Peran Mahasiswa dalam Edukasi Literasi Islam Sebagai Jihad Intelektual
Di dalam sejarah peradaban Islam, tinta para ulama seringkali disejajarkan dengan darah para syuhada. Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan pengakuan betapa krusialnya tulisan dalam menjaga eksistensi agama ini. Hari ini, di tengah gempuran informasi digital yang serba instan, tantangan literasi umat semakin besar. Di sinilah mahasiswa Muslim harus hadir bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai pelopor edukasi pentingnya menulis buku Islam.
Menulis dakwah mendukung upaya menjaga warisan intelektual muslim. Salah satu alasan mengapa Islam bisa sampai kepada kita hari ini adalah karena tradisi membukukan ilmu. Jika para pendahulu kita seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Hamka tidak menulis, mungkin kekayaan khazanah pemikiran Islam sudah hilang ditelan zaman. Mahasiswa, dengan kapasitas intelektual dan akses terhadap referensi yang luas, memegang tongkat estafet ini. Mahasiswa perlu menyadarkan rekan sebaya dan masyarakat bahwa menulis buku bukan hanya tugas dosen atau kyai, melainkan bentuk penjagaan terhadap warisan pemikiran yang akan menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina adalah dua raksasa intelektual dalam sejarah Islam yang melakukan jihad intelektual dengan cara yang berbeda namun saling melengkapi. Jika Ibnu Sina berjihad dengan membangun fondasi rasionalitas dan sains, Al-Ghazali berjihad dengan melakukan pemurnian spiritual dan harmonisasi antara akal dan wahyu.
Jihad intelektual yang dapat dilakukan mahasiswa juga dalam rangka melawan narasi negatif dan distorsi informasi. Dunia literasi saat ini sering kali dibanjiri oleh pemikiran yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam, mulai dari materialisme hingga pemahaman radikal yang tidak tepat. Jika mahasiswa yang berilmu hanya diam dan enggan menulis, maka kekosongan ruang literasi akan diisi oleh pihak lain.
Kondisi kampus dengan dinamikanya, bisa menjadi bahan tulisan, misal mengonversi diskusi menjadi naskah. Mahasiswa sering melakukan diskusi ilmiah; edukasi harus diarahkan agar hasil diskusi tersebut tidak hilang begitu saja, melainkan dibukukan. Selain itu mahasiswa berpeluang mempopulerkan sains islami dengan menjelaskan fenomena ilmiah melalui perspektif tauhid dalam bentuk buku yang ringan dan populer bagi kaum milenial. Mahasiswa juga dapat sebagai mediator dengan meluruskan kesalahpahaman melalui buku, mahasiswa bisa menjawab isu-isu kontemporer tentang Islam dengan argumen yang sistematis dan akademis.
Kondisi sosial mahasiswa di kampus, merupakan kesempatan untuk membangun budaya literasi di lingkungan kampus. Edukasi tidak selalu berarti ceramah. Mahasiswa dapat berperan melalui tindakan nyata untuk menciptakan ekosistem menulis. Hal ini bisa dimulai dengan membentuk komunitas penulis buku, mengadakan pelatihan penulisan kreatif bernuansa Islam, hingga memberikan pendampingan proses penerbitan.
Penting bagi mahasiswa untuk mengedukasi bahwa menulis buku Islam tidak harus selalu tentang fikih yang berat. Buku bisa berupa antologi esai tentang pengalaman spiritual, panduan praktis ekonomi syariah untuk anak muda, atau novel yang menyisipkan nilai-nilai akhlak. Dengan variasi tema, minat baca dan tulis umat akan tumbuh secara organik.
Peran mahasiswa menulis dakwah sebagai amal jariyah. Mahasiswa harus mampu memberikan perspektif ukhrawi dalam edukasi menulis. Menulis buku adalah investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu amal yang tidak terputus pahalanya setelah seseorang wafat adalah “ilmu yang bermanfaat“ (HR. Muslim).
Sebuah buku yang ditulis saat mahasiswa mungkin akan dibaca sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Selama ilmu di dalamnya diamalkan, maka aliran pahala akan terus mengalir kepada penulisnya. Inilah motivasi spiritual tertinggi yang harus ditanamkan kepada setiap pemuda Muslim.
Menulis merupakan upaya menembus batas zaman dan ruang, kelebihan buku dibandingkan dakwah lisan adalah jangkauannya. Suara seorang orator mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir di ruangan, tetapi sebuah buku bisa menyeberangi lautan dan melampaui batas waktu. Mahasiswa sebagai warga digital memiliki kemudahan untuk menerbitkan buku, baik secara fisik maupun e-book, yang bisa diakses secara global.
Mahasiswa adalah wajah masa depan umat. Jika hari ini mahasiswa Muslim malas menulis, maka masa depan peradaban Islam di Indonesia akan kekurangan rujukan yang berkualitas. Edukasi tentang pentingnya menulis buku Islam harus digaungkan sekarang juga.
Jangan menunggu menjadi ahli untuk mulai menulis, tapi menulislah untuk menjadi ahli. Jadikan pena Anda sebagai pedang untuk membela kebenaran dan sebagai lentera untuk menerangi kegelapan pemikiran. Setiap kata yang Anda goreskan adalah batu bata bagi bangunan peradaban umat.
Ditulis oleh mahasiswa
MUHAMMAD FADHLI ABDILLAH, NIM 22422063



