Saatnya Mahasiswa Menulis Dakwah Tebar Cahaya di Dunia Maya

Dunia digital hari ini bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan medan tempur pemikiran. Sebagai mahasiswa UII mengajak para mahasiswa di manapun berada, saatnya mahasiswa berada di garda depan intelektualitas. Namun, seringkali muncul keraguan: “Bolehkah saya menulis dakwah padahal ilmu saya masih sedikit?” Jawabannya bukan hanya boleh, melainkan sangat dianjurkan selama yang disampaikan adalah kebenaran yang valid. Menulis dakwah secara online adalah cara terbaik bagi mahasiswa untuk mengikat ilmu sekaligus membentengi ruang digital dari konten negatif.

Menjalankan Amanah Ilmu yang Sedikit

Banyak mahasiswa terjebak dalam rasa tidak percaya diri karena merasa bukan lulusan pesantren. Padahal, dakwah tidak harus menunggu menjadi ulama besar. Rasulullah SAW memberikan mandat kepada setiap Muslim untuk menyampaikan apa pun yang diketahuinya, meski hanya satu hal kecil yang benar. Dengan menuliskan satu hadis pendek tentang adab atau satu kutipan ayat tentang sabar di media sosial, kita telah menjalankan tugas sebagai penyambung risalah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi SAW bersabda: ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’.” (HR. Bukhari, No. 3461)

 Hadis ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu bukan penghalang untuk berbagi kebaikan. Setidaknyada beberapa makna pokok.

Pertama, Makna “Ballighu” yakni sampaikanlah. Para ulama menyebutkan bahwa kata perintah (amr) di sini menunjukkan kewajiban bagi setiap orang yang mendengar atau mengetahui sebuah ilmu agama untuk menyampaikannya kepada mereka yang belum tahu. Ini menunjukkan bahwa dakwah adalah tugas kolektif seluruh umat, bukan hanya tugas para kiai, ustaz, atau ulama besar saja.

Kedua, Makna ‘Anni”  artinya Dariku. Kata “dariku” adalah syarat mutlak. Ilmu yang disampaikan harus valid bersumber dari Rasulullah SAW. Bagi  mahasiswa atau pemula, ini berarti kita tidak boleh mengarang-ngarang hukum atau menafsirkan ayat semau sendiri. Kita harus menyampaikan apa yang sudah pasti benarnya (seperti kutipan ayat Al-Qur’an, hadis sahih yang sudah dijelaskan ulama, atau nasihat adab yang umum).

Ketiga, makna Walau Satu Ayat. Bagian ini adalah intisari yang paling menguatkan bagi orang yang baru belajar agama. Minimalisme Dakwah, tidak perlu menunggu hafal 30 juz atau ribuan hadis untuk mulai berbagi. Jika kita tahu satu ayat tentang larangan sombong, dan kita yakin akan kebenaran maknanya, kita sudah terkena mandat untuk menyampaikannya. Meringankan beban, Allah tidak membebani kita untuk menyampaikan hal yang tidak kita ketahui. Cukup sampaikan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Meski hadis ini memberikan kelonggaran “hanya satu ayat”, para ulama tetap mengingatkan untuk berhati-hati. Jangan sampai atas nama “satu ayat”, kita menyebarkan hadis palsu atau pemahaman yang keliru. Rumusnya, sampaikan apa yang kamu ketahui dengan pasti (yakin sumbernya), dan diamlah terhadap apa yang tidak kamu ketahui.

 Jejak Digital sebagai Amal Jariyah

Mahasiswa sangat akrab dengan teknologi. Setiap status, artikel, atau caption yang kita unggah akan meninggalkan jejak permanen. Bayangkan jika tulisan sederhana kita tentang pentingnya shalat tepat waktu dibaca oleh seorang remaja yang sedang futur (lemah iman), lalu ia tergerak untuk bertaubat. Itulah investasi pahala yang akan terus mengalir bahkan setelah kita wafat. Menulis online adalah cara kita memanen pahala tanpa batas ruang dan waktu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin: 12: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…” Tulisan di internet adalah “bekas” atau jejak yang akan dihisab dan menjadi saksi kebaikan.

Dakwah sebagai Proses Belajar

Menulis dakwah sebenarnya adalah cara belajar yang paling efektif. Saat seorang mahasiswa memutuskan untuk menulis tentang bahaya riba atau kemuliaan orang tua, ia pasti akan melakukan riset, membaca tafsir, dan mengecek keaslian hadis. Secara tidak langsung, ia sedang mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain. Menulis memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri dan konsisten antara kata dan perbuatan.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ash-Shaff: 2-3: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini menjadi pengingat agar tulisan kita menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk terus memperbaiki diri.

Menjadi Penyeimbang di Tengah Banjir Fitnah

Remaja muslim saat ini sangat terpapar konten yang menjauhkan mereka dari agama. Jika mahasiswa yang memiliki akses terhadap ilmu dan teknologi memilih diam, maka ruang digital akan dikuasai oleh kebatilan. Menulis dakwah online adalah bentuk jihad intelektual untuk memastikan bahwa konten positif tetap memiliki porsi di beranda media sosial remaja. Kita harus menjadi bagian dari golongan yang menyeru kepada kebajikan.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ditulis mahasiswa
Syamimi Assahira, NIM 24421021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *