IHSG Anjlok, Apa Perlu Kita Cemas??

“Pangan paling utama, harga saham boleh naik turun. Pangan aman, negara aman.” Begitulah ujar Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dalam sidang kabinet di Istana Jakarta, Jumat (21/3/2025). Pernyataan ini terdengar menenangkan, seakan-akan fluktuasi harga saham hanya menjadi urusan investor dan pebisnis besar.

Namun, apakah benar demikian? Kenyataannya, gejolak pasar saham memiliki efek domino yang jauh lebih kompleks, termasuk pada sektor pangan yang disebut-sebut sebagai prioritas utama. Misalnya, ketika IHSG anjlok, dampaknya bisa terasa hingga ke harga bahan pokok yang kita konsumsi setiap hari. Jadi, benarkah kita tidak perlu cemas?

Mengapa IHSG Berarti bagi Sektor Riil?

IHSG yang anjlok bukan hanya urusan investor. Sebaliknya, Efek domino dari kejatuhan indeks ini bisa kita rasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, IHSG merupakan indikator yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi suatu negara. Ketika indeks ini naik, itu menandakan optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, ketika IHSG turun drastis, ada kemungkinan ekonomi sedang dalam kondisi tidak stabil.

Dampak IHSG terhadap sektor riil meliputi:

  1. Harga Barang Naik

    Saat IHSG turun drastis, investor asing sering menarik modalnya dari Indonesia, menyebabkan rupiah melemah. Akibatnya, barang impor seperti bahan pangan, elektronik, hingga bahan bakar yang menjadi lebih mahal. Sehingga, ketika harga BBM naik, ongkos distribusi juga ikut naik, dan akhirnya harga kebutuhan pokok melonjak. Dengan demikian, daya beli masyarakat pun melemah, dan perputaran ekonomi pun melambat.

  2. Lapangan Pekerjaan Terancam 

    Anjloknya IHSG sering kali menandakan bahwa banyak perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Akibatnya, mereka bisa menunda perekrutan, memangkas bonus, bahkan melakukan PHK. Lebih dari itu, jika kamu bukan karyawan tapi seorang pengusaha kecil, pelangganmu mungkin berkurang karena masyarakat mulai mengurangi pengeluaran akibat ketidakpastian ekonomi. Dengan kata lain, sektor informal bisa terkena dampaknya, seperti pedagang kecil yang omzetnya menurun karena harga bahan pokok naik.

  3. Tabungan dan Dana Pensiun Ikut Terguncang

    Kamu mungkin berpikir, “Aku kan nggak main saham, jadi nggak terpengaruh dong?” Salah besar!. Banyak bank, asuransi, dan dana pensiun berinvestasi di pasar modal. Ketika IHSG turun, nilai aset mereka ikut menyusut. Ini bisa berarti keuntungan tabungan jangka panjang ikut berkurang, nilai reksa dana turun, dan uang pensiun yang diharapkan mungkin tidak sebesar yang diperkirakan.

  4. Ekonomi Melambat, Peluang Mengecil 

    Saat pasar saham lesu, investor akan lebih berhati-hati dalam menanamkan modal. Proyek proyek besar bisa tertunda, usaha rintisan kesulitan mendapatkan pendanaan, dan inovasi terhambat. Pada akhirnya, peluang kerja semakin terbatas dan pertumbuhan ekonomi melambat. Jadi, jelas bahwa fluktuasi IHSG bukan sekadar urusan para investor kaya, melainkan juga berdampak pada kehidupan kita sehari-hari, mulai dari harga pangan, pekerjaan, tabungan, hingga peluang ekonomi ke depan.

Haruskah Kita Khawatir?

Penurunan IHSG memang perlu dicermati, tetapi pertanyaan yang penting adalah “apakah ini disebabkan oleh faktor internal atau eksternal?”

1.Faktor Internal

• Fundamental ekonomi yang lemah, jika perekonomian domestik mengalami perlambatan, misalnya karena defisit perdagangan atau kebijakan fiskal yang kurang efektif, maka IHSG bisa mengalami tekanan lebih besar.
• Ketidakpastian kebijakan pemerintah, investor sangat memperhatikan kebijakan moneter dan fiskal pemerintah. Jika kebijakan yang diambil tidak memberikan kepastian bagi pasar, maka risiko capital outflow (keluarnya modal asing) meningkat.
• Krisis sektor tertentu, sektor keuangan atau properti yang melemah dapat memicu efek domino ke sektor lainnya. Misalnya, jika banyak perusahaan mengalami gagal bayar, kepercayaan investor bisa merosot.

2. Faktor Eksternal

• Gejolak ekonomi global, perang dagang, kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed), atau resesi global bisa berdampak pada pasar saham Indonesia. Investor asing cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang saat terjadi ketidakpastian global.
• Fluktuasi harga komoditas, Indonesia sebagai negara berbasis ekspor sangat bergantung pada harga komoditas seperti minyak, batu bara, dan kelapa sawit. Jika harga komoditas turun drastis, pendapatan negara dan perusahaan berbasis ekspor ikut terpukul.
• Perubahan tren investasi global, Saat investor global mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman seperti emas atau obligasi negara maju, pasar saham negara berkembang bisa terdampak negatif.

Secara umum, penurunan IHSG yang dipengaruhi faktor eksternal, dampaknya cenderung lebih bersifat sementara. Sevalikya, jika penyebabnya adalah faktor internal, maka hal ini bisa menjadi indikasi bahwa ada masalah mendasar yang perlu segera diselesaikan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui penurunan IHSG di Indonesia saat ini disebabkan oleh faktor Internal. Oleh karena itu, Jika tidak ingin Indonesia cemas dipercepat tahun ini, pemerintah perlu memikirkan cara mengatasinya.

Saat ini, tantangan utama bukan hanya menjaga stabilitas IHSG, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan benar-benar melindungi kesejahteraan masyarakat luas. Sebab, jika ekonomi riil terganggu, maka dampaknya akan jauh lebih besar dibanding sekadar angka yang turun di pasar saham. Namun apakah mereka benar benar sadar? Kalaupun sadar, apakah pemerintah akan mengaku salah kemudian bertaubat melalui tindakan yang konkret ??

Bagaimana menurutmu Sob ? Apakah kita masih bisa merasa tenang? Atau sudah saatnya menuntut kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat?

Temukan wawasan dan Informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis
Jadilah bagian dari Program Studi Ekonomi Islam dengan mendaftar di pmb.uii.ac.id

Korupsi di Indonesia, Kebiasaan atau Penyakit yang Bisa Disembuhkan?

Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya, korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar praktik ilegal yang tersembunyi, tetapi sudah menjelma menjadi penyakit kronis yang menggerogoti fondasi ekonomi. Bahkan, istilah “Liga Korupsi Indonesia” semakin mempertegas bahwa korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan, melainkan sistem yang terus berulang dengan pola dan “aturan mainnya” sendiri.

Kasus-kasus korupsi di perusahaan BUMN terus bergulir. Salah satu yang paling mencolok baru-baru ini adalah skandal di Pertamina, di mana kebocoran anggaran mencapai triliunan rupiah. Bukan hanya merugikan negara, dampaknya langsung terasa oleh masyarakat dalam bentuk harga kebutuhan yang semakin tinggi akibat inefisiensi. Korupsi di BUMN bukan sekadar perbuatan individu, melainkan sistemik, penggelembungan harga proyek, suap dalam tender, hingga manipulasi laporan keuangan. Hasilnya? Investor asing ragu menanamkan modal, pembangunan nasional tersendat, dan rakyat yang harus menanggung akibatnya. Tidak heran jika anak muda semakin frustrasi, hingga muncul fenomena baru: #KaburAjaDulu sebagai bentuk respons terhadap sistem yang dirasa semakin buruk.

Lari dari Masalah atau Strategi untuk Masa Depan?

Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, tetapi cerminan dari kekecewaan anak muda terhadap kondisi ekonomi dan politik yang stagnan. Banyak yang merasa bahwa bekerja dengan jujur di Indonesia hanya akan membawa kesulitan dan keterbatasan. Namun, apakah mereka benar-benar menyerah? Tidak semua yang memilih pergi berarti lari dari masalah. Ada juga yang menjadikannya sebagai strategi: menimba ilmu, memperluas jaringan, dan mencari peluang di luar negeri dengan harapan bisa kembali membawa perubahan.

Di sisi lain, upaya untuk memperbaiki sistem dari dalam tetap harus berjalan. Jika ekonomi Islam diterapkan secara luas, bukan tidak mungkin korupsi bisa ditekan dan kepercayaan terhadap sistem pun kembali tumbuh. Islam menekankan nilai-nilai kejujuran (ash-shidq), amanah, dan keadilan (al-adl) dalam setiap aspek ekonomi. Bukan hanya soal menghindari suap, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang sehat dan berorientasi pada maslahat.

Dosen Program Studi Ekonomi Islam UII, Bapak Sofwan Hadikusuma, Lc, M.E, berpendapat bahwa pencegahan korupsi bisa dilakukan dengan dua sistem pengawasan: eksternal dan internal. Pengawasan eksternal dilakukan melalui penegakan regulasi anti korupsi, sementara pengawasan internal dibangun dengan kesadaran diri bahwa perilaku korupsi merupakan hal terlarang yang bisa merugikan banyak pihak.

Sebagai sebuah sistem, ekonomi Islam memiliki aturan ilahi yang melarang perbuatan koruptif. Penegakan aturan anti korupsi dalam sistem ekonomi Islam sesungguhnya bisa menjadi solusi dalam mencegah dan memberantas korupsi. Dengan adanya aturan, seseorang akan dibatasi gerak-geriknya agar tidak bisa melakukan korupsi. Di sisi lain, seseorang yang sadar dan bisa menahan diri akan mendapat reward dari Allah SWT sebagai imbalan atas penghambaan (ibadah) kepada-Nya, yaitu dalam hal meninggalkan larangan korupsi.

Solusi konkret seperti audit syariah, transparansi keuangan berbasis syariah, dan penerapan zakat perusahaan bisa menjadi langkah awal menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih bersih dan terpercaya. Sistem ini bukan sekadar teori, tetapi bisa menjadi alternatif nyata dalam membangun ekonomi yang lebih adil.

Indonesia tidak bisa terus-menerus terjebak dalam lingkaran korupsi. Saatnya membangun sistem yang lebih transparan dan berintegritas. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Karena kejujuran bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban.

Gimana menurutmu Sob ?
Temukan wawasan dan Informasi menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

Jadilah bagian dari Program Studi Ekonomi Islam dengan mendaftar di pmb.uii.ac.id

Bahaya di Balik Promo Ramadhan, Hati-hati Riba & Gharar !!

Bulan Ramadhan datang, promo besar-besaran pun bermunculan!. Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah, selalu membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi umat Muslim di seluruh dunia. Selama bulan ini, pola konsumsi masyarakat mengalami pergeseran yang signifikan. Banyak orang mulai berbelanja lebih banyak, bukan hanya untuk kebutuhan ibadah dan persiapan hari raya, tetapi juga karena tergiur oleh berbagai promo dan diskon spesial yang bertebaran di mana-mana, mulai dari diskon yang besar, cashback menggiurkan, sampai cicilan tanpa bunga. Tapi, pernah nggak sih kamu pikirkan, apakah semua promo ini benar-benar menguntungkan? Atau jangan-jangan, malah bikin kita terjebak dalam transaksi yang bertentangan dengan prinsip ekonomi Islam?

Promo Ramadhan, Antara Hemat dan Perangkap Keuangan

Bukan rahasia lagi kalau Ramadhan adalah “surga” bagi para pemburu diskon. Banyak orang merasa ini momen terbaik buat belanja, tapi sayangnya, nggak semua promo itu benar-benar menguntungkan. Bahkan, banyak di antaranya yang justru bikin kita konsumtif, boros, dan tanpa sadar jatuh ke dalam praktik yang menyesatkan.

Jenis Promo yang Bisa Jadi Jebakan?
Berikut beberapa promo yang wajib diwaspadai:

PayLater dengan bunga tersembunyi
Kelihatannya memudahkan, tapi kalau ada bunga atau biaya tambahan, ini bisa masuk kategori riba.
• Cicilan 0% tapi ada biaya admin
Harga diiklankan murah, tapi ada biaya tambahan yang bikin total pembayaran lebih mahal.
• Flash Sale manipulatif yang bikin panik beli
Harga dinaikkan dulu sebelum diberikan “diskon besar” biar kelihatan lebih murah dari aslinya.
• Cashback & poin reward jebakan
Beli lebih banyak hanya demi cashback, padahal barangnya nggak benar-benar dibutuhkan.

Selain faktor promonya sendiri, ada juga aspek psikologis yang bikin kita lebih konsumtif “Misleading Promo & Perilaku Konsumtif” Kok Bisa?. Disini, bukan cuma soal halal haram, misleading promo juga bisa memicu perilaku konsumtif yang berbahaya seperti:

• Impulsive Buying
Belanja dadakan gara-gara takut ketinggalan promo, bukan karena benar benar membutuhkan.
• Compulsive Buying
Belanja terus-menerus untuk kepuasan sesaat.
• Dopamin Rush
Senang ketika belanja, namun menyesal selanjutnya.
• Hutang menumpuk
Pakai PayLater terus-menerus tanpa sadar makin besar tanggungannya.

Padahal, Islam mengajarkan kita untuk bijak dalam mengelola harta terutama dibulan Ramadhan. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’: 27: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”

Solusi Cara Belanja yang Halal & Berkah
Agar tetap aman tidak terjebak promo menyesatkan, berikut tips yang bisa kamu gunakan:

1. Pilih promo yang bebas riba & gharar
Pastikan promo transparan dan tidak ada biaya tersembunyi.
2. Gunakan diskon langsung tanpa syarat
Jangan tertipu dengan promo mengharuskan PayLater atau cicilan yang tidak jelas.
3. Jika ingin cicilan, pilih akad murabahah!
Untuk memastikan harga dan keuntungannya sudah jelas sejak awal.
4. Belanja sesuai kebutuhan dan kendalikan keinginan
Buat daftar belanja sebelum checkout, dompet aman, berkah pun tetap dapat.

Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan ibadah sekaligus mengelola keuangan secara lebih cermat. Jangan sampai berbagai promo yang tampak menguntungkan justru berujung pada pengeluaran berlebihan dan menghilangkan keberkahan.

Gimana menurutmu Sob? Bukankah belanja cerdas adalah bagian dari ibadah ?

Temukan wawasan dan informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis
Jadilah bagian dari kami dengan mendaftar di Program Studi Ekonomi Islam UII !

Cina Kuasai Pasar Halal Global? Apa Peran Penduduk Muslim Indonesia?

Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, ironisnya industri halal global justru didominasi oleh negara-negara non-Muslim, salah satunya Cina. Berdasarkan data The State of the Global Islamic Economy 2023/24 Report tahun 2022, Cina menempati posisi kesembilan sebagai eksportir makanan halal terbesar ke negara-negara OKI, dengan nilai ekspor mencapai USD 10,4 miliar. Sementara itu, Indonesia, meskipun menjadi pasar halal terbesar, masih lebih banyak mengimpor daripada mengekspor produk halal.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar “Mengapa negara dengan mayoritas Muslim justru tidak menjadi pemain utama dalam industri halal?”

Strategi Cina dalam Menguasai Pasar Halal

Cina tidak bermain-main dalam bisnis halal. Mereka telah menempuh berbagai strategi untuk memperkuat posisinya di pasar halal global, diantaranya:

1. Ekspansi Melalui Belt and Road Initiative (BRI)
Cina menggunakan proyek BRI untuk memperluas jangkauan perdagangan produk halal mereka ke negara-negara Muslim di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
2. Investasi Besar di Industri Halal
Cina telah membangun pusat produksi halal di berbagai negara Muslim, termasuk pabrik makanan halal, farmasi, dan kosmetik.
3. Sertifikasi Halal yang Kompetitif
Dengan bekerja sama dengan berbagai lembaga sertifikasi halal internasional, Cina memastikan produk mereka bisa diterima di berbagai negara Muslim.

Indonesia yang Tertinggal

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, seharusnya Indonesia menjadi pemimpin dalam industri halal, terlebih dengan keunggulan Indonesia adalah kombinasi antara kekayaan alam, iklim tropis, dan posisi strategis yang menjadikan Indoneisa mendukung potensi produksi sepanjang tahun. Namun, beberapa faktor berikut membuat Indonesia masih tertinggal:

1. Regulasi dan Sertifikasi yang Rumit
Tidak adanya standar sertifikasi halal yang seragam membuat proses ekspor menjadi lebih sulit dibandingkan negara lain.
2. Kurangnya Inovasi dan Daya Saing
Banyak UMKM halal di Indonesia masih berskala kecil, kalah saing dan kurang memiliki akses ke pasar internasional.
3. Minimnya Kesadaran Ekonomi Syariah
Banyak masyarakat Muslim yang hanya berfokus pada mengonsumsi produk halal, tanpa berpikir untuk menjadi produsen.

Untuk membalikkan keadaan, umat Muslim di Indonesia harus mulai mengambil langkah nyata:

1. Membangun Kesadaran Ekonomi Syariah
Umat Islam harus mulai berpikir bahwa halal bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal produksi dan distribusi.
2. Mendorong UMKM Halal Go Global
Pemerintah dan masyarakat harus mendukung UMKM halal untuk naik kelas dan bisa bersaing di pasar internasional.
3. Membentuk Ekosistem Industri Halal yang Mandiri
Indonesia harus bisa mandiri dalam produksi bahan baku halal, bukan hanya mengimpor dari negara lain.
4. Mempermudah Regulasi dan Sertifikasi
Pemerintah perlu menyederhanakan sistem sertifikasi halal agar lebih kompetitif di pasar global.

Saatnya Bangkit!

Cina telah berhasil menguasai pasar halal global dengan strategi bisnis yang matang. Indonesia, dengan jumlah Muslim terbesar, seharusnya bisa lebih aware dari sekadar menjadi pasar “Akankah kita terus menjadi penonton, atau mulai mengambil peran nyata dalam ekonomi halal global?”. Sebagai generasi Ekonomi Islam, kita memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam industri halal ini. Dengan semangat inovasi, keberanian berwirausaha, dan pemahaman yang mendalam tentang ekonomi syariah, kita bisa menjadi pelaku utama dalam ekonomi halal global. Jangan hanya menjadi penonton!

Mulailah berkontribusi dan jadilah bagian dari perubahan!
Gabung bersama kami di Program Studi Ekonomi Islam UII

Temukan informasi menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

eFishery Canggih! Tapi Halal Gak Sih?

Dalam beberapa tahun terakhir, eFishery menjadi perbincangan hangat di dunia perikanan Indonesia. Startup yang didirikan pada tahun 2013 ini hadir dengan berbagai inovasi teknologi untuk membantu petambak ikan dan udang meningkatkan efisiensi usaha mereka.

Namun, sobat tahu gak sih? Saat ini, selain efishery tengah menghadapi sejumlah isu serius yang mencakup dugaan penggelapan dana, manipulasi laporan keuangan, keterlambatan pembayaran untuk penjual dan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan, terlepas dari hal itu, Apakah transaksi efishery memenuhi prinsip ekonomi Islam? Yuk kita Simak !

Keunggulan eFishery dalam Industri Perikanan

Pada umumnya efishery diyakini mempunyai beberapa keunggulan seperti :

1. Efisiensi Pakan dengan Teknologi Otomatis
Efishery menggunakan alat pemberi pakan otomatis yang bisa diatur sesuai kebutuhan ikan atau udang. Teknologi ini membantu petambak mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan.

2. Memotong Rantai Distribusi
eFishery memberikan layanan pemasaran digital yang memungkinkan petambak menjual hasil panen langsung ke pembeli besar seperti restoran dan supermarket. Hal ini membantu petambak mendapatkan harga lebih baik dibandingkan jika mereka harus bergantung pada perantara tradisional.

3. Akses Pembiayaan yang Lebih Mudah
Efishery menyediakan akses pembiayaan bagi petambak yang kesulitan mendapatkan
pinjaman dari bank. Pendanaan ini membantu mereka mengembangkan usaha tanpa
harus menghadapi proses birokrasi yang rumit. Namun, apakah system ini sesuai dengan prinsip Islam ?

Sistem Pembiayaan pada eFishery

Salah satu layanan utama eFishery adalah eFisheryFund, yang memberikan pendanaan kepada petambak dengan skema “Kasih Bayar Nanti (Kabayan)” atau pay later. Sistem PayLater dalam Islam bisa dikategorikan haram jika mengandung riba atau unsur yang dilarang syariah lainnya. Sedangkan dalam Islam, sistem pembiayaan harus memenuhi prinsip keadilan dan bebas dari unsur riba. Oleh karena itu, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan:

1. Adanya Riba (Bunga) → Haram

Sebagian besar layanan PayLater membebankan bunga atau biaya tambahan jika pembayaran tidak dilakukan tepat waktu. Dalam Islam, riba (tambahan atas utang) hukumnya haram, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Jika PayLater menerapkan sistem bunga, maka masuk dalam kategori riba nasi’ah, yaitu penambahan jumlah utang karena waktu pembayaran diperpanjang.

2. Jika Ada Denda Keterlambatan → Haram

Sebagian besar layanan PayLater menetapkan denda jika pembayaran melewati batas waktu. Dalam Islam, denda yang bersifat tambahan atas utang termasuk riba dan tidak diperbolehkan.

3. Jika Hanya Biaya Administrasi Tetap → Bisa Halal

Jika sistem PayLater hanya menetapkan biaya administrasi tetap (flat fee) yang tidak berubah meskipun terjadi keterlambatan, maka masih ada peluang untuk dianggap halal, selama tidak mengandung unsur riba, gharar (ketidakjelasan), dan dharar (merugikan).

eFishery sendiri sudah bekerja sama dengan beberapa lembaga keuangan syariah, seperti Alami Sharia dan BRI Syariah. Dengan adanya kerja sama ini, eFisheryFund menyediakan opsi pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah bagi para pembudidaya. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua layanan eFisheryFund secara otomatis memenuhi kriteria syariah. Oleh karena itu, disarankan bagi pembudidaya yang menginginkan pembiayaan syariah untuk:

1. Memeriksa detail skema pembiayaan
Pastikan bahwa skema yang ditawarkan menggunakan akad yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti murabahah.

2. Berkonsultasi dengan lembaga keuangan syariah terkait
Untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai kesesuaian produk dengan
prinsip syariah.

Bagaimana menurutmu Sobat? Apakah eFishery memenuhi prinsip Syariah? Atau malah sebaliknya? Yuk, diskusikan dengan Dosenmu !

Temukan wawasan dan informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis
Jadilah bagian dari kami dengan mendaftar di Program Studi Ekonomi Islam UII !

No Buy Challenge 2025, Warga Ekonomi Islam Pasti Bisa !!

Baru-baru ini, Bank Dunia melalui Global Economic Prospect Januari 2025 melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui rata-rata global. Meskipun ini merupakan kabar positif, pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa pengelolaan yang bijak dapat menimbulkan risiko, seperti inflasi dan perilaku konsumtif yang berlebihan. No Buy Challenge adalah gerakan yang supportif untuk menjaga keseimbangan ekonomi agar tetap stabil dan terus membaik.

Apa itu No Buy Challenge ?

No Buy Challenge adalah gerakan yang mengajak individu untuk tidak membeli barang-barang non-esensial dalam periode tertentu. Pada tahun 2025 ini, masyarakat berencana untuk mengurangi konsumsi berlebihan, meningkatkan kesadaran finansial, dan mendukung keberlanjutan lingkungan, seperti dengan mengurangi pembelian pakaian, parfum atau kopi harian sepanjang 2025. Meski terlihat sederhana, gerakan ini memberikan dampak yang signifikan.

Dapat diakui bahwa masyarakat sering kali membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang meningkat, konsumsi masyarakat juga berpeluang meningkat drastis, yang dapat memicu pola hidup boros dan berujung pada inflasi. Oleh karena itu, tren seperti No Buy Challenge dapat menjadi salah satu Gerakan yang mengarahkan masyarakat pada gaya hidup yang lebih bijak, sekaligus mendukung konsumsi berkelanjutan.

Sebagaimana dalam Islam, Komsumsi bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga cara mendekatkan diri kepasa Allah, kita diajarkan untuk hidup sederhana dan menghindari perilaku boros (israf). Sehingga gerakan ini sejalan dengan prinsip tersebut yang mendorong kita untuk :

  • menggunakan harta secara bijak dan tidak berlebihan,
  • memprioritaskan pengeluaran untuk hal-hal yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan,
  • mengurangi jejak karbon dengan menekan konsumsi barang yang tidak perlu.

Sebagai mahasiswa Ekonomi Islam, tantangan ini bukan hal baru. Prinsip hidup sederhana dan hemat sudah tertanam dalam ajaran Islam. Bahkan, Q.S. Al-Isra ayat 27 dengan jelas melarang kita hidup boros, karena “pemboros adalah saudara setan.”

Tips Mengikuti No Buy Challenge dengan Prinsip Syariah

1. Buat Rencana Belanja
Bedakan antara kebutuhan pokok dan barang yang sifatnya hanya keinginan, gunakan metode prioritas syariah untuk membedakan antara kebutuhan (hajat) dan keinginan (raghbah). Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

2. Prioritaskan Keberkahan
Alokasikan dana lebih untuk tabungan, investasi halal, atau sedekah.

3. Awali dengan Target Realistis
Mulai dengan tantangan 7 hari, lalu tingkatkan durasinya secara bertahap.

4. Buat Anggaran
Tetapkan batas pengeluaran dan patuhi anggaran tersebut.

5. Catat Pengeluaran
Gunakan aplikasi keuangan sederhana untuk memantau perkembangan dan evaluasi pengeluaran.

Menghindari Revenge Spending

Setelah periode No Buy Challenge berakhir, ada banyak perilaku dengan kecenderungan untuk melakukan “revenge spending” atau belanja berlebihan sebagai kompensasi. Untuk menghindarinya perlu ada rasa istiqomah dengan:

  • Lanjutkan Kebiasaan Baik
    Pertahankan kebiasaan positif yang telah dibangun selama tantangan.
  • Tetapkan Tujuan Finansial
    Miliki tujuan jangka panjang seperti menabung untuk pendidikan atau investasi, sehingga tetap termotivasi untuk mengelola keuangan dengan bijak.

Sadari Konsumsi Berkelanjutan dalam Islam

Islam mendorong umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam konsumsi. Konsumsi berkelanjutan berarti memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini mencakup penggunaan sumber daya secara efisien, tidak membuang buang makanan atau barang, memafaatkan kembali barang yang masih layak (reuse) serta mengurangi komsumsi berlebihan untuk melestarikan lingkungan yang berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat adalah anugerah, namun harus diimbangi dengan kesadaran untuk hidup lebih bijak. No Buy Challenge bukan sekadar tantangan hemat, tetapi juga cara memperbaiki gaya hidup agar lebih sesuai dengan ajaran Islam. Mahasiswa Ekonomi Islam punya potensi besar untuk menjadi pelopor gaya hidup hemat dan bijak di masyarakat.

Ayo, mulai No Buy Challenge-mu sekarang, dan buktikan bahwa warga Ekonomi Islam
pasti bisa!

Mau jadi bagian dari Program Studi Ekonomi Islam?
Daftar sekarang di Pmb.uii.ac.id !
Temukan informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

Generasi Muda, Bikin Keuangan Syariah Lebih Dekat dengan Semua!!

Keuangan Syariah

Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar dunia memiliki ambisi besar untuk menjadi pusat keuangan syariah global. OJK menargetkan pangsa pasar perbankan syariah mencapai 15% dari total aset perbankan pada 2024, memperkuat ekosistem syariah melalui industri halal, zakat, dan wakaf, serta menjadikan Indonesia sebagai hub internasional keuangan syariah.

Namun, Inklusi keuangan syariah di Indonesia masih menghadapi tantangan yang signifikan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, tingkat literasi keuangan syariah hanya mencapai 9,1%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum memahami konsep dasar produk keuangan syariah, seperti akad bagi hasil atau perbedaan antara sistem syariah dan konvensional.

Tantangan ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga bersifat global. Industri keuangan syariah memerlukan terobosan untuk dapat bersaing secara internasional, baik dalam hal inovasi produk maupun adopsi yang lebih luas.

Lebih menarik lagi, generasi muda, terutama kelompok usia 15–25 tahun ini memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak perubahan. Namun, lagi lagi survei menunjukkan bahwa kelompok ini cenderung kurang peduli terhadap literasi keuangan, bahkan sering terjebak dalam jebakan keuangan (financial trap), seperti maraknya penggunaan pinjaman online tanpa perencanaan yang matang.

Lalu, bagaimana kondisi ini bisa diubah? Dan apa peran generasi muda untuk meningkatkan literasi sekaligus inklusi keuangan syariah di masa depan?. Berikut Rizka Septia Prabu, Student Ambassador Duta Literasi Ekonomi Syariah, Mahasiswa Ekonomi Islam Angkatan 2022 membagikan pandangannya.

Penyebab Rendahnya Inklusi Keuangan Syariah 

Pertama, Rizka menyebutkan ada beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya inklusi keuangan syariah di Indonesia:

  1. Rendahnya Literasi Keuangan Syariah Banyak masyarakat yang belum memahami produk keuangan syariah dan prinsip dasarnya. “Sebagian besar masyarakat bahkan tidak tahu apa itu bagi hasil atau bagaimana konsep akad dalam syariah berbeda dari konvensional,” ujar Rizka. 
  2. Akses yang Terbatas Rizka juga menyoroti bahwa layanan keuangan syariah lebih sulit diakses di daerah daerah terpencil, terutama di luar Pulau Jawa.

    “Masyarakat di daerah terpencil sering kali harus menempuh jarak yang jauh untuk menemukan bank syariah,” tambahnya.

  3. Kompleksitas Produk Menurut Rizka, banyak masyarakat merasa produk keuangan syariah lebih rumit dibandingkan produk konvensional. Ada kesan bahwa untuk memahami dan menggunakan produk syariah, butuh pengetahuan tambahan yang membuat orang jadi ragu.
  4. Implementasi Regulasi yang Belum Merata Meski regulasi dari pemerintah dan OJK sudah ada, implementasinya belum optimal di beberapa wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi lembaga keuangan syariah untuk berkembang lebih luas.

Strategi Student Ambassador untuk Meningkatkan Literasi Keuangan

Sebagai student ambassador, Rizka dan timnya aktif melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung bentuk usaha generasi muda dalam peningkatan literasi keuangan syariah, diantara:

  1. Edukasi Melalui Seminar dan Workshop  “Kami sering mengadakan seminar dan workshop untuk masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar sekolah. Tujuannya adalah untuk mengenalkan keuangan syariah secara sederhana dan menarik,” Ungkap Rizka.
  2. Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan Syariah Rizka dan tim juga bekerja sama dengan bank syariah untuk menyebarluaskan informasi tentang produk-produk mereka. “Dengan kolaborasi ini, masyarakat bisa lebih mudah memahami manfaat produk syariah,” ujarnya.
  3. Simplifikasi Produk Syariah Rizka menjelaskan bahwa timnya berupaya menjelaskan produk syariah dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat.

    “Kami menggunakan pendekatan cerita dan contoh kasus agar lebih membumi,” tambahnya.

Saatnya Pergerakan dari Semua

Hasil Survei Nasional SNLIK dalam konferensi pers OJK 2024 membuktikan rendahnya inklusi keuangan syariah di Indonesia tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang besar bagi generasi muda untuk berkontribusi. Melalui edukasi, kolaborasi, dan inovasi, mahasiswa seperti Rizka Septia Prabu membuktikan bahwa mereka bisa menjadi agen perubahan yang nyata. “Keuangan syariah bukan hanya tentang agama, tetapi juga tentang menciptakan sistem yang adil dan inklusif untuk semua,”.

Ingin belajar lebih dalam ? Daftar Sekarang di Program Studi Ekonomi Islam
Pendaftaran telah dibuka kunjungi pmb.uii.ac.id dan fis.uii.ac.id/ekis untuk informasi serta artikel lainnya.

Investasi Ilmu Masa Depan, Panduan UAS ala Mahasiswa Ekonomi Islam

UAS

Investasi Ilmu ?? Apa itu ??

Hallo Sobat Ekis ! Gimana nih liburannya akhir tahunnya ? Menyenangkan, ya ? Jangan lupa loh, Sob, Ujian Akhir Semester (UAS) segera tiba. Sobat sudah persiapkan belum?

UAS dikenal sebagai momen yang paling mendebarkan bagi mahasiswa setiap semester, termasuk bagi mahasiswa Ekonomi Islam yang peduli akan prestasi dan akademik. Selain menjadi ajang untuk mengukur pemahaman materi, UAS juga merupakan kesempatan untuk berinvestasi ilmu sebagai bekal masa depan.

Sebagai mahasiswa Ekis, pasti Sobat paham banget tentang pentingnya investasi, kan? Nah, bagaimana cara berinvestasi ilmu agar hasilnya maksimal? Yuk, simak beberapa tips berikut yang bisa Sobat terapkan!!

1. Management Waktu

Sebagai mahasiswa Ekis, Sobat sudah terbiasa mempertimbangkan efisiensi. Menghadapi UAS ibarat mengelola investasi. Alokasikan waktu belajar layaknya mengelola sumber daya dengan memprioritaskan mata kuliah yang membutuhkan perhatian lebih besar seperti pada mata kuliah yang sulit.

Materi yang sulit memberikan “return” besar jika berhasil dikuasai. Dengan memahami yang sulit lebih dulu, Sobat dapat mengurangi beban mental di akhir, sehingga punya energi lebih untuk mereview materi yang lebih ringan. Tentunya, investasi ilmu ini tidak bisa dilakukan dengan sistem kebut semalam, ya, Sob! Seperti yang disarankan oleh kak Hasya Mazaya Lathifah, S.E, peraih pin emas Ekonomi Islam 2022, “ persiapan sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindari kelelahan dan hasil yang tidak maksimal”. Tips dari Hasya

 2. Belajar dengan Semangat Kolaborasi 

Seperti yang direkomendasikan Bapak Fajar Fandi Atmaja, LC., MSI., (Baca Disini). Dalam Ekonomi Islam, Sobat pasti tahu bahwa ta’awun (tolong-menolong) adalah prinsip yang penting. Terapkan nilai ini dalam belajar, misalnya dengan membentuk kelompok diskusi.

Diskusikan materi yang sulit atau bahas isu-isu aktual. Dengan cara ini, Sobat tidak hanya belajar untuk ujian tetapi juga memperluas wawasan.

3. Seimbangkan Teori dan Aplikasi 

Usahakan untuk tidak hanya menghafal teori, pahami setiap detail materi dan coba aplikasikan ke kasus nyata dalam dunia ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya membantu Sobat saat ujian, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan.

4. Jaga Kejujuran (Hindari Menyontek) 

Seperti dalam transaksi ekonomi syariah, kejujuran adalah kunci. Menyontek bukan hanya melanggar etika akademik tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Islami. Jadilah mahasiswa yang jujur dalam belajar dan ujian ya sob !

5. Persiapan Spiritual 

Selain usaha, sobat jangan lupa untuk berdoa dan tawakal, Dzikir dan ibadah sunnah juga bisa menjadi cara untuk menenangkan pikiran dan memohon keberkahan. Ingatlah bahwa hasil yang berkah adalah buah dari usaha yang dilakukan dengan penuh keikhlasan!. Tips ini juga yang dilakukan oleh mahasiswa peraih pin emas pada tahun 2022 Umi Dinurri’anah, S.E., (Baca disini)

6. Jangan Lupa Istirahat

Belajar terus menerus tanpa istirahat hanya akan membuat tubuh dan otak lelah. Berikan tubuh keadilan dengan cukup tidur dan menjaga pola makan sehat. Tubuh yang sehat adalah modal utama untuk berpikir lebih jernih dan fokus saat ujian.

Persiapkan semua ini maksimal beberapa hari sebelum UAS. Persiapan dadakan hanya akan membuat Sobat tidak adil terhadap seluruh kegiatan. Dengan tips ini, semoga Sobat bisa mengatur waktu dengan baik dan memaksimalkan hasil ujian.

Perlu sobat ketahui, UAS bukan hanya sekedar nilai, tetapi juga dapat menjadi langkah untuk generasi yang siap menghadapi masa depan.

Selamat Tahun Baru!
Semoga sukses dan berkah ujianmu ya Sob !!

Tertarik dengan Program Studi Ekonomi Islam?
Informasi pendaftaran telah dibuka!
Kunjungi pmb.uii.ac.id dan fis.uii.ac.id/ekis untuk menemukan informasi serta tips menarik lainnya.

BOOM DIGITAL !! Fintech Syariah, Solusi Aman di Tengah Jeratan

Di era digital, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita melakukan transaksi keuangan. Fintech atau teknologi finansial menjadi tren global yang tumbuh pesat, menawarkan berbagai solusi mulai dari pembayaran digital, pinjaman online, hingga investasi. Hal ini dibuktikan dari peningkatan minat masyarakat terhadap transaksi digital yang semakin jelas terlihat.

Menurut data Fintech Industry Growth Statistics 2024, fintech telah menjadi salah satu industri dengan pertumbuhan paling pesat di dunia. Pada tahun 2023, total investasi dalam sektor fintech mencapai $98 miliar, dan tren ini diperkirakan akan terus meningkat. Peningkatan transaksi digital, seperti penggunaan dompet elektronik dan layanan pembayaran online, menjadi pendorong utama pertumbuhan ini. Sebagai contoh, di Indonesia, jumlah transaksi digital diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya pengguna smartphone dan akses internet yang semakin luas. Kehadiran fintech memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah mengakses layanan keuangan tanpa harus melalui birokrasi perbankan tradisional yang rumit.

Sehingga, di balik pesatnya perkembangan ini, muncul juga fenomena pinjaman online (pinjol), salah satu bentuk dari fintech yang sering menimbulkan masalah. Pinjol adalah salah satu bentuk layanan yang memungkinkan pengguna untuk mendapatkan pinjaman secara cepat dan mudah. Meski memberikan kemudahan di awal, pinjol kerap menjadi masalah karena bunga yang tinggi dan praktik yang tidak transparan.

Mengapa Pinjol Bahaya?

Pada awalnya, pinjol memberikan kemudahan bagi banyak orang yang membutuhkan dana cepat tanpa melalui proses rumit seperti di bank. Namun, kemudahan ini sering menjadi jebakan. Beberapa pinjol, terutama yang ilegal, menawarkan pinjaman dengan bunga yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai ratusan persen dari jumlah pinjaman pokok. Jika peminjam tidak bisa melunasi, bunga akan terus bertambah dan akhirnya membebani mereka dengan utang yang besar.

Selain itu, praktik yang tidak transparan dan kurangnya pengawasan sering menyebabkan masalah bagi pengguna. Banyak kasus di mana data pribadi peminjam disalahgunakan oleh penyedia pinjol, dan tidak sedikit yang merasa tertekan oleh cara penagihan yang tidak etis. Dengan begitu, meskipun pinjol memberikan kemudahan awal, ia juga bisa menjadi sumber masalah finansial yang berkepanjangan.

Fintech Syariah, Alternatif Lebih Aman !

Di tengah situasi seperti ini, fintech syariah memiliki potensi besar untuk mengambil alih peran fintech konvensional, terutama dalam segmen pinjaman. Dengan menggunakan teknologi yang sama tetapi menawarkan produk yang lebih etis dan transparan, fintech syariah bisa menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan akses keuangan tanpa harus khawatir terjerat utang yang besar.

Sebagai contoh, layanan P2P lending syariah memungkinkan peminjam untuk mendapatkan dana tanpa bunga, tetapi dengan skema bagi hasil yang lebih adil. Selain itu, ada juga platform crowdfunding berbasis syariah yang membantu UKM dan usaha mikro untuk mendapatkan modal secara halal. Dengan inovasi ini, fintech syariah tidak hanya menawarkan keamanan finansial tetapi juga menjaga kesejahteraan pengguna secara keseluruhan.

Solusi atau Tantangan untuk Masa Depan?

Jadi, apakah masa depan fintech syariah merupakan solusi atau tantangan? Dari apa yang dipaparkan, fintech syariah jelas beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang melarang praktik riba (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian). Ini berarti, layanan fintech syariah menawarkan sistem yang lebih adil dan jauh dari praktik yang merugikan.

Di dalam ekosistem fintech syariah, ada penilaian menyeluruh terhadap profil peminjam sebelum dana diberikan. Artinya, fintech syariah memastikan bahwa dana yang dipinjamkan akan digunakan untuk kegiatan yang produktif dan positif. Hal ini berbeda dengan pinjol konvensional, yang hanya berfokus pada pengembalian dana tanpa peduli bagaimana pinjaman tersebut digunakan. Dengan demikian, fintech syariah tidak hanya melindungi pengguna dari utang yang mencekik, tetapi juga mendorong kesejahteraan jangka panjang dan mengurangi risiko yang bisa merusak ekonomi.

Oleh karena itu, fintech syariah memiliki potensi untuk menjadi solusi di tengah pesatnya perkembangan pinjaman online. Dengan menawarkan alternatif yang sesuai syariah dan lebih bertanggung jawab, fintech syariah bisa membantu masyarakat menghindari jeratan utang yang menjerat dan menjaga stabilitas ekonomi yang berkelanjutan. Namun, untuk benar-benar sukses, dukungan regulasi yang kuat serta edukasi masyarakat tentang manfaat dan prinsip prinsip fintech syariah menjadi faktor penting yang harus terus dikembangkan. Dengan dukungan regulasi yang lebih baik dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas Muslim, fintech syariah bisa menjadi motor penggerak inklusi keuangan di dunia Islam.

Ingin belajar lebih dalam tentang solusi ekonomi syariah di era digital?
Program Studi Ekonomi Islam siap membekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan inovasi keuangan berbasis syariah.

Masa depan ekonomi syariah ada di tangan generasi muda
Gabung sekarang dan jadi bagian dari perubahan!!

Informasi lebih lanjut kunjungi pmb.uii.ac.id atau KLIK DISINI
Kenal lebih dekat dengan Program Studi Ekonomi Islam UII di https://fis.uii.ac.id/ekis

From Thrift to Profit, Mahasiswa Ekis punya Finansial Produktif

From Thrift to Profit

Siapa bilang mahasiswa tidak bisa mandiri secara finansial, saat ini telah banyak mahasiswa yang sukses meraih keuntungan dari bisnis sampingan dengan kreativitas dan ketekunannya. Salah satunya mahasiswa Ekonomi Islam UII Angkatan 2022 ||Uray Fadli Rahman, dia telah berhasil mengubah hobinya menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Banyak orang mengira bahwa bisnis pakaian bekas (thrift) adalah sekadar menjual barang yang tidak terpakai lagi. Namun, bagi Uray, bisnisnya lebih dari sekadar thrift biasa, fokus utamanya adalah pada kaos vintage, sebuah kategori pakaian bekas yang memiliki nilai lebih karena keunikan, sejarah, dan keterbatasannya.

“Yang menginspirasi saya memulai bisnis ini adalah kecintaan saya pada musik dan gaya berpakaian band-band lama yang sering diputar oleh ayah saya sejak kecil. Kaos-kaos vintage ini sangat spesial, karena selain unik, banyak juga yang limited edition. Tidak banyak orang yang memiliki jenis kaos seperti ini,” ujar Uray.

Meskipun banyak orang menganggap bisnis thrift dan vintage itu serupa, sebenarnya ada perbedaan yang cukup penting. Thrift lebih merujuk pada barang bekas secara umum, sementara vintage adalah barang-barang yang berasal dari era atau masa tertentu, biasanya lebih dari 20 tahun yang lalu, dan memiliki nilai historis atau emosional. Perlu kamu ketahui, “vintage termasuk thrift tapi thrift belum tentu adalah vintage”. Dan Dalam bisnisnya, Uray fokus pada kaos vintage, yang memang memiliki pasar tersendiri di kalangan kolektor dan pecinta fashion lawas.

Menerapkan Prinsip Syariah dalam Bisnis

Menariknya, bisnis ini tidak dimulai dengan modal besar. Uray mengaku bahwa modal awalnya hanyalah “nekat”. Pada awalnya, ia memulai usahanya dengan hanya sekitar Rp150.000 untuk membeli kaos pertama, yang kemudian secara bertahap berkembang. Modal terkumpul dari tabungan pribadi dan penghasilan, hingga sampai saat ini sudah mencapai kisaran 1 hingga 2 juta rupiah untuk modal saja.

Perjalanan bisnisnya memang tidak selalu mulus. Tantangan terbesar di awal adalah mencari pemasok yang bisa menyediakan kaos vintage dengan kualitas yang terjamin. Selain itu, biaya pengiriman dan kadang barang yang terjebak di bea cukai menjadi hambatan tersendiri. Namun, berkat ketekunannya, ia berhasil mengatasi semua tantangan itu.

Mengelola Waktu Antara Bisnis dan Kuliah

Uray Fadli Rahman
Ekonomi Islam 2022

Mengelola bisnis sambil kuliah bukanlah hal mudah. Uray harus pandai membagi waktu antara urusan akademis dan bisnisnya.

“Jujur, semuanya saya kerjakan sendiri, mulai dari mencari barang, membersihkan, hingga packing dan pengiriman. Kalau saya lagi tidak di Jogja, kadang abang saya membantu sedikit, tapi sebagian besar tetap saya handle sendiri. Capek, tapi karena ini sudah jadi passion, saya nikmati saja.” Ungkap Uray

Sebagai mahasiswa tentu kuliah tetap menjadi prioritas utamanya

“Kalau ada event besar di luar kota, saya biasanya ambil jatah tidak presensi kuliah, tapi selebihnya saya bisa tetap kuliah sambil menjalankan bisnis ini. Orang tua juga mendukung selama saya bisa menjaga keseimbangan antara keduanya.” Tambah Uray

Mengenal Pasar dan Persaingan

Saat memulai bisnis ini, target pasar menjadi salah satu tantangan terbesar.

“Saya butuh waktu untuk benar-benar memahami siapa yang akan menjadi pembeli saya. Pada awalnya, saya kira kaos-kaos ini cocok untuk semua kalangan, tetapi ternyata segmen pasarnya lebih niche, pecinta kaos band lawas dan kolektor barang vintage,” jelasnya.

Namun, meskipun pasar vintage sangat spesifik, persaingan di dunia thrift dan vintage cukup ketat. Banyak teman-teman Uray yang juga menjalankan bisnis serupa. Meski begitu, ia tidak menganggap teman-temannya sebagai pesaing. Uray mengaku bahwa hubungan antar penjual di bisnis ini lebih menyerupai komunitas yang saling mendukung ketimbang persaingan. Mereka sering bertemu, berbagi pengalaman, dan bahkan saling membantu satu sama lain dalam menjalankan bisnis.

Menerapkan Prinsip Syariah dalam Bisnis

Menariknya, dalam menjalankan bisnis, Uray sebagai mahasiswa Ekonomi Islam sangat memperhatikan prinsip-prinsip syariah. Salah satu prinsip yang ia terapkan adalah menjauhi unsur penipuan dan riba.

“Saya selalu jujur dengan konsumen tentang kondisi barang yang saya jual. Jika ada cacat atau kerusakan, saya jelaskan secara detail melalui foto atau video call. Transparansi dan kejujuran adalah kunci kepercayaan pelanggan,” tambahnya.

Ke depannya, Uray berharap bisnisnya dapat berkembang lebih besar dan dikenal lebih luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Uray juga mengutarakan keinginannya agar lebih banyak orang dapat menghargai kaos-kaos vintage, karena menurutnya, setiap kaos memiliki sejarah dan cerita yang menarik di baliknya. Ia juga berharap bisnisnya dapat terus berkembang dan tumbuh lebih besar di masa depan.

Selain itu, untuk mahasiswa lain yang ingin memulai bisnis, Uray berpesan, “Jangan takut untuk memulai! Mulailah dengan langkah kecil, cari tahu apa yang kamu suka dan tekuni. Terpenting, jangan takut untuk gagal. Setiap kegagalan adalah pelajaran berharga.” Tegas Uray

Dengan semangat dan dedikasi, Uray Fadli Rahman berhasil membuktikan bahwa bisnis berbasis hobi pun bisa menghasilkan keuntungan yang tidak main-main. Dari thrift hingga Profit, fokusnya bisnisnya di Vintage membuktikan bahwa dengan ketekunan dan kekreativan, siapapun bisa menjadi mandiri secara finansial, bahkan di bangku kuliah.

Tertarik menjadi Pembisnis muda juga?
Segeralah gabung bersama kami di Program Studi Ekonomi Islam.
Informasi pendaftaran telah dibuka kunjungi Pmb.uii.ac.id atau KLIK DISINI

Temukan informasi menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis/