Jejak Pengabdian, Saatnya Mahasiswa Berdakwah ke Pedesaan?
Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi kota, ribuan desa di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Indonesia masih terisolasi dalam kegelapan informasi tahun 2025. Tanpa akses internet dan listrik yang stabil, masyarakat desa seringkali tertinggal dalam pemahaman agama yang moderat dan kontekstual. Kesenjangan ini menciptakan ruang bagi masuknya pemahaman yang keliru atau pengabaian nilai-nilai spiritual akibat fokus hanya pada bertahan hidup.
Mahasiswa harus hadir sebagai penyambung lidah kebenaran. Di sana, dakwah online tidak berlaku, yang dibutuhkan adalah ketulusan raga untuk datang, menetap, dan mengajarkan alif-ba-ta. Menolong mereka dari ketertinggalan informasi bukan sekadar bakti sosial, melainkan upaya menyelamatkan akidah generasi bangsa di pelosok negeri.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ayat ini merupakan seruan bagi kaum intelektual untuk tidak hanya menumpuk ilmu di menara gading universitas, tetapi juga turun ke masyarakat (kaumnya) untuk memberikan pencerahan. Bagi mahasiswa Muslim, pedesaan adalah medan pengabdian yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah dan edukasi.
Memecah Kesenjangan Literasi Agama
Di kota-kota besar, akses terhadap kajian keislaman sangat melimpah, mulai dari masjid-masjid besar hingga kajian media sosial yang mudah diakses. Namun, kondisi di pedesaan seringkali berbeda. Keterbatasan akses informasi, kurangnya tenaga pendidik agama, serta kuatnya pengaruh tradisi yang terkadang bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat, membuat dakwah di pedesaan menjadi sangat krusial.
Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi mitra dialog. Dengan bekal metode berpikir sistematis yang dipelajari di kampus, mahasiswa dapat membantu menjelaskan ajaran Islam secara logis dan relevan bagi kehidupan warga desa. Dakwah ke desa adalah upaya memastikan bahwa cahaya hidayah merata hingga ke pelosok negeri, bukan hanya berputar di pusat kota.
Mengintegrasikan Dakwah dan Pemberdayaan
Satu hal yang menjadi keunggulan mahasiswa saat berdakwah ke pedesaan adalah kemampuan integrasi ilmu. Dakwah mahasiswa tidak harus selalu berbentuk ceramah di atas podium. Dakwah bisa dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, edukasi kesehatan sesuai sunnah, hingga bimbingan belajar bagi anak-anak desa.
Ketika mahasiswa membantu petani meningkatkan hasil panennya dengan cara-cara yang jujur, atau mengajarkan pemuda desa cara berwirausaha tanpa riba, mereka sedang menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Remaja di pedesaan membutuhkan figur teladan—kakak tingkat yang taat beragama namun juga cerdas secara akademik. Kehadiran mahasiswa di desa memberikan harapan dan motivasi bagi anak-anak desa untuk bermimpi lebih tinggi tanpa meninggalkan akar agama mereka.
Melatih Keikhlasan dan Kepekaan Sosial
Bagi mahasiswa itu sendiri, terjun ke pedesaan adalah sekolah kehidupan. Di sana, ego intelektual diuji. Mahasiswa belajar bagaimana cara menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang sederhana dan santun agar dapat diterima oleh orang tua dan masyarakat setempat. Pengalaman ini akan menumbuhkan rasa empati dan syukur yang mendalam.
Dakwah di desa mengajarkan bahwa ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa yang peduli pada pedesaan adalah mereka yang menyadari bahwa gelar sarjananya kelak adalah titipan Allah untuk menolong hamba-hamba-Nya yang membutuhkan.
Turun ke desa bukan sekadar menjalankan program KKN atau formalitas perkuliahan. Ini adalah misi nubuwah untuk menjaga iman umat di akar rumput. Mari jadikan masa muda kita sebagai masa di mana jejak kaki kita pernah singgah di jalan-jalan tanah pedesaan, membawa lentera ilmu, dan meninggalkan kenangan indah berupa perubahan akhlak yang nyata.
Ditulis oleh mahasiswa
Muhammad Sirrul Asror 22421075



