Mahasiswa Ekonomi Islam UII Raih Best Presentation FALAH UNAIR lewat Presentasi Kasus Wakaf

Menyampaikan solusi yang tepat saja belum cukup dalam sebuah kompetisi studi kasus. Peserta juga perlu mampu menjelaskan alur pemikirannya dengan jelas agar gagasan dapat dipahami oleh juri. Pendekatan inilah yang mengantarkan tim Terus Terang (Muhammad Fathy Farhat, Rafasha Tataq Safridan, dan Silvi Sukmawati) yang baru saja kembali dari perlombaan sebelumnya, lalu meraih penghargaan Best Presentation dalam Islamic Economic Olympiad pada Festival Ilmiah Ekonomi Syariah (FALAH) yang diselenggarakan Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, pada 25–26 September 2026.

Kasus Wakaf Menjadi Panggung untuk Menunjukkan Kualitas Presentasi

Babak final FALAH mempertemukan peserta dalam dua sesi, yaitu Study Case dan Muamalat Interactive Game (MIG). Pada sesi Study Case, peserta perlu memahami persoalan yang diberikan, menyusun alternatif penyelesaian, lalu menyampaikan hasil analisis secara sistematis. Berbeda dari kompetisi yang hanya menguji penguasaan teori, format ini juga menilai kemampuan peserta mengubah pemahaman menjadi solusi yang dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.

Terus Terang memilih kasus di bidang wakaf sebagai materi yang mereka presentasikan. Tantangannya bukan hanya merumuskan penyelesaian, melainkan juga menyampaikan alur analisis dengan jelas agar gagasan utama dapat dipahami oleh juri.

Muhammad Fathy Farhat menambahkan “Kami mempresentasikan penyelesaian kasus di bidang wakaf, juri mengapresiasi gaya presentasi kami yang lugas dan jelas,” ungkap Fathy.

Selain Study Case, peserta juga mengikuti MIG, sebuah permainan interaktif dengan mekanisme menyerupai monopoli yang mengangkat materi keuangan syariah. Format tersebut memberikan tantangan berbeda dari presentasi kasus karena peserta perlu memahami konsep sekaligus merespons situasi permainan.

Belajar dari Kompetisi, Bukan Hanya Mengejar Kemenangan

Keikutsertaan Terus Terang di FALAH berawal dari rencana mengikuti SEHATI 16th UNDIP. Setelah memperoleh informasi mengenai FALAH UNAIR, mereka memutuskan untuk mendaftar kembali dengan pertimbangan bahwa materi inti yang dipelajari untuk kedua kompetisi relatif berkesinambungan.

Jarak pelaksanaan kedua babak final yang hanya berselang sekitar satu pekan membuat pengalaman di UNDIP menjadi bekal sekaligus bahan evaluasi sebelum menghadapi FALAH. Tim telah mengenal suasana kompetisi secara langsung, tetapi tetap harus menyesuaikan diri dengan format yang diterapkan penyelenggara.

Bagi Silvi Sukmawati, salah satu pelajaran penting datang dari kesempatan berhadapan dengan peserta lain yang sebagian besar, menurut pengamatannya, merupakan mahasiswa semester lima atau angkatan 2024. Sebagai mahasiswa angkatan 2025, anggota Terus Terang menyadari bahwa pengalaman mereka masih perlu dikembangkan.

Alih-alih hanya berfokus pada perbedaan pengalaman tersebut, mereka menjadikan kompetisi sebagai kesempatan untuk mempelajari strategi dan wawasan baru. Pengalaman mengikuti dua ajang dalam waktu berdekatan juga membantu mereka melihat bahwa persiapan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mencakup pemahaman teknis dan kemampuan beradaptasi.

Silvi menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mulai belajar dan mencoba kompetisi. “Tidak ada waktu terlambat dan terhambat untuk mulai belajar. Jangan menunggu sampai kamu siap, tetapi mulailah dan berani gagal agar bisa belajar lebih banyak dari kegagalan itu sendiri,” pesan Silvi.

Ia juga mengingatkan pentingnya memilih rekan satu tim yang dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik. Menurutnya, anggota tim perlu memiliki semangat yang sejalan dan mampu saling melengkapi. Selain itu, peserta perlu mempersiapkan diri secara serius tanpa meremehkan kemampuan lawan, serta berani mencoba cabang kompetisi lain untuk memperluas pengalaman.

Perjalanan mereka memperlihatkan bahwa pengalaman kompetisi dapat memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pemahaman, melatih komunikasi, dan mengenali kemampuan yang masih perlu diasah. Hasil yang diraih menjadi capaian, sementara proses persiapannya menyediakan bahan evaluasi untuk langkah selanjutnya.

Dan disini, di Program Studi Ekonomi Islam FIAI UII terus mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik dan memperluas pengalaman melalui berbagai kesempatan belajar.

Kenali lebih lanjut dengan Program Studi Ekonomi Islam di fis.uii.ac.id/ekis
Informasi pendaftaran kunjungi kami di pmb.uii.ac.id.

Uji Ketajaman Analisis dalam 45 Menit, Mahasiswa Ekonomi Islam UII Raih Juara Harapan 3 SEHATI UNDIP

Empat puluh lima menit bukan waktu yang panjang untuk memahami sebuah kasus, menyusun peta pemikiran, dan menyiapkan presentasi di hadapan juri. Tantangan inilah yang dihadapi tim Terus Terang dari Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia (UII), dalam babak Drawing Case pada Islamic Economic Olympiad SEHATI 16th di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang.

Tim yang beranggotakan Muhammad Fathy Farhat, Rafasha Tataq Safridan, dan Silvi Sukmawati tersebut berhasil meraih Juara Harapan 3 setelah melewati dua babak penyisihan daring dan berkompetisi dalam babak final pada 16–17 September 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.

Ketika Penguasaan Materi Harus Diuji dalam Waktu Terbatas

Sebelum mencapai babak final, peserta harus melewati dua tahap penyisihan secara daring dengan format lomba cerdas cermat. Para finalis kemudian menghadapi dua sesi berbeda, yaitu Battle of Ideas dan Drawing Case.

Dalam Battle of Ideas, peserta beradu gagasan melalui debat dengan mosi mengenai literasi syariah dan fintech sebagai dua fondasi penting untuk bekal masa depan. Sementara itu, Drawing Case menuntut peserta menyelesaikan suatu kasus, menuangkan hasil analisis dalam bentuk mind map, kemudian mempresentasikannya di hadapan juri.

Bagi Terus Terang, sesi kedua menjadi tantangan yang tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Muhammad Fathy Farhat menjelaskan bahwa tim lebih banyak memusatkan persiapan pada sesi debat, sehingga latihan untuk Drawing Case belum maksimal.

“Hal yang paling menantang bagi kami ketika di UNDIP adalah pada sesi Drawing Case. Kami harus menyelesaikan sebuah kasus dengan waktu kurang lebih 45 menit dan menggambarkannya dalam sebuah mind map,” ungkap Fathy.

Ia menjelaskan bahwa kurangnya persiapan khusus untuk sesi tersebut membuat presentasi tim belum maksimal. Padatnya rangkaian perlombaan juga menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur waktu dan menjaga kesiapan selama kompetisi berlangsung.

Proses Persiapan

Persiapan Terus Terang telah dimulai sebelum ujian akhir semester dua. Menurut Fathy, materi yang dipelajari dalam perkuliahan memiliki keterkaitan dengan materi yang diujikan dalam kompetisi. Hal tersebut membantu tim mempersiapkan diri tanpa sepenuhnya memisahkan proses belajar untuk lomba dari kegiatan akademik sehari-hari.

Meski demikian, menyelaraskan jadwal latihan di tengah perkuliahan bukan hal mudah. Ketiga anggota harus menyesuaikan waktu untuk belajar bersama dan mempersiapkan berbagai tahapan kompetisi.

Tantangan di SEHATI menjadi bahan evaluasi bagi tim, terutama dalam menyusun strategi persiapan. Setiap sesi membutuhkan pendekatan berbeda: debat menuntut argumentasi yang kuat, sedangkan studi kasus memerlukan kemampuan mengidentifikasi masalah, menentukan solusi, dan menyajikan analisis secara ringkas dalam waktu terbatas.

Prestasi Pertama sebagai Awal untuk Terus Berkembang

Meski menyadari persiapan mereka masih perlu ditingkatkan, Terus Terang bersyukur dapat melangkah hingga babak final dan membawa pulang Juara Harapan 3. Mereka juga memperoleh pengalaman baru dalam memahami teknis kompetisi, memperluas relasi, dan bertukar wawasan dengan peserta maupun panitia dari berbagai kelompok studi ekonomi Islam.

Bagi tim, pengalaman pertama ini bukan semata-mata tentang hasil akhir. Ada proses belajar yang menjadi bekal untuk mengikuti kompetisi selanjutnya, mulai dari mengatur persiapan, memahami format lomba, hingga mengevaluasi kekurangan setelah menghadapi tantangan secara langsung.

Fathy berharap pengalaman tersebut dapat mendorong mahasiswa lain untuk mencoba kesempatan serupa. “Kami berharap ini bisa menjadi langkah awal bagi kami khususnya, dan umumnya bagi mahasiswa Ekonomi Islam, untuk berani mencoba tanpa takut gagal. Ketika kami mendaftar, itu karena ingin mencoba hal baru dan menambah pengalaman,” ujarnya.

Melalui pembelajaran akademik dan kesempatan pengembangan diri di luar kelas, Program Studi Ekonomi Islam FIAI UII mendorong mahasiswa untuk terus memperluas wawasan serta mengasah kompetensi.

Temukan informasi lebih lanjut di fis.uii.ac.id/ekis,
Daftar Program Studi Ekonomi Islam di pmb.uii.ac.id.