{"id":7717,"date":"2022-03-01T06:46:04","date_gmt":"2022-03-01T06:46:04","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/?p=7717"},"modified":"2022-03-01T06:46:50","modified_gmt":"2022-03-01T06:46:50","slug":"bahasa-arab-itu-bahasa-surga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/bahasa-arab-itu-bahasa-surga\/","title":{"rendered":"Bahasa Arab itu Bahasa Surga?"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7719\" src=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii.jpg\" alt=\"\" width=\"1968\" height=\"1125\" srcset=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii.jpg 1968w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-300x171.jpg 300w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-1030x589.jpg 1030w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-768x439.jpg 768w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-1536x878.jpg 1536w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-1500x857.jpg 1500w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-705x403.jpg 705w\" sizes=\"(max-width: 1968px) 100vw, 1968px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Penulis : Junanah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Dosen PAI-FIAI UII-Ketua Prodi MIAI<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ada kesan yang kontradiktif; Sebagian beranggapan bahwa Bahasa Arab itu Bahasa surga, Sebagian lain apriori karena menganggap Bahasa Arab itu Bahasa kampungan? Kekontradiktifan inilah yang menyebabkan sebagian orang apriori untuk mempelajarinya, karena terlalu sulit difahami dengan banyaknya gramatika dan untuk melafazhkan baik huruf hijaiyahnya maupun kata-kata yang memerlukan makhraj yang unik. Bahasa secara umum sebenarnya sama dalam focus kemahiran yang ditempuh(Kemahiran\/ketrampilan mendengarkan, Kemahiran\/ketrampilan berbicara, Kemahiran\/ketrampilan membaca dan Kemahiran\/ketrampilan Menulis). Pada prakteknya; untuk menjadi mahir membaca yang berarti harus memahami gramatikanya, arti dari masing-masing kosa katanya(meskipun sudah ada google translate), tanpa memahami posisi masing-masing katanya maka untuk menerjemahkan dan memahami konten apa yang telah dibaca.<\/p>\n<p>Banyak para ahli menerjemahkan ayat sesuai dengan persepsinya, sehingga semua orang akan mengikutinya meski secara gramatikal Bahasa Arab kurang sesuai, contohnya ayat yang berbunyi ( \u0625\u0646 \u0645\u0639 \u0627\u0644\u0639\u0633\u0631 \u064a\u0633\u0631\u0627\u00a0\u00a0 ), secara gramatikal Bahasa Arab subjek dari kalimat\/ayat tersebut adalah (\u064a\u0633\u0631\u0627), sehingga menurut gramatika Bahasa Indonesia mengartikannya \u201cSesungguhnya <strong>kemudahan <\/strong>itu bersamaan dengan kesulitan\u201d, berarti focus kita pada kemudahannya bukan pada kesulitannya. Subjek pada ayat tersebut secara gramatika Bahasa Arab \u201cnakiroh\/indifinitif\u201d sehingga bersifat umum, sementara predikatnya \u00a0(\u0645\u0639 \u0627\u0644\u0639\u0633\u0631) bersifat khusu\/tertentu\/definif, dengan kata lain setiap kemudahan apapun itu selalu diiringi dengan kesulitan tertentu yang jalan keluarnya relative tergantung sikap dan kemampuan masing-masing orang menemukannya. Setelah pemahaman tentang makna dari ayat tersebut kita fahami secara gramatikanya, maka sudah selayaknya kalau kita akan menuju manusia yang selalu optimis dan husnuzhan kepada Allah, karena focus kita pada kemudahannya bukan kesulitannya, dengan selalu mengutamakan sikap kritis dalam menyikapi semua kejadian, In syaa Allah Aamiin<\/p>\n<p>Setiap ayat yang dalam Al-Qur\u2019an mengandung gramatikal Bahasa Arab, sehingga ketika kita memaknai dan menerjemahkan sesuai gramatikanya, maka keimanan kita juga akan menjadi landasannya. Pada musim pandemic Covid 19 kali ini, sesungguhnya Allah sedang menguji keimanan kita, adakah kita yakin bahwa apapun yang terjadi itu atas izin Allah atau kita akan latah dan ikut-ikutan kebanyakan orang, meski itu pakar sekalipun? Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni kita semua atas keteledoran sikap dan kekurang pekaan kita dalam memaknai ayat-ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah. Secara qauliyah Allah berfirman(\u0648\u0625\u0630\u0627 \u0645\u0631\u0636\u062a \u0641\u0647\u0648 \u064a\u0634\u0641\u064a\u0646\u0650) yang artinya \u201dDan Ketika aku sakit maka Allah yang akan menyembuhkanku\u201d, berarti ayat tersebut bermakna setiap pribadi yang mengalami sakit apa saja, Allah jamin akan disembuhkan dengan cara Allah masing-masing sesuai kadar keimanan seseorang akan itu, sehingga karena kadar keyakinan masing-masing orang itu berbeda-beda, Allah akan menyembuhkan juga berbeda, walaupun penyebab sakitnya sama sekalipun. Tugas kit akita sebagai manusia adalah berikhtiar dengan meyakini bahwa Allah pasti menyembuhkan meski car akita mencari obatnya berbeda. Semoga siapa saja yang sedang sakit terus bergantung hanya kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan sesuai usaha(berobat) dan keyakinan masing-masing.<\/p>\n<p>Terakhir kata Arab satu ini yang menyebabkan budaya Pendidikan baik dalam keluarga maupun secara Lembaga terkonstruksi seperti sekarang ini. Matan hadits yng dimaknai sebagai berikut \u201d<em>Perintahkan\u00a0 anak-anak kalian untuk sholat pada usia tujuh tahun.Pukullah mereka jika tidak melaksanakannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkan ranjang-ranjang mereka<\/em>\u201d Dari hadits tersebut, yang tidak sesuai dalam memaknai adalah dari kata (\u0636\u0631\u0628) . Pada umumnya para ulama dan mefassir selalu memaknai kata (\u0636\u0631\u0628) yang berkaitan dengan Pendidikan baik itu untuk anak maupun istri selalu diartikan dengan \u201cMemukul\u201d padahal dalam Munid dan Kamus Bahasa Arab-Indonesi Al-Munawwir tidak demikian. Berikut copy dari Kamus Al-Munawwir tengtang arti (\u0636\u0631\u0628) :<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7720\" src=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB.jpg\" alt=\"\" width=\"1259\" height=\"1685\" srcset=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB.jpg 1259w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-224x300.jpg 224w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-770x1030.jpg 770w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-768x1028.jpg 768w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-1148x1536.jpg 1148w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-1121x1500.jpg 1121w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/BAHASA-ARAB-527x705.jpg 527w\" sizes=\"(max-width: 1259px) 100vw, 1259px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Dari kamus Al-Munawwir makna (\u0636\u0631\u0628) tidak berdiri sendiri, baris pertama bermakna memukul jika kata tersebut dalam satu kalimat (\u0636\u0631\u0628\u0647\u00a0 \u0628\u0639\u0635\u0649 \u0648 \u0646\u062d\u0648\u0647), Adapun makna \u00a0(\u0636\u0631\u0628) apabila dikaitkan denga (\u0627\u0644\u0635\u0644\u0622\u0629) maknanya bukan memukul juga tetapi mendirikan (\u0627\u0642\u0627\u0645\u0647\u0627). Makna yang beredar sementara semua mengarah pada \u201cMemukul\u201d, apabila hal ini terus berlanjut dan tidak ada yang mau mengembalikan kepada makna seharusnya, maka proses Pendidikan dimanapun berada akan tetap melegalkan pemukulan terhadap anak didik apabila mereka tidak tertib ikut aturan. Sebagai pendidik kita seharuskan sudah tidak lagi mengikuti konstruksi budaya kekerasan dalam Pendidikan yang disebabkan hanya sudah diyakini oleh kebanyakan, maka itu yang dianggap sesuai.Seandainya para pendidik(baik dalam keluarga maupun Lembaga Pendidikan) menyadari akan akar masalahnya, maka kekerasan dalam Pendidikan tidak akan terjadi lagi.<\/p>\n<p>Akhir kata, marilah kita belajar Bahasa Arab yang baik dan benar, agar kita dapat merealisasikan slogan \u201cBahasa Arab adalah Bahasa Surga\u201d, karena apabila kita memahami semua kata Arab dan ayat Al-Qur\u2019an secara baik dan benar, kita akan selalu bersikap optimis dan selalu husnu zhan kepada Allah, bahwa Allah lebih fokus mendahulukan \u201cKemudahan\u201d daripada \u201ckesulitan\u201d, kemudian dengan memahami makna apa yang tersirat di balik apa yang yang tersurat, kita semakin yakin bahwa Allah itu tidak pernah menguji hambaNya kecuali sebatas kemampuannya. Makna dari satu kata Arab bisa berakibat fatal Ketika tidak sesuai dengan makna yang seharusnya, hanya dengan memaknai secara baik dan benar kata yang asalnya sudah terkonstruk dimaknai tidak sesuai, maka setelah kita kembalikan kepada makna yang sengguhnya, In syaa Allah konstruksi makna yang salah tersebut dapat direkonstruksi menjadi makna yang seharusnya dan dapat dirasakan dampak positifnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Junanah Dosen PAI-FIAI UII-Ketua Prodi MIAI &nbsp; Ada kesan yang kontradiktif; Sebagian beranggapan bahwa Bahasa Arab itu Bahasa surga, Sebagian lain apriori karena menganggap Bahasa Arab itu Bahasa kampungan? Kekontradiktifan inilah yang menyebabkan sebagian orang apriori untuk mempelajarinya, karena terlalu sulit difahami dengan banyaknya gramatika dan untuk melafazhkan baik huruf hijaiyahnya maupun kata-kata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":7719,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-7717","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-dosen"],"blog_post_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii-80x80.jpg",80,80,true],"full":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2022\/03\/bahasa-surga-pai-uii.jpg",1968,1125,false]},"categories_names":{"77":{"name":"Pojok Dosen","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/category\/pojok-dosen\/"}},"tags_names":[],"comments_number":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7717"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7717\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8359,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7717\/revisions\/8359"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7719"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}