FIAI Jajaki Kerjasama dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

Serahterima cinderamata mata dari pihak SKIL kepada FIAI. (Samsul/MRS)

Serahterima cinderamata mata dari pihak SKIL kepada FIAI. (Samsul/MRS)

Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menjajaki kerjasama dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Kuala Lumpur, Malaysia. Delegasi FIAI yang dipimpin Dekan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., diterima oleh pihak SIKL pada Selasa, 19 Sya’ban 1438 H/16 Mei 2017. Hadir memberikan sambutan Marwata, M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu.

Turut serta dalam kunjungan tersebut Prof. Dr. Amir Mu’allim, MIS., selaku Ketua Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah (PSAS), Drs. Syarif Zubaidah, M.Ag (Sekretaris PSAS), dan Muhammad Roem Syibly, S.Ag., MSI (Dosen PSAS). Kunjungan tersebut selain untuk penjajakan kerjasama juga untuk mengenalkan FIAI UII ke SIKL. Pasalnya SIKL juga mengelola sekolah sampai level SMA. Dengan demikian, memungkinkan lulusannya untuk melanjutkan kuliah di UII.

Dalam ramah-tamahnya, pihak SIKL menyatakan kesiapan untuk menginformasikan UII ke seluruh siswa SMA-nya. Tentu dengan harapan ada lulusannya yang nanti dapat melanjutkan kuliahnya di UII, khususnya di FIAI. Lebih lanjut, pihak SIKL juga siap menerima mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari FIAI di SIKL. Untuk diketahui bahwa mulai tahun 2016 yang lalu Program Studi Pendididikan Agama Islam (PSPAI) FIAI mengadakan program PPL Internasional.

Acara berlangsung hangat dengan saling bertukar informasi seputar UII dan SIKL. Salah satunya tentang adanya program kelas internasional (Arab dan Inggris) di PSAS FIAI. Dengan demikian, program tersebut relevan bagi lulusan SIKL yang memiliki dasar bahawa asing yang baik. Acara diakhiri dengan saling bertukar cinderamata dan makan siang bersama. (Samsul)

Niatkan Ibadah, Bekerja menjadi Mudah

Samsul_02_Koordinasi Tendik

Suasana koordinasi tendik bersama pimpinan FIAI. (Samsul)

Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan koordinasi dengan tenaga kependidikan (tendik) FIAI menjelang libur Idul Fithri 1438 H. Koordinasi dilakukan di Ruang Sidang FIAI, Selasa, 18 Ramadhan 1438 H/13 Juni 2017. Sebelumnya di hari yang sama, pimpinan FIAI juga mengadakan koordinasi dengan satuan keamanan (satpam) yang bertugas di FIAI.

Dalam arahannya, Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA., menasihatkan agar seluruh tendik meniatkan bekerja di UII sebagai ibadah (pengabdian). Sehingga, lanjut alumnus doktoral Zaytunah University Tunisia tersebut, bekerja menjadi ringan dan mudah. “Bila terjadi kekhilafan dalam bekerja harus dihadapi dengan hati yang lapang,” tuturnya saat diwawancarai reporter UII News. Menurutnya, kesalahpahaman (miskomunikasi) adalah yang biasa dalam bekerja.

Sementara itu, Wakil Dekan FIAI Dra. Sri Haningsih, M.Ag., mengingatkan tendik untuk meningkatkan kualitas kerjanya. “Sebagaimana Syawwal yang artinya irtafa’a yaitu meningkat,” ulasnya. Maka, setelah Ramadhan tahun ini semestinya ada peningkatan kinerja. Apalagi, lanjutnya, UII sudah memberikan kesejahteraan yang cukup yaitu THR yang setara dengan gaji pokok dan gaji ke-13.

Sri Haningsih mengatakan bahwa rencananya FIAI akan mengadakan syawwalan dengan keluarga besar FIAI termasuk purnatugas FIAI. Selain itu, Sri Haningsih juga menyampaikan wacana bagaimana bila FIAI memiliki tim hadrah laki-laki. “Nanti ada FIAI Bershalawat,” tegas pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mahasiswi al-Hidayah, Candirejo, Sleman tersebut.

Selanjutnya, Sri Haningsih juga mengingatkan seluruh tendik untuk me-refresh kembali hasil Pelatihan Etos Kerja Islami dan Pelatihan Peningkatan Kualitas Kerja untuk menggiatkan kinerja masing-masing tendik. Terakhir, Sri Haningsih mengajak tendik untuk bersyukur sehingga insya Allah nikmat akan bertambah berkah.

Kepala Divisi (Kadiv) Administrasi Umum dan Keuangan FIAI Dra. Sariyanti juga mengingatkan tendik untuk lebih maksimal dalam bekerja. Dia menceritakan bahwa dalam waktu dekat ini FIAI punya ‘PR’ yaitu terkait company profile FIAI dan pelaporan FIAI pada Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Dikti. (Samsul)

FIAI Terima Roadshow Tim AIPT UII

Rektor UII sedang memberikan pengantar Roadshow AIPT di FIAI. (Samsul/Krisnanda)

Rektor UII sedang memberikan pengantar Roadshow AIPT di FIAI. (Samsul/Krisnanda)

Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) menerima roadshow (kunjungan) tim Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Universitas Islam Indonesia (UII) di Ruang Sidang FIAI, Kamis, 13 Ramadhan 1438 H/08 Juni 2017. Roadshow bertujuan untuk memaparkan kesiapan serta menggali data dan bukti dokumen dalam rangka menghadapi AIPT yang borangnya akan dikirim akhir Juli 2017 ini.

Roadshow dipimpin langsung oleh Rektor UII Nandang Sutrisno, SH., L.LM., M.Hum., Ph.D. Dalam sambutannya rektor menyampaikan bahwa kunjungan tersebut juga dalam rangka silaturahim. “Semestinya saya selalu blusukan ke fakultas-fakultas, bukan karena AIPT saja,” tutur Dosen Tetap Fakultas Hukum (FH) UII tersebut.

Namun inti kunjungan tersebut tentu saja adalah menjelaskan sejauh mana kesiapan AIPT baik data maupun bukti. Apalagi, lanjut rektor, dengan adanya Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO) tentu harus lebih baik lagi persiapannya. “Setelah roadshow (harapannya) akan lebih banyak data yang tergali,” tutur sosok yang selalu menyempatkan diri memimpin roadshow ke fakultas-fakultas tersebut.

Selanjutnya, pemaparan yang lebih teknis oleh Kepala Badan Perencana (BP) UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, MT. Dia menceritakan bahwa selama liburan nanti dia harus mencermati borang yang sudah disusun agar lebih halus bahasanya. “Bapak/ibu pulang kampung kami masih mikir borang,” candanya. Hal itu, karena AIPT adalah tentang nasib bersama seluruh civitas akademika UII. Karenanya, perlu dipikirkan dengan serius.

Menurut Hari, salah satu item yang perlu ditambah adalah riset dengan biaya mandiri. Untuk riset dengan dana institusi dan luar institusi sudah mencukupi namun untuk riset mandiri masih minimal. Selain itu, lanjut Hari, paten dan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) perlu dikejar. “Data akan kita close akhir Juni ini supaya bisa menyusun evaluasi diri. Artinya masih ada waktu untuk melengkapi,” tutur guru besar Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII tersebut.

Hadir dalam roadshow tersebut seluruh pimpinan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA (Dekan), Dra. Sri Haningsih, M.Ag (Wakil Dekan), seluruh pimpinan program studi (prodi) se-FIAI, dan tim AIPT untuk FIAI. Menanggapi pemaparan tim AIPT UII, FIAI berkomitmen untuk membantu tim universitas untuk menyukseskan AIPT. Semoga UII dapat mempertahankan nilai unggul (A) untuk AIPT kali ini. (Samsul)

,

Mahasiswa Ekonomi Islam Juara 3 LKTI Halal Patika 2017

Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi gemilang dalam ajang lomba se-Jawa. Adalah Nadia Nuril Ferdaus (Ekonomi Islam, 2014) yang meraih Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) “Halal Patika (Pangan Obat Kosmetika) 2017”. Grand final dilakukan di Ghra Sarina Vidi Jalan Magelang, Rabu, 27 Sya’ban 1438 H/24 Mei 2017.

Samsul_Halal EkisNadia menulis paper berjudul Investigasi Etika Bisnis Islam dalam Penggilingan Daging di Yogyakarta serta Pengembangan Halal Detector Technology sebagai Solusi Kontaminasi Babi. “Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa usaha penggilingan daging di Yogyakarta belum 100% melakukan implementasi etika bisnis Islam,” ungkap Nadia setelah memenangi lomba yang diadakan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI DIY tersebut.

Selanjutnya Nadia mengatakan bahwa penggilingan daging di Yogyakarta dari sisi tauhid (aplikasi kesesuian syariat) hanya mencapai 91,80%. Sementara dari dimensi keseimbangan dan keadilan hanya mencapai 88% dalam konteks kesesuaian terhadap rasionalitas produksi Islam. “Dan hanya 91,54% telah memiliki sikap ihsan,” ungkapnya.

Dari temuan tersebut, Nadia menawarkan solusi masalah pencampuran daging dengan menciptakan Halal Technology Detector Concept. Teknologi tersebut dengan menggunakan metode Porcine Detection Kits yaitu lempengan logam yang dapat mendeteksi kandungan DNA babi pada hasil olahan penggilingan daging secara cepat dan akurat. “Selain itu pemerintah perlu menciptakan hisbah sehingga intensitas pengawasan pasar dapat ditingkatkan,” lanjutnya.

Sebelum menuju grand final, Nadia telah mengirimkan paper untuk dinilai dewan juri. Akhirnya, terpilihkan 6 finalis untuk kategori Pangan dan Minuman yang salah satunya adalah Nadia. “Alhamdulillah, semoga dapat menjadi batu loncatan untuk mengukir prestasi selanjutnya,” tutup Nadia yang dibimbing oleh Zein Muttaqin, S.EI., MA., dalam pengerjaan risetnya. (Samsul/Wigih)

,

Mahasiswa UII Presentasi dalam Simposium Internasional di Madinah

Hamdan Arief Hanif (IP Ahwal al-Syakhshiyah, 2014) dan M. Ilham Agus Salim (IP Hukum, 2014) menjadi delegasi Universitas Islam Indonesia (UII) dan Indonesia dalam Simposium Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur Tengah & Afrika. Keduanya mengajukan gagasan bagi bangsa Indonesia dan dinobatkan sebagai presenter of selected paper dengan judul “Pancasila sebagai Manajemen Konflik dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Berdasarkan Konflik yang Sering Terjadi antar Umat Beragama di Indonesia”.

Samsul_1_Hamdan di Mekkah (2) -lowSimposium bertempat di Ballroom Hotel Movenpick, Kota Madinah, Senin-Selasa, 06-07 Rajab 1438 H/03-04 April 2017. Adapun acara secara keseluruhan berlangsung selama 6 hari terhitung dari Ahad hingga Jumat, 02-07 April 2017. Simposium yang pertama kali dihelat di Arab Saudi tersebut dihadiri peserta dari anggota PPI Negara-negara Islam khususnya Timur Tengah & Afrika serta delegasi Indonesia yang berjumlah kurang lebih 350 peserta.

Dalam simposium bertema “Revitalisasi Simpul Kebangsaan di Tengah Kemajemukan” tersebut, terpilih 10 team presenter yang terdiri dari presenter dari Indonesia dan juga mahasiswa Indonesia yang berdomisili di kawasan Timur Tengah & Afrika. “Hal ini menjadi capaian apik bagi kami terlebih lagi (bagi) kampus UII yang kami wakili,” tutur Hamdan yang juga mahasantri Pondok Pesantren (Ponpes) UII.

Menurut Hamdan, dalam simposium tersebut ada tiga diskusi panel dan sebuah sidang komisi yang terbagi menjadi 4 komisi; agama, pendidikan dan kebudayaan, politik dan hukum, dan ekonomi. Adapun panel pertama berlangsung pada sesi pagi di hari Senin, 03 April 2017. Diskusi panel pertama bertajuk “Merajut Tenun Kebangsaan di Tengah Kemajemukan”. Diskusi panel ini menghadirkan 3 pembicara; Prof. Dr. Mahfud MD, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, dan Mochammad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D.

Sedangkan diskusi panel kedua pada sesi siang bertajuk “Wawasan Politik Hukum Indonesia dan Kerangka Diplomasi dengan Negara-negara Timur Tengah”. Diskusi dibersamai oleh Prof. Dr. Masykuri Abdillah, MA (Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Drs. Mohamad Hery Saripudin, M.A (Konsul Jendral RI untuk Kerajaan Arab Saudi di Jeddah).

Adapun diskusi panel ketiga berlangsung pada sesi pagi di hari Selasa, 04 April 2017 dengan tema “Menyongsong Masa Depan Indonesia dalam Mempersiapkan Generasi Emas 100 Tahun”. Diskusi menghadirkan dua pembicara yaitu Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA (Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) dan Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Mantan Rektor Universitas Indonesia). (Samsul/HDN)

,

FIAI Jawara Futsal Milad ke-74 UII

Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) berhasil menjadi jawara lomba Futsal dalam rangka Milad ke-74 Universitas Islam Indonesia (UII). Pada laga final, Selasa, 21 Rajab 1438 H/18 April 2017, FIAI mengalahkan Fakultas Ekonomi (FE) dengan skor 3-1.

Samsul_6_FIAI Juara FutsalMenanggapi raihan tersebut, Muhammad Miqdam Makfi, Lc., MIRKH., selaku Koordinator Milad ke-74 UII untuk FIAI mengaku bersyukur. “Alhamdulillah, kemenangan tim futsal FIAI merupakan bagian dari rahmat Allah,” ujar dosen muda Ahwal al-Syakhshiyyah FIAI, alumnus al-Azhar University, Cairo tersebut.

“Dalam semua cabang olahraga lain, tim FIAI harus gugur pada pertandingan awal. Namun cabang futsal yang paling akhir dipertandingkan justru FIAI menggugurkan semua musuh dari awal. Alhamdulillah, husnul khatimah,” kenangnya.

Sementara itu, Edi Nurfanan selaku striker andalan FIAI mengaku bangga dapat memperkuat tim FIAI. “Permainan yang bagus (karena) saling percaya pada teman. Saling menutupi kekurangan teman jadi sulit dikalahkan,” ungkapnya. (Samsul/FIAI)

,

UII Lakukan Ru’yatul Hilal Awal Ramadhan 1438 H

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Pusat Kajian dan Bantuan Hukum Islam (PKBHI) Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah (PSAS) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) melakukan Ru’yatul Hilal Awal Ramadhan 1438 H di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangkusumo, Bantul. Kegiatan dilaksanakan bekerjasama dengan Kantor Kementerian Agama DIY pada Jumat, 29 Sya’ban 1438 H/26 Juni 2017.

Menurut salah satu ahli falak UII, Anisah Budiwati, SHI., MSI., secara perhitungan (hisab) ephemeris sebenarnya sangat optimistis dapat melihat hilal tanpa bantuan alat. “Hal ini karena tinggi hilal mar’i di POB Syekh Bela Belu (sudah) sekitar 8,5 derajat di atas ufuk mar’i,” tutur Dosen PSAS yang sedang mengambil doktoral di UIN Walisongo, Semarang tersebut.

Namun demikian, lanjutnya, karena faktor cuaca yaitu kondisi awan yang cukup tebal mempersulit terlihatnya si bulan sabit atau hilal sebagai penanda awal Ramadhan. “Namun untuk Indonesia secara umum, meski di Yogyakarta tidak terlihat, beberapa daerah seperti Condro Dipo Gresik memberikan laporan hilal terlihat,” tuturnya. Hasil pengamatan di Parangkusumo tetap dilaporkan ke Jakarta dengan data negatif.

Dengan demikian karena posisi hilal yang cukup tinggi yaitu memenuhi kriteria pemerintah di atas 2 derajat dan umur hilal di atas 8 jam. “Kiranya dapat diputuskan oleh pemerintah bahwa pada esoknya 27 Mei 2017, umat Islam di Indonesia dapat melaksanakan ibadah puasa,” tutupnya mengakhiri wawancara.

Sebelumnya, dalam taushiah setelah Dhuhur di FIAI, Drs. Sofwan Jannah, M.Ag., sudah menyatakan bahwa awal Ramadhan 1438 H ini dipastikan tidak terjadi perbedaan. “Bahkan sampai ‘Idul Fithri pun in sya Allah akan bersamaan,” tutur Dosen PSAS yang juga ahli falak senior UII tersebut. (Samsul)

,

UII Raih 8th Runner up Nasyid di Thailand

Tim musik islami (nasyid) Universitas Islam Indonesia (UII) yang tergabung dalam group Sawarna Acapella menorehkan prestasi tingkat ASEAN. Dalam ajang Dai Voice Thailand, Sawarna Acapella meraih prestasi sebagai 8th Runner up. Lomba tahunan yang digelar kali kedua tersebut dilaksanakan di Masjid Jamek Pattani, Thailand, Kamis, 28 Sya’ban 1438 H/25 Mei 2017.

Bagi Khalilurrahman, S.Pd.I., M.Pd., selaku team official, raihan tersebut sudah termasuk baik mengingat tim nasyid UII baru kali pertama mengikuti even tingkat ASEAN. “Kedepannya harus terus latihan terutama dalam membawakan lagu nasyid yang genre-nya melayu,” tutur alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) UII tersebut. “Dan pemilihan lagu untuk kompetisi haruslah tepat,” lanjutnya.

Lomba diikuti oleh 15 tim yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand sendiri. Dalam kesempatan tersebut, Sawarna Acapella membawakan lagu berbahasa Inggris milik Maher Zain yaitu Good Day. Sementara lagu kedua berbahasa Arab yaitu Thala’al Badru. “Persembahan ini semua sudah ditentukan Allah. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi,” tulis salah satu personil Sawarna Acapella.

Ada hal menarik dalam even tersebut yaitu kecintaan dan euforia masyarakat Pattani terhadap musik-musik islami (nasyid). Hal ini dibuktikan dengan kesetiaan para penonton untuk tetap menyaksikan dan menunggu acara usai sampai pukul 04.30 dini hari. Tentu saja hal ini, menurut Khalilurrahman, adalah satu hal yang langka terjadi di Indonesia. (Samsul/KRM)

,

UII Juara Hifdzil Qur’an FQN IV UIN Sunan Kalijaga 2017

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) terus menorehkan prestasi dalam kompetisi keislaman. Dalam Festival al-Qur’an Nasional (FQN) IV Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta 2017, delegasi UII mencatatkan dua prestasi dalam bidang Musaabaqah Hifdzil Qur’aan (MHQ). Atas nama Ria Fitriani (Pendidikan Agama Islam, 2016) sebagai Juara 2 harapan dan M. Aufa Aulia (Kedokteran, 2016) sebagai Juara 3 harapan.

“Perlombaan ini adalah perlombaan tingkat nasional yang pertama kali saya ikuti,” tutur Ria Fitriani setelah memenangi MHQ FQN yang digelar oleh Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga, Sabtu, 23 Sya’ban 1438 H/20 Mei 2017. “Tak lupa juga saya bersyukur kepada El-Markazi yang telah memberikan wadah kepada saya untuk bisa mengembangkan potensi khususnya dalam bidang al-Qur’an,” lanjutnya.

Sementara itu, M. Aufa Aulia mengaku bersyukur atas prestasinya. “Walau persiapan lomba yang cukup singkat (kurang lebih selama satu minggu) saya dapat meraih juara harapan tiga,” kenangnya. Itupun, cerita Aufa, karena kejuaraan digabung antara peserta laki-laki dan perempuan. “Sehingga apabila kategori tersebut disendirikan saya yakin mampu meraih juara ketiga dalam perlombaan MHQ 10 juz kategori peserta laki-laki,” ungkapnya.

Aufa juga bersyukur atas supporting yang diberikan UII melalui UKM El-Markazi. “Harapan saya, semoga di waktu-waktu yang akan datang, UII lebih giat lagi dalam mengirimkan delegasi ke berbagai perlombaan. Mengirimkan mahasiswa-mahasiswa terbaiknya demi meningkatkan mutu dan citra UII dan El Markazi. Saya yakin apabila hal ini dapat terwujud, UII akan dapat mencapai cita-citanya sebagai universitas yang dikenal dan membawa rahmat bagi manusia,” harapnya. (Samsul/SAS)

,

FIAI Gelar Workshop Sosialisasi SKPI

Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Workshop Sosialisasi Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) di Ruang Sidang FIAI, Rabu, 16 Sya’ban 1438 H/03 Mei 2017. Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka menyiapkan penyusunan SKPI pada Program Studi (Prodi) se-FIAI yang merupakan paket dari Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Samsul_7_SKPI-2Hadir sebagai narasumber Dr. Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI. (Wakil Rektor I UII) yang menyampaikan materi tentang kebijakan SKPI di internal UII. “Kebijakannya di UII, SKPI ditandatangani oleh Dekan dan Kaprodi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Dekan dan Kaprodi akan lebih dikenal dalam lingkup keilmuan,” tuturnya.

Ilya juga menyampaikan bahwa untuk kegiatan yang melekat dalam aktivitas akademik mahasiswa akan dihitung dalam Satuan Kredit Partisipasi (SKP). Menurutnya, sampai lulus mahasiswa harus memiliki kurang lebih 50 SKP. Dari total tersebut, 30 sudah melekat dan selebihnya harus diupayakan oleh masing-masing mahasiswa.

Narasumber selanjutnya adalah Dr. Suyadi, M.Pd.I (Dosen Universitas Ahmad Dahlan [UAD]). Suyadi menegaskan pentingnya SKPI dalam konteks dunia kerja. “Pengguna (users) tidak lagi silau dengan IPK namun akan melihat SKPI yang menggambarkan lulusan bisa apa,” tuturnya. Tambahnya, SKPI dapat meyakinkan users untuk menerima alumni sebuah prodi.

Menurut Suyadi, banyak hal yang dapat dimasukkan dalam SKPI, termasuk menjadi sukarelawan, anggota organisasi, ikut kompetisi meskipun tidak menjadi pemenang, dan seterusnya. Aktivitas tersebut dibuktikan dengan sertifikat yang divalidasi oleh Unit Penjamin Mutu (UPM) Prodi. Untuk kepentingan tersebut, Suyadi mengusulkan perlunya menyusun pedoman penilaian prestasi mahasiswa.

Pada sesi tanya jawab, Ilya menjelaskan bahwa dalam konteks SKPI karakter mahasiswa tidak harus disamakan. Justru, mahasiswa dapat menemukan jadi dirinya dengan ragam aktivitas di luar kelas yang harus dilakukan. “Dengan SKPI ini mahasiswa tidak waton ngglundung (asal) lulus. Karena sistem ini untuk menjamin kualitas mahasiswa,” ungkapnya. (Samsul/FIAI)