{"id":5245,"date":"2021-08-30T08:04:23","date_gmt":"2021-08-30T08:04:23","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/?p=5245"},"modified":"2021-08-30T08:04:23","modified_gmt":"2021-08-30T08:04:23","slug":"berpikir-spiritual-tingkat-tinggi-di-tengah-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/berpikir-spiritual-tingkat-tinggi-di-tengah-pandemi\/","title":{"rendered":"Berpikir Spiritual Tingkat Tinggi di Tengah Pandemi"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-scaled.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5233\" src=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1463\" srcset=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-scaled.jpg 2560w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-300x171.jpg 300w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-1030x589.jpg 1030w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-768x439.jpg 768w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-1536x878.jpg 1536w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-2048x1170.jpg 2048w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-1500x857.jpg 1500w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-705x403.jpg 705w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Penulis : Lukman Ahmad Irfan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Indonesia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengasuh Majelis Ya Badi\u2019, Yogyakarta<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandemi Korona memperlihatkan cara berpikir orang Indonesia dalam beragama. Paling tidak terdapat empat kelompok. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mereka beragama dengan akal hati dan akal logika secara minimalis. Kelompok ini masih memaksakan diri mereka untuk tetap menyelenggarakan kegiatan melibatkan massa di tengah larangan pemerintah. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kelompok yang beragama dengan sangat memuja akal logika dan menggunakan akal hati dengan minimal. Kelompok ini tetap bekerja di luar rumah namun berhenti melakukan aktivitas beragama di luar rumah.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mereka beragama dengan akal hati penuh tetapi akal logika minimal. Kelompok ini mempunyai ketergantungan sangat kuat kepada para pemimpin agama yang mereka anut. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kelompok beragama yang mengerahkan akal hati dan akal logika jalan bersama dengan maksimal. Kelompok ini mengikuti anjuran pemerintah dan semaksimal mungkin beribadah di rumah dan peduli pada lingkungannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gambaran sikap beragama orang Indonesia ini bisa ditarik sebagai bahan merumuskan bagaimana pendidikan agama ke depan agar orang-orang Indonesia dapat memaksimalkan dirinya sebagai orang yang beragama dengan mengkombinasikan akal hati dan akal logika. Pemerintah dapat melakukan hal ini tanpa mengurangi sedikitpun Merdeka Belajar yang menjadi garis kebijakan saat ini. Rumusan yang penulis tawarkan adalah dengan Keterampilan Berpikir Spiritual Tingkat Tinggi (KBSTT).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Makna KBSTT<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KBSTT didasarkan pada firman Allah Swt., \u201cDan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.\u201d (QS 10:100) dan \u201cDan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.\u201d (QS 2:269)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KBSTT adalah mengoptimalkan akal logika berpadu dengan akal hati dalam mengharap anugerah hikmah dari Allah Swt. Akal hati berbeda dengan hati sebagaimana digunakan masyarakat umum setiap hari. Akal hati adalah memikirkan pengalaman beramal (vertikal dan horisontal) menjadi rumusan baru sebagai pijakan beramal berikutnya, mengambil pelajaran masa lalu sebagai pijakan berpikir untuk kebaikan atau kemaslahatan masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teknis, KBSTT menambahkan kebijaksanaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wisdom<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dalam ranah kognitif. Anderson dan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Krathwohl (2001) membuat tingkat berpikir: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dengan menambahkan bijaksana<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sebagai tahapan paling tinggi dari tahapan berpikir, maka siswa dan mahasiswa sejak awal terdidik untuk berpikir kemaslahatan umat. Bagaimana menyebarkan hasil pemikiran dapat diterima dengan baik dalam sebuah kebudayaan atau keadaan masyarakat tertentu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berpikir bijaksana demi kemaslahatan bukan berarti melestarikan kondisi lama anti kemajuan. Kebijaksanaan dalam menyebarkan hasil pemikiran atau kreasi lainnya terinspirasi dari ayat \u201cSerulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik\u2026\u201d (QS 16:125). Cendekiawan muslim ahli tafsir kontemporer, Quraish Shihab dengan apik menafsirkan ayat ini \u201cPilihlah jalan dakwah terbaik yang sesuai dengan kondisi manusia.\u201d Kebijaksanaan ini sekaligus akan menumbuhkan konsep berpikir yang mempertimbangkan kemerdekaan pihak-pihak lain. Dalam bahasa Jawa ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bener tur pener<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, benar dan patut.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>KBSTT sebagai Solusi Masalah Pendidikan Nasional<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ide ini menjadi sangat mendesak kalau dikaitkan dengan masalah dunia pendidikan saat ini. Beragam kegelisahan terdeteksi. Pertama, kegelisahan dalam mendidik generasi bangsa masa depan yang kritis terhadap infomasi dan terhindar dari hoaks. Kedua, kegelisahan terhadap penelitian di perguruan tinggi yang kurang berarti bagi kemajuan negeri. Ketiga, kecenderungan menyebarkan informasi yang benar oleh para cendik pandai tanpa menimbang maslahat dan mudaratnya. Keempat, kegelisahan para guru dalam mengintegrasikan kompetensi inti nilai spiritual ke dalam pembelajaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau KBSTT ini dapat diimplementasikan dengan baik, di pendidikan tingkat dasar dan menengah akan mampu mengikis produksi dan penyebaran hoaks. Di tingkat pendidikan tinggi, akan muncul kreasi-kreasi yang dapat diaplikasikan, bukan hanya karya sebagai karya, namun karya untuk maslahat umat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perspektif lebih besar, kebijaksanaan ini akan menuntun generasi masa depan untuk mampu mengambil pelajaran dari masa lalu, dan bukan mencemooh, menghina atau mengutuknya. Generasi yang bijaksana akan belajar dari masa lalu dirinya, bangsanya, dan negaranya sebagaimana dikatakan para bijak ribuan tahun yang lalu: \u201cPengalaman adalah guru terbaik.\u201d Ungkapan ini semakna dengan: \u201cSangat bodoh orang yang terperosok dalam lubang sama.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam gambaran nyata, generasi yang bijaksana yang ada di masa pandemi Korona ini, menunjukkan diri yang mampu menimbang kanan-kiri, mengambil keputusan tidak menuruti pikiran sendiri, bersikap rendah hati, dan berperilaku sesuai tuntunan Ilahi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wallahualam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Lukman Ahmad Irfan Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Pengasuh Majelis Ya Badi\u2019, Yogyakarta &nbsp; Pandemi Korona memperlihatkan cara berpikir orang Indonesia dalam beragama. Paling tidak terdapat empat kelompok. Pertama, mereka beragama dengan akal hati dan akal logika secara minimalis. Kelompok ini masih memaksakan diri mereka untuk tetap menyelenggarakan kegiatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":5233,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-5245","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-dosen"],"blog_post_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-80x80.jpg",80,80,true],"full":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2021\/08\/balon-scaled.jpg",2560,1463,false]},"categories_names":{"77":{"name":"Pojok Dosen","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/category\/pojok-dosen\/"}},"tags_names":[],"comments_number":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5245","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5245"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5245\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5248,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5245\/revisions\/5248"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}