII,” tuturnya. (Samsul/SA).

,

Dr. Zuly Qodir, MSI: Langgarlah Kebiasaan Takut Menulis

Program Studi (Prodi) Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Workshop Penulisan Opini di Media Massa. Bertempat di Ruang Sidang FIAI, Kamis 22 Rabi’ul Awwal 1438 H/22 Desember 2016. Hadir sebagai narasumber Dr. Zuly Qodir, MSI., Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Dr. Ibnu Burdah, MA., Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Samsul_8Dalam workshop tersebut, Zuly Qodir menyampaikan Hal Ikhwal Penulisan Ilmiah. Di awal presentasinya, dia menyampaikan bahwa banyak dosen tidak menulis karena penghargaannya kecil. Ada juga yang beralasan atau berkilah bahwa perintah (Quran)-nya membaca bukan menulis. Tidak sedikit yang khawatir kalau tulisannya dianggap jelek. “(Oleh karena itu), langgarlah kebiasaan takut menulis,” tuturnya menyemangati.

Zuly menyarankan supaya jeli untuk membawa keadaan sebagai inspirasi tulisan. Dia mencontohkan, saat ada dinamika pilkada Zuly menulis Teologi Politik Jelang Pilkada di Harian Nasional Kompas. Saat banyak orang ramai-ramai pergi haji karena gengsi dan berulang kali dia mengkritiknya dengan menulis tentang Komersialisasi Haji. “Memang banyak yang marah, tidak setuju (atas beberapa tulisan saya). Tetapi itulah konsekuensi,” ungkapnya.

Dr. Ibnu Burdah, MA., menyampaikan tentang Publikasi di Media Massa. “Menulis itu bukan semata keilmuan tetapi juga mahaarah (kemahiran/skill),” tutur penulis opini yang fokus pada analisis Timur Tengah tersebut. Bagi Burdah, menulis adalah bagian dari tugas mulia untuk kepentingan kemanusiaan. Dia bercerita bahwa untuk menulis sebuah opini tentang timur tengah dia harus mengamati dengan jeli berita-berita di televisi chanel Arab.

Dalam sambutannya, Ketua Prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah, Prof Dr. Amir Mu’allim, MIS., menyatakan bahwa media berperan mengangkat info yang ada. “Senang atau tidak, ilmiah atau ‘ecek-ecek’, media mempengaruhi perilaku masyarakat,” tuturnya. Amir menegaskan bahwa yang bermanfaat (yuntafa’u) itu bukan sekadar informasi tetapi juga harus berwujud ilmu. Oleh karena itu opini di media massa sebenarnya mewadahi posisi ilmu yang bermanfaat tersebut.

Acara yang diikuti dosen FIAI dan perwakilan mahasiswa tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA. Tamyiz mengungkapkan bahwa penulisan (opini) di media tentu berbeda dengan penulisan riset (penelitian). Oleh karena itu diperlukan skill khusus supaya opini dapat dibaca dengan baik. Lanjutnya, berangkat dari hal tersebut perlu belajar dari pakar yang opininya sudah malang-melintang di media nasional. (Samsul)

,

Koruptor, bukan Jahat tetapi Tersesat

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kuliah lapangangan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Semarang, Selasa, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H/20 Desember 2016. Rombongan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Hukum Pidana tersebut dipimpin oleh Dekan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA.

Samsul_7Rombongan diterima di Aula Utama Lapas Semarang oleh Kepala Bidang Pembinaan, Kasrizal K, Bc.IP., SH. Dalam sambutannya Kasrizal menjelaskan bahwa Lapas Semarang dihuni oleh sekitar 1200-an warga binaan. Dengan jumlah tersebut, petugas keamanan yang berjaga hari itu hanya 12 orang. “Coba manajemen apa yang bisa saya terapkan dalam kondisi seperti ini?” tanyanya. Dia menjawab, “Manajemen Doa,” kelekarnya, disusul tawa dan tepuk tangan apresiatif dari mahasiswa.

Kasrizal menceritakan bahwa di lapas tersebut banyak pejabat yang harus dibina karena tersangkut masalah korupsi. Menurutnya, koruptor yang dibina bukan semata-mata berniat jahat merugikan negara. Banyak juga yang karena tidak mengerti aturan hingga dianggap korupsi. “Bukan jahat, tapi tersesat,” tegasnya. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang cukup bagi para pejabat, khususnya yang baru menjabat.

Kasrizal mengungkapkan bahwa seorang yang dihukum di penjara setidaknya kehilangan 4 (empat) hal. Pertama, rasa aman, lalu kebebasan. Kemudian, pelayanan, dan terakhir hubungan suami isteri. “(Oleh karena itu), dosen bolehlah ke lapas, berkunjung tapi jangan masuk lapas,” selorohnya. Setelah acara penyambutan dilanjutkan dengan tanya jawab.

Menariknya, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk mewawancarai warga binaan yang ada di lapas tersebut. Mahasiswa yang berjumlah 120-an tersebut dibagi menjadi 6 kelompok. Pihak lapas telah menyediakan 6 warga binaan untuk diajak berdiskusi secara berkelompok. Mulai dari sebab masuk lapas, dinamika kasus, pengalaman selama di lapas, harapan kedepannya, dan seterusnya.

Kuliah lapangan yang dikoordinatori oleh Dr. Drs. Sidik Tono, M.Hum., sebagai pengampu mata kuliah Hukum Pidana tersebut dilakukan untuk mengayakan pemahaman mahasiswa selama kuliah di kelas. Dengan model kuliah lapangan, mahasiswa mendapatkan pengalaman baru dan akan lebih membekas. Dua tahun sebelumnya kuliah lapangan di lakukan di Lapas Batu Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa tengah. (Samsul)

,

Implementasikan MoU, Rektor Zaytunah University Kunjungi UII

Rektor Universitas Zaytunah (Zaytunah University) Tunisia, Prof. Dr. Hichem Grissa memberikan Kuliah Umum (al-Muhaadharah al-‘Aammah) di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 05 Rabi’ul Awwal 1438 H/05 Desember 2016. Kuliah umum dihadiri pimpinan FIAI, para dosen, para staf, dan mahasiswa.

Samsul_6 (2)Dalam kuliah umumnya Hichem menyampaikan keharusan mengikuti siirah nabawiyyah (sejarah kenabian) dalam menyebarluaskan dakwah islamiyah. “Kalau tanpa ukhuwah islamiyyah tidak mungkin saya berada sini,” tutur guru besar yang telah mengajar di Universitas Zaytunah selama 32 tahun tersebut. Dia mengaku senang berada di Indonesia, suatu negara yang menerima dakwah dari pedagang Arab dengan cara yang penuh hikmah.

Selain memberikan kuliah umum di UII, Hichem juga turut memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Telah maklum bahwa sudah ada Memorandum of Understanding (MoU) antara UII dan Universitas Zaytunah. Hichem menegaskan bahwa dengan adanya MoU (ittifaaqiyyaat) tersebut, kesempatan mahasiswa UII untuk melanjutkan kuliah di Universitas Zaytunah terbuka lebar. Termasuk kemungkinan students exchange (tabaadul ath-thullaab).

Hichem sangat mengapresiasi mahasiswa yang menjadi peserta kuliah umumnya. Pasalnya para mahasiswa aktif bertanya dan menggunakan bahasa Arab dengan baik. Salah satu mahasiswi bertanya apakah boleh perempuan belajar di Universitas Zaytunah tanpa mahram. Hichem mengatakan hal tersebut tidak masalah. Sebab Universitas Zaytunah memiliki asrama khusus perempuan. Dia menegaskan di Tunisia perempuan memiliki kedudukan yang setara. “Perempuan juga menjadi menteri,” tuturnya dalam acara yang dipandu oleh Drs. Syarif Zubaidah, M.Ag., tersebut.

Dalam sambutannya, Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., menyampaikan terima kasih atas kesediaan Hichem untuk memberikan kuliah umum. Tamyiz yang juga alumnus doktoral Universitas Zaytunah tersebut berharap audiens dapat mengambil manfaat dari penyampaian Hichem. Sebelum menyampaikan kuliah umum, Hichem sempat beramah tamah dengan Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc. Dalam kesempatan tersebut, Hichem memberikan cinderamata kepada Rektor UII.

Sekitar dua bulan yang lalu, guru besar Universitas Zaytunah, Prof. Dr. Munir Tlili menjadi dosen tamu di Program Studi Syari’ah (Ahwal Al-Syakhshiyyah) FIAI. Hal ini menunjukkan bahwa MoU antara UII dan Universitas Zaytunah telah terimplementasi dengan baik. Harapannya, kerjasama baik tersebut dapat berlanjut dengan lebih intensif. (Samsul).

,

Bangun Kerjasama menuju PSEI Terakreditasi Unggul

Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) sebagai salah satu Program Studi (Prodi) yang ada di lingkup Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) terus berupaya menggagas berbagai bentuk kerjasama. Baik dengan lembaga keuangan syari’ah, desa binaan, maupun instansi lain. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mendapatkan akreditasi unggul (A) dari BAN-PT.

Samsul_5Sehubungan dengan hal tersebut, PSEI FIAI mengundang pimpinan dari beberapa instansi pada Rabu, 30 Shafar 1438 H/30 November 2016. Bertempat di Ruang Sidang FIAI dalam acara Penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama/Memorandum of Understanding (MoU) antara PSEI FIAI dengan instansi terkait.

Adapun para undangan yang hadir terdiri dari Lurah Desa Binaan, Prayitno (Lurah Desa Argodadi, Bantul), dan Ickbal Nugroho S, S.Tp (Lurah Kledungkradenan, Purworejo). Selain itu, hadir pula pimpinan dari beberapa Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS), Imam Muttaqien, SHI (Direktur BMT Haniva), Firman Zainul Arifin (Pimpinan Baitul Mal Hidayatullah), dan Irfan Islami (Sales Manager PT. Takaful Keluarga Yogyakarta).

Dalam sambutannya, Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., menjelaskan tujuan penandatanganan MoU tersebut. “UII sebagai perguruan tinggi meniscayakan adanya kerjasama dengan instansi-instansi terkait. Kerjasama ini digagas dalam rangka mengimplementasikan Catur Dharma UII yaitu Pendidikan, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Dakwah Islamiyah,” tuturnya.

Program ini disambut baik oleh seluruh pimpinan lembaga dan para undangan yang hadir. Seluruh pimpinan lembaga mengharapkan bahwa kerjasama ini akan membawa kemajuan bagi kedua pihak. Dalam acara ini, masing-masing pimpinan lembaga yang diundang tersebut juga memaparkan secara konkrit bentuk kerjasama yang dapat dijalin dengan PSEI FIAI.

Misalnya dalam kerjasama yang dijalin dengan PT. Takaful Keluarga Yogyakarta, para mahasiswa PSEI dapat melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT tersebut. “Para mahasiswa ini bisa dikonsentrasikan untuk membentuk studi asuransi syari’ah, kemudian magang di Takaful, dan kami training untuk menjadi Financial Consultant Takaful sehingga ketika lulus ia tidak khawatir akan jadi pengangguran,” ujar Irfan Islami dalam sambutannya. (Samsul/MDP/Ekis)

,

PPs FIAI Gelar Kuliah Umum tentang Fikih Lingkungan

Salah satu kajian penting dalam Islam namun kurang mendapat perhatian serius adalah fikih lingkungan (fiqhul bii-ah). Padahal, fikih lingkungan memiliki implikasi strategis dan urgen bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Lebih dari itu dalam konteks akademis, fikih lingkungan penting untuk memperkaya kajian keislaman terkini.

Samsul_4 (1)Berkenaan dengan itu, Program Pascasarjana (PPs) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Kuliah Umum (al-Muhadharah al-‘Aammah) tentang Fikih Lingkungan dan Perannya dalam Memperkaya Studi Islam Kontemporer (Fiqhul Bii-ah wa Dauruhu fii Itsraa-i ad-Diraasaat al-Islaamiyyah al-Mu’aashirah). Bertempat di Ruang Sidang Utama PPs FIAI, Sabtu, 19 Shafar 1438 H/19 November 2016.

Hadir sebagai narasumber Dr. Ir. Hisyam Mahmud Khidir, selaku Ketua Asosiasi Sains, Teknik, dan Urusan Lingkungan-Mesir. Kuliah umum dipandu oleh moderator yang juga alumnus doktoral PPs FIAI, Dr. ‘Ali Abdel Mon’iem A, MSI. Selain memandu kuliah, ‘Ali juga mencatat poin-poin pokok yang disampaikan Hisyam ke dalam bahasa Indonesia. Poin-poin tersebut dapat langsung dibaca audiens yang kurang memahami bahasa Arab.

Menurut pemaparan ‘Ali, sosok Hisyam Khidir mengingatkan akan lenyapnya batas-batas (demarkatif) antara ilmu umum dan ilmu agama. Pasalnya Hisyam Khidir telah menggabungkan beberapa disiplin ilmu khususnya umum dan agama dalam perjalanan karir akademiknya. “Hadirnya beliau (Dr. Ir. Hisyam Khidir) di sini hadir pula semangat untuk memperkaya ilmu,” tegasnya.

Di awal paparananya Hisyam menjelaskan banyaknya pencemaran atau polusi yang terjadi di dunia yang membahayakan kemanusian. Sementara Islam sudah menganjurkan umatnya untuk menjaga lingkungan, melarang berlebih-lebihan dalam bersikap meskipun memiliki akses untuk hal tersebut. “La tusrif walau kunta fi nahril jaar,” ungkapnya dalam Kuliah Umum yang dihadari para dosen, tamu undangan, dan mahasiswa PPs FIAI. Artinya, janganlah berlebih-lebihan meskipun engkau di sungai tetanggamu.

Apa yang disampaikan oleh Hisyam paling tidak menyangkut tiga hal. Pertama, mendekatkan ilmu dengan realitas. Kedua, menghubungkannya dengan ilmu lain (integrasi). Ketiga, memberikan solusi atas masalah yang muncul di masyarakat. Ketiga hal tersebut bila terkemas secara sistematis akan berkontribusi terhadap pengembangan keilmuan khususnya studi Islam kontemporer tentang fikih lingkungan.

Hisyam juga memotivasi audiens untuk mengintegrasikan Islam dalam banyak aspek. “Bagaimana syariah dibahasakan dalam media, teater, dan sinema, dan seterusnya,” tutur Hisyam yang pernah menyutradai salah satu sinema. Teaternya tersebut pernah mendapat apresiasi dari seorang tokoh. “Satu teatermu lebih berpengaruh dari seribu khutbah yang saya punya,” ungkapnya menirukan apresiasi dimaksud.

Dalam sambutannya Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., menyatakan bahwa di UII integrasi pengetahuan umum dan agama sangat diseriusi. Oleh karena itu hadirnya Dr. Ir. Hisyam Mahmud Khidir in line dengan tujuan UII yaitu membumikan nilai Islam dalam pelbagai disiplin ilmu. Dekan juga mengucapkan terima kasih atas kesediaan Hisyam memberikan kuliah umum di PPs FIAI. (Samsul)

,

PAI adakan Training IT Blended Learning untuk Guru Madrasah

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PSPAI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Training Information Technology (IT) bagi guru madrasah, Sabtu, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H/17 Desember 2016. Bertempat di Ruang Sidang Lt. 1 Gedung K.H.A Wahid Hasyim FIAI. Peserta berjumlah 10 guru dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pakem, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pakem, MAN Tempel, MTsN Tempel, MAN Yogyakarta, MTsN Yogyakarta, MTs Sunan Pandanaran, MTsN Sleman, dan MAN Maguwoharjo.

Samsul_3 (2)Acara tersebut diinisiasi oleh MEC PSPAI. MEC adalah Madrasah Empowering Center yang merupakan bagian dari PSPAI. Tujuannya untuk memperkuat madrasah dari berbagai aspeknya. Baik dari sisi manejemen pengelolaan dan pengembangan kurikulum. Disamping perihal kompetensi tenaga pendidik dan kependidikannya, model dan media pembelajarannya, dan bidang supervisi madrasah, serta pengembangan jejaring sinergisnya.

“Sesuai dengan tema training ini, Blended Learning Based Web Tools, harapan Prodi dapat membekali guru tentang pengetahuan dan penguasaaan media pembelajaran berbasis web tools. Para guru dapat mengembangkan kompetensi pedagogis dengan menggunakan gaya belajar, metode, dan media pembelajaran yang inovatif, variatif, dan efektif,” papar Drs. M. Hajar Dewantoro, M.Ag., selaku Sekretaris PSPAI.

Materi training (pelatihan) diberikan langsung oleh beberapa dosen muda PSPAI yaitu Lukman, S.Ag., M.Pd., Burhan Nudin, S.Pd.I., M.Pd.I, dan Moh. Mizan Habibi, S.Pd.I., M.Pd.I. Materi-materi yang disampaikannya sangat variatif diantaranya: Foreign Language Blended Learning (Kahoot!), Collaboration and Communication Tools (Padlet), dan Instruction Content Development Tools (ScreencastOMatic).

Menurut pemateri, era modernisasi berlari cukup cepat maka pada saat yang sama proses pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dan memanfaatkannya menjadi bagian dari media pembelajaran. Lebih lanjut dikatakan, sistem pembelajaran di kelas tidak boleh hanya mengandalkan sistem pembelajaran konvensional. Namun harus mampu memanfaatkan teknologi informasi, salah satunya dengan blanded learning.

Para peserta sangat antusias dengan pelatihan ini. Penyajian materinya mudah dipahami dan menambah wawasan untuk dapat diterapkan dalam pembelajaran. Pelatihan ini tidak banyak teorinya sehingga tidak membosankan. Para peserta dimanjakan dengan praktik secara langsung menggunakan media laptop dan smartphone. Harapan dari peserta, mereka mendapatkan kesempatan lagi untuk mengembangkan inovasi-inovasi KBM yang berbasis IT. (Samsul/Erma/PAI)