IHSG Anjlok, Apa Perlu Kita Cemas??

“Pangan paling utama, harga saham boleh naik turun. Pangan aman, negara aman.” Begitulah ujar Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dalam sidang kabinet di Istana Jakarta, Jumat (21/3/2025). Pernyataan ini terdengar menenangkan, seakan-akan fluktuasi harga saham hanya menjadi urusan investor dan pebisnis besar.

Namun, apakah benar demikian? Kenyataannya, gejolak pasar saham memiliki efek domino yang jauh lebih kompleks, termasuk pada sektor pangan yang disebut-sebut sebagai prioritas utama. Misalnya, ketika IHSG anjlok, dampaknya bisa terasa hingga ke harga bahan pokok yang kita konsumsi setiap hari. Jadi, benarkah kita tidak perlu cemas?

Mengapa IHSG Berarti bagi Sektor Riil?

IHSG yang anjlok bukan hanya urusan investor. Sebaliknya, Efek domino dari kejatuhan indeks ini bisa kita rasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, IHSG merupakan indikator yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi suatu negara. Ketika indeks ini naik, itu menandakan optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, ketika IHSG turun drastis, ada kemungkinan ekonomi sedang dalam kondisi tidak stabil.

Dampak IHSG terhadap sektor riil meliputi:

  1. Harga Barang Naik

    Saat IHSG turun drastis, investor asing sering menarik modalnya dari Indonesia, menyebabkan rupiah melemah. Akibatnya, barang impor seperti bahan pangan, elektronik, hingga bahan bakar yang menjadi lebih mahal. Sehingga, ketika harga BBM naik, ongkos distribusi juga ikut naik, dan akhirnya harga kebutuhan pokok melonjak. Dengan demikian, daya beli masyarakat pun melemah, dan perputaran ekonomi pun melambat.

  2. Lapangan Pekerjaan Terancam 

    Anjloknya IHSG sering kali menandakan bahwa banyak perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Akibatnya, mereka bisa menunda perekrutan, memangkas bonus, bahkan melakukan PHK. Lebih dari itu, jika kamu bukan karyawan tapi seorang pengusaha kecil, pelangganmu mungkin berkurang karena masyarakat mulai mengurangi pengeluaran akibat ketidakpastian ekonomi. Dengan kata lain, sektor informal bisa terkena dampaknya, seperti pedagang kecil yang omzetnya menurun karena harga bahan pokok naik.

  3. Tabungan dan Dana Pensiun Ikut Terguncang

    Kamu mungkin berpikir, “Aku kan nggak main saham, jadi nggak terpengaruh dong?” Salah besar!. Banyak bank, asuransi, dan dana pensiun berinvestasi di pasar modal. Ketika IHSG turun, nilai aset mereka ikut menyusut. Ini bisa berarti keuntungan tabungan jangka panjang ikut berkurang, nilai reksa dana turun, dan uang pensiun yang diharapkan mungkin tidak sebesar yang diperkirakan.

  4. Ekonomi Melambat, Peluang Mengecil 

    Saat pasar saham lesu, investor akan lebih berhati-hati dalam menanamkan modal. Proyek proyek besar bisa tertunda, usaha rintisan kesulitan mendapatkan pendanaan, dan inovasi terhambat. Pada akhirnya, peluang kerja semakin terbatas dan pertumbuhan ekonomi melambat. Jadi, jelas bahwa fluktuasi IHSG bukan sekadar urusan para investor kaya, melainkan juga berdampak pada kehidupan kita sehari-hari, mulai dari harga pangan, pekerjaan, tabungan, hingga peluang ekonomi ke depan.

Haruskah Kita Khawatir?

Penurunan IHSG memang perlu dicermati, tetapi pertanyaan yang penting adalah “apakah ini disebabkan oleh faktor internal atau eksternal?”

1.Faktor Internal

• Fundamental ekonomi yang lemah, jika perekonomian domestik mengalami perlambatan, misalnya karena defisit perdagangan atau kebijakan fiskal yang kurang efektif, maka IHSG bisa mengalami tekanan lebih besar.
• Ketidakpastian kebijakan pemerintah, investor sangat memperhatikan kebijakan moneter dan fiskal pemerintah. Jika kebijakan yang diambil tidak memberikan kepastian bagi pasar, maka risiko capital outflow (keluarnya modal asing) meningkat.
• Krisis sektor tertentu, sektor keuangan atau properti yang melemah dapat memicu efek domino ke sektor lainnya. Misalnya, jika banyak perusahaan mengalami gagal bayar, kepercayaan investor bisa merosot.

2. Faktor Eksternal

• Gejolak ekonomi global, perang dagang, kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed), atau resesi global bisa berdampak pada pasar saham Indonesia. Investor asing cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang saat terjadi ketidakpastian global.
• Fluktuasi harga komoditas, Indonesia sebagai negara berbasis ekspor sangat bergantung pada harga komoditas seperti minyak, batu bara, dan kelapa sawit. Jika harga komoditas turun drastis, pendapatan negara dan perusahaan berbasis ekspor ikut terpukul.
• Perubahan tren investasi global, Saat investor global mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman seperti emas atau obligasi negara maju, pasar saham negara berkembang bisa terdampak negatif.

Secara umum, penurunan IHSG yang dipengaruhi faktor eksternal, dampaknya cenderung lebih bersifat sementara. Sevalikya, jika penyebabnya adalah faktor internal, maka hal ini bisa menjadi indikasi bahwa ada masalah mendasar yang perlu segera diselesaikan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui penurunan IHSG di Indonesia saat ini disebabkan oleh faktor Internal. Oleh karena itu, Jika tidak ingin Indonesia cemas dipercepat tahun ini, pemerintah perlu memikirkan cara mengatasinya.

Saat ini, tantangan utama bukan hanya menjaga stabilitas IHSG, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan benar-benar melindungi kesejahteraan masyarakat luas. Sebab, jika ekonomi riil terganggu, maka dampaknya akan jauh lebih besar dibanding sekadar angka yang turun di pasar saham. Namun apakah mereka benar benar sadar? Kalaupun sadar, apakah pemerintah akan mengaku salah kemudian bertaubat melalui tindakan yang konkret ??

Bagaimana menurutmu Sob ? Apakah kita masih bisa merasa tenang? Atau sudah saatnya menuntut kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat?

Temukan wawasan dan Informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis
Jadilah bagian dari Program Studi Ekonomi Islam dengan mendaftar di pmb.uii.ac.id

Korupsi di Indonesia, Kebiasaan atau Penyakit yang Bisa Disembuhkan?

Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya, korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar praktik ilegal yang tersembunyi, tetapi sudah menjelma menjadi penyakit kronis yang menggerogoti fondasi ekonomi. Bahkan, istilah “Liga Korupsi Indonesia” semakin mempertegas bahwa korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan, melainkan sistem yang terus berulang dengan pola dan “aturan mainnya” sendiri.

Kasus-kasus korupsi di perusahaan BUMN terus bergulir. Salah satu yang paling mencolok baru-baru ini adalah skandal di Pertamina, di mana kebocoran anggaran mencapai triliunan rupiah. Bukan hanya merugikan negara, dampaknya langsung terasa oleh masyarakat dalam bentuk harga kebutuhan yang semakin tinggi akibat inefisiensi. Korupsi di BUMN bukan sekadar perbuatan individu, melainkan sistemik, penggelembungan harga proyek, suap dalam tender, hingga manipulasi laporan keuangan. Hasilnya? Investor asing ragu menanamkan modal, pembangunan nasional tersendat, dan rakyat yang harus menanggung akibatnya. Tidak heran jika anak muda semakin frustrasi, hingga muncul fenomena baru: #KaburAjaDulu sebagai bentuk respons terhadap sistem yang dirasa semakin buruk.

Lari dari Masalah atau Strategi untuk Masa Depan?

Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, tetapi cerminan dari kekecewaan anak muda terhadap kondisi ekonomi dan politik yang stagnan. Banyak yang merasa bahwa bekerja dengan jujur di Indonesia hanya akan membawa kesulitan dan keterbatasan. Namun, apakah mereka benar-benar menyerah? Tidak semua yang memilih pergi berarti lari dari masalah. Ada juga yang menjadikannya sebagai strategi: menimba ilmu, memperluas jaringan, dan mencari peluang di luar negeri dengan harapan bisa kembali membawa perubahan.

Di sisi lain, upaya untuk memperbaiki sistem dari dalam tetap harus berjalan. Jika ekonomi Islam diterapkan secara luas, bukan tidak mungkin korupsi bisa ditekan dan kepercayaan terhadap sistem pun kembali tumbuh. Islam menekankan nilai-nilai kejujuran (ash-shidq), amanah, dan keadilan (al-adl) dalam setiap aspek ekonomi. Bukan hanya soal menghindari suap, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang sehat dan berorientasi pada maslahat.

Dosen Program Studi Ekonomi Islam UII, Bapak Sofwan Hadikusuma, Lc, M.E, berpendapat bahwa pencegahan korupsi bisa dilakukan dengan dua sistem pengawasan: eksternal dan internal. Pengawasan eksternal dilakukan melalui penegakan regulasi anti korupsi, sementara pengawasan internal dibangun dengan kesadaran diri bahwa perilaku korupsi merupakan hal terlarang yang bisa merugikan banyak pihak.

Sebagai sebuah sistem, ekonomi Islam memiliki aturan ilahi yang melarang perbuatan koruptif. Penegakan aturan anti korupsi dalam sistem ekonomi Islam sesungguhnya bisa menjadi solusi dalam mencegah dan memberantas korupsi. Dengan adanya aturan, seseorang akan dibatasi gerak-geriknya agar tidak bisa melakukan korupsi. Di sisi lain, seseorang yang sadar dan bisa menahan diri akan mendapat reward dari Allah SWT sebagai imbalan atas penghambaan (ibadah) kepada-Nya, yaitu dalam hal meninggalkan larangan korupsi.

Solusi konkret seperti audit syariah, transparansi keuangan berbasis syariah, dan penerapan zakat perusahaan bisa menjadi langkah awal menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih bersih dan terpercaya. Sistem ini bukan sekadar teori, tetapi bisa menjadi alternatif nyata dalam membangun ekonomi yang lebih adil.

Indonesia tidak bisa terus-menerus terjebak dalam lingkaran korupsi. Saatnya membangun sistem yang lebih transparan dan berintegritas. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Karena kejujuran bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban.

Gimana menurutmu Sob ?
Temukan wawasan dan Informasi menarik lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis

Jadilah bagian dari Program Studi Ekonomi Islam dengan mendaftar di pmb.uii.ac.id

Tiket gratis menuju masa depan bersama Beasiswa di Program Studi Ekonomi Islam!

Beasiswa Santri UII merupakan salah satu program unggulan Universitas Islam Indonesia yang memberikan kesempatan emas bagi santri berprestasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Program ini tidak hanya mencakup pembebasan biaya kuliah, tetapi juga menyediakan pembinaan akademik dan keagamaan yang intensif. Tak heran, para penerima beasiswa santri kerap mendominasi berbagai prestasi dan aktif berkontribusi di lingkungan kampus.

Lantas, siapa saja mahasiswa Ekonomi Islam UII yang berhasil menjadi awardee Beasiswa Santri UII tahun ajaran 2023-2024? Berikut adalah profil beberapa di antaranya yang memiliki beragam pencapaian dan pengalaman inspiratif.

Selain prestasi akademik dan kompetisi, penerima Beasiswa Santri UII juga memiliki pengalaman unik dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus santri. Mereka tidak hanya mendapatkan akses pendidikan berkualitas tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan diri dalam lingkungan yang religius dan suportif penerima beasiswa santri di Ekis UII dikenal dengan kedisiplinan dan semangat belajarnya yang tinggi. Hal ini tercermin dalam berbagai pencapaian akademik dan kompetisi yang mereka ikuti. Tidak terbatas pada satu bidang saja, para penerima beasiswa ini berhasil menorehkan prestasi dalam banyak sektor, mulai dari akademik, bisnis, riset, desain, hingga keagamaan. Mereka tidak hanya menjadi mahasiswa berprestasi, tetapi juga kontributor aktif dalam berbagai kompetisi dan proyek inovatif yang relevan dengan dunia Ekonomi Islam.

Profil Penerima Beasiswa Santri Ekis UII

Salah satu di antaranya adalah Asiyah Azahra, mahasiswa Ekonomi Islam angkatan 2023, yang memiliki ketertarikan di bidang desain. Selama kuliah, ia aktif berpartisipasi dalam berbagai lomba desain poster dengan tema keuangan syariah. Melalui pengalaman tersebut, Asiyah tidak hanya mengasah kreativitasnya, tetapi juga semakin memahami penerapan nilai-nilai ekonomi Islam secara kreatif dan aplikatif. Adapun Tara Aqila Humayra, mahasiswa Ekonomi Islam Angkatan 2023, mendalami ketertarikannya pada ilmu keagamaan, sebagai penghafal Al-Qur’an, ilmu yang didapat di perkuliahan semakin memperdalam pemahamannya tentang makna dan penjelasan ayat-ayat yang berkaitan dengan muamalah.

Selain itu, banyak penerima beasiswa yang juga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Salah satunya adalah Lia Uzma Nurdina, mahasiswa Ekonomi Islam angkatan 2021, yang terlibat dalam program volunteer di daerah terpencil. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Semangat berprestasi ini pun turut menginspirasi mahasiswa baru, seperti Nayla Dhiya, mahasiswa Ekonomi Islam angkatan 2024. Sejak awal perkuliahan, Nayla aktif berkompetisi di berbagai ajang dan mengembangkan minatnya di bidang public speaking serta astronomi. Tak hanya itu, ia bahkan telah berhasil memenangkan beberapa lomba di semester pertamanya.

Menariknya, hal ini tidak terlepas dari Program Studi Ekonomi Islam UII yang memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmunya di berbagai bidang. Dengan latar belakang ekonomi Islam, para penerima beasiswa dapat terlibat dalam bisnis berbasis syariah, pengelolaan keuangan Islam, hingga riset-riset yang membahas solusi ekonomi berkelanjutan. Dalam lingkungan pondok, mereka juga sering berdiskusi tentang ekonomi global, berlatih wirausaha di asrama, dan saling bertukar ide dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan.

Para penerima beasiswa santri di UII ini sepakat bahwa program beasiswa santri memberikan lebih dari sekadar pendidikan formal. Mereka mendapatkan pembinaan yang memperkuat karakter, kepemimpinan, serta wawasan keislaman yang semakin matang. Dengan dukungan komunitas yang solid, mereka termotivasi untuk terus berkembang dan mengejar mimpi mereka di berbagai sektor. Asiyah menyampaikan

“Buat teman-teman calon penerima, nikmati setiap momen dan manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Teruslah belajar, coba hal-hal baru, dan jangan takut menghadapi tantangan, karena setiap pengalaman pasti berharga. Tetap rendah hati, jaga niat, dan syukuri setiap kesempatan yang datang. Semangat dan good luck, ya!” Pesan Asiyah.

Adapun penerima beasiswa lainnya menyampaikan

“Saya sangat merekomendasikan untuk kuliah di UII, baik dengan atau tanpa beasiswa terlepas dengan begitu banyaknya benefit yang didapat jurusan Ekonomi Islam yang sangat relavan dengan kondisi Ekonomi Indonesia saat ini, harapan saya semoga dimasa mendatang anak anak ekonomi Islam bisa membawa perubahan” Ungkap Almeyda.

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan manfaat luar biasa dari program ini, Beasiswa Santri UII adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Pendaftaran DIBUKA mulai hari ini 15 Maret – 15 April 2025.
Jika kamu memiliki semangat untuk berkembang, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat, program ini adalah pilihan yang tepat. Simak ketentuan lebih detail di pmb.uii.ac.id

Untuk wawasan dan informasi lainnya kunjungi https://fis.uii.ac.id/ekis/