Tag Archive for: Prodi Ekonomi Islam UII

Bahaya di Balik Promo Ramadhan, Hati-hati Riba & Gharar !!

Bulan Ramadhan datang, promo besar-besaran pun bermunculan!. Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah, selalu membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi umat Muslim di seluruh dunia. Selama bulan ini, pola konsumsi masyarakat mengalami pergeseran yang signifikan. Banyak orang mulai berbelanja lebih banyak, bukan hanya untuk kebutuhan ibadah dan persiapan hari raya, tetapi juga karena tergiur oleh berbagai promo dan diskon spesial yang bertebaran di mana-mana, mulai dari diskon yang besar, cashback menggiurkan, sampai cicilan tanpa bunga. Tapi, pernah nggak sih kamu pikirkan, apakah semua promo ini benar-benar menguntungkan? Atau jangan-jangan, malah bikin kita terjebak dalam transaksi yang bertentangan dengan prinsip ekonomi Islam?

Promo Ramadhan, Antara Hemat dan Perangkap Keuangan

Bukan rahasia lagi kalau Ramadhan adalah “surga” bagi para pemburu diskon. Banyak orang merasa ini momen terbaik buat belanja, tapi sayangnya, nggak semua promo itu benar-benar menguntungkan. Bahkan, banyak di antaranya yang justru bikin kita konsumtif, boros, dan tanpa sadar jatuh ke dalam praktik yang menyesatkan.

Jenis Promo yang Bisa Jadi Jebakan?
Berikut beberapa promo yang wajib diwaspadai:

PayLater dengan bunga tersembunyi
Kelihatannya memudahkan, tapi kalau ada bunga atau biaya tambahan, ini bisa masuk kategori riba.
• Cicilan 0% tapi ada biaya admin
Harga diiklankan murah, tapi ada biaya tambahan yang bikin total pembayaran lebih mahal.
• Flash Sale manipulatif yang bikin panik beli
Harga dinaikkan dulu sebelum diberikan “diskon besar” biar kelihatan lebih murah dari aslinya.
• Cashback & poin reward jebakan
Beli lebih banyak hanya demi cashback, padahal barangnya nggak benar-benar dibutuhkan.

Selain faktor promonya sendiri, ada juga aspek psikologis yang bikin kita lebih konsumtif “Misleading Promo & Perilaku Konsumtif” Kok Bisa?. Disini, bukan cuma soal halal haram, misleading promo juga bisa memicu perilaku konsumtif yang berbahaya seperti:

• Impulsive Buying
Belanja dadakan gara-gara takut ketinggalan promo, bukan karena benar benar membutuhkan.
• Compulsive Buying
Belanja terus-menerus untuk kepuasan sesaat.
• Dopamin Rush
Senang ketika belanja, namun menyesal selanjutnya.
• Hutang menumpuk
Pakai PayLater terus-menerus tanpa sadar makin besar tanggungannya.

Padahal, Islam mengajarkan kita untuk bijak dalam mengelola harta terutama dibulan Ramadhan. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’: 27: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”

Solusi Cara Belanja yang Halal & Berkah
Agar tetap aman tidak terjebak promo menyesatkan, berikut tips yang bisa kamu gunakan:

1. Pilih promo yang bebas riba & gharar
Pastikan promo transparan dan tidak ada biaya tersembunyi.
2. Gunakan diskon langsung tanpa syarat
Jangan tertipu dengan promo mengharuskan PayLater atau cicilan yang tidak jelas.
3. Jika ingin cicilan, pilih akad murabahah!
Untuk memastikan harga dan keuntungannya sudah jelas sejak awal.
4. Belanja sesuai kebutuhan dan kendalikan keinginan
Buat daftar belanja sebelum checkout, dompet aman, berkah pun tetap dapat.

Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan ibadah sekaligus mengelola keuangan secara lebih cermat. Jangan sampai berbagai promo yang tampak menguntungkan justru berujung pada pengeluaran berlebihan dan menghilangkan keberkahan.

Gimana menurutmu Sob? Bukankah belanja cerdas adalah bagian dari ibadah ?

Temukan wawasan dan informasi lainnya di https://fis.uii.ac.id/ekis
Jadilah bagian dari kami dengan mendaftar di Program Studi Ekonomi Islam UII !

BSI dan Muhammadiyah “Perbedaan Visi yang Mendorong Penarikan Dana besar-besaran”

BSI dan Muhamadiyyah

Penarikan dana Muhammadiyah dari BSI

BSI dan Muhammadiyah

Baru-baru ini, Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam besar di Indonesia, memutuskan untuk menarik dananya dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Langkah ini mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat. Tidak sedikit mereka yang mengklaim bahwa keputusan ini menunjukkan ketidak percayaan terhadap BSI akibat dugaan kesalahan yang dibuat oleh bank tersebut, sehingga menimbulkan beberapa masyarakat yang memilih dan beralih ke bank konvensional.

Anom Garbo, SEI., ME Dosen Program Studi Ekonomi Islam FIAI UII menjelaskan bahwa penarikan dana oleh muhamadiyyah bukanlah keputusan yang mendadak

“Penarikan dana Muhammadiyah dari BSI sudah menjadi bahan diskusi selama beberapa tahun. Muhammadiyah ingin lebih fokus pada pemberdayaan lembaga lembaga keuangan mikro mereka, dan menambah unsur kompetitif bagi bank syariah,” ungkapnya.

Menurut pak Anom, performa BSI yang tidak sesuai harapan juga menjadi faktor pertimbangan penarikan dana muhamadiyyah dari BSI “Tidak bisa dipungkiri, Meskipun ada perkembangan, pencapaian BSI tidak sepositif yang dibayangkan, dan penarikan dana ini juga berkaitan erat dengan fokus Muhammadiyah pada pengembangan sektor UMKM.” tambahnya.

UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Muhammadiyah melihat potensi besar dalam sektor UMKM untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi lokal. Dengan mengalokasikan dana ke UMKM, Muhammadiyah berharap bisa membantu bisnis kecil berkembang, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Keputusan untuk lebih banyak mendukung UMKM ini tentu akan berdampak pada daerah-daerah yang menjadi pusat UMKM, seperti Yogyakarta.

Yogyakarta, yang merupakan salah satu pusat UMKM di Indonesia, akan merasakan dampak dari keputusan ini. Pak Anom menyebutkan bahwa sekitar 75% BMT di Yogyakarta berafiliasi dengan Muhammadiyah.

“Dengan banyaknya lini usaha Muhammadiyah di Yogyakarta, termasuk rumah sakit, sekolah, dan universitas, dana yang terkumpul bisa digunakan untuk pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.

Seiringan dengan itu, dampak positif dari penarikan dana ini juga membuka peluang besar bagi BMT untuk mengambil peran yang lebih signifikan. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) adalah lembaga keuangan mikro syariah yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penarikan dana Muhammadiyah dari BSI membuka peluang besar bagi BMT untuk menggaet dana ini dan menggunakannya untuk mendukung UMKM. BMT bisa menawarkan pembiayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan UMKM dan memberikan layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Peningkatan peran BMT dalam mendukung UMKM ini pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi daerah.

Dengan meningkatnya dukungan untuk UMKM, diharapkan ada peningkatan ekonomi di daerah-daerah seperti Yogyakarta. UMKM yang lebih kuat dan berkembang akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan secara keseluruhan meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah. Hal Ini menunjukkan bahwa keputusan Muhammadiyah untuk menarik dana dari BSI dan mengalokasikannya ke sektor UMKM berpotensi besar untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian daerah.

Terakhir Pak Anom menekankan bahwa masyarakat seharusnya tidak terbawa opini negatif tanpa memahami fakta yang sebenarnya.

“Penarikan dana Muhammadiyah dari BSI bukan karena ketidakpercayaan atau kebencian terhadap BSI, tetapi karena perbedaan visi dan tujuan,” jelasnya.

Menurutnya, BSI cenderung fokus pada sektor menengah ke atas untuk bersaing dengan bank konvensional, sedangkan Muhammadiyah ingin lebih banyak berkontribusi pada sektor mikro dengan dana umat yang mereka miliki.

Penarikan dana Muhammadiyah dari BSI adalah langkah strategis untuk lebih fokus pada pengembangan UMKM. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian, terutama di Yogyakarta. Dengan dukungan yang tepat, UMKM bisa berkembang lebih pesat dan membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Follow up for more information https://fis.uii.ac.id/ekis/

“PSEI UII Adakan Kuliah Praktisi Untuk Mata Kuliah Perencanaan Keuangan Islam”

Dalam era yang dipenuhi dengan dinamika keuangan modern, penting bagi mahasiswa untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang perencanaan keuangan, terutama dalam konteks syariah. Melalui Program Hibah Praktisi Mengajar, pada tanggal 16 Maret 2024 Program Studi Ekonomi Islam UII mengadakan pembukaan kegiatan kuliah praktisi untuk mata kuliah Perencanaan Keuangan Islam. Kuliah pembuka digelar di Ruang GKU Dr. Sardjito Universitas Islam Indonesia dengan turut menghadirkan praktisi di bidang ahlinya yaitu Harryka Joddy P., S.Psi., CPF, IFP sebagai dosen praktisi yang akan mengajar kedepannya. Program ini diwajibkan untuk seluruh mahasiswa semester 4 serta yang mengambil mata kuliah perencanaan keuangan islam.

Program bersama dosen praktisi akan berlangsung selama semester genap tahun akademik 2023/2024. Tujuan program praktisi mengajar adalah terbangunnya Complex Problem Solving (CPS) mahasiswa PSEI melalui Project Based Learning pada Mata Kuliah Perencanaan Keuangan Islam. Dalam prosesnya, mahasiswa akan menganalisis kasus keuangan dan menyusun Book Plan Keuangan. Program diharapkan dapat membantu mahasiswa lebih memahami dan menambah wawasan yang luas tentang perencanaan keuangan dengan ahlinya yang memang bekerja dibidang financial planning.

PSEI UII Adakan Kuliah Praktisi

Dosen Pengampun mata kuliah Perencanaan Keuangan Islam, Soya Sobaya, SEI., M.M menambahkan penjelasan “Kuliah praktisi ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi pembelajaran pada semester sebelumnya dimana hal ini digunakan untuk mengasah kemampuan problem solving, dan disini mahasiswa perlu dibiasakan menyelesaikan kasus keuangan yg real. Dengan hadirnya praktisi ini dapat menjadi jalan dan melengkapi teori yang disampaikan oleh dosen pengampu sehingga target pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.” ungkapnya

Selain itu, sebagai pemateri, Harryka Jody menyampaikan tujuan pembelajaran ini diharapkan mahasiswa dapat memahami prinsip prioritas dalam perencanaan keuangan syariah serta dapat menumbuhkan proses tahapan perencanaan keuangan syariah yang berorientasi pada tujuan keuangan yang berkah terkhusus untuk mahasiswa yang mengikuti program,

“Seneng banget bisa diajak kolaborasi bareng di mata kuliah Perencanaa Keuangan Syariah, karena ini saya anggap sebagai salah satu ikhitiar dakwah literasi keuangan syariah ke temen-temen mahasiswa. Dari pengalaman saya dan juga klien, masa-masa mahasiswa dan early career adalah masa pembentukan habit keuangan pertama kali terlebih bagi mereka yang merantau dari luar daerah. Apabila masa kuliah sudah dibiasakan untuk mengelola keuangan secara syariah, besar harapan setelah bekerja dan mendapat income, mereka sudah mampu mengenali kebutuhan dan keinginannya dalam mengeluarkan uang dan mencapai tujuan finansialnya kelak. Sukses selalu untuk Ekonomi Islam UII, semoga terus memberikan ilmu dan pengalaman praktek yang bermanfaat untuk best practice temen – temen mahasiswa dalam kehidupan nyata” ungkap Harryka Jody.

Pada kesempatan ini juga, salah satu mahasiswa mengaku sangat bersyukur difasilitasi program ini oleh prodi “Saya sih senang ada program ini, dapat menambah wawasan sama praktisi ahlinya tanpa mengeluarkan biaya yang lebih banyak lagi, karena kalau ambil kelas pak Harryka sendiri itu biayanya pasti bisa belasan juta” ungkap Yasmin salah satu mahasiswa ekis.

Melalui kolaborasi yang unik antara pengajaran akademis dan pengalaman praktis, program ini tidak hanya memberikan pengetahuan mendalam tentang konsep-konsep penting tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari mereka yang telah sukses di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa dapat mengasah keterampilan praktis mereka dan memperluas wawasan mereka tentang dunia perencanaan keuangan syariah, mempersiapkan mereka untuk menangani tantangan keuangan di dunia nyata.