Suplemen Hati

Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surge, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

(Q.S. al-A’raaf [7]: 40).

Dalam jiwa manusia ada sebuah kekuatan yang berfungsi untuk mengingatkan dan mencegah perbuatan yang buruk. Sebaliknya, kekuatan tersebut mendorong perbuatan yang baik. Ada perasaan yang tidak senang jika mengerjakan perbuatan jahat. Kekuatan itu akan mendorong manusia untuk merasa menyesal atas perbuatan itu. Kekuatan yang besar itu adalah hati nurani, yang tidak pernah bohong dan selalu mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, hanya saja seringkali nafsulah yang lebih dominan, dan dengan mudahnya manusia mengikutinya, untuk memperoleh kenikmatan sesaat. Pada saat itu, manusia mengingkari kekuatan tersebut.

Kekuatan hati nurani adalah kekuatan yang timbul dari hati yang paling dalam. Ia senantiasa memerintahkan seseorang agar melakukan kewajiban dan jangan sampai menyalahinya. Hidup ini adalah perjuangan dan pertempuran untuk menjadi yang terbaik. Mereka yang terbik adalah mereka yang mampu jujur terhadap hati nuraninya setiap saat dan menahan nafsu agar tidak mendominasi dirinya. Namun, tidak dapat di pungkiri pula terkadang hati juga tidak mampu bertahan dalam keadaan stabil, oleh karena itu dibutuhkan vitamin dan suplemen yang mampu menjaga hati agar selalu stabil sehingga dengan mudah mampu melaksakan kebaikan serta mampu menahan nafsu yang akan merugikan.

Cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan suplemen adalah: pertama, memperbanyak istighfar. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menetapi istighfar, maka Dia akan memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak diperhitungkannya. (H.R. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad). Sadarkah kita bahwa memperbanyak istighfar sangatlah bermanfaat. Dengan istighfar akan menyadarkan kita akan banyaknya kesalahan yang telah diperbuat, sehingga akan membuat hati kita merendah di hadapan Allah swt. Hal ini tentu akan mengurangi keinginan untuk melakukan hal yang dilarang.

Kedua, yaitu dengan memperbanyak dzikir, baik dengan shalat, membaca kalimat-kalimat thayyibah, membaca Alqur’an. Amalan ini akan membuat hati semakin kuat dan akan mampu mendorong manusia pada kebaikan yang lebih banyak serta mempermudah datangnya hidayah Allah swt, dan juga untuk menolak kebatilan. Allah swt berfirman: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang baik (Q.S. al-Mukmin [40]: 96).

Ketiga, memperbanyak membaca Alqur’an dan buku bacaan yang bisa menambah pengetahuan dalam hal-hal yang positif. Dengan banyak membanya maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkan. Sehingga dengan ilmu yang banyak itu, hati tidak akan mudah menerima hasutan atau pengaruh-pengaruh buruk. Hati akan semakin mampu menyeleksi antara mana yang baik dan mana buruk. Dengan ilmu pengetahuan yang baik, hati akan lebih terdorong untuk berkomitmen melakukan hal-hal yang memberi manfaat, serta merasa sedih dan menyesal dikala terjerumus dalam suatu keburukan karena harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt. Allah swt berfirman: Tanyakan kepada mereka: siapa di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu? (QS. al-Qalam [68]: 40); Tiap-tiap diri manusia bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Q.S. al-Muddatsir [74]: 38).

Keempat, banyak bersyukur atas nikmat dariNya. Suplemen ini akan membawa hati selalu dalam keadaan tenang. Ia akan yakin bahwa segala apa yang diberi oleh Allah swt, apapun bentuk dan kondisinya, adalah yang terbaik. Ia tidak akan mencari sesuatu yang berlebihan, yang akan mendatangkan mudarat, karena hal itu akan membawa kesombongan maupun kelalaian terhadap kewajiban. Segala nikmat dan kebaikan seyogyanya disyukuri agar terasa nikmat dalam hidup ini. Allah berfirman: Dan ingatlah juga, tatkala Tuhan mu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih. (Q.S. Ibrahim [14]: 7). Orang yang selalu bersyukur, merekalah yang mampu mengambil hikmah dari segala sesuatu yang diberikan kepadanya.

Selain keempat hal di atas, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang bisa dijadikan sebagai suplemen hati agar hati senantiasa mampu melawan nafsu. Segala perbuatan yang baik dan bermanfaat adalah termasuk di dalamnya.

Imam al-Ghazali dalam beberapa pendapatnya selalu menganjurkan seseorang untuk terus-menerus melakukan perbuatan yang terpuji dan menghindari perbuatan dosa. Misalnya harus membiasakan diri untuk menerima makanan sesuai dengan keperluan tubuhnya dengan tidak berlebih-lebihan. Penekanan pada pentingnya sikap hati untuk menuju kebaikan tidak selamanya ditentukan dengan sikap bersujud ke bumi, melainkan adalah sikap merendahkan diri yang terletak di dalam hati. Hendaklah kita selalu murah hati, sebab dada yang murah hati akan lega dan lapang. Sedangkan orang yang bakhil dadanya akan sempit, berhati gelap, dan perasaannya berat.

Hati yang hidup adalah hati yang selalu menolak segala kebatilan, serta selalu meluangkan waktunya untuk bersendirian, yang di dalamnya ia merenungkan segala hal yang telah dan akan diperbuatnya, banyak mengoreksi diri, bertafakkur tentang akhirat, dan berusaha agar tidak terlena terhadap kesenangan duniawi. Ia menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanamkan benih kebaikan, yang bisa di panen di akihirat dengan hasil baik yang memberikan kebahagiaan abadi. Hati yang baik akan mendapatkan kebaikan pula, serta mampu melupakan perkara yang tidak ada jalan lagi untuk memperbaikinya. Ia akan selalu mengingat kebaikan orang lain dan melupakan kejahatan mereka, yang akan menjadi beban.

Bila keadaan hati dan jiwa itu indah dan lapang, ia akan melihat kubangan sebagai kolam, malam sebagai hari raya, orang-orang sebagai kekasih, dan gubuk sebagai istana yang megah. Sedangkan hati yang sakit dan buruk, ia akan melihat kolam yang jernih sebagai comberan, hari yang cerah terlihat mendung, semua orang sebagai lawan dan musuh. Merekalah orang-orang yang paling sengsara, ingin menjadi seseorang selain dirinya sendiri, yang benci kepada takdir, mengeluhkan yang memberinya rezki, dan sempit akhlaknya. Allah swt berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Q.S. al-A’raf [7]: 96). Hati yang baik selalu ikhlas dalam melakukan sesuatu, semuanya dilakukannya karena Allah semata. Jika muncul orang yang bersemangat membela kaum tertindas dengan kata-katanya, padahal hidupnya jauh dari kasih sayang golongan itu, maka ucapannya hanya riya’. Begitu pula dengan orang yang sibuk berdebat dengan dalil, sedangkan hidupnya jauh dari dalil itu, maka termasuk berdebat tanpa kesadaran berbuat, dan semua itu patut dipertanyakan kondisi hatinya.

Hati nurani juga mempunyai empat tingkatan yaitu: pertama, perasaan melakukan kewajiban karena ibadah kepada Allah swt. Kedua, perasaan mengharuskan mengikuti apa yang telah diperintahkan. Ketiga, perasaan yang seharusnya mengikuti apa yang dipandang dirinya (secara fitrah) benar. Keempat, perasaan melakukan kewajiban karena takut kepada Allah swt bukan pada manusia atau lainnya. Bagaimanakah kondisi hati Anda?

Wallahu a’lam.

Trimulato, Mahasiswa Ekonomi Islam ’07, FIAI – UII Yogyakarta

Artikel ini dipublikasikan di Al-Rasikh Lembar Jumat Masjid Ulil Albab terbitan terbitan Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Edisi 25 Juli 2008. Artikel ini dapat diakses dari http://alrasikh.uii.ac.id/2008/07/24/suplemen-hati/.

Unduh Artikel