{"id":4290,"date":"2020-07-14T04:50:01","date_gmt":"2020-07-14T04:50:01","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/?p=4290"},"modified":"2020-07-14T05:06:21","modified_gmt":"2020-07-14T05:06:21","slug":"epoche","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/epoche\/","title":{"rendered":"Epoche"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4291 aligncenter\" src=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii.jpg\" alt=\"epoche\" width=\"674\" height=\"447\" srcset=\"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii.jpg 674w, https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii-300x199.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 674px) 100vw, 674px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Penulis : Kurniawan Dwi Saputra<\/strong><\/p>\n<h5><em>\u201cThinking is hard, that\u2019s why most people judge<\/em>.\u201d Carl Jung.<\/h5>\n<p>Ketika <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jean_Baudrillard\">Jean Baudrillard<\/a> mengatakan bahwa dalam kebudayaan konsumerisme, objek konsumsi bukan lagi makanan atau pakaian, barangkali kita akan bertanya-tanya apa yang ia maksud. Namun, bersama berjalannya zaman disruptif ini, agaknya, kita tak perlu mewawancarai filsuf Prancis itu untuk memahami pernyataannya. Bukankah dewasa ini, ada orang-orang yang menghemat makan\u00a0 demi membeli kuota internet?<!--more--><\/p>\n<p>Ke arah mana pun kita memandang, akan kita temui bukti kebenaran proposisi Baudrillard. Konsumsi telah bergeser menjadi pem-<em>badog<\/em>-an citra\/tanda (<em>signs<\/em>). Banyak orang memakai pakaian bukan lagi karena alasan kualitas, tetapi karena memiliki merk yang lagi <em>ngetren<\/em>. Orang ramai (terutama anak muda) mengonsumsi makanan tertentu bukan karena ia bergizi atau sehat, tetapi karena makanan itulah yang tengah menjadi perbincangan hangat.<\/p>\n<p>Dengan perkembangan teknologi informasi di mana dunia visual dan realitas virtual berkembang biak, pola konsumerisme itu turut terbawa ke alam maya. Kita mulai mengonsumsi apa-apa yang disajikan oleh dunia siber. Mulai dari menyanyikan lagu-lagu indie yang sedang <em>ngepop<\/em>, mengganti poto profil dengan gambar solidaritas, memesan makanan yang lagi <em>booming<\/em>, ikut gerakan sejuta status sampai berdansa dengan lagu <em>trending<\/em> tiktok terbaru.<\/p>\n<p>Pola latah ini seringkali membuat rasionalitas terparkir tak berfungsi. Misalnya, karena mayoritas orang-orang di beranda facebook kita memilih satu pasangan calon presiden tertentu, kita terpengaruh untuk memutuskan memilih pasangan itu. Kita memilih pasangan calon itu bukan karena pertimbangan mendalam, tetapi karena terintimidasi pilihan orang-orang di sekeliling kita.<\/p>\n<p>Ketiadaan pikiran itu salah satunya disebabkan oleh kecepatan dan kuantitas informasi ke hadapan kita. Setiap saat, berita-berita ter-<em>update <\/em>menyeruak di depan mata. Tetapi saat itu juga kita dituntut untuk membuat keputusan etis: di hadapan semua \u201cfakta\u201d yang ada, apa yang harus kita lakukan? Dalam keadaan terdesak untuk selalu memutuskan itu. Sementara proses penalaran adalah upaya yang tidak instan, jalan pintasnya adalah mengikuti logika komunal yang seakan <em>\u201cma\u2019shum\u201d. <\/em><\/p>\n<p>Hal ini sebenarnya sudah diidentifikasi oleh Francis Bacon ketika mengatakan bahwa manusia kerap terjebak idola pasar, yaitu keadaan di mana seseorang terperosok pendapat populer meski belum teruji kebenarannya.<\/p>\n<p>Kecenderungan untuk gegabah dalam memutuskan baik pendapat maupun tindakan etis ini, tentu saja tidak selaras dengan ajaran agama Islam. Dalam surat al-Isra\u2019 ayat 36 Allah Swt berfirman:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0642\u0652\u0641\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u064a\u0652\u0633\u064e \u0644\u064e\u0643\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064c \u0625\u0646 \u0627\u0644\u0633\u0645\u0639 \u0648\u0627\u0644\u0628\u0635\u0631 \u0648\u0627\u0644\u0641\u0624\u0627\u062f \u0643\u0644 \u0623\u0648\u0644\u0626\u0643 \u0643\u0627\u0646 \u0639\u0646\u0647 \u0645\u0633\u0624\u0648\u0644\u0627<\/p>\n<p>\u201cDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.\u201d<\/p>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tafsir_al-Tabari\">tafsir al-Thabary<\/a>, sebagian ulama menafsirkan kalimat <em>\u201cla taqfu ma laisa laka bihi ilmun\u201d<\/em> sebagai <em>\u201cla taqul ma laisa laka bihi ilmun,\u201d<\/em> atau \u201cjangan bertutur tentang sesuatu yang tidak kamu miliki ilmunya.\u201d Ayat ini secara implisit, meminta kita untuk berhati-hati dalam mengomentari sesuatu yang tidak \u2013atau belum- kita pahami.<\/p>\n<p>Di hari-hari yang disebut oleh Zygmunt Baumann sebagai <em>\u201churried life\u201d<\/em> ini, ayat di atas dapat menjadi tuntunan kita; untuk tidak terburu-buru berkomentar atau bertindak. Terhadap sesuatu yang belum kemput kita analisis, untuk tidak latah ikut-ikutan <em>trending topic<\/em> sebelum memahami perkara hingga akarnya. Untuk mendahulukan pertimbangan indra, akal dan naluri manusiawi serta petunjuk agama sebelum bertindak.<\/p>\n<p><strong><em>Epoche<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Epoche seperti yang dikatakan Zizek ketika membalik kritik Marx terhadap filsafat. Saat ini orang-orang terintimidasi untuk <em>ujug-ujug<\/em> mengubah dunia, padahal yang dibutuhkan kemanusiaan sebelum tugas itu adalah berhenti sejenak dan berpikir. Yang dibutuhkan manusia saat ini adalah seni untuk menunda putusan: sebentuk <em>epoche.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Penulis : Kurniawan Dwi Saputra \u201cThinking is hard, that\u2019s why most people judge.\u201d Carl Jung. Ketika Jean Baudrillard mengatakan bahwa dalam kebudayaan konsumerisme, objek konsumsi bukan lagi makanan atau pakaian, barangkali kita akan bertanya-tanya apa yang ia maksud. Namun, bersama berjalannya zaman disruptif ini, agaknya, kita tak perlu mewawancarai filsuf Prancis itu untuk memahami [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":4291,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[180,176,183,186,177,179,178,184,182,181,187,185],"class_list":["post-4290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-dosen","tag-booming","tag-epoche","tag-filsafat","tag-hurried-life","tag-jean-baudrillard","tag-ngetren","tag-tafsir-al-thabary","tag-teknologi","tag-tiktok","tag-trending","tag-trending-topic","tag-zizek"],"blog_post_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii-80x80.jpg",80,80,true],"full":["https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2020\/07\/sosmed-uii.jpg",674,447,false]},"categories_names":{"77":{"name":"Pojok Dosen","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/category\/pojok-dosen\/"}},"tags_names":{"180":{"name":"booming","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/booming\/"},"176":{"name":"epoche","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/epoche\/"},"183":{"name":"filsafat","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/filsafat\/"},"186":{"name":"hurried life","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/hurried-life\/"},"177":{"name":"Jean Baudrillard","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/jean-baudrillard\/"},"179":{"name":"ngetren","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/ngetren\/"},"178":{"name":"tafsir al-Thabary","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/tafsir-al-thabary\/"},"184":{"name":"teknologi","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/teknologi\/"},"182":{"name":"tiktok","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/tiktok\/"},"181":{"name":"trending","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/trending\/"},"187":{"name":"trending topic","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/trending-topic\/"},"185":{"name":"zizek","link":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/tag\/zizek\/"}},"comments_number":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4290"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4290\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5238,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4290\/revisions\/5238"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.uii.ac.id\/pai\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}